
Cerita ini hanya karangan author!
Pria itu pun mengikuti perintah Devan dengan memasukkan hal yang seharusnya tidak dimasukkan kedalam tubuh Aurel, "Masukkan lewat bawah," ucap Devan.
Semua yang ada disana menelan ludahnya karena menurut mereka Devan sangat menakutkan bagaimana bisa seekor tikus dimasukkan kedalam tubuh manusia.
Ya, Devan memerintahkan pria itu untuk memasukkan seekor tikus kedalam tubuh Aurel melalui tubuh bagian bawahnya.
Setelah pria itu memasukkan tikus tersebut Devan pun menyuruhnya pergi. Sedangkan didalam sana Devan menatap tajam ke arah Aurel, "Kau tidak perlu khawatir karena aku tidak akan memutilasi dirimu, aku akan menguburkan mu sesuai dengan semestinya karena kau sedang hamil, aku baik bukan," ucap Devan.
Kondisi Aurel saat ini benar-benar mengenaskan, ia sangat lemas dan tidak dapat menggerakkan tubuhnya bahkan hanya untuk membuka matanya pun terasa sulit, "Kalian bawah dia kembali ke penjara dan jika nanti tikus itu sudah menggerogoti tubuhnya, maka kalian katakan padaku aku ingin melihatnya," ucap Devan dan diangguki anak buahnya lalu Devan pun pergi dari tempat tersebut.
Devan berada di ruang kerjanya yang ada di markas karena ia tau yakin jika sebentar lagi ia akan mendapatkan kabar kematian Aurel dan benar saja belum satu jam Devan sudah mendapatkan kabar jika Aurel mulai meraung kesakitan.
Devan pun berjalan menuju penjara bawah tanah, baru saja masuk kedalam penjara bawah tanah Devan dapat mendengar teriakan kesakitan Aurel, "Aaaaa Sakit!" teriak Aurel.
Devan yang melihat bagaimana kesakitannya Aurel hanya tersenyum samar dan ia melihat beberapa tahanannya yang juga terlihat ketakutan disana.
"Kau kesakitan, hem mungkin tikusnya sedang berjalan-jalan di perutmu bagaimana rasanya pasti anakmu dan tikus itu sedang berbicara didalam atau bahkan mereka sedang bermain hahaha," ucap Devan yang diakhiri tawa yang sangat mengerikan bagi anak buah dan para tahanan lainnya.
"Sakit! hiks hiks tuhan sakit!" teriak Aurel hingga tiba-tiba ia tidak sadarkan diri dan mengeluarkan darah pada pahanya.
"Wow! darahnya sudah keluar kalau begitu kita akan kubur dia," ucap Devan.
"Tapi, Tuan dia masih bernafas," ucap Mike.
"Bagiku dia sudah meninggal, cepat kubur dia!" perintah Devan dan diangguki oleh anak buahnya.
"Kau lihat wanita itu bukan, dia sudah tidak berdaya jadi untuk apa dia ada di dunia ini, dia hanya akan menjadi beban bukan, kau mau aku memasukkan apa pada tubuhmu? dia aku masukkan anak dan juga seekor tikus kalau kau mau apa?" tanya Devan kepada Miss Kelly dan Miss Kelly hanya menggelengkan kepalanya dengan meneteskan air matanya.
"Oke, aku akan cari cara yang menarik untuk membunuhmu dan tentunya dengan cara yang belum pernah kucoba, karena jujur saja penjaraku jarang dikunjungi wanita jadi masih banyak cara untuk membunuhmu," ucap Devan lalu pergi dari penjara bawah tanah tersebut dan diikuti anak buahnya dan Aurel yang diseret layaknya barang tidak berguna.
Sesampainya di tempat pemakaman Devan pun langsung membuang Aurel begitu saja kedalam tanah bahkan Aurel saja belum dibersihkan, setelah membuang Aurel, Devan pun mengambil botol yang berisikan air lalu membuangnya kedalam bersama dengan Aurel, setelah itu Devan mengambil kembali botol lain dan membukanya lalu menyiramkannya kedalam tubuh Aurel yang sudah berada di dalam tanah.
"Cepat kalian kubur dia!" perintah Devan dan diangguki oleh anak buahnya.
Anak buah Devan pun menuruti perintah Devan, padahal mereka tidak tega melihat Aurel yang masih bernafas bahkan mata Aurel masih bergerak, tapi karena mereka tidak ingin menjadi mangsa selanjutnya jadi mereka hanya menuruti apa yang diperintahkan Devan.
Aurel sudah dikubur hidup-hidup oleh Devan dan ia saat ini hanya menatap kuburan baru itu, "Tuan, maaf mengganggu," ucap Mike.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Devan dengan datar.
"Tuan, saya mendapat kabar jika Nyonya saat ini dikepung oleh anak buah Dion," ucap Mike yang membuat Devan menatap tajam Mike.
"Maksudmu apa? tanya Devan.
"Maaf, Tuan. Saya dapat kabar dari mobil Pak Nardy saat ini dikepung oleh anak buah Dion," ucap Mike.
"Cepat bawa anak buahmu kesana bodoh," ucap Devan yang tidak dapat lagi menahan emosinya.
Mike pun pergi dan menjalankan perintah Devan yaitu membawa anak buahnya menuju tempat Keyna dikepung.
.
Disisi lain, Keyna yang selesai dengan pekerjaannya pun segera keluar dari kantor dan melihat Gita, begitupun Gita yang melihat Keyna pun ia langsung menghampiri Keyna, "Mari, nyonya," ucap Gita.
Keyna pun menikmati perjalanan dengan tenang hingga tiba-tiba mobil yang ia tumpangi berhenti secara mendadak, "Ada apa, Pak Nardy?" tanya Keyna.
"Ada yang berhenti didepan Nyonya," ucap Pak Nardy.
"Nyonya tidak perlu khawatir ini hanya masalah kecil," ucap Gita yang berusaha menenangkan Keyna.
Keyna melihat orang itu menggunakan pakaian serba hitam dan jangan lupakan tato serta badan berisinya yang terlihat menakutkan.
"Pak, me-mereka siapa?" tanya Keyna yang mulai takut dan gugup.
"Nyonya, tidak perlu khawatir, Nyonya akan baik-baik saja," ucap Gita.
"Gak, kita gak baik-baik aja ini," ucap Keyna yang merasa benar-benar ketakutan.
"Gita, kita dikepung, kita harus minta bantuan Tuan Devan," ucap Pak Nardy dan diangguki oleh Gita.
Setelah meminta bantuan pada Mike, Pak Nardy pun menyuruh Keyna untuk tetap tenang dan akan tetap aman jika didalam mobil.
Sedangkan, pria yang berada diluar mobil terus mengetuk bahkan mulai memecahkan kaca mobil.
"Keluar kalian!" teriak pria itu dari luar.
Keyna semakin ketakutan saat kaca mobil yang berada di belakang mulai retak dan hampir pecah, "Pak, gimana ini? sepertinya kaca nya mau pecah," tanya Keyna.
__ADS_1
"Nyonya sekarang Nyonya bawa ini," ucap Gita dan memberikan sebuah semprotan kepada Keyna.
"Untuk apa ini?" tanya Keyna.
"Nanti Nyonya bisa semprotkan ini ke wajah mereka," ucap Gita dan diangguki Keyna.
Beberapa saat kemudian, jendela kaca bagian belakang pun pecah dan dengan sigap Gita menarik Keyna agar terhindar dari anak buah Dion.
Keyna saat ini duduk di kursi depan, sedangkan Pak Nardy membantu Gita untuk melawan anak buah Dion dan tanpa mereka sadari seseorang berhasil memecahkan jendela depan dan berhasil menarik tangan Keyna untuk keluar.
"Nyonya!" teriak Gita saat melihat Keyna ditarik oleh anak buah Dion.
Keyna memberontak karena anak buah Dion menariknya cukup kuat hingga kulit Keyna merah, "Lepasin sakit," ucap Keyna, tapi tak didengarkan pria tersebut.
Gita dan Pak Nardy pun keluar dari mobil dan berjalan menghampiri Keyna yang akan dibawa masuk kedalam mobil mereka.
"Kalian tidak ada kaitannya dengan ini jadi silahkan pergi sebelum kalian menyesal," ucap salah satu anak buah Dion yang menghadang Gita dan Pak Nardy.
"Kau pikir aku takut," ucap Gita dengan berani.
Lalu Gita pun menghajar orang-orang yang menghalanginya begitupun dengan Pak Nardy, mereka pun berhasil mengalahkan beberapa anak buah Dion yang menghalangi jalan mereka menuju Keyna, baru beberapa langkah Gita dan Pak Nardy tiba-tiba terdengar suara tembakan.
Dor...
"Tidak!" teriak Keyna saat melihat Gita yang sudah yang terjatuh lantaran perutnya terkena tembakan.
"Pak Nardy, selamatkan Nyonya, jangan pikirin Gita, Pak," ucap Gita dan diangguki Pak Nardy.
"Kamu bertahan Ta, sebentar lagi pasti bantuan datang," ucap Pak Nardy.
Namun, baru saja Pak Nardy melangkah, tapi kaki kanan Pak Nardy sudah terkena tembakan oleh anak buah Dion dan membuat Pak Nardy pun ikut terjatuh.
'Dev, tolong,' ucap Keyna dalam hati saat melihat Gita dan Pak Nardy terjatuh, Keyna sendiri terus memberontak, tapi semuanya sia-sia.
.
.
.
__ADS_1
Tbc.