Mafia Itu Suamiku

Mafia Itu Suamiku
Ke Kantor Papa Alex


__ADS_3

"Hem, hari ini aku akan pulang," ucap Devan.


Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam dan Devan baru saja pulang, sesampainya di rumah mewahnya Devan pun segera masuk kamar dan saat ia masuk ke dalam kamar tersebut, ia terkejut karena tidak melihat sang istri di sana, Devan mencari di berbagai sudut kamarnya, tapi tetap saja ia tidak menemukan keberadaan sang istri hingga akhirnya Devan memutuskan untuk turun ke lantai satu.


"Apa Tuan mencari Nona Keyna?" tanya Bi Nani yang baru saja dari dapur.


"Iya, dimana dia?" tanya Devan.


"Nona Keyna ada di kamar para pelayan Tuan," ucap Bi Nani takut.


"Kenapa dia ada disana?" tanya Devan dengan aura menakutkannya.


"Tadi Nona Keyna bilang kalau dia takut bisa tidur sendirian karena kamar terlihat sepi sebab itu Nona Keyna memilih tidur di kamar belakang," ucap Bi Nani.


"Yasudah antarkan saya ke istri saya, saya mau bawa istri saya kembali ke kamar," ucap Devan dan diangguki Bi Nani.


"Mari, Tuan," ucap Bi Nani.


Devan pun sampai di kamar para pelayan dan ternyata para pelayan masih belum tidur meskipun mereka tadi sempat menutup mata, tapi mereka tetap saja tidak bisa tidur dengan nyenyak karena takut terjadi apa-apa pada Nona mereka.


Kedatangan Devan sontak membuat para pelayan takut dan gugup, mereka langsung berdiri dan menundukkan kepalanya.


Devan tidak peduli dengan apa yang dilakukan pelayan, ia hanya mencari keberadaan sang istri hingga akhirnya Devan melihat Keyna yang tertidur di atas ranjang yang sangat kecil dan sederhana diantara semua ranjang yang ada disana apalagi melihat Keyna yang menekuk kakinya membuat emosi Devan meluap lalu Devan pun melihat ke arah para pelayan.


"Kenapa dia tidur di tempat yang paling kecil?" tanya Devan dengan dingin yang membuat para pelayan semakin takut.


"Maaf, Tuan tadi kami sudah menyuruh Nona untuk memilih tempat yang Nona mau, tapi Nona Keyna justru memilih tempat tersebut Tuan," ucap Bi Nani.


"Untuk hari ini saya maafkan kalian, tapi jika ini terulang lagi kalian pasti tau akibatnya, kalau kalian ingin tau bagaimana rasanya kalian bisa tanya ke pelayan itu," ucap Devan dengan menunjuk Ganish.


Ganish yang ditunjuk pun langsung menutup mata dan menundukkan kepalanya, ia teringat bagaimana kejamnya Devan saat melukainya karena kesalahannya yang membiarkan Keyna sendirian di taman dan membiarkan Keyna hampir saja terluka, padahal itu hampir terluka apalagi jika Keyna benar-benar terluka, sudah dapat dipastikan tidak akan ada Ganish lagi di dunia ini.


Semua pelayan pun melihat ke arah Ganish karena mereka tidak tau maksud dari Devan, Devan sendiri langsung menghampiri Keyna dan tersenyum ketika melihat wajah damai sang istri.


Devan menggendong Keyna ala bridal style dan keluar dari kamar sempit tersebut menuju kamar megahnya.


Sesampainya di kamar, Devan pun membaringkan tubuh Keyna dengan hati-hati agar Keyna tidak terbangun.


Devan menatap lekat wajah cantik sang istri hingga tatapan jatuh ke bibir ranum Keyna dan tanpa aba-aba Devan langsung mengecupnya, "Aku rasa bibir ini akan sudah candu baruku," gumam Devan dan bersiap untuk tidur.


.


Pagi harinya, Keyna bangun dan ia sangat terkejut saat melihat dada bidang seseorang, lalu Keyna mendongak dan melihat wajah damai Devan, 'Kenapa aku bisa ada disini? kayaknya aku kemarin masih tidur di kamar belakang,' tanya Keyna dalam hati.


"Udah gak usah mikir pagi-pagi kayak gini, otak kamu gak itu rendah lebih baik kamu sekarang lanjut istirahat diluar juga lagi hujan," ucap Devan yang masih memejamkan matanya.


Setelah Devan mengatakan hal tersebut barulah Keyna merasa hawa dingin dari hujan, Keyna awalnya ragu untuk membalas pelukan dari Devan, tapi karena ia merasa hangat dalam pelukan Devan akhirnya Keyna pun ikut membalas pelukan tersebut, 'Bodoh amat ah, daripada dingin kan,' ucap Keyna dalam hati lalu memberanikan diri memeluk Devan.


Keyna pikir Devan akan melepaskan pelukannya, tapi sebaliknya, Devan justru semakin mengeratkan pelukannya, "Ehm, Van, kamu gak kerja emangnya?" tanya Keyna.


"Aku pemiliknya jadi aku gak pergi pun terserah," ucap Devan.


"Hem, bener juga sih," ucap Keyna.


"Aku juga gak ada pemotretan Minggu ini jadi aku bisa leluasa bangun tidur kayak sekarang," ucap Keyna.


"Key," panggil Devan yang masih saja memejamkan matanya.

__ADS_1


'Pengenku congkel tuh mata, apa susahnya sih tinggal buka aja,' ucap Keyna dalam hati.


"Kamu ingin mencongkel mataku, maka akan kuambil dulu jantungmu," ucap Devan lalu membuka matanya dan menatap tajam ke arah Keyna.


"Aku gak ngomong gitu ya," elak Keyna.


"Iya, jangan kamu kira aku gak tau kalau kamu mikir kayak gitu tadi," ucap Devan.


"Tapi, gimana kamu bisa tau?" tanya Keyna.


"Udah tidur, aku tidak butuh pertanyaan," ucap Devan lalu mengelus punggung Keyna dan hal itu membuat Keyna salah tingkah dan gugup setengah mati karena perlakuan Devan.


Devan dan Keyna pun melanjutkan tidurnya hingga jam sudah menunjukkan pukul 11 siang, "Wah udah jam 11 ternyata, dasar Devan tadi nyuruh tidur lagi kan sekarang udah siang mana laper banget lagi," gumam Keyna dan menyingkirkan tangan kekar Devan yang berada di atas perutnya.


Keyna berhasil lolos dari Devan dan menuju meja makan untuk menyiapkan makan siang, "Nona, tadi saya sudah buat sarapan untuk Nona, tapi karena Nona dan Tuan tidak keluar, jadi makanan tersebut sekarang dingin, biar Bibi hangatkan lagi atau mau Bibi buatkan yang baru?," tanya Bi Nani.


"Di hangatkan aja kalau gitu Bi," ucap Keyna dan diangguki Bi Nani.


"Baik, Nona," ucap Bi Nani.


"Nona, tadi Tuan besar datang dan memberi kabar untuk Tuan Devan segera datang ke kantor Tuan besar, tapi karena Tuan Devan dan Nona belum bangun maka Tuan besar mengatakan jika Tuan Devan bangun saja untuk mengatakannya pada Tuan Devan," ucap Bibi Nani.


"Jadi, maksud Bi Nani ini tadi Papa datang dan nyuruh Devan ke kantornya gitu?" tanya Keyna.


"Iya, Nona," ucap Bi Nani.


"Astaga, Bi kok ngomongnya belibet gitu sih untung Keyna pinter jadi Keyna ngerti maksud Bibi," ucap Keyna dan tersenyum.


"Maaf, Nona," ucap Bi Nani.


"Gapapa kok, Bi. Kalau gitu Bibi lanjut hangatin masakannya aja biar Keyna yang bangunin Devan," ucap Keyna lalu menuju ke kamar.


Karena tidak mendapat jawaban, Keyna pun akhirnya mendekat dan duduk di pinggir ranjang lalu mengguncang tubuh kekar Devan.


"Ih, tau ah capek aku," ucap Keyna dan berdiri, tapi baru saja ia berdiri tiba-tiba tangannya ditarik oleh seseorang, siapa lagi jika bukan Devan.


Posisi Keyna saat ini sangat tidak menguntungkan untuk dirinya karena ia berada di atas tubuh Devan, Keyna semakin menegang saat dadanya bertubrukan dengan dada bidang Devan, "Kenapa mukamu tegang begitu?" tanya Devan dengan suara khas bangun tidurnya.


"Hah!" Keyna bingung harus menjawab apa karena ia sangat tertekan terutama dadanya.


"Aku sangat suka, ukurannya sangat pas di dadaku," ucap Devan lalu mengecup Keyna dan semakin mengeratkan pelukannya.


Sekali lagi, hal tersebut membuat Keyna tidak nyaman, tapi anehnya tubuh Keyna tidak ingin lepas dari Devan, bukan karena Devan yang memeluknya erat melainkan dirinya sendiri yang seolah-olah tidak memberi izin untuk ia lepas dari pelukan tersebut.


"Kenapa hem?" tanya Devan dengan lembut yang membuat desiran aneh di hati Keyna.


"Ehm, tadi kata Bi Nani, Papa datang dan nyuruh kamu untuk ke kantornya," ucap Keyna.


Devan tetap setia mendengarkan Keyna dan tidak melepaskan pelukannya, "Yaudah, kalau gitu aku akan siap-siap dan kamu juga," ucap Devan lalu mendudukkan dirinya dan Keyna.


"Hah! aku? kenapa aku harus siap-siap? Papa itu nyuruh kamu buat ke kantornya bukan aku," tanya Keyna.


"Iya, aku tau, kemarin Papa udah bilang kalau Papa nyuruh aku ke kantor bareng kamu, tapi aku gak tau kapan Papa nyuruh aku dan ternyata hari ini," ucap Devan.


"Kamu kalau ngomong gak jelas kayak Bi Nani, tapi sekali lagi untung aku pintar jadi bisa ngerti maksud kamu, udah ah kamu mandi dulu, aku mau nyiapin bajuku dulu soalnya," ucap Keyna lalu menuju walk in closet.


"Tadi dia bilang apa aku gak jelas, dia gak tau kalau dia lagi berhadapan sama ketua mafia yang paling ditakuti," gumam Devan lalu berjalan menuju kamar mandi.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, Keyna dan Devan pun selesai dengan ritual masing-masing, mereka segera menuju meja makan, "Tuan, Nona," sapa Mike.


Devan dan Keyna lalu memakan makan siangnya saat akan berdiri tiba-tiba Devan berbicara, "Mulai saat ini semuanya harus memanggil Keyna dengan sebutan Nyonya bukan Nona jika ada yang memanggilnya Nona maka kalian akan tau akibatnya," ucap Devan dan berlalu dari meja makan dengan Keyna yang masih tidak percaya di tempatnya.


"Maksud kamu apa Dev? bukannya kita sudah sepakat untuk mereka memanggilku Nona bukan Nyonya," tanya Keyna.


"Aku tidak suka dibantah dan kesepakatan itu hanya kamu yang menyetujuinya bukan aku," ucap Devan lalu masuk kedalam mobil dan diikuti Keyna.


'Dasar suami pemaksa,' ucap Keyna dalam hati.


"Aku sudah bilang kalau kamu ingin mengumpat ku itu langsung di depanku bukan didalam hati," ucap Devan yang masih fokus dengan laptop yang ada di pangkuannya.


"Udah aku gak mau debat denganmu," ucap Keyna.


Sekitar 20 menit akhirnya mereka pun sampai di kantor Papa Alex, "Kok aku takut ya," gumam Keyna, tapi masih dapat di dengar Devan.


"Papa gak gigit, buat apa kamu takut," ucap Devan.


"Ya, tapi kan All grup siapa yang tidak ingin masuk ke sana dan sekarang aku malah punya kesempatan ke sana mana langsung ketemu sama pemiliknya," ucap Keyna.


"Ck, kalau kamu lupa All grup masih dibawah Marva Grup," ucap Devan dengan sombong.


"Iya iya Presdir Devan," ucap Keyna.


"Ayo masuk," ajak Devan.


"Ehm, kamu duluan aja deh, aku nanti nyusul," ucap Keyna.


"Kenapa?" tanya Devan.


"Aku mau beli es americano dulu kamu mau titip?" tanya Keyna.


"Nanti biar Mike yang belikan," ucap Devan dan mendapat gelengan dari Keyna.


"Gak mau, aku mau sendirian aja, lagian kan aku cuma sebentar," ucap Keyna.


"Yaudah, nanti biar aku suruh manager menunggumu di lobby," ucap Devan dan diangguki Keyna.


Devan pun masuk kedalam kantor dan mendapat tatap penuh kagum dari para karyawan, siapa yang tidak kenal Devan Radya Erland yang merupakan penerus keluarga Erland.


Disisi lain selesai memesan minuman, Keyna pun masuk kedalam kantor tersebut dan mendapat tatapan tajam dari para karyawan entah mungkin karena kecantikan Keyna dan juga karena Keyna orang baru disana, banyak karyawan yang tidak mengenal Keyna, "Siapa dia? berani-beraninya dia masuk ke perusahaan ini?" tanya orang-orang yang ada disana.


"Ini manager nya mana sih?" tanya Keyna pada dirinya sendiri.


Karena terlalu lama menunggu manager akhirnya Keyna pun memutuskan untuk melangkah menuju resepsionis meskipun banyak yang berkomentar mengenai dirinya. Tapi, Keyna menulikan pendengarannya dan sesampainya di resepsionis Keyna pun bertanya dengan sopan, "Permisi,mbak saya mau bertanya ruangan Tuan Alex ada di sebelah mana ya mbak?" tanya Keyna.


Pertanyaan Keyna semakin membuat para karyawan memandang rendah dirinya, "Oh jadi dia wanita penggoda, emang dasar ya. Tuan Alex gak bakal mempan di goda sama tuh cewek," bisik mereka, namun masih dapat didengar oleh Keyna.


"Maaf, ya mbak, Presdir sedang sibuk jadi tidak bisa diganggu dan satu lagi kalau mbaknya mau cari uang atau sugar daddy tolonglah jangan ke Presdir, yang ada mbaknya jadi babak belur loh, lagian mbaknya gak terlalu cantik juga, gak pantes lah masuk ke kantor sebesar All grup," ucap resepsionis tersebut dengan nada sinis.


Keyna pun tersenyum mendengar perkataan resepsionis tersebut, "Saya kesini bukan untuk mendengar penilaian mbak tentang saya, saya hanya ingin menanyakan letak ruangan Tuan Alex," ucap Keyna.


"Makin ngelunjak nih orang gue panggilan petugas tau rasa lo, petugas!!," ucapnya dan memanggil petugas.


.


.

__ADS_1


.


Tbc.


__ADS_2