Mafia Itu Suamiku

Mafia Itu Suamiku
Pose


__ADS_3

Saat ini mereka telah keluar dari rumah hantu dan mereka tengah duduk di bangku dekat toilet, karena Keyna tiba-tiba ingin buang air kecil. Mungkin karena terlalu takut berada didalam rumah hantu, Keyna kedalam toilet bersama dengan Kikan dan Celine.


Sedangkan, para pria menunggu mereka, "Oh iya, btw si Sammy sama Zayn gimana kabarnya udah lama gak ketemu sama mereka?" tanya William.


Devan sendiri mengetatkan rahangnya saat mendengar nama-nama itu disebut, tiba-tiba saja Devan ingin mencekik William.


Rangga yang paham akan raut wajah Devan pun memilih mengalihkan pembicaraan William, Rangga tidak yakin William bisa keluar dari pasar malam hidup-hidup jika terus membahas hal itu.


"Udahlah, gak usah bahas itu, btw lo udah berapa lama pacaran sama Kikan?" tanya Rangga.


"Gue udah 3 tahunan mungkin," ucap William.


"Wah? lama juga ya," ucap Rangga.


"Lama banget, makanya gue sampe kenal Celine sama Keyna, karena kan mereka juga udah sahabatan dari dulu," ucap William.


"Terus lo gimana kok belum apa-apa udah nanam benih aja di perutnya Celine, padahal lo belum ada hubungan apa-apa sama Celine?" tanya William.


"Huh, biasa one night stand, gue saat itu dalam kondisi mabuk dan juga ada orang yang ngasih obat ke minuman gue," ucap Rangga.


"Dunia ini memang sempit ya, gue yang udah lama gak ketemu lo berdua tiba-tiba kita ketemu mana cewek kita sahabatan pula," ucap William.


"Gue juga ngerasa kayak gitu," ucap Rangga.


"Lo setelah lulus kuliah kerja dimana kok gue gak denger kabar lo?" tanya Devan.


"Gue pergi ke negara C, disana gue nerusin perusahan keluarga gue sampai sekarang sih, tapi gue bangun beberapa cabang disini biar gampang aja gitu," ucap William.


"Lo kan punya kenalan namanya Gilang dulu, lo tau dia dimana sekarang?" tanya Devan.


"Gilang? Gilang Kakak kelas kita dulu?" tanya William.


"Hem," jawab Devan.


"Gue juga gak tau dia dimana, kayaknya semua orang tau deh, dia sama Kak Dika hilang gitu aja dan sampai sekarang gak ada yang tau mereka dimana," ucap William.


"Iya, gue juga pernah denger kabar katanya mereka udah meninggal, tapi gak tau deh, soalnya mereka bener-bener kayak ditelan bumi," ucap Rangga.


"Btw, kenapa lo tanya dia?" tanya William.


"Gapapa, gue cuma pengen tau dimana dia sekarang," ucap Devan.


Devan menanyakan hal itu karena ia sangat penasaran apa yang membuat Dika terus mengigau dan menyebutkan nama Gilang bahkan Dika sampai meneteskan air matanya dalam keadaan mata yang tertutup. Ya, Devan tau hal itu karena anak buahnya yang melaporkannya.


"Lo masih ketemu sama temen-temen lo yang lainnya gak?" tanya Rangga.


"Huh, gue sebenernya pengen banget ketemu sama temen-temen gue pas kuliah, tapi gue gak punya nomor mereka bahkan gak tau mereka dimana," ucap William.


"Orang kalau udah mulai dewasa yang mereka pikirin itu bukan lagi seneng-seneng, tapi mereka udah mikirin masa depan, mungkin karena itu banyak dari temen-temen kita dulu yang pas kuliah atau sekolah lengket banget sama kita mulai jarang ketemu bahkan sampai kehilangan kontaknya," ucap Rangga.


"Bener kata lo," ucap William.


"Maaf ya lama," ucap Celine yang baru saja datang bersama dengan Keyna dan Kikan.

__ADS_1


.


Mereka saat ini mulai lelah karena sudah beberapa permainan mereka coba, bahkan hari pun semakin gelap, "Kita kemana lagi nih?" tanya Rangga.


"Kita naik bianglala yuk sebelum pulang," ajak Kikan.


"Ayok," ucap Celine dengan semangat.


Mereka pun menaiki bianglala berpasang-pasangan.


"Apa kamu senang hari ini?" tanya Devan yang melihat Keyna mengabadikan pemandangan kota yang terlihat sangat indah dengan lampu kelap-kelipnya.


"Iya, aku seneng banget," ucap Keyna.


"Apa kamu akan terus mengabadikan pemandangan dan tidak mengajakku?" tanya Devan.


Keyna yang awalnya fokus dengan pemandangan kota pun mengalihkan pandangannya kearah Devan.


"Maksudnya?" tanya Keyna.


"Huh, lupakan," ucap Devan.


"Kita foto yuk," ajak Keyna.


"Aku bilang lupakan," ucap Devan.


"Gapapa kita jarang loh foto berdua bahkan hampir gak pernah deh," ucap Keyna.


Keyna pun melakukan selfie dengan Devan walaupun Devan tidak berekspresi, namun Keyna tetap mengabadikan momen tersebut, "Bagus," ucap Keyna yang melihat hasilnya.


"Pose apa?" tanya Keyna.


Bukannya menjawab Devan justru mengecup lama bibir Keyna dan mengarahkan ponselnya keatas hingga tanpa Keyna sadari beberapa foto telah diambil.


Setelah itu, Devan pun melepaskan pagutan tersebut, ia tidak ingin kepergok oleh yang lainnya.


Setelah kejadian yang tidak terduga tadi, suasana menjadi canggung bahkan Keyna tidak berani menatap Devan, Keyna fokus pada pemandangan kota yang sangat cantik, tapi otaknya masih mengingat bahkan memikirkan kejadian tadi.


Setelah menaiki bianglala, mereka pun berkumpul dengan Kikan dan Celine, "Kita langsung pulang atau gimana nih?" tanya Celine.


"Kita pulang aja, kamu kan lagi hamil takut nanti baby nya kenapa-napa lagi," ucap Rangga.


"Yaudah, kita pulang dulu deh kalau gitu," ucap Celine.


.


Keyna dan Devan saat ini sudah sampai di mansion dan langsung membersihkan dirinya, setelah membersihkan dirinya Keyna lebih memilih untuk ke dapur mengambil beberapa cemilan. Sedangkan, Devan berada di ruang kerjanya.


Devan sendiri sedang memeriksa beberapa berkas hingga suara dering telepon membuat Devan mengalihkan pekerjaannya dan mengangkat sambungan telepon tersebut.


"Ada apa?" tanya Devan.


"Maaf, Tuan, saya ingin memberitahukan jika beberapa orang tengah berteriak di markas dan ingin bertemu dengan Tuan," ucap Mike.

__ADS_1


"Aku akan kesana, jangan biarkan mereka masuk kedalam markas sebelum aku datang," ucap Devan lalu memutuskan sambungan telepon tersebut.


Devan pun melangkahkan kakinya keluar dari ruang kerja dan saat keluar ia melihat Keyna yang tengah asik memakan cemilan di ruang tamu sambil menonton televisi, "Kamu mau kemana, Dev?" tanya Keyna saat melihat Devan keluar dari ruang kerjanya.


"Aku ada urusan mendadak, jangan tunggu aku, kamu tidur saja duluan," ucap Devan lalu keluar dari mansion nya dan meninggalkan Keyna sendirian.


"Huh, sabar Keyna," gumam Keyna.


Disisi lain, Devan mengendarai mobilnya dengan kecepatan diatas rata-rata, sesampainya di markas Devan langsung melihat 3 orang pria berbadan kekar dengan pakaian serba hitam berada didepan markasnya, "Ada apa ini? kenapa kalian ingin bertemu denganku?" tanya Devan dengan nada dinginnya.


"Kami hanya ingin menanyakan keberadaan Tuan Dion," ucap salah satu dari mereka.


"Dion? kalau kalian cari Dion ke sini kalian salah tempat karena Dion tidak ada disini, asal kalian tahu aku tidak akan mau dan sudi membawa Dion ke markas ku," ucap Devan.


"Tapi, dari yang kami ketahui anda-lah yang yang terakhir kali membawa Tuan Dion," ucapnya.


"Ya, tapi aku tidak membawa Dion kesini," ucap Devan.


"Kemana Anda membawa Tuan Dion?" tanyanya.


"Kalian bertemu dengannya juga percuma karena kalian tidak akan pernah bisa melihat dia," ucap Devan.


"Apa yang anda lakukan terhadap Tuan Dion, dasar b*j*ng*n, s**l*n kau!" maki salah satu dari mereka lalu menghampiri Devan dan akan memukul Devan, tapi Devan dapat menggagalkannya.


"Aku sedang tidak ingin memukul siapapun jadi jangan buat aku emosi karena kalian mencari Dion maka aku akan beritahu ke kalian kalau Tuan kalian sudah tidak ada di bumi ini, dia sudah ada di perut hewan kesayanganku, kalau kalian ingin menyusul Tuan kalian maka dengan senang hati anak buahku akan membukakan kandang singa peliharaanku," ucap Devan.


"Anda benar-benar keterlaluan, anda akan mendapatkan balasan atas kelakukan anda ini," ucapnya.


"Aku selalu menunggu balasan itu," ucap Devan dengan santai.


"Kita pergi," ucap salah satu dari mereka lalu pergi meninggalkan markas Devan.


"Tuan," panggil Mike yang menghampiri Devan.


"Ck, mengurus begitu saja tidak bisa, sampai harus memanggilku segala," ucap Devan.


"Maaf, Tuan," ucap Mike.


"Bagaimana kondisi didalam apa ada Malasah?" tanya Devan pada Wilson, anak buahnya yang tugasnya menjaga markas.


"Tidak ada Tuan, tapi tahanan nomor 22 selalu berteriak dan menangis dengan sendirinya," ucap Wilson.


"Biarkan saja itu wajar karena dia mulai mengalami halusinasi, aku tidak ingin membunuhnya dengan cepat, aku akan membunuh mentalnya baru membunuh fisiknya," ucap Devan lalu masuk kedalam markas yang diikuti Wilson dan Mike.


Devan pun sampai di penjara bawah tanah dan melihat beberapa tahanan yang kondisinya sangat memprihatikan, "Hai, kita bertemu lagi," sapa Devan pada salah satu tahanan.


"Tuan, lepaskan saya," ucapnya.


"Kau tahanan baru bukan, oh tunggu kau ini yang membuat Keyna dan teman-temannya berada di gudang sampai Keyna tidak sadarkan diri bukan," ucap Devan.


.


.

__ADS_1


.


Tbc.


__ADS_2