Mafia Itu Suamiku

Mafia Itu Suamiku
Bersenang-senang


__ADS_3

PERINGATAN!


Pada Bab ini terdapat adegan berbau darah dan juga kekerasan, author sarankan untuk tidak membacanya dan keluar dari Bab ini.


.


.


.


"Sayang, kamu gapapa kan atau masih ada yang sakit?" tanya Papa Alex.


"Keyna udah mendingan kok, Pa. Makasih ya udah khawatir sama, Keyna," ucap Keyna.


"Wajar dong kalau Papa khawatir sama kamu, kan kamu menantu Papa, bukan hanya Papa kamu aja yang khawatir, tapi Mama juga khawatir," ucap Mama Vanka dan dibalas senyum oleh Keyna.


"Oh iya, Papa gak bisa lama-lama, Papa harus ke kantor karena ada proyek penting, tapi nanti Papa akan kesini lagi kok, gapapa kan?" tanya Papa Alex.


"Iya, Pa. Gapapa kok, yang pentingkan Papa udah kesini," ucap Keyna.


"Yaudah, Papa ke kantor dulu. Van, jagain istri kamu jangan sampai dia terluka lagi kalau sampai istri kamu terluka lagi Papa akan salahkan kamu," ucap Papa Alex yang berada di depan Devan.


"Iya, Pa," jawab Devan.


"Jangan lupa buat balas dendam Papa ke perempuan yang udah berani celakain Menantu kesayangan keluarga Erland, buat dia menderita secepatnya," bisik Papa Alex.


"Devan akan lakuin itu secepatnya, Pa," bisik Devan dan diangguki Papa Alex.


***


Saat ini didalam kamar inap Keyna hanya ada Devan karena keluarga Devan dan keluarga Keyna sudah pulang sejak siang tadi dan akan kembali lagi setelah itu.


Beberapa saat kemudian, datanglah Mama Vanka dan Mama Bella dengan membawa banyak buah-buahan.


"Banyak banget, Ma," ucap Devan.


"Hehehe, biar Keyna gak bosen, kalau mau apa aja kan udah ada," ucap Mama Vanka.


"Keyna, kemana, Van?" tanya Mama Bella.


"Di kamar mandi, Ma," ucap Devan.


"Loh, kok gak kamu temenin sih Keyna nya kan pasti Keyna sekarang lagi kesusahan," ucap Mama Vanka.


"Udah Devan tawarin, tapi Keyna nya gak mau yaudah Devan cuma merhatiin dari sofa aja," ucap Devan.


Selang beberapa saat kemudian, pintu kamar mandi pun terbuka dan nampak lah Keyna dengan langkah pelan menuju tempat tidurnya.


"Kamu itu harusnya minta anterin suami kamu, udah tau sakit masih aja kayak gini kan gemes tau gak Mama itu sama kamu," ucap Mama Bella.


"Hehehe, Keyna udah gapapa kok, Ma," ucap Keyna.


"Ma, Devan pergi dulu ya. Devan titip Keyna, setelah urusannya selesai Devan langsung ke rumah sakit lagi," ucap Devan pada Mama Vanka dan Mama Bella.


"Iya, kamu selesain dulu urusan kamu biar Keyna, Mama dan Mama Bella yang jaga," ucap Mama Vanka dan diangguki Devan.


Devan pun pergi dari rumah sakit dan menuju markas untuk memberikan perhitungan pada Aurel, ya Aurel sudah dipindahkan dari gudang bawah tanah mansion milik Devan ke markas besar.

__ADS_1


Devan memasuki area markas dan menuju ke lapangan utama karena Aurel saat ini berada di lapangan utama yang ada di markas, jika seseorang berada di lapangan utama itu artinya hukuman yang didapat juga sangatlah berat dan hanya beberapa orang yang pernah dihukum di lapangan utama.


"Tuan," Mike menghampiri Devan yang baru saja masuk kedalam markas.


"Dia sudah di lapangan utama?" tanya Devan dan diangguki Mike.


"Iya Tuan. Dia sudah ada di lapangan utama," ucap Mike dan diangguki Devan.


Devan pun melangkah menuju lapangan utama dan benar saja disana sudah ada Aurel serta beberapa anak buahnya.


Sangat mengenaskan, itulah yang dapat menggambarkan bagaimana kondisi Aurel saat ini dengan tangan terikat dan kaki yang terikat di sebuah tiang kecil.


"Apa kau tidak berfikir bagaimana nasibmu jika melukai menantu keluarga Erland dan juga kabur dari penjara bawah tanah?" tanya Devan dengan nada dingin.


"Tidak! aku hanya ingin membuat dia terluka kalau bisa meninggal agar aku bisa menggantikannya," ucap Aurel.


"Kau mau menggantikannya, bahkan kalaupun dia meninggal aku tidak akan memilihmu," ucap Devan.


"Kenapa?" tanya Aurel dengan nada sedih.


"Karena kau tidak pantas untuk hidup di sekitar keluarga Erland, kau itu hanya virus ah lebih tepatnya sampah," ucap Devan.


"Oh iya, hampir lupa. Mike," Devan menatap ke arah Mike seperti meminta sesuatu, Mike yang paham pun mengangguk dan pergi dari lapangan utama.


Beberapa saat kemudian Mike datang dengan sebuah karung, "Mike perlihatkan," ucap Devan.


Mike pun membuka karung tersebut dan memperlihatkan bagian tubuh manusia, Aurel yang melihat bagian tubuh itu sudah mual karena melihat kulit dan dagingnya yang hancur, Mata Aurel mulai memanas karena melihat bagian tubuh tersebut tidak utuh.


Terakhir Mike mengeluarkan kepala dan betapa terkejutnya saat Aurel mengetahui siapa orang tersebut, mata, hidung dan telinga sudah tidak ada, Namun Aurel masih dapat mengenali orang tersebut.


"Kau pasti senang kan akhirnya kau punya teman," ucap Devan.


Awalnya Aurel hanya menganggap ini sebagai ancaman semata, tapi setelah melihat ini Aurel tau jika ia benar-benar dalam bahaya.


"Ini," ucap Devan dan melemparnya sebuah lidah ke arah Aurel, lidah tersebut jatuh di kaki Aurel.


Sontak saja Aurel terkejut dan menggesekkan kakinya karena merasakan lidah tersebut, namun upayanya gagal karena lidah tersebut tidak jatuh ke tanah.


"Berapa kali dia menyodoknya?" tanya Devan.


"Hah! maksudnya?" tanya Aurel.


"Kau bisa kabur dengan gratis dari ruang bawah tanah dengan tubuhmu bukan, aku hanya ingin tau berapa kali pria itu menyodok mu," ucap Devan.


"Kau benar-benar iblis Devan," maki Aurel.


"Wow, aku sangat suka dengan julukan itu, tapi jujur saja julukan itu sangat membosankan, aku butuh julukan lain karena banyak yang memberikan julukan itu untukku, tapi kau tidak perlu khawatir karena aku akan tetap menghargai julukan mu ya meskipun aku bosan mendengarnya," ucap Devan.


"Kau bahkan tidak pantas disebut sebagai manusia," ucap Aurel.


"Hem, kau benar aku tidak suka dengan namaku, tapi mau bagaimana lagi kalau aku ingin melakukan kejahatan harus ada penyamaran bukan," ucap Devan.


"Kau tidak perlu khawatir sebentar lagi kau akan menyusul keluarga dan priamu," ucap Devan.


"Kenapa kau membunuh mereka apa mereka pernah membuat salah denganmu?" tanya Aurel.


"Yang pertama karena mereka orang terdekatmu dan yang kedua karena orang itu kau bisa kabur bahkan melukai istriku jadi aku hancurkan saja semuanya mungkin sebentar lagi Leon akan kenyang karena mendapatkan 4 orang sekaligus," ucap Devan.

__ADS_1


"Leon?" tanya Aurel.


"Ya, singa ku," ucap Devan dengan seringai yang menakutkan.


Devan pun mendekati Aurel, "Mike," panggil Devan dengan mengulurkan tangannya, Mike pun memberikan pisau ke Devan.


"Kau ke-kenapa kau membawa pi-pisau?" tanya Aurel.


"Untuk bersenang-senang, kau tau kebanyakan orang bersenang-senang di ranjang, tapi aku lebih suka bersenang-senang dengan tubuh orang bukan untuk menikmati tubuhnya melainkan untuk menikmati menyiksanya," ucap Devan dan mengarahkan pisau tersebut ke wajah Aurel.


Devan pun menggesekkan pisau tersebut hingga berbekas di dahi Aurel dan Aurel pun merintih kesakitan karena dahinya sudah mengeluarkan darah tanpa aba-aba Devan perlahan-lahan menancapkan pisau tersebut ke mata kanan Aurel, Aurel pun terkejut saat akan menghindar kepala Aurel justru di pegang oleh anak buah Devan dari belakang.


"Aaaa!" teriak Aurel saat pisau tersebut sudah menancap tepat di mata kanannya.


"Sakit!" teriak Farah, namun Devan menghiraukannya.


"Kau tau biasanya orang yang aku bunuh akan aku ambil bagian tubuh terpentingnya lalu aku jual, tapi tubuhmu akan aku hancurkan karena aku tidak ingin bagian tubuhmu ada di tubuh manapun," ucap Devan.


Setelah penyiksaan yang kejam, saat ini Aurel sudah tidak dapat berbicara, dengan cepat Devan memukul hidung Aurel hingga hidungnya mengeluarkan darah.


Aurel sudah terbatuk-batuk karena tidak kuat ia mulai lemas, Aurel ingin sekali berteriak, namun apalah daya Aurel tidak bisa bergerak barang sedikit pun dan saat Aurel mulai kehilangan kesadaran tiba-tiba Devan memberikan obat ke Aurel dan membuat Aurel kembali sadar.


"Aku tidak akan membiarkanmu mati secepat itu, kau harus merasakan sakit dengan mata kirimu," ucap Devan.


Ya, memang aksi Devan itu telah berhasil membuat mata kanan Aurel tidak dapat melihat hingga saat ini ia hanya dapat melihat dengan mata kiri.


Aurel hanya melihat dengan merasakan perih yang teramat sangat, namun sekali lagi ia tidak bisa bergerak bahkan untuk membuka mulut pun tidak bisa karena mulutnya sudah dipukul habis oleh Devan.


Devan terus menyiramnya bahkan Devan juga melukai kakinya dan menyiramnya dengan air keras, "Huh, sangat menguras tenaga, kalian mandikan dia," ucap Devan.


Anak buah Devan pun memandikan Aurel sampai bersih dan Devan menuju ruangannya yang ada di markas, "Kenapa, Pa?" tanya Devan melalui sambungan telepon tersebut.


"Gimana kamu sudah melakukannya?" tanya Papa Alex.


"Papa, tidak perlu khawatir semuanya sudah Devan lakukan tinggal hukuman terakhir," ucap Devan.


"Bagus, biarkan dia menderita sampai akhir hidupnya," ucap Papa Alex lalu memutuskan sambungan telepon tersebut.


'Hukuman terakhir yang harus kau jalani sangat sederhana, tapi dapat membuatmu senang,' batin Devan.


"Tuan, semua sudah siap," ucap Mike.


Devan pun menuju lapangan dan disana Aurel sudah bersih dengan baju yang terlihat baru, "Sekarang hukumanmu yang terakhir setelah itu kau akan mendapatkan kebebasan, ah dan asal kau tau aku tidak pernah memberikan hukuman ini ke siapapun meskipun banyak perempuan yang pernah ku hukum dan kau akan menjadi perempuan pertama yang mendapatkannya," ucap Devan.


"Mike," panggil Devan dan diangguki oleh Mike.


Mike pun memanggil empat orang yang entah darimana yang jelas mereka bukan anak buah keluarga Erland.


"Lakukan tugas kalian kalau kalian ingin uang dan keluarga kalian selamat, Mike urus dia setelah mereka melakukan tugasnya, aku akan kembali ke rumah sakit sendiri," ucap Devan lalu pergi dari lapangan.


"Kalian bisa melakukan tugas kalian dan untuk bayaran kalian tidak perlu khawatir sesuai janji bahkan akan ada bonus untuk keluarga kalian," ucap Mike dan diangguki oleh keempat pria tersebut.


.


.


.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2