
Jawaban Keyna membuat Devan teringat akan Rangga yang pernah memintanya untuk mencari perempuan yang melakukan one night stand dengannya dan anak buah Devan juga mengatakan jika perempuan yang dicari Rangga tidak berada di negara C, 'Apa jangan-jangan temannya Keyna itu teman one night stand-nya Rangga?' tanya Devan dalam hati.
"Dev," panggil Keyna yang membuat lamunan Devan buyar seketika.
"Kenapa?" tanya Devan.
"Ehm, kamu mau bantuin Celine cari laki-laki itu gak, aku takut kalau anak itu lahir terus gak ada Ayahnya nanti malah dia dihina lagi," ucap Keyna.
"Hem, aku usahakan, tapi aku gak janji," ucap Devan yang membuat senyum Keyna mengembang.
"Makasih, Dev," ucap Keyna.
Devan yang melihat senyum Keyna hampir terpesona bahkan ia pun ikut tersenyum dan untungnya Keyna tidak menyadarinya, 'Dev, jangan berubah pikiran, kau harus membuat Keyna hancur didepannya jangan sampai kau melibatkan perasaanmu,' ucap Devan dalam hati.
Keadaan Keyna semakin membaik dan hari ini ia akan bertemu dengan Celine dan Kikan karena mereka berada di rumah sakit yang sama, "Kikan," panggil Keyna saat masuk kedalam kamar inap Kikan.
Keyna memutuskan untuk bertemu Kikan terlebih dahulu karena kamar inap mereka yang cukup dekat.
"Hei, Keyna," sapa Kikan dan Keyna pun menghampiri Kikan lalu memeluknya.
"Kamu gimana, Kan? kamu gapapa kan, Kan? ada yang sakit gak?" tanya Keyna.
"Aku gapapa kok, untung aja ada Presdir Devan yang udah nolongin kita dengan cepat kalau gak bisa-bisa aku udah di surga sekarang," ucap Kikan.
"Yakin situ masuk surga," ucap Celine yang baru saja masuk.
"Celine! aku kangen banget," ucap Keyna dan menghampiri Celine lalu memeluknya.
"Lebay kamu deh, tadi aku ke kamar kamu loh Key, eh taunya kamu malah ada disini," ucap Celine.
"Hehehe, kamu gak bilang sih kalau kamu mau ke kamarku dulu, tau gitu tadi aku diem didalam kamar aka," ucap Keyna.
"Oh iya, si baby gimana? ada masalah gak?" tanya Kikan.
"Gak kok, si baby kuat banget," ucap Celine.
"Lin," panggil Keyna.
"Kenapa, Key?" tanya Celine.
Saat ini Kikan berada di brankar, sedangkan Keyna dan Celine berada di sofa yang ada di kamar tersebut.
"Aku udah cerita semuanya ke Devan terus aku juga minta bantuan dia buat cari Ayah dari si baby," ucap Keyna.
"Key, kenapa gak bilang dulu ke aku?" tanya Celine.
"Maaf, tapi maksudku baik, semua ini untuk masa depan kamu sama si baby, aku yakin kamu bisa mengatasi semuanya sendiri, tapi si baby gimana nanti kalau suatu saat dia mau tau Ayahnya gimana, Lin. Disini bukan hanya kamu yang harus dipikirkan, tapi juga si baby, kamu bisa jamin kalau nanti si baby bakal diterima sepenuhnya sama lingkungan karena gak punya Ayah?" tanya Keyna.
"Hem, kamu bener, Key. Disini aku juga harus mikirin nasib anak aku, tapi kalau nanti Presdir Devan gak bisa menemukan Ayahnya anak yang lagi aku kandung sekarang, aku udah siap dengan semua konsekuensinya kok," ucap Celine.
__ADS_1
"Kita tunggu kabar dari Presdir Devan dulu, Lin, jangan pesimis ya," ucap Kikan dan diangguki Celine.
"Kamu udah makan belum?" tanya Keyna.
"Udah kok, tadi sebelum kesini aku udah makan," ucap Celine.
"Ya, padahal kita mau ajak makan bareng," ucap Kikan.
"Loh, kalian belum makan?" tanya Celine yang diangguki Keyna dan Kikan.
Beberapa saat kemudian, anak buah Devan pun membawa beberapa makanan yang tentunya bukan makanan di rumah sakit karena Keyna yang sudah memesankan makanan tersebut dengan perintah Devan, "Terima kasih," ucap keyna dan diangguki anak buah Devan.
"Kamu yakin gak mau makan, Lin?" tanya Kikan yang mengeluarkan makanan tersebut, disana ada spaghetti, pizza, dan beberapa makanan fast food lainnya.
Meskipun awalnya Devan tidak mengizinkannya, tapi dengan bujukan Keyna akhirnya Devan mengizinkannya lagipula keadaan Keyna sudah membaik begitupun dengan Kikan dan Celine.
.
Disisi lain, Devan saat ini berada di taman rumah sakit, "Mike, kau cari informasi mengenai sahabat Keyna yang sedang hamil itu karena dia ada di negara C saat aku dan Rangga juga ada di negara C," ucap Devan.
"Baik, Tuan," ucap Mike.
"Selamat pagi, Tuan Devan," sapa seorang pria yang memakai banyak cincin di tangannya.
"Hem, pengacara," jawab Devan.
"Tuan Devan masih saja memanggil saya seperti itu, kenapa Tuan ada disini?" tanya Arik, mantan pengacara keluarga Erland, ia berhenti karena ia ingin menikmati masa tuanya dengan berkeliling dunia.
"Tuan Devan ini, tidak pernah berubah," ucap Arik.
"Kau juga kenapa ada disini?" tanya Devan.
"Istri saya sedang melahirkan disini makanya saya ada disini," ucap Arik.
"Istri? istrimu yang ke berapa?" tanya Devan.
"Hahaha, Tuan Devan ini terlalu to the point ya, ini istri saya yang kelima," ucap Arik.
"Kau sudah memiliki lima istri, padahal dulu masih 3," ucap Devan.
"Ya begitulah Tuan Devan, Tuan tau kan kalau saya ini seorang hypersex," ucap Arik.
"Kau memang b*j*ng*n," maki Devan.
"Saya tau itu," ucap Arik.
"Papa," panggil seorang perempuan yang menghampiri Devan dan Arik.
"Hei, sayang sini," ucap Arik.
__ADS_1
"Tuan Devan, kenalkan dia ini anak saya dari istri kedua saya namanya Riana," ucap Arik.
"Tuan, kenalkan nama saya Riana," sapa Riana yang mengulurkan tangannya dengan malu-malu.
"Hem," jawab Devan tanpa membalas uluran tangan dari Riana.
"Hahaha, sudah sayang. Tuan Devan memang begitu jangan diambil hati," ucap Arik.
"Anak saya saat ini berusia 19 tahun, Tuan," ucap Arik.
"Aku tidak tanya," ucap Devan.
Arik hanya tersenyum dengan jawaban yang diberikan Devan dan bukan marah karena ia tahu bagaimana sifat Devan bahkan saat mereka pertama kali bertemu pun sikapnya begitu bahkan lebih parah.
"Saya menemui istri saya dulu Tuan Devan, Ri, temani Tuan Devan dulu ya," ucap Arik dan diangguki Riana.
"Tuan Devan, sudah lama ya kenal Papa?" tanya Riana.
"Hem," jawab Devan.
Hening, itulah yang terjadi. Devan sedang sibuk dengan laptopnya dan mengabaikan Riana hingga saat Devan menaruh laptopnya disebelahnya Riana pun izin pamit, "Tuan Devan, ehm saya pergi dulu ya soalnya nanti saya dicariin lagi," pamit Riana tanpa ada jawaban dari Devan.
Namun, baru saja melangkah. Kaki Riana tersandung sehingga ia jatuh dipangkuan Devan, cukup lama Riana berada dipangkuan Devan dan menatap lekat wajah tampan Devan, "Apa kau sudah puas berada disana? kalau sudah bisakah kau pergi, kau sangat berat," tanya Devan.
Riana yang mulai sadar pun langsung berdiri, "Maaf Tuan, saya tidak sengaja, sekali lagi maaf Tuan Devan," ucap Riana.
"Hem," jawab Devan dan kembali fokus pada pekerjaannya.
Tanpa mereka berdua sadari sedari tadi interaksi mereka disaksikan langsung oleh Keyna, 'Apa dia perempuan yang disukai Devan bahkan perempuan itu cukup lama dipangkuan Devan?' tanya Keyna dalam hati.
"Kenapa sakit ya lihat Devan sama cewek lain?" tanya Keyna dengan suara serak karena ia sedang menahan tangis.
Riana pun akhirnya pergi meninggalkan Devan, "Bagus, kamu harus gencar menggoda Tuan Devan," ucap Arik.
"Papa tidak perlu khawatir aku akan dapatkan hati Tuan Devan, aku akan menjadi Mrs. Erland selanjutnya," ucap Riana.
"Papa yakin kamu pasti bisa," ucap Arik.
"Pasti, Pa, sudah banyak pria yang jatuh pada pesona anak Papa ini jadi kalau untuk Tuan Devan saja sangat mudah, Riana akan buat rencana yang sangat mengesankan sehingga Papa nanti akan tercengang saat melihat hasil dari rencana Riana," ucap Riana dengan bangga.
"Memangnya apa rencanamu?" tanya Arik.
"Rahasia, Papa hanya tunggu hasilnya saja," ucap Riana.
"Oke, Papa tunggu hasilnya," ucap Arik.
.
.
__ADS_1
.
Tbc.