Mafia Itu Suamiku

Mafia Itu Suamiku
Kamu Keterlaluan, Dan!


__ADS_3

Pagi harinya, Keyna sudah bersiap untuk bekerja karena ia ada beberapa hal yang harus dibahas untuk penanda tanganan kontrak dengan beberapa iklan.


"Sayang, ingat ya kamu jangan terlalu banyak kegiatan, kamu juga harus memikirkan si baby," Mama Vanka.


"Iya, Ma," ucap Keyna.


"Mama udah bilang kayak gitu lebih dari 5 kali loh, sampe bosan Devan dengernya," ucap Devan.


"Apa sih kamu itu ganggu aja, Mama kan khawatir sama menantu Mama apalagi saat ini kan Keyna lagi hamil jadi harus sering-sering diingetin buat hati-hati," ucap Mama Vanka.


"Iya deh terserah Mama," ucap Devan yang pasrah dengan Mama Vanka.


"Oh iya, orangtua kamu udah kamu kasih tahu belum soal si baby?" tanya Mama Vanka.


"Udah kok, Ma. Kemarin Keyna sama Devan udah kasih tahu," ucap Keyna.


"Terus gimana respon besan Mama?" tanya Mama Vanka.


"Mama juga seneng sampe nangis kemarin pas video call," ucap Keyna.


"Mama gak sabar deh pengen cepet ketemu sama si baby," ucap Mama Vanka.


"Keyna juga, Ma," ucap Keyna.


"Udah kita berangkat sekarang nanti telat lagi," ucap Devan dan diangguki Keyna.


Baru saja Keyna berdiri tiba-tiba Mama Vanka memukul lengan Devan hingga sang empunya meringis kesakitan walaupun sebenarnya tidak sakit, tapi Devan hanya pura-pura saja.


"Mama kenapa mukul Devan sih mana kenceng lagi mukulnya?" tanya Devan sambil memegang lengannya yang tadi dipukul Mama Vanka.


"Biar tahu rasa, kalau bicara sama istri itu kamu harus lebih lembut jangan dingin, cuek dan datar kayak tadi, kalau kamu bicara sama pegawai kamu gak masalah, tapi ini kamu bicara sama menantu Mama loh, istri kamu dan dia ini lagi hamil anak kamu," omel Mama Vanka yang membuat Keyna tersenyum kemenangan, akhirnya ia melihat Devan diomeli.


"Ck, iya iya," ucap Devan.


"Gak ikhlas kamu, gitu aja pake decakan," ucap Mama Vanka.


"Iya iya Mamaku yang cantik," ucap Devan.


"Udah sana," usir Mama Vanka.


'Untung Mama sendiri kalau gak udah mati ditanganku,' ucap Devan dalam hati.


Hari ini Keyna memang diantar oleh Devan, entah angin apa tadi pagi Devan mengatakan jika hari ini Keyna berangkat dengannya.


Beberapa saat kemudian, Devan dan Keyna pun sampai di agensi, "Cepat keluar, ingat jangan sampai kelelahan, aku tidak ingin Mama menyalahkanku nantinya," ucap Devan dengan nada datar.


Jujur saja perkataan Devan menyakiti hati Keyna, tanpa Devan sadari perkataan Devan mengisyaratkan jika Keyna salah telah mengandung anak itu, karena Keyna dan anak yang sedang ia kandung Mama Vanka sering memarahi Devan.


"Kenapa diam saja?" tanya Devan.


"Gapapa kok," jawba Keyna.

__ADS_1


"Kalau begitu cepat pergi, aku masih ada urusan lain," usir Devan.


"Oh iya, terima kasih atas tumpangannya," ucap Keyna melalui jendela kaca mobil.


"Hem," jawab Devan tanpa melihat kearah Keyna lalu pergi meninggalkan Keyna.


"Dev, kapan kamu bisa bersikap lembut ke aku kayak di depan Mama?" tanya Keyna.


"Siapa yang bersikap lembut?" tanya Jordan.


"Loh Jordan kok kamu ada disini?" tanya Keyna.


"Emangnya aku gak boleh ada disini apa?" tanya Jordan.


"Ya, boleh sih, tapi setahuku kamu kan ada jadwal pemotretan sama Tiara di negara X," ucap Keyna.


"Pemotretannya diundur, gak tahu deh kapan jadinya," ucap Jordan dan diangguki Keyna.


"Tadi kamu bicara ke siapa, Key? kok bersikap lembut, apa kamu udah dikasari oleh seseorang?" tanya Jordan.


"Gak kok, mungkin kamu salah denger aja lebih baik kita masuk kedalam yuk," ajak Keyna.


"Key," panggil Jordan.


Jordan mendekat kearah Keyna dan menarik pinggang Keyna lalu tiba-tiba saja Jordan memeluknya, "Jordan, kamu kenapa?" tanya Keyna dan melepaskan pelukan Jordan karena saat ini mereka berada didepan agensi.


Meskipun masih sepi, tapi saja Keyna merasa Jordan benar-benar keterlaluan sampai memeluknya.


Ya, orang tersebut ialah Devan, tadi Devan ingin kembali ke agensi karena ia melihat jaket Keyna yang ketinggalan, tapi betapa terkejutnya saat melihat Keyna bersama seorang pria yang selama ini ia mata-mata yaitu Jordan.


Dengan lancang Jordan menarik pinggang Keyna bahkan memeluknya, Devan juga melihat jika Keyna seolah menikmati pelukan tersebut.


"Berani-beraninya dia mengkhianati ku," gumam Devan yang masih dapat didengar oleh Mike.


Steve merasakan aura yang mencekam dari kursi belakang, ia yakin sebentar lagi akan terjadi perang dunia setelah ini, "Mike, hancurkan perusahaan pria itu!" perintah Devan.


"Baik, Tuan," ucap Mike.


"Kita ke kantor," ucap Devan dan diangguki Mike.


Disisi lain, Keyna berusaha untuk melepaskan pelukan Jordan yang cukup erat, Keyna tidak tahu jika Devan telah melihat semuanya anggaplah Keyna sudah ketahuan saat Jordan memeluknya, saat berhasil melepaskan pelukan tersebut Keyna pun melayangkan tamparan pada Jordan.


Plak...


Beberapa orang yang sedang berjalan pun berhenti karena tamparan yang cukup kuat tersebut, "Kamu keterlaluan, Dan! Kita memang, tapi aku gak pernah mengizinkan kamu untuk memelukku seperti tadi," ucap Keyna yang sangat marah dengan perlakuan Jordan padanya.


"Maaf, tapi aku sedang ada,masalah dan gak bisa mengendalikannya, aku hanya butuh pelukan, Key," ucap Jordan.


"Tapi, meskipun ku ada masalah. Apa pantas kamu meluk orang sembarangan kayak tadi?" tanya Keyna.


"Maaf," lirih Jordan.

__ADS_1


"Bener kata Keyna, tadi kamu keterlaluan," ucap Kikan.


"Kikan," panggil Keyna.


"Tadi aku pengen nyapa kalian, tapi aku kaget banget pas Jordan meluk kamu, menurutku itu gak sopan, masalahnya disini kamu sama Keyna beda gender, pasti banyak yang nantinya nganggep kamu ada hubungan sama Keyna. Kalau Keyna masih sendiri mungkin aku bisa maklumi, tapi sekarang Keyna udah punya pasangan, gimana kalau nanti pasangannya tahu dan akhirnya membuat goyah hubungan Keyna dan pasangannya," ucap Kikan.


"Kamu udah punya pacar, Key?" tanya Jordan pada Keyna.


"Bukan urusan kamu, ayo kita pergi," ajak Keyna lalu menarik tangan Kikan dan pergi meninggalkan Jordan.


Keyna dan Kikan pun sampai di ruangan mereka, "Kalian kenapa kok mukanya pada gak enak gitu, lebih tepatnya Keyna sih?" tanya Celine yang sudah duduk di kursi yang ada di ruangan Keyna.


"Kamu udah lama disini?" tanya Kikan.


"Iya, sampe habis nih sarapanku," ucap Celine.


"Kok tumben kamu pagi banget, Lin. Biasanya aja harus aku telepon dulu," ucap Kikan.


"Tadi aku bareng sama Rangga makanya pagi datangnya," ucap Celine.


"Kamu udah jadian sama Rangga?" tanya Keyna.


"Belum," jawab Celine dengan menggelengkan kepalanya.


"Terus kapan kamu sama dia mau resmiin hubungan kalian?" tanya Kikan.


"Aku juga gak tahu," ucap Celine.


"Saranku, kalau dia gak mau resmiin hubungan kalian, mending kamu menjauh deh, Lin. Kamu cari laki-laki yang mau nerima kamu dan juga anak kamu, gak mungkin kan kamu mengharapkan dia terus yang sampai sekarang aja belum ada kepastian, kamu juga harus pikirin anak kamu waktu dia udah lahir," ucap Keyna.


"Kamu bener, Key. Aku juga butuh laki-laki yang ngasih aku kepastian bukan cuma yang selalu ada buat aku, tapi gak mau jadiin aku wanitanya," ucap Celine.


"Memang kamu udah suka sama Rangga?" tanya Kikan.


"Gak tahu, tapi selama dekat sama Rangga aku nyaman," ucap Celine.


"Nyaman gak bisa jadi patokan buat kamu menjalin hubungan sama dia," ucap Kikan.


"Tapi, untuk saat ini aku butuh dia, aku gak mau mutus hubungan dia sama anak aku," ucap Celine.


"Kamu udah bener kok untuk saat ini kamu juga harus dekat sama dia karena anak kamu, tapi kalau dia gak ngasih kamu kepastian nanti setelah anak kamu lahir, aku saranin kamu menjauh dari Rangga," ucap Kikan dan diangguki Celine.


"Oh iya, Key. Aku tadi lihat mobilnya Presdir Devan, kayaknya Presdir Devan tahu kamu tadi dipeluk Jordan deh," lanjut Kikan.


"Hah!" pekik Keyna dan Celine.


.


.


.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2