Mafia Itu Suamiku

Mafia Itu Suamiku
Siluman Ular


__ADS_3

Pagi hari Keyna bangun dan merasakan berat di perutnya, ia melihat sebelahnya dan ternyata ada Devan yang tengah memeluknya, 'Apa boleh kalau aku mempertahankan pernikahan ini?' tanya Keyna dalam hati.


Ia pun beranjak dari ranjang dan bersiap untuk bekerja, karena hari ini memiliki agenda untuk bertemu kliennya.


"Dev, kamu gak kerja?" tanya Keyna yang sudah siap.


"Hem," jawab Devan yang masih memejamkan matanya.


"Ini udah mau jam 8, kamu gak takut telat," ucap Keyna.


Devan pun secara perlahan membuka matanya, "Bisa diem gak sih, ini masih pagi, lagian aku itu yang punya perusahaan jadi gak usah ngatur-ngatur segala, kalau mau kerja ya duluan aja," ucap Devan dan menutup matanya.


Keyna hanya tersenyum miris mendengar ucapan Devan, 'Siapa juga sih kamu Key, kamu itu cuma istri di atas kertas jadi kamu gak bisa ngatur Devan,' ucap Keyna dalam hati.


Tanpa banyak bicara Keyna pun langsung keluar dari kamar bahkan Keyna melewatkan sarapannya, "Gita, hari ini saya berangkat sendiri jadi bilang ke Pak Nardy untuk istirahat saja," ucap Keyna.


"Tapi, Nyonya...," ucapan Gita terhenti oleh Keyna.


"Gapapa, kamu tidak perlu khawatir, Devan juga tidak akan marah ke kamu, tapi kalau memang Devan marah ke kamu biar aku yang menghadapinya," ucap Keyna lalu berjalan menuju halte dekat mansion.


Keyna baru menyadari jika jarak mansion nya lebih tepatnya mansion Devan menuju halte lumayan jauh, karena memang mansion Devan jauh dari keramaian kota bahkan Keyna membutuhkan waktu 30 menit untuk sampai di rumah warga dengan berjalan kaki.


Keyna saat ini masih berjalan kaki menuju halte, "Aku yakin pasti hari ini aku bakalan telat banget," gumam Keyna dengan melihat jam tangannya, saat ini sudah menunjukkan pukul 9 padahal seharusnya ia sudah sampai kantor pukul setengah 9.


Setelah melangkah cukup jauh, akhirnya Keyna menemukan halte, ia pun segera menunggu dan beberapa saat kemudian bus pun datang.


Sesampainya di kantor, Keyna langsung dihadapkan dengan pertanyaan bertubi-tubi dari Kikan, "Kok telat sih, Key? tumben banget biasanya kan kamu gak pernah telat terus mana supir sama pengawal kamu biar aku marahin mereka," omel Kikan.


"Semua ini salahku, aku sendiri yang pengen berangkat naik bus dan aku suruh Pak Nardy sama Gita di rumah aja," ucap Keyna.


"Lah! kenapa kok gitu?" tanya Kikan.


"Ya, gapapa, lagi pengen aja," ucap Keyna.


"Terus gimana kliennya pasti nunggu lama ya?" tanya Keyna dan melihat saat ini pukul setengah 10 dimana itu artinya ia telat hampir satu jam.


"Kamu gak usah khawatir untung tadi kliennya minta ganti hari, kamu juga sih udah aku telpon gak diangkat-angkat," ucap Kikan.


"Hehehe, maaf ya tadi aku itu takut telat jadi gak ngecek hp sama sekali," ucap Keyna.


"Yaudah, kita ke ruang rapat aja yuk," ajak Kikan.


"Ngapain kita ke ruang rapat? kan kata kamu kliennya minta ganti hari?" tanya Keyna.


"Gak tau tadi kata Jennifer kita disuruh ke ruang rapat," ucap Kikan dan diangguki Keyna.


Mereka berdua pun menuju ruang rapat dan membuka pintu tersebut, betapa terkejutnya mereka ternyata ruang rapat sudah ramai oleh beberapa model dan staf.


Selain itu, juga kehadiran seorang pria yang mendominasi ruangan itu.


"Kalian kenapa lama banget sih? Presdir Devan udah dateng dari 20 menit yang lalu loh," tanya Miss Kelly dengan muka judesnya ke arah Keyna.

__ADS_1


"Maaf, Miss. Kita tidak tau kalau ternyata ada Presdir Devan di sini," ucap Kikan.


"Udah cepet duduk jangan malu-maluin," ucap Miss Kelly dengan mendorong Keyna hingga tangannya mengenai ujung meja, tapi Keyna masih bisa menahan rasa sakit hingga tidak ada yang tau mengenai kejadian itu. Kecuali, satu orang yaitu Devan.


Dia tahu semua yang terjadi dengan Keyna, ia melihat bagaimana kuatnya dorongan Miss Kelly hingga membuat tangan Keyna merah.


Kejadian itu membuat Devan marah tentunya bahkan matanya mulai menggelap, aura gelap mulai bermunculan jika saja Devan tidak bertatapan dengan Keyna, ia yakin pasti di ruang rapat kali ini akan menimbulkan korban jiwa.


Selama pembahasan kerjasama, Keyna terus memegang tangannya karena tangannya terasa ngilu setelah mengenai meja tadi.


Tanpa Keyna sadari pandangan Devan tidak lepas darinya dan Devan tahu jika saat ini Keyna merasakan sakit di bagian tangannya.


"Key, kamu gapapa?" tanya Kikan.


"Gapapa kok, kenapa emangnya, Kan?" tanya Keyna.


"Soalnya daritadi aku perhatiin Presdir Devan terus ngeliatin kamu, aku pikir kamu ada apa-apa," ucap Kikan.


"Aku gapapa kok, aku juga gak tau kenapa Presdir Devan ngeliatin aku terus, aku takut kalau statusku sama dia bakal ketahuan gimana dong, Kan?" tanya Keyna.


"Kayaknya gak ada yang ngeh deh," ucap Kikan.


"Semoga aja begitu," ucap Keyna.


Beberapa saat kemudian pembahasan kerjasama pun selesai, "Jadi kesimpulan disini saya tidak mau hanya satu model dari first entertainment karena menurut saya banyak model yang lebih kompeten di First entertainment, jadi saya percaya itu dan satu lagi, ini nama-nama model yang akan ikut serta untuk kerjasama kita. Untuk kelanjutannya akan di sampaikan sekretaris saya, oh iya jika nanti hasilnya memuaskan saya memiliki hadiah yang tentunya tidak akan kalian sangka-sangka," ucap Devan lalu keluar dari ruang rapat.


Setelah Devan keluar sorakan didalam ruang rapat pun terdengar, akhirnya rencana pembahasan yang diajukan First entertainment dengan Marva Grup berhasil dan disetujui oleh Devan, "Apa ya kira-kira hadiah yang disiapkan oleh Presdir Devan, jadi gak sabar deh," ucap Via.


"Emangnya kemana Presdir Devan kemarin?" tanya Via.


"Presdir Devan kemarin itu ke negara C terus ke negara X, makanya dia gak bisa ikut kemarin, tapi dia udah bilang ke gue kok," ucap sisy dengan senyum yang dibuat manis.


"Lo beneran deket banget sama Presdir Devan?" tanya Via.


"Kalian gak percaya sama gue, bahkan kalau kalian cek saku jas Presdir Devan yang dia pake kemarin kalian pasti nemu anting gue yang ini," ucap Sisy dan mengeluarkan anting bunga berwarna merah.


"Wah! lo kok bisa deket gitu sih sama Presdir Devan?" tanya Tiara.


"Ya, iyalah Sisy gituloh, kenalannya mah gak kaleng-kaleng, papan atas semua," ucap Laras.


Jika kalian tanya bagaimana Keyna saat ini, ia sangat penasaran dengan apa yang dikatakan Sisy, ia tidak ingin mempercayai perkataan Sisy karena ia tau tabiat dari Sisy, tapi ia penasaran apa benar yang dikatakan Sisy tadi.


Di ruang rapat saat ini tidak ada staff yang ada hanya para model jadi Kikan tidak ada didalam ruang rapat saat ini, Keyna merasa terpojokkan dengan perkataan Sisy, tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa.


"Sisy, lo pernah tidur bareng belum sama Presdir Devan?" tanya Laras.


"Kalau yang kayak gitu gak usah lo tanya kali, pastilah gue pernah tidur bareng sama Presdir Devan malah sering apalagi semenjak Marva Grup kerjasama sama First Entertainment, gue hampir tiap hari pasti tidur bareng sama Presdir Devan, tapi kalian jangan bilang ke siapa-siapa loh ya, ini rahasia soalnya gue sama Presdir Devan gak mau hubungan ini diketahui publik," ucap Sisy.


Kalau seandainya Celine ada disini, Keyna yakin pasti Celine akan membantah pernyataan Sisy, tapi ini Keyna yang hanya bisa memendamnya.


'Apa perempuan yang disukai Devan itu Sisy? itu artinya aku ini penghalang dong di hubungan mereka, pasti mereka saling mencintai, Devan pasti ingin aku pergi bukan agar hubungannya dengan Sisy tidak kandas?' tanya Keyna pada dirinya sendiri dalam hati.

__ADS_1


"Kenapa Key, pasti lo iri ya sama Sisy soalnya dia dapet cowok sesempurna Presdir Devan, Keyna lo sadar diri deh lo itu gak pantes banget ada disini," ucap Nesty.


"Aku gak iri, aku cuma dengerin aja kok," ucap Keyna.


Bohong tentunya, istri mana yang tidak merasa iri jika mengetahui ada perempuan lain yang diistimewakan oleh suaminya.


"Kalau lo gak iri mending sekarang lo pergi deh, enek banget gue lihat muka lo di sini," usir Laras.


"Kalian kenapa sih selalu aja jahat ke Keyna? emangnya Keyna ada salah ya sama kalian?" tanya Via.


"Vi, udah aku gapapa kok," ucap Keyna.


"Gak bisa gitu Key, gue gedek banget sama mereka yang selalu aja ngerendahin lo," ucap Via.


"Heh! Via inget lo itu cuma model gak terkenal gak sebanding sama Sisy, jadi jangan sok-sokan mau jadi pahlawan deh," ucap Nesty.


"Gue bukannya sok-sokan mau jadi pahlawan, tapi gue bingung aja sama kalian yang selalu ngerendahin Keyna, apa karena Keyna lebih cantik dari kalian atau karena apa gitu? yang gue heran itu kenapa kalian segitunya sama Keyna?," tanya Via.


"Banyak bacot lo," maki Laras dan menghampiri Via.


"Maaf, kalau emang aku punya salah, udah Via gak usah dibahas lagi biar gak panjang kedepannya, mending kita keluar aja," ucap Keyna lalu keluar dari ruang rapat.


"Loh, Via kenapa kok mukamu gak bersahabat gitu?" tanya Kikan saat melihat Keyna dan Via keluar bersama.


"Males didalam ada siluman ular sama para anak buahnya," ucap Via.


"Kenapa lagi emangnya si siluman ular?" tanya Kikan.


"Biasa mereka ngerendahin Keyna terus kan gue jadi gemes banget gitu pengen gue copot kepalanya," ucap Via.


"Mana sini biar aku aja yang copot sekalian sama organ tubuhnya juga," ucap Kikan.


"Udah deh kalian berdua ini kenapa sih, biarin aja lah, aku gak mau masalah ini tambah panjang nanti ujung-ujungnya malah gak selesai-selesai, bosen tau kalau ada masalah terus," ucap Keyna.


"Astaga, Keyna gue tau lo itu orang baik, tapi jangan terlalu baik banget kayak gini dong, kalau lo kayak gini terus percaya sama gue, si siluman ular sama anak buahnya bakal berbuat yang lebih parah," ucap Via.


"Bener banget, aku setuju sama Via," ucap Kikan.


"Tapi, aku emang gak mau memperpanjang masalah ini, jadi aku harap kalian ngertiin aku ya," ucap Keyna.


"Untung aku baik jadi aku nurutin apa kata kamu aja deh yang penting kamu nya gak kenapa-napa," ucap Kikan.


"Gue juga," ucap Via.


Meskipun banyak yang tidak suka dengan Keyna, tapi Keyna tetap berterima kasih karena ia masih memiliki beberapa orang yang sangat mendukungnya bahkan mereka selalu ada disaat Keyna merasa terpuruk.


.


.


.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2