
Hari ini merupakan hari yang paling ditunggu-tunggu oleh Devan, hari ini ia akan mengadakan rapat investor di First Entertainment, "Mike, apa semuanya sudah datang?" tanya Devan.
"Sudah Tuan, semuanya sudah datang dan hanya menunggu Tuan," ucap Mike.
"Apa Baron juga sudah datang?" tanya Devan.
"Sudah, Tuan," ucap Mike.
"Bagus, aku akan berikan kejutan untuknya, sudah lama sekali aku tidak bertemu dengannya, aku ingin melihat bagaimana dia sekarang," ucap Devan.
Beberapa saat kemudian, Devan pun sampai di First Entertainment dan ia segera menuju ruang rapat, saat Devan memasuki ruang rapat, ia melihat semua yang ada disana terkejut, namun mereka tetap berdiri dan menunduk sebagai tanda hormat pada Devan.
Devan juga melihat seorang pria yang sudah lama tidak ia lihat, Devan dapat melihat bagaimana keterkejutan dari pria itu, rasanya Devan ingin sekali menertawakannya.
"Apa kalian akan menarik investasi kalian untuk First Entertainment? kalau memang iya, kalian bisa melakukannya sekarang dan aku tidak akan mengacaukannya, tapi jika kalian merasa tidak puas saat kalian telah menyepakatinya, maka jangan salahkan aku untuk mengacaukan perusahaan kalian, bukan begitu Presdir Baron," ucap Devan dan menatap Baron dengan mengeluarkan senyum misteriusnya.
"Benar sekali Tuan Devan, kita tidak boleh mengacaukan pekerjaan orang lain saat kita sudah mengetahui resiko dari apa yang sudah kita lakukan," ucap Baron.
"Mike, berikan rancangannya!" perintah Devan, Mike pun membagikan lembaran ke para investor.
"Sangat sulit untuk membuat First entertainment kembali normal, tapi kalian tidak perlu khawatir masih banyak yang harus dilakukan bukan, aku memberikan kalian rancangan itu untuk mempertimbangkan keputusan kalian yang awalnya ingin menarik kembali investasi kalian, seperti yang sudah kukatakan tadi jika kalian tidak percaya ataupun tidak suka dengan rancangannya kalian bisa menarik kembali investasi kalian, aku tidak akan melarangnya," ucap Devan.
"Maaf Presdir, saya lancang menanyakan ini, tapi apa alasan anda mengambil alih First entertainment setelah banyak rumor yang tersebar, mungkin memang tidak banyak yang tahu First entertainment, tapi jika Presdir Devan mengambil alih artinya First Entertainment akan semakin terkenal dan banyak yang akan mencari tahu bagaimana First entertainment dan jika mereka tau mengenai kasus penggelapan dana di First entertainment, maka itu akan menjadi boomerang bagi Presdir Devan, bukan?" tanya salah satu investor.
"Kau benar, sebenarnya First entertainment sudah tidak bisa lagi bangkit, tapi kita masih bisa mengelolanya bukan dan untuk itu biarkan semua orang tau First entertainment karena jika orang-orang tau maka orang-orang akan mempertimbangkan untuk bekerjasama dengan First. Kenapa! ya, karena aku, semua tidak akan jadi boomerang bagiku selama mereka mengetahui jika First entertainment seorang Devan Radya Erland yang ambil alih," ucap Devan dan diangguki oleh para investor.
"Jika kalian ingin menarik kembali investasi kalian, kalian bisa katakan itu pada sekretarisku, tapi jika kalian ingin tetap melanjutkan investasi kalian, kalian bisa mengatakannya padaku," ucap Devan.
Setelah hampir 4 jam Devan membahas banyak hal dengan para investor, akhirnya rapat pun selesai dengan hasil tidak ada yang menarik kembali investasinya dari First entertainment.
Devan sudah menduga bahwa semuanya akan sesuai dengan rencananya yaitu tidak akan ada yang menarik kembali investasinya karena nama Devan sangat mentereng di dunia bisnis, jadi perusahaan manapun yang bekerjasama dengan perusahaan yang dikelola Devan akan mendapat keuntungan berkali-kali lipat meskipun perusahaan tersebut diambang kehancuran.
Mereka tentunya tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini karena banyak perusahaan yang mengajukan kerjasama dengan perusahaan yang dikelola Devan, tapi Devan sering menolaknya.
Setelah rapat para investor, Devan menuju singgasananya yaitu ruang Presdir, saat sedang melihat beberapa email mengenai pekerjaan tiba-tiba pintu terbuka dan menampilkan seorang pria yang sedari tadi berada di ruang rapat.
"Ada apa Presdir Baron? apa ada hal yang mengganggu anda? atau anda ingin mengubah keputusan anda?" tanya Devan dan lagi-lagi mengeluarkan senyum misteriusnya.
__ADS_1
"Maafkan saya Presdir," ucap Baron.
"Kenapa kau meminta maaf, apa kau ada salah denganku, ah atau kau pernah melakukan kesalahan padaku?" tanya Devan.
"Maafkan saya, saya waktu itu termakan omongan Dion," ucap Baron.
"Siapa Dion itu? saya tidak kenal jadi jangan bicara mengenai orang-orang yang saya tidak kenal, karena saya sangat malas jika harus membahasnya," ucap Devan.
"Saya tahu saya salah, saya akan melakukan apapun untuk Tuan Devan," ucap Baron.
"Apapun," ulang Devan.
"Iya, Tuan, apapun itu," ucap Baron.
"Jadilah mata-mata untukku," ucap Devan.
Baron yang awalnya menunduk pun langsung mendongak menatap Devan, "Jangan menatapku, kau masih tidak pantas untuk menatapku seperti itu," ucap Devan.
"Maaf Tuan, baiklah saya akan menjadi mata-mata untuk tuan," ucap Baron tanpa berpikir panjang mengenai tawaran Devan itu.
"Kau kenal Joseph?" tanya Devan.
"Ya, kau benar," ucap Devan.
"Maksud Tuan, saya harus memata-matai Joseph?" tanya Baron.
"Hem, kau harus mencari informasi mengenai keluarganya, kau harus dapatkan informasi sedetail-detailnya mengenai dia, aku tidak ingin ada yang kurang, kau boleh menemuiku kalau kau sudah mendapatkannya dan jika kau belum menemukannya, maka jangan pernah kau memperlihatkan batang hidungmu di depanku, kau paham," jawab Devan.
"Iya, Tuan. Saya akan ingat itu dan akan saya lakukan semuanya sesuai dengan perintah dari Tuan Devan," ucap Baron.
"Bagus, sekarang kau boleh pergi," ucap Devan dan setelah itu Baron pun pergi dari ruangan tersebut.
"Tuan, bukankah itu sangat beresiko jika Tuan Baron yang harus mencari tau mengenai keluarga dari Tuan Joseph," ucap Mike.
"Itu tujuanku, aku ingin melihat se-menyesal apa dia," ucap Devan.
"Apa perlu saya awasi Tuan Baron?" tanya Mike.
__ADS_1
"Ya, tetap awasi dia, aku yakin dia pasti akan sulit mencarinya dan aku juga yakin ada kemungkinan dia akan bekerjasama dengan Joseph jika dia belum mendapatkan informasi itu," ucap Devan dan diangguki Mike.
"Untuk masalah Tuan Rangga, kami tidak bisa mendapatkan wajah gadis itu Tuan, ternyata saat itu Tuan Rangga menariknya saat lampu koridor hotel mati sehingga sangat sulit untuk melihatnya secara jelas," ucap Mike.
"Cari sampai dapat, aku ingin tahu bagaimana perempuan yang direnggut kehormatannya oleh Rangga," ucap Devan.
"Baik, Tuan, akan saya usahakan dan untuk masalah Ayah dari anak yang dikandung mantan resepsionis Tuan besar, besok Ayah anak itu akan datang Tuan," ucap Mike.
Setelah mendengar perkataan Mike, Devan pun mengeluarkan smirk nya dan mengetukkan tangannya pada meja kerjanya.
"Apa kau sudah mendapatkan hewan yang aku suruh?" tanya Devan.
"Sudah Tuan, sesuai dengan perintah Tuan, hewan itu saat ini berada di markas," ucap Mike.
"Bagus kau sudah memberinya makanan bukan, aku tidak ingin hewanku belum makan sebelum melaksanakan tugasnya?" tanya Devan.
"Iya, Tuan sudah," ucap Mike.
"Aku sangat tidak sabar melihatnya, aku ingin mendengar suara kesakitannya," ucap Devan.
Mike yang mendengarnya hanya merinding, Mike merasa jika Tuannya ini memang bukan manusia melainkan dewa kehancuran bagi manusia, dia bisa melakukan apapun asalkan itu menghancurkannya.
"Apa Keyna masih ada di rumah?" tanya Devan.
"Iya, Tuan, Nyonya Keyna masih ada di rumah sesuai dengan perintah anda," ucap Mike.
"Tapi, Tuan sepertinya Nyonya benar-benar marah karena saya dapat kabar jika Nyonya belum makan dari pagi," lanjut Mike.
"Biarkan saja, itu hukuman untuk dia, kalaupun dia tidak makan juga bukan urusanku dan dia juga bukan anak kecil lagi, kalau nanti dia lapar pasti dia akan makan," ucap Devan.
'Astaga, Tuan Devan kalau seandainya Tuan besar dan Nyonya besar tau, maka saya yang akan disalahkan, anda itu sangat susah sekali untuk menurunkan ego anda padahal Nyonya tidak sengaja memeluknya, dari sikap anda sangat terlihat sekali jika anda sedang cemburu Tuan Devan Radya Erland,' ucap Mike dalam hati.
Ya, Mike memang tidak tau apa yang sebenarnya terjadi pada hubungan Devan dan Keyna dan ia berpikir jika Devan marah karena ia yang memeluk Keyna tempo hari itu saat menuntun Keyna ke ruang putih.
.
.
__ADS_1
.
Tbc.