
"Karena Lita," jawab William.
"Lita, yang mana?" tanya Devan.
"Ck, cewek yang nembak lo di kelas sambil bawa surat cinta itu loh," ucap William.
"Oh, wanita licik itu," ucap Devan dan diangguki William.
"Terus kenapa karena dia? dan apa hubungannya sama gue?" tanya Devan.
"Lita itu suka sama Dev, padahal gue itu selalu ada didekat dia, terus gue lihat dia nangis dan bilang kalau lo nolak dia," ucap William.
"Lo mukul gue cuma gara-gara gue nolak wanita itu?" tanya Devan.
"Iyalah, gue gak bisa liat Lita sedih, rasanya hati gue juga ikut sedih gitu," ucap William.
"Terus sekarang wanita itu mana kok malah loh pacaran sama sahabatnya Keyna?" tanya Rangga.
"Setelah gue mukulin Devan, gue ke apartemennya Lita dan gue baru tau kalau dia udah punya pacar bahkan pas gue kesana mereka lagi ekhm ekhm, ternyata dia mau deket Devan gara-gara hartanya dan waktu fia nangis itu ternyata cuma buat bohongin gue supaya gue benci sama Devan, gue bodoh karena selama ini gue gak sadar kalau gue cuma dimanfaatin aja sama Lita," ucap William.
"Lo sih bodoh banget, Devan mana mau cewek kayak dia coba, lo malah main hajar-hajar aja," ucap Rangga.
"Ya, maaf, gue waktu itu emosi aja gituloh, soalnya Lita juga minta gue balas dendam ke Devan soalnya Devan udah nolak dia waktu itu, ya karena gue sayang banget sama Lita nih ya yaudah deh gue mau-mau aja dan sekarang gue nyesel banget udah mukul Devan waktu itu," ucap William.
"Btw, dia cewek lo berdua?" tanya William sambil menunjuk Keyna dan Celine yang sedang sibuk berfoto di dekat lampion besar berbentuk bunga.
"Cewek yang pake baju putih itu istrinya Devan dan cewek yang pake baju kuning itu cewek gue," ucap Rangga.
"Emang lo udah nembak dia, pake ngaku segala," ucap Devan.
"Ck, gak asik lo," ucap Rangga.
"Lah kan gue bicara yang sebenarnya," ucap Devan.
"Iya-iya kalah gue, terus kalau si cewek baju biru itu cewek lo, Wil?" tanya Rangga.
"Tunangan gue dong," ucap William dengan bangga.
"Masih tunangan aja bangga," ucap Rangga.
"Yeeeh, setidaknya status gue sama dia jelas lah loh ngegantung," ucap William.
"Setidaknya gue udah nanam benih ke perut cewek gue," ucap Rangga.
"Hah! maksud lo, cewek lo udah gak perawan?" tanya William.
'Dasar mulut pengen gue buang aja,' ucap Rangga dalam hati karena William keceplosan.
"Iyalah udah ada kecebongnya di dalam perutnya," ucap Devan dengan santai dan mendapat lirikan tajam dari Rangga.
__ADS_1
"Jadi Celine udah hamil?" tanya William dan diangguki Rangga.
"Wah! selamat ya Ga, gue gak nyangka lo gercep juga, dulu gue udah minta ke Kikan, tapi dia nolak dan bilang kalau udah nikah baru boleh," ucap William.
"Kalian kenapa disitu ayo kita main," ajak Celine.
Mereka pun menuju wahana permainan dengan menggandeng tangan pasangan masing-masing tentunya, kecuali Keyna dan Devan.
"Kita ke rumah hantu yuk," ajak Kikan.
"Boleh, gue juga udah lama gak ke rumah hantu," ucap Celine dengan semangat.
Mereka semua setuju untuk pergi ke rumah hantu, namun langkah mereka terhenti saat mendengar perkataan Keyna, "Kalian aja deh, a-aku ehm perutku sakit mau ke toilet dulu" ucap Keyna.
"Bilang aja kalau kamu takut gitu aja alasan perut sakit. Gapapa kali Key, didalam gak serem kok percaya deh sama aku, aki mah udah khatam rumah hantu di pasar malam," ucap Celine.
"Gak deh Lin, aku tunggu diluar aja," ucap Keyna.
"Ayo masuk gak usah takut," ucap Devan.
"Tap-i i-iya," ucap Keyna.
Padahal Keyna ingin sekali menolak, tapi melihat raut wajah Devan yang tidak bersahabat akhirnya Keyna mengurungkan niatnya.
Mereka harus baris satu-satu karena jalan cukup sempit, posisi saat ini William berada di paling depan setelah itu Kikan, Celine, Rangga, Keyna dan yang terakhir Devan.
"Astaga Key, ini tuh belum juga setengah jalan masa udah teriak takut aja sih," ucap Celine.
Keyna memegang baju Rangga dengan kuat, ia benar-benar takut, namun ditengah ketakutannya tiba-tiba saja Devan menarik tangan Keyna hingga terlepas dari baju Rangga dan membalikkan tubuh Keyna hingga menghadap ke arah Devan, "Pegang tanganku tidak perlu takut," ucap Devan lalu menghadapkan kembali Keyna ke depan dan memeluk Keyna dari belakang.
"Berhenti," ucap Devan dan membuat semua orang didepan mereka berhenti.
"Ada apa, Dev?" tanya Rangga.
"Rangga pindah posisimu dengan cewek di depanmu," ucap Devan.
"Loh, kenapa, Dev?" tanya Rangga.
"Ck, cepat ganti gak usah pake tanya segala," ucap Devan dan tanpa lama Rangga pun berpindah posisi dengan Celine.
"Ga, lo didepan ya," ucap William yang menarik Rangga hingga berada didepan.
"Lah, kenapa gue jadi didepan sih?" tanya Rangga.
"Udah nurut aja," ucap Devan.
Saat ini posisi Rangga berada di barisan paling depan lalu disusul William, Kikan, Celine, Keyna dan Devan.
Devan sengaja menyuruh Rangga pindah karena ia tidak ingin Keyna memegang baju Rangga, awalnya Devan ingin memeluk Keyna saja, tapi cukup sulit karena gelap dan Keyna berjalannya sangat lambat jadi daripada tertinggal lebih baik Devan menukar posisi Rangga dan Celine yang akhirnya harus merubah posisi yang ada di depan.
__ADS_1
"Ini masih lama kah?" tanya Keyna.
"Sabar Keyna, sebentar lagi kok, ini aja belum ketemu hantunya," ucap Celine.
"Hah! hantunya belum ketemu, lah terus siapa tadi kalau bukan hantunya gimana sih kamu, orang aku daritadi udah teriak sampe sakit tenggorokanku," ucap Keyna.
"Berisik," ucap Devan.
Mereka saat ini berada di ruangan yang luas dengan beberapa meja dan kain yang menutupinya serta almari dan lainnya hingga tiba-tiba Keyna melihat pundak Kikan yang dipegang oleh sebuah tangan.
Tapi, Keyna tidak dapat melihat jelas karena tangan tersebut keluar dari almari, "Kikan pundak kamu," ucap Keyna.
"Gapapa ini cuma kerjaan hantu aja," ucap Kikan dengan santai dan membuang tangan tersebut.
"Aaaa!" teriak Keyna karena Kikan membuang tangan tersebut tepat di sebelah kakinya.
Keyna yang terkejut langsung teriak dan ia pun membalikkan tubuhnya dan menghadap Devan.
"Takut, hiks hiks," ucap Keyna yang mulai menangis.
"Astaga Keyna masa gitu aja kok nangis sih, maaf deh gak sengaja," ucap Kikan lalu membuang tangan tersebut jauh-jauh.
Devan hanya menatap Keyna dengan perasaan entahlah, padahal menurut Devan tempat sama sekali ini tidak menakutkan, tapi kenapa Keyna sampai teriak bahkan menangis, untunglah Devan suami siaga, ia langsung membawa Keyna ke pelukannya.
"Udah gak usah nangis kalah sama anak kecil, anak kecil aja gak nangis kalau ke rumah hantu," ucap Devan.
"Takut," lirih Keyna.
Akhirnya Devan berjalan dengan Keyna yang berada di pelukannya hingga beberapa hantu pun mulai berdatangan bahkan Celine, Kikan dan William mulai berteriak karena terkejut dan ketakutan. Sedangkan, Devan masih menenangkan Keyna yang mulai reda tangisannya.
Saat Keyna mulai berhenti menangis tiba-tiba ada hantu yang mengejutkan Keyna dan membuat Keyna kembali menangis, Devan pun langsung mengambil kayu yang berada di dekatnya dan memukul hantu tersebut hingga hantu tersebut jatuh dan memegangi kepalanya yang terasa pusing.
"Dev, kenapa lo malah pukul hantunya kasihan tau gak?" tanya Rangga dan membantu hantu tersebut berdiri.
"Siapa suruh dia buat Keyna nangis lagi, orang Keyna tadi udah mulai berhenti nangis, eh gara-gara nih hantu Keyna nangis lagi kan," ucap Devan dan mengusap punggung Keyna.
Semua orang yang ada disana tentunya terkejut bukan main, hanya karena itu Devan memukul hantu tersebut, padahal memang itulah tugas hantu tersebut yaitu menakut-nakuti.
"Nih, minta ganti rugi ke nomor itu," ucap Devan yang memberikan kartu namanya lalu berjalan meninggalkan orang-orang yang menatapnya dengan tatapan tidak percaya.
"Orang kaya mah beda," ucap Celine lalu menyusul Devan dan Keyna.
.
.
.
Tbc.
__ADS_1