Mafia Itu Suamiku

Mafia Itu Suamiku
Baby Arsen


__ADS_3

"Tolong jawab pertanyaan Keyna, apa Mama Vanka, Mama Bella dan Papa sudah tahu kalau Devan itu seorang mafia?" tanya Keyna lagi.


Namun, lagi-lagi tidak ada jawaban dari Papa Erwin, Mama Vanka dan Mama Bella. Melihat itu Keyna pun tersenyum miris dengan nasibnya dimana artinya hanya ia yang tidak tahu mengenai identitas Devan selama ini.


"Jadi, di sini hanya Key yang gak tahu apa-apa ya bahkan Keyna gak tahu kalau Devan itu seorang mafia dan pembunuh!" ucap Keyna.


"Keyna pelankan suara kamu nanti anak kamu nangis," ucap Mama Bella.


Keyna pun menangis karena merasa ditipu oleh orang-orang yang sangat ia sayangi dan ia percaya.


"Kenapa kalian melakukannya" tanya Keyna.


"Maafin Mama sayang, Mama gak bermaksud menyembunyikannya hiks hiks," ucap Mama Vanka.


"Key bener-bener kecewa sama kalian semuanya," ucap Keyna dan berdiri hendak pergi dari ruangan tersebut yang terasa sesak baginya.


Baru saja ia keluar dari ruangan tersebut, Devan justru menghampiri dirinya, "Sayang, kenapa keluar? kamu mau sesuatu? mau apa biar aku ambilin? kamu di dalam aja," tanya Devan.


Mendengar pertanyaan dan raut wajah khawatir Devan membuat Keyna kembali menangis bahkan Keyna sampai tidak dapat menahan tubuhnya hingga ia hampir terjatuh jika saja Devan tidak menahan tubuhnya.


"Sayang, kamu gapapa?" tanya Devan.


"Van, bawa menantu Mama masuk aja. Dia butuh istirahat," ucap Mama Vanka dan diangguki Devan.


Devan pun membawa Keyna dan membaringkannya ke ranjang, "Cepet sembuh ya sayang," gumam Devan dan mengecup kening Keyna.


Tidak ada respon dari Keyna, Devan pun tersenyum meskipun Keyna sih bersikap dingin padanya bahkan Keyna tidak menatapnya sedikitpun.


"Dev, bisa ikut Papa sebentar," ucap Papa Erwin.


Devan sebenarnya ragu untuk meninggalkan Keyna, tapi karena Mama Vanka dan Mama Bella yang menyakinkan Devan akhirnya Devan pun keluar dengan Papa Erwin.


"Keyna sudah tahu semuanya," ucap Papa Erwin.


"Iya, Pa," ucap Devan dengan menghela napas.


"Papa kaget saat Keyna tahu identitas kamu, tapi Papa juga gak tahu apa keputusan Keyna nantinya," ucap Papa Erwin.


"Devan akan tetap berusaha agar Keyna bertahan di samping Devan, tapi jika memang Keyna sudah tidak ingin bersama Devan lagi maka Devan juga harus menerimanya. Bukankah level tertinggi dalam mencintai itu harus mengikhlaskan," ucap Devan.


"Papa harap kamu mendapatkan apa yang kamu inginkan, Dev," ucap Papa Erwin dan diangguki Devan.


Mereka berdua pun kembali ke kamar inap Keyna dan melihat Keyna yang tengah menyusui anaknya.


"Apa masih sakit sayang?" tanya Devan karena melihat Keyna yang menahan sakit.


"Pa, kita keluar aja ya," ucap Mama Bella pada Papa Erwin.


Setelah itu, Mama Bella dan Papa Erwin pun keluar dari kamar inap keyna, "Sayang Mama pulang dulu ya. Van, Mama pulang dulu ya. Nanti kalau ada apa-apa kabarin Mama," ucap Mama Vanka.

__ADS_1


"Iya, Ma. Terimakasih karena sudah bantu Devan," ucap Devan.


Mama Vanka pun tentu terkejut dengan apa yang baru saja di katakan Devan.


"Van, tadi kamu bilang apa? terimakasih?" tanya Mama Vanka yang masih tidak percaya jika ia mendengar langsung ucapan terimakasih dari Devan.


"Iya, terimakasih karena menjaga Keyna selama Devan pergi," ucap Devan.


Mama Vanka pun menghampiri Devan dan memeluk sang putra, "Terimakasih karena mengatakannya pada Mama hiks hiks," ucap Mama Vanka dan menangis di pelukan Devan.


"Maaf karena Devan tidak pernah mengatakan terimakasih pada Mama," ucap Devan.


"Gapapa, Van. Mama ngerti kok," ucap Mama Vanka.


"Sayang, Mama pulang dulu ya," ucap Mama Vanka pada Keyna.


Karena Keyna masih menghormati Mama Vanka maka Keyna pun menganggukkan kepalanya.


Sebelum Mama Vanka keluar, Mama Vanka terlebih dahulu mencium bayi mungil yang berada di gendongan Keyna dan tak lama setelah itu Mama Vanka pun keluar dari kamar inap Keyna.


Keyna tentunya melihat semuanya, mulai dari Mama Vanka yang menangis hanya karena ucapan terimakasih Devan.


'Kenapa Mama sampai segitunya hanya karena Devan mengatakan terimakasih?' tanya Keyna dalam hati.


Setelah Mama semua orang keluar Devan pun mendekati sang istri, "Sini baby-nya biar aku yang gendong, kamu istirahat," ucap Devan saat melihat Keyna yang selesai menyusui anaknya.


"Gak usah, biar aku aja," ucap Keyna.


"Aku bilang aku aja ya aku aja," ucap Keyna.


"Oke oke, kamu aja yang gendong," ucap Devan yang akhirnya mengalah daripada semuanya jadi lebih parah.


.


Akhirnya Keyna sudah di perbolehkan pulang setelah satu Minggu hari berada di rumah sakit, sebenarnya Keyna sudah dapat pulang sejak beberapa hari yang lalu, tapi keluarganya lainnya tidak memperbolehkan dan barulah sekarang Keyna diperbolehkan pulang.


"Sini, biar aku aja," ucap Devan saat melihat Keyna yang akan mengambil tas milik sang anak.


Keyna membiarkan Devan membawa tas tersebut karena ia sedang menggendong bayi mungil tampan yang namanya masih di rahasiakan itu.


Ya, Devan sudah memberikan bayi mungil tampan itu sebuah nama hanya saja Devan merahasiakannya jadi semua orang termasuk Keyna.


Devan menuntun Keyna hingga masuk ke dalam mobil, "Mau minum dulu?" tanya Devan dan mendapat gelengan kepala dari Keyna.


"Yaudah, kita pulang ya. Pak, tolong hati-hati ya," ucap Devan pada Pak Nardy.


"Baik, Tuan," ucap Pak Nardy.


Beberapa saat kemudian, Devan dan Keyna pun sampai di mansion mewah milik Devan. Keyna sendiri menatap aneh pada mansion tersebut karena setahunya ia tidak pernah datang ke tempat tersebut dan mansion yang biasa ia tinggali bukan ini.

__ADS_1


Keyna menatap Devan dan Devan hanya tersenyum hangat pada sang istri, "Ayo kita masuk ke dalam rumah kita," ucap Devan.


Devan pun menuntun Keyna untuk masuk ke dalam mansion mewah tersebut dengan melingkarkan tangannya pada pinggang sang istri dan untung saja Keyna tidak menghempaskan tangan Devan.


Saat Keyna masuk ke dalam mansion tersebut, ia terkejut saat melihat keluarga dan sahabatnya berada di sana dan menyambutnya.


"Ayo, masuk sayang," ucap Mama Vanka dan menghampiri Keyna lalu menarik pelan lengan Keyna.


Keyna saat ini berada di tengah-tengah antara Mama Vanka dan Mama Bella, mereka sibuk dengan bayi mungil yang ada di gendongan Keyna.


"Namanya siapa, Dev?" tanya Mama Bella.


Pertanyaan Mama Bella tentunya menjadi pertanyaan dari setiap orang yang ada di sana karena semua orang sudah sangat penasaran dengan nama yang Devan berikan pada bayi mungil nan tampan tersebut.


"Namanya Arsenio Radya Erland," ucap Devan.


"Panggilanku siapa, Kak?" tanya Vio.


"Arsen," ucap Devan.


"Bagus namanya Mama suka," ucap Mama Vanka.


"Halo, baby Arsen," sapa Mama Bella dan mengambil baby Arsen dari gendongan Keyna.


"Astaga, Ma. Biasa aja dong, Keyna kaget banget tadi," ucap Keyna.


"Hehehe, maaf Key. Mama itu terlalu gemes banget sama baby Arsen," ucap Mama Bella.


Keyna hanya bisa pasrah saja saat anaknya di bawa keliling rumah dan ia ditinggal di rumah tamu.


"Kamu mau ke kamar aja istirahat?" tanya Devan.


"Ini rumah siapa?" tanya Keyna.


"Rumah kita, rumah yang akan kita tempati sama baby Arsen," ucap Devan.


"Oh rumah kamu," ucap Keyna.


"Bukan sayang, ini itu rumah kita bertiga," ucap Devan.


"Yang beli kamu kan, jadi ini rumah kamu," ucap Keyna.


"Bukan gitu sayang," ucap Devan.


"Aku lagi gak mau debat," ucap Keyna.


.


.

__ADS_1


.


Tbc.


__ADS_2