
Semalaman Celine dan Keyna mendengarkan rintihan Kikan, mereka ingin membantu, tapi mereka juga tidak bisa melakukan apapun, tangan dan kaki mereka diikat dengan kencang bahkan saat ini kulit mereka sudah merah dan perih.
Saat pagi harinya, mereka membuka mata karena sinar matahari yang terlihat dari sela-sela jendela pintu, tapi tidak ada gunanya karena gudang tersebut tetap gelap bahkan semakin pengap, "Aku gak bisa nafas," ucap Kikan.
"Kan, kamu kuat, kamu harus bertahan," ucap Celine.
"Tapi, aku benar-benar gak kuat," ucap Kikan.
"Kan, bertahan sebentar lagi ya kita pasti keluar," ucap Keyna.
Mereka bertiga terus bertahan bahkan saat ini mereka sangat lemah untuk berbicara pun terasa susah mulai dari udara yang mulai menipis dan juga rasa lapar, mereka belum makan setelah sampai disini, mereka hanya makan berat sebelum berangkat dan sisanya hanya nyemil bayangkan bagaimana laparnya mereka.
Saat mereka sedang berpikir cara untuk keluar tiba-tiba seseorang membuka pintu gudang tersebut, "Makan," ucapnya dengan melemparkan nasi bungkus kearah Celine.
"Kalian tidak bisa melepaskan talinya, Celine mana bisa makan kalau tangannya diikat," ucap Keyna.
"Pake mulut," ucap Nando lalu keluar dari gudang tersebut.
"Lin, kamu bawa nasi bungkusnya ke belakangku biar aku buka dan aku suapi kamu," ucap Keyna.
Celine pun mengikuti apa kata Keyna karena tangan mereka diikat di belakang otomatis Keyna menyuapi Celine dengan tangan yang diikat di belakang, "Sekarang gantian kamu sama Key," ucap Celine.
"Kikan aja dulu, dia udah lemes banget soalnya," ucap Keyna lalu menyuapi Kikan seperti saat dia menyuapi Celine tadi.
"Nih minum," ucap Nando dan melemparkan minum pada Celine, Nando melihat Keyna yang menyuapi Kikan pun langsung mengambil makanan tersebut, "Makanan ini buat dia bukan kalian berdua," ucap Nando dan merampas makanan tersebut.
"Tapi, Keyna belum makan," ucap Kikan.
"Gapapa, Kan. Aku juga gak terlalu lapar kok," ucap Keyna.
Bohong tentunya karena sebenarnya ia sangat lapar, kemarin saat berangkat Keyna hanya memakan roti karena Keyna pikir nantinya akan menikmati makanan khas daerah sini, tapi ternyata salah justru mereka ditahan seperti saat ini.
"Key, Presdir Devan gimana?" tanya Celine.
"Astaga, aku lupa Devan," ucap Keyna.
"Kamu bilang ke Presdir Devan kapan pulangnya?" tanya Kikan yang mulai membaik.
"Aku bilangnya nanti malam udah balik ke kota, gimana dong kalau sampai dia gak liat aku pulang dia pasti marah?" tanya Keyna dengan raut wajah khawatir.
"Semoga aja kita cepet dibebasin," ucap Celine yang diangguki Keyna dan Kikan.
Semakin siang, tempat tersebut semakin panas bahkan mereka bertiga sudah tidak bisa membuka matanya karena terlalu panas dan pengap, debu pun semakin banyak dan membuat nafas semakin sesak, "Kalian bertahan ya, kita harus cari jalan keluar," ucap Keyna.
"Gak ada jalan keluar, Key, siapapun yang dikurung disini gak bakal ada jalan keluarnya kecuali orang dari luar yang buka," ucap Celine.
__ADS_1
"Kita mau minta bantuan juga susah, gak ada jendela sama sekali terus juga kita gak bawa ponsel," ucap Kikan.
"Aku udah gak kuat," ucap Keyna.
"Keyna bertahan katanya tadi kamu nyuruh kita bertahan kok malah kamu yang tumbang sih," ucap Celine.
.
Disisi lain, Devan yang ada di ruang kerjanya masih sibuk dengan pekerjaannya dan sudah saatnya Keyna pulang dari rumah temannya, "Mike, apa Keyna sudah pulang?" tanya Devan.
"Belum, Tuan. Nyonya belum pulang bahkan Nyonya belum mengabari Dennis untuk dijemput," ucap Mike.
Ya, karena Pak Nardy dan Gita masih dalam proses penyembuhan lukanya jadi mereka harus istirahat dan tidak boleh bekerja oleh Devan.
"Ini sudah malam dan dia belum pulang, apa dia ingin main-main denganku," gumam Devan.
Devan pun menghubungi nomor telepon Keyna, sudah 9 kali Devan telepon dan tidak dijawab oleh sang istri, "Dia benar-benar main-main denganku awas saja ya akan aku habisi dia, Mike cari tau dimana Keyna pergi dan setelah itu kita pergi jemput dia," ucap Devan.
"Baik, Tuan," ucap Mike.
Beberapa saat kemudian, Mike pun masuk kembali ke ruang kerja Devan, "Permisi Tuan, saya sudah menemukan tempat yang dituju Nyonya," ucap Mike.
"Hem, dia pergi kemana?" tanya Devan.
"Dia pergi ke desa B Tuan," ucap Mike.
"Iya, Tuan. Disana tempat tinggal orangtua sahabat dari Nyonya," ucap Mike.
"Kita kesana sekarang," ucap Devan.
Setelah perjalanan yang cukup panjang akhirnya Devan pun sampai di sebuah desa B yang terlihat asri, kedatangan Devan tentu saja membuat banyak warga yang melihatnya.
Bagaimana tidak, dengan rupa yang menawan dan tubuh tegapnya tentunya membuat banyak wanita yang ada disana tergoda.
"Dimana rumahnya?" tanya Devan.
"Kita harus jalan Tuan, karena tidak ada akses untuk mobil masuk kedalam desa," ucap Mike.
Devan pun berjalan menuju rumah Celine dan sesampainya disana sudah banyak warga yang mengerumuni Devan, "Ada apa ya? kenapa kalian berhenti didepan rumah saya?" tanya Papa Baim.
"Mana sahabat anak anda?" tanya Devan.
"Anak, Cika. Mana sahabat kamu, ini dia dicari seseorang!" teriak Papa Baim.
"Iya, Pa!" teriak Cika dari dalam rumah.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, Cika pun keluar dari rumah tentunya dengan sahabatnya. Ya, hari ini memang bertepatan dengan sahabat Cika yang datang ke rumahnya untuk mengerjakan beberapa tugas dari sekolahnya.
"Ganteng banget," gumam sahabat Cika.
"Diantara kalian siapa yang dijemput sama pria tampan ini?" tanya Berlin yang kecentilan didekat Devan.
Sedangkan sahabat Cika menggelengkan kepalanya karena tidak mengenal pria tampan dihadapan mereka.
"Dimana sahabatnya Celine?" tanya Devan.
"Jangan sebut nama anak tidak berguna itu dan asal anda tau dia bukan anak saya lagi biarkan dia mati saya tidak peduli," ucap Papa Baim.
"Saya juga tidak peduli dengan anak anda mati atau tidak yang saya tanyakan dimana sahabatnya?" tanya Devan.
"Mungkin dia juga sudah mati dengan Celine," ucap Papa Baim dengan santainya dan tanpa tau jika ia sedang membangun serigala.
Ya, Devan lebih suka disebut serigala daripada harimau atau singa karena menurutnya serigala sangat susah untuk dijinakkan terutama saat marah dan juga jangan lupakan jika serigala tidak pernah dijadikan hewan pertunjukkan (sirkus).
"Apa maksudmu?" tanya Devan yang mulai meninggikan nadanya dan membuat warga yang melihatnya terkejut dengan perubahan Devan.
"Mereka mungkin sudah meninggal," ucap Papa Baim yang tak mau kalah.
Devan pun berjalan menuju Papa Baim dan menarik kerah pakaian yang dikenakan Papa Baim, "Kau bermain-main denganku," ucap Devan yang penuh dengan penekanan.
"Tuan," panggil Mike.
Devan hanya melirik kearah Mike tanpa melepaskan tarikannya.
"Nyonya saat ini berada di gudang desa," ucap Mike.
"****! sampai terjadi sesuatu dengan istriku maka akan ku pastikan hidupmu akan hancur," ancam Devan.
Setelah itu, Devan pun keluar dari kerumunan tersebut dan menuju tempat yang dimaksud Mike, tentunya dengan Mike yang berjalan terlebih dahulu karena Devan tidak tau dimana letak gudang tersebut.
Para warga desa juga mengikuti Devan bahkan mereka juga berlari agar tidak ketinggalan oleh Devan.
Setelah pintu berhasil didobrak oleh anak buahnya, Devan pun masuk kedalam dan rahangnya mengeras saat melihat kondisi Keyna yang terlihat lemas, "Devan, kamu menjemput ku" lirih Keyna dengan tersenyum.
"Iya, aku menjemputmu," ucap Devan dan tanpa basa basi lagi Devan langsung menggendong Keyna dan membawanya keluar dari gudang tersebut, mereka berhenti di depan gudang yang cukup luas karena Keyna bergerak tidak jelas, "Ada apa?" tanya Devan dengan raut wajah khawatir.
"Kikan sama Celine gimana?" ucap Keyna dengan menunjuk gudang tersebut.
.
.
__ADS_1
.
Tbc.