Mafia Itu Suamiku

Mafia Itu Suamiku
Dia Gila


__ADS_3

Keyna saat ini berada di kamar, ia memang hanya sendiri karena Devan tengah mengobrol dengan Papa Alex dan yang lainnya.


"Devan kayaknya masih lama deh, aku istirahat dulu deh," ucap Keyna.


Namun, Keyna tidak bisa tidur lantaran ia masih teringat dengan apa yang dikatakan Joseph tadi saat ia di culik.


"Apa aku harus ke tempat yang orang jahat itu bilang ya!" tanya Keyna pada dirinya sendiri.


# Flashback On #


Saat tengah menunggu taksi, Keyna merasa ada orang yang sejak tadi memperhatikannya. Akhirnya Keyna memutuskan untuk pergi menjauh, tapi bukannya pergi, orang tersebut justru mengejar Keyna.


Keyna berusaha untuk menjauh dengan berlari, tapi karena ia tengah hamil sehingga Keyna kesulitan dan akhirnya mereka berhasil menangkap Keyna.


Keyna di bawa ke sebuah tempat yang ada di pelabuhan, tempat tersebut seperti tempat tidak terawat dan tidak digunakan lagi.


Keyna berusaha untuk keluar dari ruangan tersebut, tapi tidak bisa hingga akhirnya pintu ruangan tersebut terbuka dan menampilkan seorang pria yang cukup berumur.


"Jadi, ini istri seorang Devano Radya Erland," ucap Joseph.


"Siapa anda? ke apa anda melakukan ini pada saya?" tanya Keyna.


"Wajar dong kalau saya melakukan hal ini pada gadis eh salah maksud saya wanita yang sangat dicintai Devan, aduh saja lagi maksudnya Tuan Devan," ucap Joseph.


"Kalau memang anda ada masalah dengan suami saya, ya anda selesaikan baik-baik dengan suami saya dan bukannya membawa saya seperti ini," ucap Keyna.


"Memang harus begitu, tapi Tuan Devan tidak begitu. Dia akan menghukum orang yang gak bersalah juga, jadi wajar dong kalau saya melakukan ini padamu," ucap Joseph.


"Maksudmu?" tanya Keyna.


"Dia akam menghabisi orang yang dekat dengan sang pelaku, kau harusnya tahu itu," ucap Joseph.


"Menghabisi? untuk apa Devan menghabisi orang yang tidak bersalah?" tanya Keyna.


"Tunggu, jadi kau belum tahu siapa itu Devano Radya Erland?" tanya Joseph.


"Dia pemilik Marva Grup dan suamiku," ucap Keyna.


"Jadi, kau tidak tahu siapa itu Devano Radya Erland. Wah! aku tidak menyangka ternyata istri dari seorang Devano Radya Erland tidak tahu status asli suaminya," ucap Joseph.


"Apa maksud anda?" tanya Keyna yang tidak mengerti maksud dari Joseph.


"Datanglah ke jalan Dermaga 2 nomor 143, di sana akan ada sebuah bangunan yang menjulang tinggi dan rapuh. Tapi, kau tidak perlu khawatir karena di sana aku yakin kau akan aman hanya saja kau akan terkejut karena kau akan tahu bagaimana rupa asli suamimu itu," ucap Joseph.


"Ah, tapi kau tidak akan dengan mudah untuk masuk. Jadi, aku sarankan untuk membuat rencana dulu ya," ucap Joseph dan setelah itu ia meninggalkan Keyna.


"Apa maksudnya? jalan apa tadi Dermaga? dimana itu?" tanya Keyna pada dirinya sendiri.


# Flashback Off #


Sejak tadi Keyna memikirkan itu bahkan ia juga mencari alamat yang disebutkan Joseph, namun saya ia tidak menemukan alamat tersebut bahkan tidak ada nama jalan tersebut.


"Apa dia udah bohongin aku ya, ya pasti dia udah bohongin aku. Dasar pria tua, berani banget bohongin aku, mana aku udah penasaran banget lagi," ucap Keyna.


"Kenapa belum tidur?" tanya Devan yang baru saja masuk ke dalam kamar.


"Eh, i-ini mau tidur," ucap Keyna.


Keyna pun akhirnya terlelap dengan Devan yang tidur di sampingnya dan memeluk erat tubuh berisinya.


Saat Devan tengah tidur tiba-tiba saja ponselnya berdering dan Devan memutuskan untuk mengangkat sambungan telepon tersebut di balkon.


^^^Ada apa?^^^


Maaf Tuan, saya ingin memberitahukan jika saya sudah berhasil menemukan keberadaan Gilang dan saat ini Tuan Jeffry sudah dalam perjalanan menuju tempat Gilang.


^^^Kalau begitu, kirim lokasinya. Aku akan ke sana sekarang.^^^


Baik, Tuan.


Devan pun mengganti pakaian dan setelah itu ia menghampiri Keyna yang masih terlelap, "Aku pergi dulu ya sayang," pamit Devan dan mengecup kening Keyna.


Beberapa saat kemudian, Devan pun sampai di sebuah rumah sakit jiwa, di sana sudah ada Mike yang menunggu Devan.


"Apa kau yakin dia ada di sini?" tanya Devan.


"Iya, Tuan. Tuan Jeffry juga sudah ada di kamar Gilang," ucap Mike.


"Kita ke sana sekarang," ucap Devan.


Tak sampai 5 menit, Devan pun sampai di depan kamar Gilang. Devan langsung masuk dan ia minta Kak Jeffry yang tenga berbicara dengan gila Gilang.


"Devan, gimana kamu bisa ada di sini?" tanya Kak Jeffry.


"Aku sudah cari dia dari lama dan ternyata dia ada di sini, Kakak tahu bukan aku ini siapa," ucap Devan dan Kak Jeffry pun tersenyum mendengarnya.


"Dia gila," ucap Kak Jeffry.


"Bagaimana bisa dia gila?" tanya Devan.


"Dari yang Kakak tahu, dia merasa bersalah pada sahabatnya itu," ucap Kak Jeffry.


"Dika?" tanya Devan.


Disisi lain, saat mendengar nama Dika. Gilang menjadi panik bahkan ia menangis dan tertawa beberapa kali.

__ADS_1


Dokter pun masuk dan memeriksa keadaan Gilang, sedangkan Devan dan Kak Jeffry keluar dari kamar tersebut.


"Apa yang terjadi?" tanya Devan.


"Gilang memang sudah tidak bisa lagi di sembuhkan bahkan dokter mengatakan akan sulit," ucap Kak Jeffry.


"Kalau begitu bagus," ucap Devan.


"Jika Dika tahu mungkin dia akan menyalahkan kita," ucap Kak Jeffry.


"Biarkan saja, dia harus belajar menerima apa yang telah terjadi," ucap Devan.


"Kau benar," ucap Kak Jeffry.


"Apa Kak Acha tahu?" tanya Devan.


"Ya, Acha tahu. Kakak juga tahu keberadaan Gilang karena Acha yang memberitahu," ucap Kak Jeffry.


"Lalu Kak Acha bagaimana? apa dia baik-baik saja?" tanya Devan.


"Ya, kau tahu bukan semenjak melahirkan. Acha mulai berpikir dengan benar dan dia saat ini berusaha untuk mengontrol emosinya," ucap Kak Jeffry.


"Baguslah kalau memang Kak Acha sudah berpikir dengan benar," ucap Devan dan mereka berdua pun tertawa.


"Oh iya, Van. Ini permintaan Acha," ucap Kak Jeffry.


"Apa, Kak?" tanya Devan.


"Lepaskan Dika, biarkan dia hidup seperti orang-orang oada umumnya. Acha yang meminta itu," ucap Kak Jeffry.


"Kak Acha yakin untuk melepaskan Dika?" tanya Devan.


"Iya, biarkan dia hidup bahagia dengan istri dan anaknya. Acha juga sudah melupakan apa yang pernah Dika lakukan padanya dan dia juga sudah memaafkan Dika," ucap Kak Jeffry.


"Kalau memang itu keinginan Kak Acha, maka Devan akan lepaskan Dika," ucap Devan dan diangguki Kak Jeffry.


"Terimakasih karena sudah melakukan apa yang Acha inginkan," ucap Kak Jeffry.


"Kak Acha itu adalah salah satu perempuan yang sangat berharga bagi Devan, jadi wajar jika Devan akan melakukan apapun untuk Kak Acha," ucap Devan.


"Apa Keyna baik-baik saja?" tanya Kak Jeffry.


"Iya, Kak. Dia baik-baik saja," ucap Devan.


"Semua orang tadi ingin menanyakan itu, tapi mereka tidak ingin membuat Keyna mengingatnya lagi. Jadi, ya mereka hanya bisa diam," ucap Kak Jeffry.


"Ya, aku tahu itu. Aku tadi juga sempat takut jika yang lainnya bertanya mengenai Keyna yang diculik Joseph, tapi ternyata tidak," ucap Devan.


"Sekarang kita pulang karena kasihan sama istri kita yang harus tidur sendirian," ucap Kak Jeffry.


Devan sendiri langsung masuk ke dalam kamar dan melihat sang istri yang masih terlelap.


"Mimpi indah cintaku," ucap Devan dan mengecup bibir Keyna.


Setelah itu, Devan pun ikut terlelap di samping sang istri dan tak lupa Devan juga memeluk Keyna.


.


Pagi harinya, Keyna bangun dan ia melihat ke sampingnya yang ternyata tidak ada Devan.


"Devan kemana ya kok gak ada?" tanya Keyna.


Keyna pun akhirnya bangun dan ia memilih untuk membersihkan tubuhnya dan setelah itu ia turun ke bawah untuk membantu Mama Vanka.


Namun, langkahnya terhenti saat mendengar suara seorang perempuan yang sangat tidak asing baginya.


Keyna sendiri sangat takut akan bertemu dengan perempuan tersebut karena ia rasa perempuan tersebut sudah membencinya.


Keyna memberanikan diri untuk menuju ruang tamu dan benar saja perempuan yang suaranya ia kenal tadi sama seperti apa yang dia pikirkan.


"Keyna," panggil perempuan tersebut.


"Ce-celine," panggil Keyna dengan gugup.


Ya, perempuan yang ada di ruang tamu kediaman keluarga Erland adalah Celine, sahabat Keyna.


"Sayang, ini ada temen kamu. Dia baru aja ngelahirin loh," ucap Mama Vanka.


Ucapan Mama Vanka mampu membuat lamunan Keyna buyar, Keyna pun menghampiri Celine dan bayi laki-laki yang ada di gendongan Celine.


"Mama tinggal dulu ya, kalian ngobrol berdua dulu deh pasti kalian kangen banget," ucap Mama Vanka.


Setelah mengatakan itu, Mama Vanka pun meninggalkan Keyna dan Celine berdua di sana dan untuk para pria sendiri, Keyna tidak tahu pasti dimana mereka.


Suasana di ruang tamu pun berubah canggung, baik Keyna maupun Celine tidak bersuara.


"Lin, apa kabar?" tanya Keyna dengan memberanikan diri untuk mengobrol dengan Celine.


"Baik," ucap Celine tanpa melihat pada Keyna dan ia tetap fokus pada anaknya.


"Anak kamu lucu ya," ucap Keyna, namun tidak ada jawaban dari Celine.


"Namanya siapa, Lin?" tanya Keyna.


"Abraham," ucap Celine.

__ADS_1


"Namanya bagus ya," ucap Keyna dan berniat memegang tangan mungil Abraham.


Tapi, sebelum ia memegangnya, Celine terlihat dahulu menjauhkan Abraham dari Keyna.


"Maaf," ucap Keyna.


"Hem," jawab Celine.


"Yang, jangan kayak gitu," ucap Rangga yang baru saja datang bersama Devan.


"Udah deh kamu jangan belain dia," ucap Celine.


"saya tahu, istri saya salah. Tapi, dia juga punya alasan untuk itu bukan," ucap Devan.


"Jadi kamu ngajak aku ke sini untuk bertemu dia, kalau gitu aku pulang dulu," ucap Celine.


"Lin, maafin aku, aku tahu aku salah gak ngasih tahu kamu. Tapi, aku beneran gak bermaksud kayak gitu, waktu itu aku cuma takut kamu bakal ngasih tahu Devan karena kamu kan dekat dengan Rangga sahabatnya Devan," ucap Keyna.


"Gila ya lo, Key. Bisa-bisanya lo berpikir kayak gitu!" bentak Celine.


"Jangan membentak istri saya," ucap Devan dan menghampiri Keyna.


"Maaf," lirih Keyna.


"Huh, aku mau pulang," ucap Celine.


"Iya iya, yaudah kita pulang. Van, gue pulang dulu ya," pamit Rangga dan diangguki Devan.


Setelah itu, Celine dan Rangga pun pergi dari kediaman keluarga Erland.


"Celine pasti benci banget ya sama aku," ucap Keyna.


"Kamu gak boleh berpikir kayak gitu, Celine gak benci kamu. Dia mungkin hanya butuh waktu untuk bertemu kamu setelah lama dia gak lihat kamu," ucap Devan dan memeluk sang istri.


"Loh menantu Mama kenapa kok nangis? kamu apapun menantu Mama, Van?" tanya Mama Vanka yang mengambil alih Keyna dari pelukan Devan.


"Devan gak apa-apain Keyna, Ma," ucap Devan.


"Halah, kalau kamu gak apa-apain menantu Mama terus kenapa menantu Mama bisa nangis kayak gini coba," ucap Mama Vanka dan memeluk Keyna.


"Tapi, Devan emang gak apa-apain Keyna kalau Mama gak percaya coba aja tanya ke menantu Mama," ucap Devan.


"Beneran sayang kamu gak di apa-apain sama anak Mama? kalau kamu di apa-apain kamu bilang aja ke Mama?" tanya Mama Vanka.


"Iya, Ma. Tapi, emang Key gak di apa-apain sama Devan kok," ucap Keyna.


Siang harinya, Devan dan Keyna bersiap untuk pulang ke rumah mereka, "Kamu pulangnya besok aja loh," ucap Mama Vanka.


"Gak bisa, Ma. Devan kan punya rumah sendiri lagipula ada beberapa hal yang harus Devan dan Keyna urus di rumah," ucap Devan.


"Ish, kamu ini ya," ucap Mama Vanka.


"Nanti kapan-kapan Keyna pasti ke sini lagi kok, Ma," ucap Keyna.


"Beneran loh ya?" tanya Mama Vanka.


"Iya, Ma," ucap Keyna.


Akhirnya mereka berdua pun pergi dari kediaman keluarga Erland dan menuju rumah mereka.


"Mau sesuatu?" tanya Devan saat dalam perjalanan.


"Ehm, gak deh. Aku pengen tidur," ucap Keyna.


"Kamu tidur aja sekarang gapapa nanti biar aku bangunin," ucap Devan.


"Iya," ucap Keyna.


Keyna akui jika di masa kehamilannya yang sekarang ini, ia jadi sedikit malas bahkan rasanya ia ingin berada di kamar seharian tanpa melakukan apapun.


Keyna juga sempat mengatakannya pada Mama Vanka dan Mama Vanka mengatakan jika hal itu wajar apalagi saat ini usia kehamilan Keyna sudah 8 bulan sehingga beratnya pun bertambah dan mendekati masa persalinan sehingga rasa malas untuk bergerak pasti ada.


Sesampainya di rumah, Devan melihat kearah sang istri yang terlelap. Sebenarnya Devan ingin menggendong Keyna, tapi ia tidak ingin mengambil resiko yang akan membahayakan istri dan anaknya sehingga Devan pun membangunkan Keyna.


"Sayang, bangun yuk. Ini udah sampai di rumah loh," ucap Devan.


Keyna pun bangun dan akhirnya ia berjalan menuju kamar, meskipun begitu Keyna tetap dituntun Deva karena nyawanya yang masih belum lengkap karena ia masih mengantuk.


Devan tidak mempermasalahkan hal itu selama Keyna dan anak mereka baik-baik saja akan Devan lakukan apapun untuk mereka berdua.


Sesampainya di kamar, Devan langsung membaringkan tubuh sang istri di kasur empuknya.


"Kamu tidur dulu ya, aku mau ke ruang kerja," ucap Devan dan samar-samar Keyna menganggukkan kepalanya.


Setelah itu, Devan pun turun dan menuju ruang kerjanya, "Bagaimana dengan Dika?" tanya Devan.


"Seperti yang Tuan katakan, Dika saat ini sudah di bebaskan. Tapi, Tuan Devan tidak perlu khawatir karena seperti yang Tuan Devan perintahkan untuk memberikan Dika anting serta tato yang dapat kita lacak keberadaannya," ucap Mike.


"Aku tidak khawatir, aku hanya penasaran saja bagaimana hidup dia setelah bebas," ucap Devan dan diangguki Mike.


.


.


.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2