Mafia Itu Suamiku

Mafia Itu Suamiku
Nendang Lagi


__ADS_3

Tak terasa sudah 6 bulan lamanya Keyna pergi meninggalkan Devan dan Devan berubah menjadi pria yang tak tersentuh bahkan Devan menjadi pria yang sibuk dengan pekerjaannya setiap hari.


Devan akan pulang dini hari dan akan berangkat pagi hari sekali, banyak pelayan dan pengawal yang mengkhawatirkan Devan. Tapi, mereka tidak berani menegurnya.


Bahkan Mama Vanka dan Papa Alex juga tidak dapat melakukan apa-apa, Devan benar-benar keras kepala.


Selain itu, Devan juga menjadi Devan sebelum mengenal Keyna. Devan kembali ke kebiasaannya yang suka membunuh orang secar acak karena kesal atau hanya ingin saja tanpa ada alasan pasti.


Seperti saat ini, Devan sudah membunuh 2 orang yang diambilnya dari pinggir jalan. Tapi, ia belum puas rasanya ia ingin membunuh seluruh manusia yang ada.


"Tuan," panggil Mike.


"Hem," jawab Devan.


"Nyonya Vanka ada diluar," ucap Mike.


Devan pun keluar dari ruangannya dan menghampiri Mama Vanka, "Van," panggil Mama Vanka.


"Ada apa, Ma?" tanya Devan.


"Kamu harus berubah, kamu gak bisa kayak gini terus," ucap Mama Vanka.


"Berubah kayak gimana? Devan dari dulu kayak gini," ucap Devan.


"Kam harus berubah seperti waktu ada menantu Mama," ucap Mama Vanka.


"Devan aslinya kayak gini," ucap Devan.


"Van, Mama gak tega ngelihat kamu kayak gini terus," ucap Mama Vanka.


"Kalau gitu Mama gak usah ngelihat Devan karena Devan juga gak mengharuskan Mama untuk melihat Devan," ucap Devan dan masuk ke dalam ruangannya.


"Sayang, kamu lihat anak Mama. Sekarang anak Mama bener-bener beda, dia jadi seperti Devan yang dulu bahkan lebih parah," gumam Mama Vanka.


"Mike, cari orang lagi untuk ku bunuh," ucap Devan.


"Tapi, Tuan...," ucapan Mike terhenti lantaran Devan menyelanya.


"Aku tidak butuh saranmu, jadi lebih baik kau bawa orang ke sini," ucap Devan.


"Ba-baik, Tuan," ucap Mike.


.


Disisi lain, Keyna yang saat ini berada di toko bunga pun merasakan pegal pada punggungnya.


"Aduh, sakit banget," gumam Keyna.


"Astaga bumil, kamu kenapa?" tanya Kikan.


"Gapapa kok, Kan. Biasa lah punggungku sakit," ucap Keyna.


"Sabar ya, sebentar lagi kita bakal ngelihat baby-nya lahir," ucap Kikan dan diangguki Keyna.


Ya, saat ini perut Keyna sudah membesar karena usia kandungannya yang ke 8 bulan dan tinggal menunggu beberapa Minggu ia akan segera melahirkan.


"Aku gak sabar deh ketemu sama baby-nya," ucap Keyna.


"Sama aku juga, rasanya pengen aku keluarin aja anak kamu," ucap Kikan.

__ADS_1


"Hust, kamu ini ada-ada aja, Kan," ucap Keyna.


"Hehehehe, bercanda bumil," ucap Kikan.


"Sekarang kita tutup tokonya aja, udah sore soalnya," ucap Keyna.


"Okey, kamu bawa bunganya yang itu dan biar aku bawa potnya," ucap Kikan dan diangguki Keyna.


Ya, saat ini Keyna dan Kikan memegang bekerja di toko bunga, meskipun awalnya mereka kesusahan bekerja di sana apalagi kondisi Keyna yang tengah hamil. Tapi, seiring berjalannya waktu mereka berdua mulai terbiasa.


Beberapa saat kemudian, mereka berdua pun berjalan menuju apartemen milik Kikan karena memang jarak antara apartemen dan juga toko bunga tidak terlalu jauh.


"Kan, kok aku takut ya nanti kalau lahiran," ucap Keyna.


"Jangan takut, Key. Nanti aku temenin kamu kok," ucap Kikan.


"Makasih ya, Kan. Kamu udah ada di sampingku," ucap Keyna.


"Iya, kan aku ini udah resmi dari keluarga kamu," ucap Kikan.


Saat mereka mengobrol tiba-tiba saja telepon Keyna berdering, "Mama Kan," ucap Keyna.


"Yaudah angkat Key," ucap Kikan.


Setelah itu, Keyna pun mengangkat sambungan telepon tersebut.


^^^Halo, Ma.^^^


Key, gimana kabar kamu?


^^^Key baik-baik aja kok, Ma.^^^


^^^De-devan belum pulang, Ma. Key juga gak tahu kapan pulangnya.^^^


"Maafin Keyna, Ma. Keyna udah bohongin Mama,' ucap Keyna dalam hati.


Lama banget sih Devan kerjanya, kamu sendirian ya di sana. Biar Mama pulang ya temenin kamu apalagi kan kamu mau lahiran.


^^^Gak usah, Ma. Key di sini gak sendirian kok, kan ada Mama Vanka, Papa Alex, Kak Acha, Kak Jeffry sama Vio ah iya ada Kikan sama Celine juga kok.^^^


Tapi, kamu sendirian gitu di rumah.


^^^Gapapa kok, Ma.^^^


Beneran?


^^^Iya, Ma.^^^


Yaudah, kalau gitu kamu harus hati-hati loh ya, Mama nanti pulang waktu kamu lahiran. Dah sayang!


^^^Dah, Ma.^^^


Setelah itu, Mama Bella pun memutuskan sambungan telepon tersebut, "Gimana, Kan?" tanya Keyna.


"Aku juga gak tahu, aku gak ada ide sama sekali Key," ucap Kikan.


"Kau gak tahu harus gimana nanti waktu Mama pulang dan Mama tahu yang sebenarnya kalau aku pergi dari rumah," ucap Keyna.


"Huh, kita pikirin itu pelan-pelan ya, Key. Aku juga bingung harus gimana," ucap Kikan.

__ADS_1


"Iya, Kan," ucap Keyna.


"Awsh," rintih Keyna.


"Kenapa, Key? baby-nya nendang lagi?" tanya Kikan.


"Iya, baby-nya nendang keceng banget," ucap Keyna.


"Mungkin karena udah mau lahir kali ya Key, makanya baby-nya nendang terus," ucap Kikan.


"Iya, Kan. Waktu cek terakhir kali kan Dokter bilang kalau baby-nya bakal aktif karena udah mendekati waktu persalinan," ucap Keyna dan diangguki Kikan.


"Tapi, nih ya aku yakin deh kalau baby-nya bakal cakep banget," ucap Kikan.


"Sok tahu kamu," ucap Keyna.


"Loh aku emang tahu ya, secara Papanya anak kamu aja Presdir Devan yang ganteng banget terus Mamanya kamu yang cantik kayak gini, jadi udah pasti kalau anak kamu nanti bakal cakep nurun dari kamu sama Presdir Devan," ucap Kikan.


Kikan yang tidak mendapat respon dari Keyna pun langsung menatap Keyna dan melihat wajah sedih Keyna.


"Eh, maaf Key. Aku gak bermaksud buat ingetin kamu sama Presdir Devan," ucap Kikan.


"Iya, aku tahu kok, Kan. Aku hanya ngerasa kalau aku ini orangtua yang jahat," ucap Keyna.


"Gak kok, kamu itu bukan orangtua yang jahat. Kamu itu orangtua yang hebat, maaf ya Key aku tadi cuma salah ngomong," ucap Kikan.


"Iya, gapapa Kikan, aku gak masalah kok. Mungkin aku juga terlalu sensitif aja di usia kehamilanku sekarang, tapi gapapa kok," ucap Keyna.


"Kamu gak usah khawatir ya karena aku akan selalu ada di dekat kamu dan selalu dukung kamu," ucap Kikan.


"Iya Kikan, udah ah kamu sering banget loh bilang kayak gitu. Aku jadi bosen dengernya," ucap Keyna dan Kikan pun tersenyum lalu memeluk Keyna.


"Yang sabar ya baby, aunty tahu kok kalau baby ini pasti pengen cepet ketemu sama aunty. Sebentar lagi ya kita akan bertemu," ucap Kikan dan mengelus perut buncit Keyna.


"Kamu pake ngelus-ngelus perut aku kayak suami aku aja Kan, padahal suamiku aja gak pernah ngelus perutku," ucap Keyna.


"Udah ya Keyna, jangan bahas ini lagi. Aku gak mau," ucap Kikan.


"Hehehe, iya iya," ucap Keyna.


"Key," panggil Kikan.


"Kenapa?" tanya Keyna.


"Kok aku tiba-tiba kangen sama Celine ya, kayaknya Celine mau lahiran deh," ucap Kikan.


"Sama, Kan. Aku juga kepikiran Celine, aku gak tahu dia masih nganggep kita sahabat atau gak karena kita pergi ninggalin dia gitu aja," ucap Keyna.


Tidak ada jawaban dari Kikan dan yang terdengar hanya suara Isak tangis Kikan, "Kan, kamu kenapa?" tanya Keyna.


"Gak ta-tahu, aku tiba-tiba pengen nangis aja, Key," ucap Kikan.


"Kita punya alasan dan semoga aja nanti Celine mengerti," ucap Keyna dan diangguki Kikan.


.


.


.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2