
Sudah sore hari dan Devan perasaan Devan tidak tenang, entahlah apa yang sedang terjadi. Tapi, Devan merasa telah terjadi sesuatu dan hal itu membuat Devan khawatir tanpa sebab.
"Aku kenapa ya kok gak tanang gini?" tanya Devan pada dirinya sendiri.
"Ada apa Tuan?" tanya Mike.
"Hah, ada apa maksudnya?" tanya Devan.
"Tuan memanggil saya?" tanya Mike.
"Tidak, oh iya Mike. Apa Keyna masih di rumah sakit?" tanya Devan.
"Saya juga kurang tahu Tuan, akan Aya cari tahu sekarang," ucap Mike dan diangguki Devan.
Beberapa saat kemudian, Mike pun masuk ke dalam ruang kerja Devan, "Bagaimana?" tanya Mike.
"Nyonya Keyna sudah pulang dari rumah sakit Tuan, tapi Nyonya Keyna belum juga sampai di rumah Tuan padahal Nyonya Keyna pulang sejak tadi siang," ucap Mike.
"Apa terjadi sesuatu pada Keyna," gumam Devan.
Baru saja Devan berdiri dan berniat untuk mencari sang istri, tiba-tiba ponselnya berdering dan nomor yang tidak dikenal meneleponnya.
Selamat malam Tuan Devan yang terhormat.
^^^Joseph.^^^
Ya, anda benar sekali.
^^^Ada apa?^^^
Tuan Devan pasti sedang mencari istri Ruan bukan, ternyata istri Tuan Devan sangat cantik bahkan saya sangat terpesona melihatnya padahal istri Tuan Devan sedang hamil besar.
^^^Apa yang kau lakukan pada istriku?^^^
Saya tidak melakukan apapun, saya hanya berkenalan saja.
^^^Apa yang kau mau?^^^
Marva Grup.
^^^Ternyata keinginanmu sama dengan apa yang diinginkan si Dion itu.^^^
Tentu saja, siapa yang tidak ingin Marva Grup.
^^^Akan ku berikan Marva Grup, tapi aku tidak ingin istriku kenapa-napa bagaimana?^^^
Tentu, saya akan menjaga istri Tuan Devan.
^^^Kalau begitu, kita bertemu di pelabuhan.^^^
Memang Tuan Devan tidak pernah mengecewakan, saya juga tidak terkejut saat Tuan Devan tahu tempat saya saat ini di pelabuhan. Baik, kita bertemu di tempat biasa.
Setelah itu, Devan pun memutuskan sambungan telepon tersebut, "Mike kita ke pelabuhan sekarang," ucap Devan.
"Baik, Tuan," ucap Mike.
Beberapa saat kemudian, Devan pun sampai di pelabuhan dan ia langsung saja menuju tempat yang biasanya ia datangi untuk bertemu Joseph.
"Selamat malam Tuan Devan," sapa Joseph.
"Aku tidak ingin basa basi, sekarang mana istriku?" tanya Devan.
"Santai Tuan Devan, istri Tuan Devan tidak apa-apa. Dia baik-baik saja," ucap Joseph.
Joseph pun menyuruh anak buahnya untuk membawa Keyna, hingga akhirnya Keyna keluar dengan di tarik oleh anak buah Joseph.
"Jangan sakiti istriku bodoh dan jangan menyentuhnya," ucap Devan.
"Lepaskan," ucap Joseph.
__ADS_1
Mereka pun melepaskan tarikan tangan mereka pada tangan Keyna, "Karena Tuan Devan surga melihat istri Tuan, jadi silahkan berikan berkas perusahaan yang akan saya ambil alih," ucap Joseph.
Devan pun memberikan berkas tersebut pada Joseph, Joseph yang sudah mendapatkan apa yang dia inginkan pun langsung mendorong Keyna pada Devan.
Untung saja Devan dapat menahan Keyna agar tidak jatuh, "Kamu gapapa?" tanya Devan.
"I-iya, aku gapapa," ucap Keyna.
"Mike bawa Keyna ke mobil," ucap Devan.
"Baik Tuan," ucap Mike.
"Tapi, kamu?" tanya Keyna.
"Aku gapapa sayang, aku akan urus semuanya," ucap Devan.
Setelah itu, Mike pun membawa Keyna masuk ke dalam mobil. Sedangkan, Devan sendiri saat ini menatap tajam Joseph.
"Aku sudah berbaik hati selama ini, jadi mulai sekarang aku bukan lagi orang yang baik hati," gumam Devan saat melihat Joseph dan beberapa anak buahnya meninggalkan Devan.
Devan mengeluarkan pistolnya dan langsung menembak Joseph serta anak buahnya, mereka langsung tergeletak tak berdaya di tanah karena memang pistol yang Devan gunakan tidak berusaha sehingga mereka tidak tahu jika devan menembak mereka.
Devan menghampiri mereka semua yang sudah tergeletak di tanah dengan darah yang mengalir di bagian tubuhnya yang terkena tembakan. Semua orang sudah meninggal dan hanya tersisa Joseph yang masih sadar meskipun tidak sepenuhnya sadar, tapi Joseph masih bisa bersuara dan itu membuat Devan muak.
"To-tolong," lirih Joseph.
"Menolong mu, sangat tidak sudi aku bahkan sangat menjijikkan setiap melihatmu," ucap Devan dan mengambil berkas yang sebelumnya ia berikan pada Joseph.
"Kau menginginkan berkas ini bukan," ucap Devan.
Saat Joseph akan meraih berkas itu, tiba-tiba saja Devan merobek berkas tersebut.
"Sebenarnya ini adalah berkas palsu, sangat tidak mungkin aku memberikan Marva Grup untuk orang bodoh seperti dirimu ini," ucap Devan.
Devan yang melihat Joseph marah pun sangat senang, "Ternyata sangat menyenangkan melihatmu seperti ini. Apa aku bawa kau ke penjara bawah tanah saja, tapi sayang sekali penjara bawah tanahku sudah penuh," ucap Devan.
Tanpa basa bais Devan langsung menginjak dada Joseph yang sudah terkena tembakannya tadi, hal itu tentunya membuat Joseph berteriak kesakitan dan teriakannya tentu saja tidak Devan dengarkan.
Akhirnya nyawa Joseph pun tidak tertolong dan ia meninggal saat itu juga. Devan mengambil ponselnya dan menghubungi anak buahnya untuk membereskan mayat-mayat yang berserakan di pelabuhan ini.
Sedangkan, Keyna sendiri tidak tahu apa yang terjadi pada Joseph karena ia di dalam mobil sangat khawatir dengan apa yang terjadi apa Devan.
Selang beberapa saat, akhirnya Devan pun terlihat dan ia langsung masuk ke dalam mobil.
"Kamu gapapa?" tanya Keyna.
"Aku gapapa sayang, sekarang kita pulang ya," ucap Devan dan diangguki Keyna.
Mereka pun akhirnya sampai di kediaman keluarga Erland dan hal itu membuat Keyna bingung dan bertanya-tanya pasalnya Devan tidak mengatakan jika mereka akan pergi ke rumah keluarga Erland.
"Kok kita ke sini?" tanya Keyna.
"Iya, kita ke sini dulu ya, Mama udah pulang soalnya," ucap Devan.
"Hah, Mama udah pulang kok bisa bukannya Mama harus di rawat beberapa hari lagi dir umah sakit, tapi kok Mama udah pulang sekarang?" tanya Keyna.
"Aku juga gak tahu," ucap Devan.
Akhirnya mereka berdua pun masuk ke dalam rumah tersebut, namun hanya kegelapan yang menyambut mereka.
"Dev, kok gelap gini?" tanya Keyna.
"Sebentar, aku nyalain dulu lampunya," ucap Devan.
Namun, belum sempat Devan menyalakan lampunya tiba-tiba lampu menyala dan terlihat keluarga besar Erland dan juga hiasan di ruang tamu tersebut.
Keyna sangat terkejut saat melihat hal itu, apalagi ia melihat Mama Vanka yang mendekat pada Keyna dan memeluknya.
"Selamat datang menantu Mama!" ucap Mama Vanka dengan heboh.
__ADS_1
"Ma, jangan kenceng-kenceng, Keyna lagi hamil," ucap Devan.
"Eh, iya Mama lupa," ucap Mama Vanka.
Semua orang yang ada di sana menyambut Keyna dengan suka cita bahkan ada yang menangis senang karena akhirnya Keyna kembali pada keluarga Erland.
"Mama gak marah sama Keyna?" tanya Keyna.
"Kenapa Mama harus marah sayang? kan yang salah emang Devan dan Mama juga salah karena Mama gak bisa ngasih kamu rasa percaya diri kalau kamu itu pantas menjadi bagian dari keluarga Erland," ucap Mama Vanka.
"Terus kenapa Mama marah waktu Keyna ada di rumah sakit?" tanya Keyna.
"Hehehe, Mama cuma akting kok," ucap Mama Vanka.
"Mama sakit juga cuma akting?" tanya Devan yang tidak tahu apa-apa.
"Enak aja, buat apa Mama akting sakit. Mama itu sakit beneran ya, ya Mama gak tahu aja kalau suasana pas buat akting makanya Mama akting marah sama menantu Mama padahal nih ya Mama udah pengen teriak-teriak waktu lihat Keyna jenguk Mama waktu itu," ucap mama Vanka.
Keyna yang mendengar perkataan Mama Vanka pun langsung meneteskan air matanya, "Sayang, maafin Mama. Kamu pasti sedih banget ya waktu Mama pura-pura marah sama kamu," ucap Mama Vanka.
"Iya, Keyna sedih banget. Tapi, sekarang Keyna bahagia karena Mama gak marah sama Keyna. Maafin Keyna ya, Ma. Karena Keyna udah pergi ninggalin Mama, Devan, Papa dan semuanya," ucap Keyna.
"Gapapa sayang, Mama maklumi semuanya kok," ucap Mama Vanka dan menenangkan Keyna.
"Tunggu, terus Aldy yang bilang kayak gitu juga cuma akting?" tanya Devan.
"Hehehe, maaf ya kak. Tapi, waktu itu Aldy gak akting, Aldy reflek aja bilang kayak gitu. Lagipula nih ya, Aldy gak tahu aktingnya aunty Vanka," ucap Aldy.
"Iya, yang tahu cuma Mama, Papa sama Acha aja," ucap Mama Vanka dan terkikik geli jika mengingat rencana pura-pura marahnya.
"Yaudah, karena sekarang semuanya udah selesai jadi lebih baik kita ke taman. Semuanya sudah siap," ucap Papa Alex.
Ya, mereka akan melakukan barbeque untuk malam ini, semua orang tentunya tahu mengenai Keyna yang baru saja di culik Joseph dan mereka juga tahu jika Joseph sudah meninggal. Tapi, mereka tidak ingin membicarakannya karena mereka takut Keyna trauma.
Saat ini Keyna tengah duduk sendirian di kursi karena semua orang tengah sibuk dengan kegiatannya dan Keyna tentu saja tidak boleh membantu.
"Maafin aku," ucap Andra.
"Untuk apa?" tanya Keyna.
"Untuk semuanya," ucap Andra.
"Iya, aku udah maafin Kak Andra kok," ucap Keyna.
"Huh, aku kira kamu gak pantes untuk Devan, tapi setelah kamu pergi. Aku sadar kalau cuma kamu yang pantas untuk Devan dan Devan juga sangat tulus sama kamu, aku gak pernah lihat Devan kayak gitu sebelumnya," ucap Andra.
"Aku ngerti kok, Kak Andra yang lebih tahu Devan karena Andra udah kenal lama sama Devan dan Kak Andra pasti ingin yang terbaik buat Devan," ucap Keyna.
"Iya, dan ternyata yang terbaik buat Devan adakah kamu. Aku aja yang sok mau pisahkan kalian waktu itu apalagi aku sampai dorong kamu," ucap Andra.
"Iya, Kak. Aku udah maafin Kak Andra dan aku juga minta maaf kalau aku belum bisa jadi yang terbaik buat Devan," ucap Keyna.
"No, kamu udah jadi yang terbaik buat Devan. Yang jelas kamu gak salah, aku aja yang masih berpikiran sempit. Kalau gitu mulai sekarang kita keluarga ya," ucap Andra.
"Iya, Kak," ucap Keyna dengan senang.
Andra pun tersenyum melihat Keyna, "Aku pergi dulu," pamit Andra dan ia pun pergi meninggalkan Keyna.
Andra tanpa sengaja melewati Devan, "Terimakasih," ucap Devan.
Andra pun terkejut saat mendengar ucapan terimakasih dari Devan, "Kak Devan," panggil Andra.
"Hem, aku hanya mengatakan itu karena kau mau mengerti dan mau berdamai dengan apa yang menjadi masalahmu sendiri," ucap Devan kalau pergi. Andra pun menatap punggung Devan lalu ia tersenyum.
.
.
.
__ADS_1
Tbc.