Mafia Itu Suamiku

Mafia Itu Suamiku
Saran


__ADS_3

Tak terasa sudah satu Minggu berlalu dan Devan terus melakukan rutinitas setiap harinya yaitu mengunjungi Keyna.


Devan sampai harus mengurus segala pekerjaan di hotel tempat ia menginap agar ia bisa dekat dengan Keyna dan tidak ketinggalan kabar tentang kehamilan sang istri.


Tentunya hal itu menyulitkannya, tapi Devan tidak pernah mengeluh. Ia akan tetap ada di kota C sampai Keyna memberikan jawaban padanya apakah ia ingin kembali pada Devan atau tidak.


"Tuan," panggil Mike.


"Ada apa?" tanya Devan.


"Nyonya Vanka saat ini berada di rumah sakit," ucap Mike.


"Mama di rumah sakit? kenapa Mama bisa di rumah sakit?" tanya Devan.


"Saya juga kurang tahu, tapi saya mendapat kabar jika Nyonya Vanka hanya kecapean dan harus di rawat beberapa hari di rumah sakit," ucap Mike.


Devan yang awalnya memeriksa berkas-berkasnya pun langsung menutup matanya, ia tengah berpikir apa yang harus ia lakukan saat ini.


Ia tidak mungkin meninggalkan Keyna, tapi ia juga tidak mungkin membiarkan Mama Vanka di rumah sakit tanpa dirinya.


"Kalau begitu kau boleh pergi," ucap Devan.


"Baik, Tuan," ucap Mike dan pergi dari kamar Devan.


Setelah, memikirkan semuanya akhirnya Devan telah memutuskan apakah dia akan tetap berada di kota C atau ia akan pulang ke kota A untuk menemani Mama Vanka.


Devan terlebih dahulu menyelesaikan pekerjaannya dan setelah itu barulah ia bersiap-siap menuju apartemen Keyna.


"Mike, kita ke apartemennya Keyna sekarang," ucap Devan.


"Baik, Tuan," ucap Mike.


Beberapa saat kemudian, Devan pun sampai di tempat tinggal Keyna dan setelah itu ia pun menekan bel dan tak lama setelah itu Keyna pun membuka pintu tersebut.


"Devan," panggil Keyna.


"Ada yang mau aku bicarain sama kamu," ucap Devan.


"Apa?" tanya Keyna.


"Huh, aku akan kembali ke kota," ucap Devan.


"Kenapa?" tanya Keyna.


Entahlah Keyna merasa tidak senang saat mendengar jika Devan akan kembali ke kota.


"Mama masuk rumah sakit," ucap Devan.


"Hah, Mama masuk rumah sakit, kok bisa?" tanya Keyna.


"Katanya sih Mama kecapean makanya aku mau mastiin secraa langsung aja," ucap Devan.

__ADS_1


"Berapa lama kamu di kota?" tanya Keyna.


"Aku juga gak tahu, tapi aku pastiin aku akan segera kembali ke sini," ucap Devan.


"Beneran kamu bakal kembali ke sini?" tanya Keyna.


"Iya, aku janji," ucap Devan dan diangguki Keyna.


"Makasih sayang, aku janji, aku akan selesain semuanya," ucap Devan dan mengecup kening Keyna.


Setelah itu, Devan pun kembali ke hotel dan mempersiapkan semuanya. Namun, saat akan keluar dari hotel tiba-tiba Keyna menelponnya dan hal itu tentunya membuat Devan bertanya-tanya, tapi Devan memilih mengangkat sambungan telepon tersebut.


^^^Kenapa? kamu mau sesuatu?^^^


Hem, kamu udah berangkat?


^^^Belum, ini aku baru mau keluar dari hotel. Ada apa emangnya?^^^


Hem, i-itu...


^^^Apa? kamu mau sesuatu atau kamu butuh sesuatu sebelum aku kembali ke kota?^^^


Aku boleh ikut?


Devan tidak langsung menjawab pertanyaan Keyna karena ia masih berpikir apa yang ia dengar tadi benar atau tidak.


Dev


^^^Kamu tadi beneran bilang mau ikut?^^^


^^^Ikut kembali ke kota?^^^


Iya, aku boleh ikut atau gak? kalau gak boleh juga gapapa sih.


^^^Boleh sayang, sangat boleh. Tapi, apa artinya kamu udah kasih aku kesempatan untuk memulai kembali semuanya?^^^


Menurut kamu?


^^^Makasih sayang, aku akan jemput kamu sekarang.^^^


Setelah itu, Keyna langsung memutuskan sambungan teleponnya karena ia merasa malu.


# Flashback On #


"Kenapa?" tanya Keyna saat melihat Kikan yang menatap tajam dirinya.


"Key, ini cuma saran dari aku ya," ucap Kikan.


"Iya, emang saran apa?" tanya Keyna.


"Maaf sebelumnya karena aku dengerin pembicaraan kamu sama Presdir Devan, tapi menurutku kamu harus kesampingkan keegoisan kamu mulai sekarang," ucap Kikan.

__ADS_1


"Maksud kamu apa, Kan? aku gak egois ya," tanya Keyna.


"Kalau kamu gak egois harusnya kamu mau kasih kesempatan buat Presdir Devan dan kamu ikut Presdir Devan kembali ke kota," ucap Kikan.


"Itu gak ada sangkut pautnya sama egois," ucap Keyna.


"Ada, maaf kalau perkataanku kali ini nyakitin buat kamu, tapi aku mau bilang yang selama ini aku lihat dari kamu selama kamu pergi dari Presdir Devan. Sekarang gini Key, pernah gak Presdir Devan bilang kalau dia gak nyaman sama kamu? pernah gak Presdir Devan berharap kamu pergi dari dia? pernah gak Presdir Devan bilang secara langsung kalau dia gak suka sama kamu dan berharap kamu menyingkir dari dia dan bawa pergi anak kalian? gak kan karena semua itu hanya pikiran kamu saat mendengar perkataan orang-orang yang bahkan Presdir Devan dan keluarganya gak pernah bilang kayak gitu ke kamu. Kamu itu egois, kamu pergi karena kamu gak mau dibicarain sama orang-orang yang bahkan gak ada hubungannya sama kamu, Key. Kalau kamu gak egois ya harusnya kamu bilang semuanya ke Presdir Devan tentang apa aja yang ada di pikiran kamu dan selesaikan semuanya bukannya pergi apalagi kamu lagi hamil, kamu tahu kan karena keegoisan kamu ini anak kamu harus pisah sama Ayahnya dan kamu juga kesulitan di masa awal kehamilan kamu," ucap Kikan.


"Kan," panggil Keyna yang sudah berkaca-kaca saat mendengar perkataan Kikan.


"Maaf kalau kata-kataku nyakitin kamu, Key. Tapi, ini semua benar adanya, kamu pergi karena kamu gak mau sakit hati, tapi kamu lupa ada orang lain yang sakit hati bahkan lebih sakit dari pada kamu belum lagi reaksi orangtua kamu saat mereka tahu kalau kamu selama ini bohongin mereka, mereka bakal lebih sakit hati daripada kamu," ucap Kikan.


"Tadi juga saat Presdir Devan ke sini bilang kalau dia harus kembali ke kota karena Mama nya sakit kamu diam aja, pasti Presdir Devan bingung harus bagaimana sekarang dan kamu justru nyaman disini tidak memikirkan apapun disaat mertua kamu di rawat di rumah sakit, kalau emang kamu gak egois ya harusnya kamu kembali ke kota dan selesaikan semua permasalahan yang kamu buat, Key. Kamu udah bukan anak kecil lagi, gak mungkin aku harus koar-koar kayak gini biar kamu sadar sama pemikiran kamu ini dan gak mungkin juga Presdir Devan harus di sini terus untuk bujuk kamu. Mulai sekarang kamu harus bisa kasih kesempatan buat Presdir Devan dan kesempatan untuk anak kamu agar dia bisa ngerasain kasih sayang seorang Ayah," lanjut Kikan.


"Terus aku sekarang harus gimana?" tanya Keyna.


"Ya, kamu harus bilang ke Presdir Devan kalau kamu mau kembali ke kota dan kasih Presdir Devan kesempatan untuk memulai kembali semuanya," ucap Kikan.


"Handphone aku mana?" tanya Keyna yang mencari ponselnya.


"Ini," ucap Kikan dan memberikan ponsel Keyna.


"Makasih," ucap Keyna dan Kikan pun tersenyum.


Meskipun Keyna merasa perkataan Kikan sangat menyakitkan baginya, tapi karena perkataan Kikan juga Keyna menjadi sadar dengan apa yang dia lakukan selama ini.


# Flashback Off #


"Apa yang aku lakuin ini benerkan Kan?" tanya Keyna.


"Iya, apa yang kamu lakuin ini udah bener kok, sekarang kita siapin pakaian kamu ya. Kamu harus kembali ke kota dan memulai semuanya," ucap Kikan dan diangguki Keyna.


Beberapa saat kemudian, mereka pun selesai menyiapkan pakaian yang akan di bawa Keyna, "Kamu gimana Kan? kamu di sini sendirian?" tanya Keyna.


"Gak dong, William nanti bakal jemput aku dan aku juga bakal kembali ke kota," ucap Kikan.


"Terus toko bunga gimana?" tanya Keyna.


"Kamu gak usah khawatir soal itu, yang harus kamu khawatirkan adalah gimana reaksi keluarga besar Presdir Devan waktu ngeliat kamu nanti," ucap Kikan.


"Pasti mereka bakal kaget banget deh, terus aku harus gimana dong? apa aku batalin aja ya ikut Devan ke kota?" tanya Keyna.


"Ngawur kamu, Key. Ya, harus kamu hadapi semuanya kan semua ini juga karena kamu," ucap Kikan.


"Huh, iya. Tapi, kamu jangan nakut-nakutin dong, Kan," ucap Keyna.


"Hehehe, iya iya bumil," ucap Kikan.


.


.

__ADS_1


.


Tbc.


__ADS_2