
Setelah makan malam, Keyna menuju kamarnya, sedangkan Devan menuju ruang kerjanya, Keyna mencoba untuk memejamkan matanya, namun baru saja akan memejamkan matanya tiba-tiba suara serak milik Devan menginterupsi Keyna yang akhirnya membuat Keyna membuka matanya lebar-lebar.
"Besok kita pindah," ucap Devan lalu menuju kamar mandi.
"Hah, dia cuma ngomong gitu doang, tadi di ruang tamu aja ngomongnya panjang banget eh sekarang malah irit banget kalo ngomong, tapi bukannya kemarin kita udah pindah ya dan kita ke sini kan karena Mama Vanka yang minta. Gak tau ah bingung lebih baik lanjut tidur aja deh," gumam Keyna dan kembali menutup matanya.
Setelah beberapa saat kemudian Devan pun keluar dari kamar mandi Devan melihat istrinya yang tengah terlelap di ranjang king size-nya, Devan pun mengikuti jejak Keyna, namun baru saja memejamkan matanya teleponnya berdering dengan segera Devan mengangkat sambungan telepon tersebut.
Maaf Tuan, mengganggu malam anda, tapi ada hal yang harus saya sampaikan, kita menemukan pengkhianat di kelompok tuan.
Devan yang mendengarnya langsung marah bahkan rahangnya terlihat jelas jika saat ini ia membutuhkan pelampiasan, pelampiasan yang dimaksud ialah dengan menghancurkan pengkhianat tersebut.
^^^Sebentar lagi aku akan ke markas jangan biarkan pengkhianatan pergi.^^^
Baik, Tuan.
Devan pun melihat ke arah Keyna yang masih terlelap, "Aku pergi dulu, selamat tidur sayang," bisik Devan dan mengecup kening Keyna lalu beranjak pergi.
"Kamu mau kemana, Van?" tanya Papa Alex.
"Ada hal yang harus Devan, Pa," ucap Devan.
"Urusan apa Van, kan kasihan istri kamu di kamar sendirian?" tanya Mama Vanka.
"Di markas ada pengkhianat Ma, Pa, makanya sekarang Devan harus ngecek langsung biar bisa ambil tindakan," ucap Devan.
"Yaudah, kamu ke markas, tapi kamu harus cepet biar istrimu Mama yang jaga," ucap Mama Vanka dan diangguki Devan.
Devan pun menuju ke markas, sesampainya di markas Devan melihat Mike, "Gimana?" tanya Devan sangat terlihat aura mencekam saat Devan datang.
"Saya sudah mencari tau mengenai penyerangan waktu itu dan ternyata saya mendapatkan salah satu anggota kita uanh berkhianat dengan memberikan informasi mengenai jadwal jaga di markas, Tuan, sebab itu para musuh bisa leluasa menyerang kita," jelas Mike.
Devan yang mendengarnya langsung menoleh ke arah Mike, "Sudah kau bersihkan pengkhianat itu?" tanya Devan.
"Sudah Tuan, dia ada di ruangan bawah tanah," ucap Mike.
Devan segera menuju ruangan bawah tanah dan sesampainya disana ia melihat seorang pria yang sedang berdiri dengan rantai di kedua tangannya, "Wah sepertinya Leon akan kenyang hari ini," ucap Devan.
Pria yang awalnya menunduk itupun mengangkat kepalanya dan melihat Devan yang memiliki aura menakutkan, "Tuan, maafkan saya, saya melakukannya karena saya butuh uang untuk biaya melahirkan istri saya," ucap pria tersebut.
"Mike," panggil Devan sambil melirik Mike, Mike yang paham maksud Devan pun menganggukkan kepalanya.
"Namanya Jack, dia sudah 5 tahun masuk kelompok Eternal, dia putra pertama dari Joshua Force dan Giselle Force, mempunyai dua adik yang pertama Lionela Force dan yang kedua Grace Force, selain itu, dia sudah memiliki seorang istri bernama Denias Force yang baru saja melahirkan pada dua Minggu lalu anak mereka perempuan bernama Jessie Force," jelas Mike.
"Urus orangtua dan adik dari orang ini, dan untuk keluarga kecilnya biar aku yang urus," ucap Devan dan diangguki Mike.
"Tuan, saya mohon lepaskan saya, saya janji saya akan melakukan apapun yang Tuan inginkan, tapi sekali lagi saya mohon jangan libatkan keluarga saya, saya siap menanggung semua akibatnya, tuan," ucap Jack.
__ADS_1
"Seharusnya sebelum kau bertindak, kau pikir dulu resikonya, kau bukan 1 atau 2 tahun disini, sudah pasti kau tau akibat dari semua tindakanmu," ucap Devan.
"Tuan, semuanya sudah siap," ucap Mike.
"Nyalakan," ucap Devan lalu nyala lah sebuah proyektor dan didalamnya terdapat video, dimana orangtua dan adik dari Jack sedang di ikat.
"Tuan, saya mohon jangan lakukan itu, jangan lukai keluarga saya Tuan, saya janji, saya akan melakukan apapun untuk Tuhan, tapi tolong jangan lukai keluarga saya," mohon Jack.
"Sangat disayangkan sekali karena aku bukan orang pemaaf," ucap Devan.
"Mike bunuh mereka," ucap Devan dan seperkian detik terdengar suara pistol dari video tersebut, semua keluarga Jack pun langsung meninggal saat itu juga.
"Aaaa, Tuan tolong jangan lakukan itu," teriak Jack.
"Ah, Steve untuk istrinya dan anaknya kau juga yang urus, aku sedang malas mengurusnya," ucap Devan.
"Baik, Tuan, sudah saya urus," ucap Mike.
Setelah itu, muncul video istri dan anak dari Jack, dimana mereka keluar dari apartemen, "Tuan, saya mohon jangan lukai istri dan anak saya hiks hiks hiks," Jack terus memohon agar Devan bermurah hati untuk menyelamatkan istri dan anaknya.
Namun, hal itu tidak mungkin terjadi karena dalam video tersebut menunjukkan jika sebuah truk datang ke arah istri dan anaknya lalu menabrak tubuh mereka berdua hingga terpental bahkan yang lebih mengenaskan tidak ada yang menolong meskipun disana cukup ramai.
"Bagiamana, Mike?" tanya Devan.
"Mereka sudah meninggal ditempat, Tuan," ucap Mike setelah menerima sambungan telepon dari orang yang berada disana.
"Dasar iblis, kau tidak pantas disebut manusia bahkan kau tidak pantas hidup, yang harusnya mati itu kau, dunia sangat bodoh karena membiarkan perusak sepertimu hidup," teriak Jack.
"Oh, aku sangat setuju dengan perkataan mu dunia itu bodoh karena membiarkan orang sepertiku hidup, tapi dunia juga pintar karena membiarkan aku hidup dan menaklukkan semua yang ada," ucap Devan.
"Aku berharap pada Tuhan supaya dia melenyapkanmu dalam keadaan yang mengenaskan dan saat kau mati nanti semua orang akan bahagia," ucap Jack.
Mike yang mendengarnya mulai emosi dan menuju ke arah Jack, namun langkahnya terhenti karena Devan yang menghentikannya, "Santai Mike, kita biarkan saja dia berbicara sebelum ajal menjemputnya," ucap Devan.
"IBLIS KAU DEVAN," teriak Jack.
"Nama yang bagus, aku suka," ucap Devan.
"Aku dengar kau sudah menikah, ck aku doakan semoga istrimu mandul dan tidak bisa memberikan keturunan karena aku takut nanti jika istrimu hamil kau akan membunuhnya juga hehehe," ejek Jack.
"Aku tidak pernah memikirkan itu, tapi setelah mendengar perkataan mu sepertinya akan seru untuk membunuh anak dan istriku," ucap Devan dengan tersenyum.
"Kau benar-benar gila," ucap Jack.
"Aku tau itu," ucap Devan lalu mengarahkan pistol yang ia pegang ke kepala Jack.
Dor...
__ADS_1
Tembakan tersebut mengarah tepat pada kepala Jack, "Mike, bawa orang ini ke lapangan dan lumuri dengan bensin," ucap Devan.
"Baik, Tuan," ucap Mike.
Setelah beberapa saat kemudian Devan pun menuju ke lapangan karena Mike memberitahukan jika Jack telah di lapangan, lapangan markas sangat tertutup dan hanya anggota yang bisa masuk.
Devan melihat Jack yang masih kesakitan, "Mike kau sudah lumuri dia dengan bensin?" tanya Devan.
"Sudah Tuan," jawab Mike.
"No, bukan hanya rantai, tapi tubuhnya juga," ucap Devan.
"Tapi, Tuan...," ucapan Mike terhenti saat melihat Devan mengangkat alis kanannya.
"Baik, Tuan," ucap Steve lalu melumuri Jack dengan bensin.
"Good, untuk semua saya peringatkan jika ada yang bermain-main dengan saya dan kelompok Eternal maka ingat dua hal, yang pertama keluarga kalian akan menanggung akibatnya dan ingat yang kedua bahwa saya bukan orang yang pemaaf, jadi percuma kalian meminta maaf," ucap Devan dengan tegas lalu menyuruh Mike untuk mengambil obor yang ada di dekat pintu masuk lapangan dan membawanya ke arah Jack.
"Ada kata-kata yang ingin kau sampaikan?" tanya Devan.
"Aku harap kau bahagia," ucap Jack.
Devan hanya menyeringai dan menaruh obor tersebut ke rantai hingga dengan cepat api menyebar ke seluruh tubuh Jack.
"DASAR IBLIS," teriak Jack sebelum akhirnya ia benar-benar hangus.
"Mike, urus dia," ucap Devan lalu pergi dari markas dan menuju ke kediaman Erland.
"Gimana, Van? Papa denger ada pengkhianat," tanya Papa Alex.
"Seperti biasa, Pa," ucap Devan dan diangguki Papa Alex.
"Keluarganya?" tanya Mama Vanka.
"Ya gitu mah," ucap Devan.
"Bagus, biar kapok dia," ucap Mama Vanka.
"Devan ke kamar dulu," pamit Devan dan menuju kamarnya.
.
.
.
Tbc.
__ADS_1