
Keyna diseret menuju pintu, tapi belum sampai pintu tiba-tiba pintu tersebut terbuka dengan keras dan memperlihatkan siapa yang masuk kedalam, "Nyonya!" teriak Gita.
Ya, Gita lah yang membuka pintu tersebut, namun Gita tidak sendirian karena ada Pak Nardy yang juga ikut dengannya.
Gita segera berlari ke arah Keyna, sebelum itu dia mendorong Miss Kelly hingga terjatuh dan hal itu membuat semuanya terkejut kecuali Kikan, "Nyonya, tidak apa-apa?" tanya Gita.
"Aku gapapa kok, kamu tidak perlu khawatir," ucap Keyna dengan tersenyum.
Gita tentukan tidak bisa tidak khawatir dengan Keyna, jika Keyna terluka sedikit saja maka nyawanya dalam bahaya.
"Pak Nardy, siapkan mobil dan kita akan ke rumah sakit, jangan lupa untuk kabari Tuan," ucap Gita dan diangguki Pak Nardy lalu Pak Nardy pun keluar dari ruangan tersebut.
"Gita, aku gapapa jadi gak perlu sampai ke rumah sakit dan jangan kasih tau dia, nanti dia pasti marah," ucap Keyna.
"Tidak, Nyonya. Saya yang salah karena kurang menjaga Nyonya, mari Nyonya saya bantu," ucap Gita dan membantu Keyna untuk bangun.
Kikan pun segera melepaskan cengkraman Nesty dan Laras lalu ia menghampiri dan membantu Keyna untuk bangun, sebelum pergi, Gita menatap tajam ke arah Miss Kelly yang telah melukai Nyonya-nya.
"Saya bahkan tidak berani untuk menyentuh apalagi melukai Nyonya Keyna barang sekecil apapun karena Nyonya Keyna kami jaga dengan sepenuh hati bahkan kami rela mempertaruhkan nyawa kami untuk Nyonya Keyna. Tapi, anda dengan beraninya melukai Nyonya Keyna, saya pastikan pada anda jika suatu saat nanti anda akan menyesal karena tindakan bodoh anda," ucap Gita lalu pergi dengan membantu Keyna yang dibantu Kikan.
Sedangkan, didalam ruang rapat Miss Kelly dan model lainnya terkejut, mereka baru melihat seseorang yang berani mengancam Miss Kelly, tapi setelah itu Miss Kelly dengan angkuhnya hanya tertawa.
"Dia berani mengancam ku, aku akan tunggu ancaman dia, sekarang kita bahas pelatihan saja karena model tidak berguna itu sudah tidak ada disini," ucap Miss Kelly dan diangguki oleh semuanya.
'Rasain, gue gak akan pernah biarin lo jadi nomor satu di agensi, lo hanya sampah yang tempatnya di tong sampah,' ucap Sisy dalam hati.
Selama perjalanan menuju mobil banyak pasang mata yang menatap heran ke arah Keyna karena jalan harus dibantu Gita dan Kikan, "Aku gapapa kok, gak perlu sampe ke rumah sakit," ucap Keyna.
"Maaf Nyonya karena kelalaian saya, Nyonya jadi seperti ini," ucap Gita.
"Aku gapapa, Ta. Lebih baik aku pulang ke rumah aja daripada harus ke rumah sakit," ucap Keyna.
"Tidak bisa, Nyonya. Saya sudah menghubungi Tuan Devan dan Tuan Devan juga menyuruh saya untuk membawa Nyonya ke rumah sakit," ucap Gita.
Saat di dalam mobil hanya keheningan yang ada, Kikan yang duduk di sebelah Keyna pun bingung harus melakukan apa karena tatapan intens dari Gita yang berada di depan, sontak membuat nyali Kikan ciut, ini pertama kalinya Kikan melihat Gita seperti itu.
Sampai di rumah sakit, Keyna langsung dibawa ke ruang VVIP, Keyna dan Kikan sangat terkejut saat memasuki kamar VVIP tersebut karena menurutnya ia tidak pantas berada di sana karena ia hanya luka kecil dan bukannya kecelakaan sampai membutuhkan donor darah, tapi kenapa kamarnya sangat luas bahkan mewah.
"Gita, kamu yakin aku disini? lebih baik aku ke kamar biasa aja ini terlalu berlebihan menurutku," tanya Keyna.
"Mari Nyonya," ucap seorang dokter lalu memeriksa keadaan Keyna.
Pintu kamar terbuka dan masuklah Devan dengan beberapa anah buahnya, Keyna dan Kikan mulai takut karena anak buah Devan cukup mengerikan dengan badan kekar dan beberapa tato serta pakaian serba hitam.
"Ceritakan," ucap Devan ke arah Gita.
__ADS_1
"Maaf Tuan karena kelalaian saya, Nyonya Keyna jadi seperti ini, awalnya saya menunggu Nyonya ditempat biasa, tapi tiba-tiba alarm di handphone saya berbunyi yang menandakan jika Nyonya sedang dalam bahaya lalu saya dan Pak Nardy segera menuju ke tempat Nyonya dan ternyata saat saya sampai disana saya sudah melihat Nyonya terluka," ucap Gita.
"Jelaskan bagaimana kamu bisa terluka?" tanya Devan yang menatap tajam ke arah Keyna.
Keyna pun mulai menceritakan awal mula kejadian tersebut dan tanpa Keyna sadari rahang Devan mengeras pertanda jika ia tengah menahan amarahnya bahkan anak buahnya sudah merasakan ketakutan melihat hak itu, 'Berani-beraninya orang rendahan seperti dia melukai istriku,' ucap Devan dalam hati.
"Mike, lakukan tugasmu!" perintah Devan.
"Baik, Tuan," ucap Mike lalu pergi dari kamar tersebut dengan diikuti anak buahnya.
"Tapi, aku gapapa kok, cuma kesalahpahaman aja," ucap kena dengan senyum yang merekah.
"Kamu akan disini selama seminggu untuk memulihkan kondisimu," ucap Devan.
"Tapi, aku gapapa, aku gak perlu sampai seminggu disini, setelah infus ini habis aku bisa langsung pulang kok," ucap Keyna.
"Aku tidak bertanya padamu setuju atau tidak," ucap Devan lalu duduk di sofa yang ada di kamar tersebut.
"Hem, aku pulang aja ya kalau gitu, besok aku usahakan kesini lagi," ucap Kikan dan diangguki Keyna.
"Makasih ya Kan dan maaf gak bisa nganterin kamu atau gak kamu dianterin sama pak Nardy aja" ucap Keyna.
"Iya, gapapa kok, sekarang kamu harus istirahat jangan sampai kecapean ya, aku pulangnya gampang kan di depan tadi banyak taksi" ucap Kikan dan diangguki Keyna.
"Nardy, antarkan dia pulang!" perintah Devan.
"Aku bisa pulang sendiri kok," tolak Kikan.
"Gapapa Kan kamu pulang sama Pak Nardy aja daripada uang kamu habis, lagian Pak Nardy orangnya gak gigit kok," ucap Keyna.
"Yaudah, aku pulang dulu ya," pamit Kikan ke Keyna.
"Saya permisi Pak, dan terima kasih," lanjutnya ke Devan.
Devan tidak menanggapinya dan ia sibuk pada ipad-nya, Keyna tiba-tiba teringat perkataan Gita, "Tunggu, kenapa kamu tau kalau aku sedang dalam bahaya terus kenapa alarm kamu berbunyi?" tanya Keyna.
"Nyonya, ingat saat saya memberi anting pada Nyonya?" tanya Gita.
"Iya, kenapa memangnya?" tanya Keyna.
"Anting itu memiliki sensor yang mendeteksi bagaimana kondisi Nyonya saat ini, karena itu saya tau kalau Nyonya sedang dalam keadaan yang tidak baik-baik saja," ucap Gita.
"Wah! keren sekali, darimana kamu dapat gelang ini, Ta?" tanya Keyna.
"Saya dapat dari Tuan Devan, Nyonya," ucap Gita.
__ADS_1
Keyna pun melihat ke arah Devan yang masih sibuk dengan ipad-nya, entah apa yang dirasakan Keyna, tapi saat ini kena merasa salah tingkah mendengar apa yang baru saja dikatakan Gita, Gita yang melihat hal itu pun hanya tersenyum.
'Astaga Keyna kamu kenapa sih? masa kayak gitu dong baper sih, jangan baper dong. Ingat itu sudah kewajibannya Devan buat ngelindungin kamu, tapi tetep aja aku terharu sampai Devan kepikiran ngasih anting ini ke aku, mungkin dia takut aku kenapa-napa kali ya,' ucap Keyna dalam hati.
"Kalau begitu saya permisi, Tuan, Nyonya," ucap Gita lalu keluar dari kamar inap mewah tersebut.
"Terima kasih," ucap Keyna lalu dengan cepat merebahkan tubuhnya dan memunggungi Devan.
kenapa mencoba memejamkan matanya hingga tiba-tiba ia merasa brankarnya bergerak dan seseorang memeluknya.
Keyna sudah tau siapa yang melakukannya dan ia hanya diam saja tidak mau melihat orang tersebut, siapa lagi kalau bukan Devan hanya mereka berdua yang ada di kamar inap.
"Kalau kamu mau terima kasih lakukan hal lain jangan hanya melalui ucapan," ucap Devan tepat di telinga Keyna bahkan Keyna dapat merasakan bibir Devan yang menyentuhnya telinganya.
Keyna semakin memejamkan matanya dan tidak merespon ucapan Devan, pikiran Keyna saat ini mulai traveling kemana-mana bahkan Devan semakin erat memeluk Keyna seakan Keyna akan kabur dari sana.
"Kalau kamu malu itu wajar, kamu kan tidak pernah dekat dengan pria," ucapan Devan membuat Keyna membuka matanya dan membalikkan badannya menghadap Devan.
"Maksud kamu apa? aku pernah ya dekat sama pria," tanya Keyna dengan kesal karena ia tidak terima dengan pa yang dikatakan Devan.
"Kalau kamu pernah dekat dengan pria bagaimana bisa kamu belum menikah untung saja aku pria yang baik makanya aku mau menikah denganmu," ucap Devan.
"Hei, aku itu beberapa kali kencan buta kalau kamu lupa, itu artinya aku pernah dekat dengan beberapa pria jadi jangan merendahkanku dengan mengatakan aku tidak pernah dekat dengan pria," ucap Keyna.
"Tapi, kamu tidak pernah serius dengan mereka, ah aku ingat terakhir kali kamu bahkan bilang supaya membatalkan kencan buta dan mengatakan jika aku memiliki wanita lain dan kamu juga bilang kalau kamu sedang hamil," ucap Devan dengan mengingat bagaimana pertemu mereka untuk pertama kalinya.
"Ya-ya kalau itu kan kesalahan, aku tuh capek harus kencan buta sama pilihan Mama, tapi bukan berarti aku gak punya pria yang bsia diajak kencan ya," ucap Keyna.
"Tapi, tetap saja kamu terus gagal dengan kencan butamu meskipun itu pilihanmu sendiri," ucap Devan.
Keyna tidak bisa berkata apa-apa karena apa yang dikatakan Devan memanglah benar adanya meskipun pria kencan buta Keyna sendiri yang pilih tetap saja ujung-ujungnya gagal, "Terus kenapa kamu juga belum menikah padahal usiamu sudah cukup untuk menikah dan malah mengajakku menikah dadakan? itu artinya kamu juga tidak dekat dengan wanita manapun, bukan?" tanya Keyna.
"Hem, aku Devan Radya Erland, Presdir Marva Grup, apa ada wanita yang berani menolak pesonaku?" tanya Devan.
Setelah mendengar jawaban Devan hilang sudah kata-kata ejekan yang disiapkan oleh Keyna.
"Ud-udah aku mau tidur," ucap Keyna.
Baru saja akan membalikkan tubuhnya, tapi dengan cepat Devan memeluk Keyna dan kepalanya saat ini berada di dada Keyna sontak Keyna pun terkejut, tapi Keyna tidak berani untuk memberontak.
"Tuh kan bentar lagi kita bakal punya cucu, Pa,"
.
.
__ADS_1
.
Tbc.