
Malam harinya, Keyna masuk kedalam kamarnya dan tidak melihat Devan, ia harus meminta bantuan Devan untuk perusahannya, cukup lama Keyna menunggu Devan akhirnya Devan pun datang, "Ada apa?" tanya Devan.
"Tolong perusahaan tempatku bekerja, Dev, hanya kamu yang bisa menyelamatkannya hiks hiks," ucap Keyna.
"Apa keuntungan yang aku dapatkan?" tanya Devan.
"Aku tidak tau, tapi aku berharap kamu mau membantu First entertainment," ucap Keyna.
"Kenapa kamu masih membantu perusahaan itu?" tanya Devan.
"Karena kalau perusahaan itu bangkrut, maka aku tidak memiliki pekerjaan lagi," ucap Keyna.
"Kamu itu istriku jadi otomatis aku yang akan membiayai semua keperluanmu dan kamu tidak harus bekerja," ucap Devan.
"Tapi, jika nanti kamu menceraikan ku setelah kamu menemukan perempuan yang kamu cintai bagaimana? aku tidak mungkin mengandalkan uangmu, aku harus bekerja jadi setidaknya setelah kita bercerai nanti aku sudah memiliki pekerjaan dan tidak akan mengganggumu lagi," tanya Keyna.
Rahang Devan pun mengeras saat mendengar kata perceraian yang keluar dari mulut sang istri, dengan cepat Devan mengecup bibir Keyna hingga ciuman tersebut menjadi l*matan.
Setelah beberapa saat, Devan pun melepaskan pagutan tersebut karena Keyna yang memukul dadanya, maka dari itu Devan yang paham pun langsung melepaskannya.
"Sekali kamu bicara seperti itu, maka jangan salahkan aku jika melewati batasku," ucap Devan lalu keluar dari kamar meninggalkan Keyna.
Devan saat ini sangat kesal, ia ingin sekali melampiaskan kekesalannya dan akhirnya Devan pun menuju markas.
"Bawa tahanan nomor 4 kesini aku sangat ingin membunuh," ucap Devan.
Tanpa ba-bi-bu Devan langsung mengambil samurai yang ada dibawah Mike lalu memenggal tahanan tersebut bahkan ia tidak puas hanya dengan membunuh satu orang.
"Mike, bawa tahanan lain terserah siapa saja asal jangan tahanan nomor 1 dan 54," ucap Devan.
"Baik, Tuan," ucap Mike.
Mike pun membawa tahanan entah nomor berapa asalkan ia tidak membawa tahanan yang disebutkan Tuannya.
Setelah Devan puas membunuh 4 orang, ia pun langsung menuju restoran milik Rangga karena ia ingin meredakan emosinya dengan minum.
"Kenapa bro?" tanya Rangga yang melihat Devan berada di bar miliknya.
Bukannya menjawab pertanyaan Rangga, Devan hanya melirik ke arah Rangga dan melanjutkan aktivitasnya yaitu minum.
"Dev, jangan banyak-banyak nanti lo mabuk lagi," ucap Rangga.
"Lo lupa siapa gue, gue gak bakal mabuk kalau minum cuma segini," ucap Devan.
"Ya, kan siapa tau," ucap Rangga.
"Dev, gue mau curhat nih," ucap Rangga.
"Hem," jawab Devan.
__ADS_1
Untunglah Rangga sudah tau bagaimana Devan sehingga ia tidak tersulut emosi mendengar jawaban Devan tadi.
"Gu-gue baru aja nidurin cewek," ucap Rangga dengan cepat agar Devan tidak mendengarnya.
"Oh," jawab Devan dengan santai yang masih meminum minumannya.
"Cuma kayak gitu jawaban lo, Dev. Lo gak kaget apa atau gak lo kan bisa tanya siapa ceweknya," ucap Rangga yang tidak percaya dengan jawaban Devan.
"Gak penting," ucap Devan.
"Astaga, Dev, jahat banget lo. Gue aja udah takut sendiri lah lo malah santai kayak gini," ucap Rangga, tapi tidak di jawab oleh Devan.
"Dev, bantuin gue dong buat nyari tuh cewek," ucap Rangga.
"Dimana Lo nidurin tuh cewek?" tanya Devan.
"Di negara X," ucap Rangga.
"Oh, ****! lo nidurin cewek di negara X berarti lo ngelakuin itu sama tuh cewek pas kita di negara X waktu itu?" tanya Devan dan diangguki Rangga.
"Ceritain kok bisa lo nidurin tuh cewek, lo itu emang playboy, tapi gue yakin dia cewek pertama kan," ucap Devan dan lagi-lagi diangguki Rangga.
"Jadi gini, Dev kan waktu itu lo udah pergi nah gue mutusin buat ke bar yang ada di negara X, ya gue penasaran aja sih kayak gimana bar nya sekalian buat inspirasi di bar gue gitu, terus ada cewek yang ngasih gue minum ya gue minum aja karena menurut gue dia mungkin gak ngasih apa-apa kan ya di dalam minumannya soalnya habis ngasih itu dia pergi ninggalin gue. Tapi, beberapa saat setelah gue minum badan gue panas banget, gue butuh partner dan disaat itu gue paham kalau gue dijebak sama tuh cewek pake obat perangsang...," ucapan Rangga terhenti lantaran Devan yang menyela perkataannya.
"Jadi, cewek itu yang lo tidurin?" tanya Devan.
"Ck, jangan potong omongan gue dulu napa, jadi setelah gue sadar apa yang terjadi sama gue, gue pun mutusin buat nenangin diri di hotel yang ada didekat bar, gue rencananya mau mandi air dingin aja biar hilang rasa itu, tapi pas gue mau jalan menuju kamar gue, gue ngeliat cewek, ya refleks dong gue narik dia dan bawa dia ke kamar terus gue nidurin dia, gue gak salah kan?" tanya Rangga setelah cerita panjangnya.
"Berarti gue gak harus dihukum kan?" tanya Rangga.
"Gak, lo itu pantasnya di gantung di jembatan aja terus sekalian lo jatuh ke sungainya biar tenggelam terus lo hilang deh," ucap Devan.
"Lah kok gitu?" tanya Rangga.
"Sekarang gue tanya ke lo, tuh cewek perawan apa gak?" tanya Devan.
"Di-dia perawan, Dev," ucap Rangga.
"Lo inget tuh cewek?" tanya Devan.
"Gak, masalahnya gue waktu itu kan terpengaruh sama obat jadi gue lupa wajah tuh cewek," ucap Rangga.
"Kalau gitu gue gak bisa bantu lo," ucap Devan.
"Tolong lah Dev, sama temen sendiri juga masa lo gitu sih, bantuin gue dong. Gue takut kalau tuh cewek hamil gimana," ucap Rangga.
"Ya, itu urusan lo bukan urusan gue," ucap Devan.
"Dev, lo kan punya anak buah yang cerdasnya minta ampun tuh, nah lo suruh mereka buat nyari dong, lewat cctv di hotel atau apa gitu," ucap Rangga.
__ADS_1
"Apa yang mau lo beri ke gue kalau gue bantuin lo nyari tuh cewek?" tanya Devan.
"Lo maunya apa?" tanya Rangga.
Devan pun menampilkan smirk nya dan membuat Rangga takut sekaligus gugup bahkan ia sulit untuk menelan ludahnya sendiri karena Devan.
"Gue mau nyawa lo," ucap Devan dan membuat Rangga langsung melotot mendengar jawaban Devan.
"Dev, lo bercanda kan , lo gak mungkin mau nyawa gue kan?" tanya Rangga.
"Emang gue kelihatan bercanda sama omongan gue?" tanya Devan dan Rangga pun menggelengkan kepalanya.
"Dev, jangan dong Dev, gue masih mau hidup, Dev lo gak kasihan apa sama gue, nanti kalau seandainya cewek itu hamil terus anak gue gak punya bapak dong, lagian nih ya Dev, daging gue pahit gak ada gizinya nanti kalau daging gue lo kasih ke Leon kasihan sama Leon nya nanti dia malah keracunan lagi waktu ngerasain daging gue," ucap Rangga.
"Siapa yang bilang daging lo bakal gue kasih ke Leon?" tanya Devan.
"Terus?" tanya Rangga.
"Gue bawa daging lo ke penjual daging, gue bakal bilang kalau itu daging sapi segar, lo tau kan gue bisa memanipulasi apapun bahkan sekedar daging lo," ucap Devan.
Rangga dibuat semakin merinding mendengar ucapan Devan, ia tahu jika Devan tidak pernah main-main dengan ucapannya.
"Dev, kasih tawaran yang lain dong, gue masih banyak dosa, gue gak mau masuk neraka apalagi gue juga belum ketemu sama cewek yang udah gue tidurin," ucap Rangga.
"Huh, gue pikir-pikir dulu, gue sekarang lagi gak pengen diganggu jadi gue saranin lo pergi dari sini sebelum nyawa lo bener-bener jadi taruhannya," ucap Devan.
"Oke, kalau lo udah selesai mikirnya jangan lupa kabarin gue," ucap Rangga lalu pergi.
.
Disisi lain, Keyna sedari tadi menunggu Devan yang tak kunjung pulang, "Van, kamu kenapa sih?" tanya Keyna pada dirinya sendiri.
Devan pun pulang dan langsung disambut dengan tatapan khawatir Keyna, namun Devan menghiraukannya, Devan masih sedikit kesal dengan ucapan Keyna tadi yang membicarakan mengenai perceraian.
"Van, maafin aku, jangan diemin aku kayak gini dong," ucap Keyna, tapi Devan tidak mempedulikannya dan meninggalkan Keyna di ruang tamu.
"Devan, maaf," ucap Keyna dan lagi-lagi diacuhkan oleh Devan.
Hingga suara pecahan kaca pun terdengar dan sontak membuat Keyna terkejut, dengan cepat Devan menarik Keyna kedalam pelukannya, Devan memeluk Keyna dengan erat karena saat ini tubuh Keyna bergetar ketakutan.
Devan memutuskan untuk membawa Keyna masuk ke kamar, ia tidak ingin mengambil resiko yang nantinya akan membahayakan bagi Keyna, tapi sebelum mereka sampai di tangga, pecahan kaca kembali terdengar, namun kali ini diikuti pintu mansion yang terbuka dan menampilkan seorang pria dan beberapa anak buah dari pria itu.
"Wow, mesra sekali," ucap seorang pria yang baru saja masuk kedalam mansion tersebut.
Devan menatap remeh pria yang ada di depan pintu rumahnya itu, pria yang sangat menyedihkan bagi Devan.
.
.
__ADS_1
.
Tbc.