Mafia Itu Suamiku

Mafia Itu Suamiku
Bagaimana Ini?


__ADS_3

"Kalian masih lama ya? Papa laper nih, cepetan dong!" teriak Papa Alex dari luar kamar.


Teriakan Papa Alex pun menyadarkan Keyna, ia langsung melepaskan diri dari Devan, "Ehm, kayaknya Papa sama Mama udah nungguin kita deh, ka-kamu mandi dulu biar aku siapin air sama pakaiannya," ucap Keyna lalu beranjak pergi dari Devan dan menyiapkan keperluan Devan.


Setelah itu, ia menuju meja makan karena Papa Alex dan Mama Vanka yang sedang menunggunya.


"Maaf ya, Pa, Ma, lama nunggunya," ucap Keyna yang merasa tidak enak tentunya.


"Gapapa kok sayang, Mama rela kok nunggu kalian berdua, Mama sama Papa disuruh nunggu sampai nanti malam juga siap," ucap Mama Vanka.


"Lah, kelaparan dong, Ma. Kalau Papa sih gak mau soalnya udah laper banget ini," ucap Papa Alex dan mendapat tatapan tajam dari Mama Vanka.


Selang beberapa saat kemudian Devan pun datang dengan pakaian yang sudah rapi, "Kamu lama banget sih, Van, Papa udah laper tau," omel Papa Alex.


Devan tidak membalas ucapan Papa Alex dan Devan hanya mengangkat bahunya.


"Kayak anak perawan aja lama kalau siap-siap," lanjut Papa Alex.


"Kayaknya bukan Devan deh yang kayak anak perawan, tapi Papa daritadi Mama perhatiin ngomel muluh persis kalau Mama lagi datang bulan dulu, jangan-jangan Papa datang bulan ya," ucap Mama Vanka.


"Enak aja, Papa ini cowok Ma, gak ada sejarahnya cowok datang bulan," ucap Papa Alex yang tidak terima atas tuduhan Mama Vanka.


"Ye, santai dong," ucap Mama Vanka.


Keyna yang mendengar pertengkaran Papa alexy dan Mama Vanka pun tersenyum, sedangkan Devan hanya menatap malas kedua orangtuanya tanpa ekspresi apapun.


"Papa sama Mama kayak Papa sama Mamaku kalau di rumah, maksudnya kayak Papa Erwin sama Mama Bella," ucap Keyna.


"Papa sama Mama kamu juga suka kayak gini, Key?" tanya Papa Alex dan diangguki Keyna.


"Iya, Pa, mereka juga suka ribut gak jelas gitu," ucap Keyna.


"Ngomong-ngomong, kamu jarang ke rumah Papa sama Mama kamu ya?" tanya Mama Vanka.


"Sering kok, Ma," ucap Keyna.


"Sendiri atau sama Devan?" tanya Papa Alex.


"Ehm...kadang sama Devan kadang juga sendiri," ucap Keyna.


"Kalau yang paling sering sendiri atau sama Devan?" tanya Mama Vanka.


Keyna bingung apa ia harus jawab yang sebenarnya jika biasanya jika pergi ke rumah Papa Erwin dan Mama Bella sendirian tanpa didampingi Devan.


"Gak kok, Ma. Keyna sering sama Devan," ucap Keyna.


"Kamu ga pantas untuk berbohong," ucap Papa Alex dan tentunya membuat Keyna gugup mendengarnya.


"Jujur sama Mama, Mama tau semuanya sayang. Kamu ke rumah Papa sama Mama kamu sendirian atau sama Devan?" tanya Mama Vanka.


"Ehm, sen-sendirian," ucap Keyna.


"Kamu ini ya, Van, masa istri kamu pulang ke rumah Papa sama Mamanya sendirian, harusnya itu kamu yang nemenin dia, apa kata mertua kamu kalau kamu aja jarang pulang sama istri kamu!" ucap Mama Vanka yang sedikit meninggi.


"Ma, Devan kan lagi banyak kerjaan, kalau Devan gak sibuk juga Devan pasti nemenin Keyna kok, lagian keluarganya Keyna bisa ngertiin kesibukan Devan kok," ucap Devan.


"Tetap saja Devan Radya Erland, kamu itu seorang menantu harusnya kamu sering-sering ke rumah Mertua kamu," ucap Mama Vanka.


"Iya, nanti Devan sering-sering ke rumah keluarganya Keyna," ucap Devan.


"Nah, gitu dong susah banget bujuk kamu," ucap Mama Vanka.


Setelah makan, Papa Alex dan Mama Vanka pun pulang, sedangkan Devan sudah berangkat bersamaan dengan Papa Alex dan Mama Vanka tadi.


Keyna hari ini hanya akan ada pemilihan baju untuk video kantornya sekitar jam 2, jadi ia memutuskan untuk berangkat agak siangan.


"Wah, capeknya padahal aku gak ngapa-ngapain loh di rumah, tapi kok capek banget sih," gumam Keyna hingga ia pun terlelap di sofa ruang tamu.

__ADS_1


Saat sedang asik dengan mimpinya tiba-tiba Keyna merasakan seseorang menepuk bahunya, Keyna pun terbangun dan melihat Ganish yang ada di hadapannya, "Nish, ada apa?" tanya Keyna yang masih belum sepenuhnya sadar.


"Nyonya, bukannya hari ini Nyonya harus ke kantor," ucap Ganish.


"Iya, tapi nanti jam 2 siang," ucap Keyna.


"Sekarang sudah hampir jam 2 siang Nyonya," ucap Ganish yang mampu membuat Keyna sepenuhnya sadar dan membuka matanya.


Keyna pun melihat ke arah jam yang ada di dinding dan benar saja kurang 10 menit lagi jam 2, "Mampus," gumam Keyna lalu berlari menuju kamarnya dan bersiap.


Selesai bersiap-siap, Keyna pun berangkat menuju kantor, dapat dipastikan ia akan kena omel para model lainnya karena telat.


Sesampainya di kantor, Keyna langsung berlari menuju tempat pemilihan baju dan baru saja Keyna masuk kedalam ruangan tersebut tatapan tidak suka sudah Keyna dapatkan dari beberapa model lainnya.


Disana bukan hanya model senior, tapi model junior yang baru saja mengikuti pelatihan pun hadir, banyak yang menatap Keyna kagum sekaligus benci karena keterlambatannya.


"Kenapa telat?" tanya Miss Kelly.


"Maaf, Miss saya ketiduran," ucap Keyna.


"Dasar gak berguna, saya sudah sering bilang ke kamu kalau mau kerja yang gak ngapa-ngapain mending kamu bikin perusahaan sendiri atau kamu cari suami yang kayak raya. Ya, walaupun itu gak mungkin sih, setidaknya jangan buat kerjaan orang lain jadi hancur," ucap Miss Kelly.


"Maaf, Miss saya memang salah," ucap Keyna.


"Itu tau, sekarang kamu pungutin baju-baju yang berserakan di tempat ini, lalu taruh ke kardus itu dan bawa ke gudang," ucap Miss Kelly.


"Tapi, Miss. Saya ke sini bukan untuk memungut baju kalaupun saya terlambat bukankah harusnya saya diberikan hukuman setelah pengambilan video nanti," ucap Keyna.


"Udah gak usah banyak protes sekarang kamu lakuin apa yang tadi saya bilang atau gak kamu gak bisa ikut pengambilan video," ucap Miss Kelly dan masuk ke dalam ruangan khusus model ternama.


Keyna ingin protes, tapi tatapan tidak suka orang-orang membuat Keyna mengurungkan niatnya.


'Sabar, Key,' ucap Keyna dalam hati.


Keyna pun memungut baju-baju yang berserakan di tempat itu, tempat tersebut cukup luas dan membuat Keyna kewalahan tentunya sudah hampir 1 jam, tapi semua baju belum terkumpul ditempatnya, "Lama banget sih, cepetan jangan lelet!" teriak Miss Kelly.


"Heh! berani ngelawan ya kamu. Sekarang kamu lanjutin kerjaan kamu itu," ucap Miss Kelly dan kembali masuk ke dalam ruangan khusus tersebut dengan perasaan kesal.


Keyna pun bergegas memungut baju-baju tersebut, setelah 15 menit akhirnya semua baju terkumpul.


"Sekarang taruh di gudang," perintah Miss Kelly.


"Tapi, Miss aku belum memilih baju," ucap Keyna.


"Nanti itu gampang, sekarang kamu taruh di gudang!" perintah Miss Kelly.


"Kalau gitu temenin," ucap Keyna.


"Males ya, saya masih banyak model yang harus saya urus. Kamu sendiri sana," ucap Miss Kelly.


Belum Keyna keluar dari ruangan tersebut seseorang menabraknya hingga Keyna terjatuh dan baju yang tadi ia ambil pun berserakan, "Ups! maaf," ucap Sisy.


"Sisy ada apa kok kamu kesini bukannya kamu ada pertemuan sama Presdir Devan, eh ada Presdir Devan," ucap Miss Kelly.


Keyna yang mendengarnya pun sontak menatap Devan dan benar saja memang ada Deva disana, tapi Devan tidak melihat ke arah Keyna sedikitpun, Keyna pun mengikuti arah mata Devan yang ternyata memperhatikan Sisy.


'Sakit,' itu yang Keyna rasakan, ia semakin yakin dengan dugaannya.


"Heh! ngapain kamu disini cepetan bawa baju itu ke gudang bukannya duduk disana," ucap Miss Kelly.


Keyna pun mengambil kembali bajunya dan membawanya keluar menuju gudang, "Nyonya," panggil seseorang.


Keyna pun mengedarkan pandangannya dan melihat Mike yang berjalan menghampiri Keyna.


"Ada apa, Mike?" tanya Keyna.


"Mari saya bantu," ucap Mike.

__ADS_1


"Tidak perlu, aku bisa sendiri kok, lagian aku gapapa bawa ini kalau kayak gini mah masih gampang," ucap Keyna padahal sejujurnya ia sedikit kesusahan dan juga jangan lupakan berat bajunya.


"Tidak Nyonya, ini sudah tugas saya, mari saya bantu, Nyonya silahkan arahkan saya tempatnya," ucap Mike dan diangguki Keyna.


Mike pun mengambil kotak tersebut, setelah membawa baju-baju tersebut ke gudang, Keyna pun kembali ke tempat pemilihan dan ternyata disana mulai sepi hanya beberapa model yang ada disana.


Keyna masuk kedalam ruangan tersebut, "Miss, bajunya sudah ditaruh di gudang, apa masih ada baju yang belum dipilih?" tanya Keyna.


Sungguh Keyna berharap masih ada baju yang belum dipilih karena nanti para model yang mendapatkan jatah video, maka video dan fotonya akan dipajang di sepanjang jalan raya dan juga beberapa perkantoran yang tentunya akan membantu para model semakin terkenal.


"Gak ada, semuanya udah dipilih mending kamu ikutan tahun depan aja," ucap Miss Kelly.


"Tapi, Miss bukannya saya dari tadi sudah datang terus Miss seenaknya nyuruh saya dan sekarang saya gak dapat pilihan baju buat pengambilan video," ucap Keyna.


"Telat, inget ya tadi kamu telat," ucap Miss Kelly.


"Kalau kamu mau dapat baju kamu harus kayak Sisy dulu," ucap Miss Kelly.


Keyna pun melihat ke arah Sisy yang sebelahnya sudah ada Devan.


"Maksud, Miss?" tanya Keyna.


"Huh, kamu cari orang yang mau beli baju disini maka kamu dapat memilih baju yang kamu inginkan," ucap Miss Kelly.


Keyna kembali melihat ke arah Sisy dan Devan, 'Jadi Devan yang membelikan baju untuk Sisy, sangat beruntung,' ucap Keyna dalam hati.


"Apa tidak ada cara lain Miss supaya saya dapat baju untuk pengambilan video?" tanya Keyna.


"Gak ada, udah sana pergi kalau kamu gak bisa beli bajunya atau gak kamu bisa investasi untuk First entertainment," ucap Miss Kelly.


Keyna tidak bisa memberikan keduanya, akhirnya dengan berat hati Keyna pun keluar dari ruangan tersebut, hal yang paling membuat Keyna sakit hati yaitu Devan, ia hanya diam saja saat Keyna dipermalukan di ruangan tadi apalagi di dalam ruangan tersebut masih ada beberapa model senior dan junior hal itu pasti membuat nama Keyna menjadi terkenal.


Keyna memutuskan pergi entah kemana bahkan ia belum mengabari Pak Nardy ataupun Gita, tapi baru saja Keyna sampai di halte, Gita sudah datang, "Nyonya," panggil Gita.


Keyna yang awalnya ingin kabur pun mengurungkan niatnya dan kembali ke mansion, "Kita pulang," ucap Keyna.


Beberapa saat kemudian, Keyna pun sampai di mansion dan segera masuk kedalam kamar hingga malam datang Keyna belum keluar dari kamar dan itu membuat para pelayan panik pasalnya Nyonya mereka tidak pernah berada di dalam kamar se-lama ini, kecuali jika bersama Devan.


"Bagaimana ini? apa terjadi sesuatu dnegan Nyonya?" tanya Ganish yang mulai panik.


"Apa kamu sudah masuk kedalam?" tanya Sarah.


"Belum, kamarnya dikunci dari dalam dan sepertinya kuncinya tidak dicabut," ucap Ganish.


"Bagaimana ini? bagaimana kalau Tuan Devan pulang? apa yang harus kita lakukan?" tanya Sarah.


"Bagaimana apanya? kenapa memang kalau aku pulang? apa tidak boleh aku pulang ke rumahku sendiri?" tanya Devan dengan menaikkan alis kanannya.


"Maaf, Tuan, bukan begitu," ucap Ganish.


"Terus maksud kalian apa?" tanya Devan.


"Nyonya, Tuan," ucap Ganish.


"Kenapa, Keyna?" tanya Devan yang mulai tertarik dengan pembicaraan mereka.


"Nyonya dari tadi siang belum keluar kamar, kamar Nyonya juga dikunci dari dalam dan Nyonya tidak mencabut kuncinya dan kita tidak tau letak kunci cadangannya Tuan," ucap Ganish.


Devan pun langsung berlari menuju kamarnya dan benar saja sudah ia gedor-gedor, tapi tidak ada jawaban dari dalam kamar, "Mike cepat ambil kunci cadangan!" perintah Devan.


Setelah Mike kembali dengan kunci cadangan, Devan pun segera membukanya dan mencari keberadaan istrinya itu dan Devan mulai memikirkan yang tidak-tidak tentang istrinya.


.


.


.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2