Mafia Itu Suamiku

Mafia Itu Suamiku
Hukuman Apa?


__ADS_3

"Apaan sih kalian ini, cari topik yang lain aja deh," ucap Keyna.


"Aku itu cuma penasaran aja Key karena jujur aja ya ini udah beberapa hari loh, tapi masih ngilu gitu," ucap Celine.


"Mau ke dokter gak buat periksa keadaan kamu?" tanya Kikan.


"Gak usah deh, lagian aku masih bisa gerak kok," Celine.


Mereka pun akhirnya mengobrol hingga tanpa terasa hari mulai gelap, "Astaga, aku lupa, aku kan harus nemenin Mama ke rumah temennya, kalau gitu aku pulang dulu deh,Lin," ucap Kikan.


"Aku juga deh kalau gitu, lagian udah malem juga kan," ucap Keyna.


"Yaudah, kalian pulang aja hari udah gelap soalnya," ucap Celine.


"Sehat-sehat ya, Lin. Inget loh ya ada kita berdua oke, jadi kamu jangan pernah ngerasa sendirian," ucap Kikan dan diacungi jempol oleh Celine.


Keyna pun pulang bersama dengan Kikan menggunakan taksi, "Key, kamu gak dimarahin sama Presdir Devan kan? soalnya ini udah malem banget loh takutnya nanti kalau kamu dimarahin gimana?" tanya Kikan.


Kikan baru saja ingat jika Keyna sudah tidak sendiri lagi, ia sudah menikah dan pastinya Keyna memiliki tanggungjawab sebagai seorang istri.


"Gak kok, kamu gak usah takut gitu" ucap Keyna dan diangguki Kikan.


Beberapa saat kemudian, mereka berdua pun sampai di mansion mewah milik Devan, "Makasih ya, Kan. Kamu mau masuk dulu gak," ucap Keyna dan menawarkan Kikan untuk masuk ke dalam rumah mewah tersebut.


"Gak deh, lain kali aja ya, Key. Takutnya Mamaku lagi nungguin aku ini," ucap Kikan dan diangguki Keyna.


Keyna baru masuk kedalam rumah setelah taksi yang ditumpangi Kikan sudah tidak terlihat, saat Keyna memasuki area rumah mewah tersebut ia melihat banyak penjaga di sudut mansion tersebut.


Saat pertama kali Keyna merasa risih, tapi Keyna mulai terbiasa dan tidak memikirkannya.


Reyna memasuki rumah mewah yang terlihat sepi tersebut, 'Apa Devan belum pulang ya?' tanya Keyna dalam hati.


Sejujurnya Keyna merasa bersyukur jika memang Devan belum pulang sebab tadi ia tidak meminta izin ke Devan untuk menjenguk Celine.


"Darimana saja?" tanya seseorang yang ada di ruang tamu.


Keyna pun sontak membalikkan badannya dan melihat ke arah orang tersebut yang menatapnya dengan tatapan mata yang tajam nan menakutkan.


"Ehm, ta-tadi aku habis jengukin, Celine. Dia sakit soalnya," ucap Keyna.


Entah apa yang terjadi dengan Keyna padahal tadi ia sangat berani jika seandainya Devan marah pada, tapi kenyataannya Keyna justru gugup, Keyna bahkan tidak berani menatap mata Devan.


"Kenapa tidak bilang aku atau orang rumah?" tanya Devan.


"Ta-ta-tadi mau bilang, tapi...lupa ah iya lupa," ucap Keyna.


"Terus kenapa tadi berangkat tidak diantar dengan Pak Nardy dan juga Gita?" tanya Devan.


Keyna ingin sekali berlari dan berteriak ditengah jalan karena saat ini tubuhnya panas dingin, Keyna bingung harus beralasan apa lagi.


"Ehm i-itu karena aku pengen ngerasain naik kendaraan umum, iya, kendaraan umum kan aku gak pernah naik kendaraan umum selama disini," ucap Keyna.


"Kenapa tidak menungguku?" tanya Devan.


"Aku tadi takut telat," ucap Keyna.


Keyna merasa waspada saat Devan semakin mendekat ke arahnya dan tanpa aba-aba Devan justru mengigit leher Keyna, "Awh," rintih Keyna.

__ADS_1


"Sakit," rintih Keyna lagi.


Devan hanya menatap tajam Keyna tanpa berbicara apapun, "Makanya lain kali bilang dan juga jangan menghindari ku, jadi sekarang lakukan hukumanmu," ucap Devan.


"Hukuman?" tanya Keyna.


"Hem," jawab Devan.


"Hukuman apa?" tanya Mama Vanka yang baru saja masuk kedalam mansion.


"Mama," panggil Keyna yang terkejut melihat Mama Vanka disana bersama Papa Alex.


"Kamu belum jawab, Dev. Hukuman apa?" tanya Mama Vanka.


"Tadi Keyna pergi gak bilang Devan atau orang rumah, Ma. Makanya Devan mau hukum Keyna," ucap Devan.


"Memang apa hukumannya?" tanya Papa Alex.


"Bersihin halaman," ucap Devan.


"Gak, Mama gak setuju. Enak aja menantu Mama kamu suruh bersihin halaman, halaman rumah kamu itu luas, kalau kamu mau halaman kamu bersih yaudah suruh orang atau gak kamu sendiri aja, enak aja nyuruh menantu kesayangan Mama buat bersihin halaman rumah," omel Mama Vanka dengan memeluk Keyna.


"Ma, tapi Keyna itu pergi gak bilang ke Devan jadi wajar dong Devan sebagai suami untuk hukum Keyna," ucap Devan.


"Pokoknya gak, udah hari ini kamu gak boleh tidur bareng Keyna, biar Keyna tidur sama Mama aja," ucap Mama Vanka.


"Loh, Ma, kalau Mama tidur sama Keyna terus Papa gimana?" tanya Papa Alex.


"Ya Papa bisa tidur sendiri atau gak Papa temenin anak lakinya itu biar dia sadar enak aja mau hukum menantu Mama, Mama gak akan terima ya kalau sampai Keyna di hukum, untung aja tadi ada Mama kalau gak pasti Keyna sekarang udah dihukum sama anak Papa itu," omel Mama Vanka.


"Kamu rayu Mama kamu, bilang kalau kamu gak bakal hukum istri kamu," bisik Papa Alex.


"Astaga, Ma. Perkara Devan hukum Keyna aja sampai panjang kayak gini, yaudah deh, Devan gak bakal hukum Keyna," ucap Devan pasrah.


"Biarin, yuk sayang kita ke dapur kita bikin makanan yang enak dan dua laki-laki ini gak perlu diurus biar mereka urus diri mereka sendiri," ucap Mama Vanka lalu menarik lembut lengan Keyna.


"Kamu sih, kenapa pake mau ngasih hukuman ke istri kamu sih? kan jadi kayak gini kamu tau kan gimana sayangnya Mama kamu sama istri kamu itu, Papa aja kalah loh, Van," protes Papa Alex.


"Kok jadi Devan sih yang disalahin, ya salah Papa kenapa gak bilang kalau Papa mau ke rumah kan tau gitu tadi Devan pasti gak bakal mau hukum Lea," protes Devan.


"Kamu nyalahin, Papa?" tanya Papa Alex.


"Iya," jawab Devan dengan santai.


"Kamulah yang salah kok malah nyalahin Papa, awas aja ya kalau sampai nanti Mama kamu gak mau tidur sama Papa," ucap Papa Alex.


"Mantan ketua mafia kok sukanya manja sama istri sih," ejek Devan.


"Kamu udah nikah pasti kamu tau dong gimana rasanya, apa jangan-jangan kamu gak pernah pelukan sama istri kamu?" selidik Papa Alex.


"Kata siapa ya udahlah, sering malahan," ucap Devan yang tidak terima dengan perkataan Papa Alex.


"Yaudah, makanya kamu harus bujuk Mama kamu, Papa itu gak bisa kalau gak tidur sama Mama kamu soalnya Mama kamu itu bikin candu Papa," ucap Papa Alex.


"Ck, lebay," ucap Devan.


"Biarin," ucap Papa Alex.

__ADS_1


Papa Alex dan Devan pun menuju meja makan yang tentunya disana sudah ada Keyna dan Mama Vanka, "Sayang kamu belum isi juga ya?" tanya Mama Vanka.


Sebenarnya Mama Vanka tau jika Keyna dan Devan belum melakukan yang seharusnya dilakukan sepasang suami istri, tapi Mama Vanka hanya ingin memancing Devan yang tidak peka dengan keinginan Mama Vanka.


"Belum, Ma, doain aja ya," ucap Keyna yang merasa bersalah karena telah membohongi Mama Vanka, padahal selama ini Mama Vanka baik dan sangat menyayangi Keyna.


"Yaudah, gapapa kok, gak usah buru-buru, mungkin nanti setelah Acha melahirkan kalian bakal dikasih kesempatan ya," ucap Mama Vanka dan diangguki Keyna.


Selesai menyantap makan malamnya mereka semua berada di ruang tamu, kecuali Papa Alex dan Devan yang saat ini berada di ruang kerja Devan, "Gimana Van? kamu mau lanjutin All grup?" tanya Papa Alex.


"Pa, Devan kan udah pernah bilang setelah semuanya selesai Devan bakal ambil alih All grup, tapi untuk saat ini masih belum, Pa," ucap Devan.


"Sampai kapan, Van?" tanya Papa Alex.


"Papa memang bangga karena kamu bisa sukses dengan kerja kerasmu sendiri bahkan perusahaanmu berhasil menyainginya All grup, tapi Papa juga ingin All grup memiliki pewaris yang sesungguhnya yaitu kamu, atau kalau kamu memang tidak ingin mengambil alih All grup Papa tidak masalah asalkan kasih Papa cucu laki-laki, maka Papa tidak akan menagih agar kamu mau lanjutin All grup terus menerus," ucap Papa Alex.


Devan paham jika selama ini Papa Alex selalu mendesaknya untuk mengambil alih All grup, tapi Devan terlalu nyaman dengan perusahaannya.


"Hem, oke, Devan setuju untuk mengambil alih All grup," ucap Devan.


Ucap Devan mampu membuat Papa Alex tersenyum sumringah, Papa Alex tau jika akan sulit bagi Devan untuk mengabulkan permintaannya soal cucu laki-laki.


"Kapan kamu akan ambil alih?" tanya Papa Alex.


"Bagaimana jika 2 bulan lagi, Devan perlu menyiapkan segalanya," ucap Devan.


"Itu terlalu lama, Van, bagaimana kalau dua Minggu lagi?" tawar Papa Alex.


"Pa, Devan gak mau gegabah, All grup bukan perusahaan yang mudah untuk ditangani jadi dua bulan atau lebih bagaimana?" tanya Devan.


"Oke, Papa setuju, dua bulan, Papa kasih waktu kamu dua bulan untuk mempersiapkan semuanya, tapi jika dalam waktu dua bulan kamu masih belum siap maka jangan salahkan Papa jika Papa akan terus mendesak mu mengenai cucu laki-laki," ucap Papa Alex.


"Iya, Devan paham," ucap Devan.


"Terus, bagaimana dengan Sammy? Papa dengar kamu dan Rangga bertemu Sammy?" tanya Papa Alex.


"Ya, tidak terjadi apa-apa," ucap Devan.


Devan sengaja tidak memberitahu Papa alex mengenai rencana konyol dari Rangga, biarlah itu menjadi rahasianya.


"Apa Rangga tidak berkata apapun? dia pasti kaget karena bertemu dnegan sahabat lamanya, apalagi kondisi Sammy yang tidak terlihat baik-baik saja?" tanya Papa Alex.


"Ya, awalnya dia kaget, tapi ya gitu cuma kaget aja," ucap Devan.


"Huh, cepat selesaikan masalahmu, Van. Papa ingin kamu hidup seperti orang normal dengan Keyna dan anak-anakmu nanti, Papa percaya Keyna bisa membuatmu bahagia seperti Mamamu yang membuat Papamu ini berubah," ucap Papa Alex.


"Van, kamu harus bisa berdamai dengan masa lalu kamu, lihat masa depan kamu. Sekarang kamu sudah punya istri, Papa lihat Keyna sayang sama kamu, banyak juga yang sayang sama Keyna," ucap Papa Alex.


"Devan usahain Pa, tapi Devan gak janji," ucap Devan.


.


.


.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2