
Dean memutar otak bagaimana bisa membujuk Sinta agar mau melayaninya.
Apa yang harus kulakukan agar dia mau melayaniku?
Kupikir ada sesuatu yang terjadi padanya. Semacam syaraf terjepit atau semisalnya yang menyebabkannya seperti sekarang ini. Aku kena apesnya!
Dean memutar otaknya. Dia tidak ingin mencari masalah dengan ayahnya. Dia jelas akan kehilangan warisannya kalau sampai ayahnya memiliki alasan untuk membatalkannya.
Dia sangat membutuhkan warisan tersebut untuk menopang hidupnya juga mencapai semua ambisinya.
Status pernikahannya akan membawanya ke dalam masalah kalau dia mempermainkan wanita lain.
Menikahi mereka tidak mungkin. Dia tidak yakin Sinta mau dimadu walaupun dia memiliki alasan untuk itu.
Ada reputasi keluarga yang harus dijaga. Disamping statusnya sebagai suami yang tentu akan mendapatkan sorotan.
Menyewa wanita? Bukan masalah uang tapi kalau ada yang tahu dan meliput berita tentang itu. Habis reputasi keluarga dan dirinya.
Apa yang harus kulakukan? Hmm, bagaimana kalau aku pura-pura jatuh cinta kepadanya? Merayunya ? Tidak ada salahnya aku mencobanya….
Sebelum pulang Dean mampir membeli sebuket mawar putih yang indah. Membeli sekotak coklat dengan kemasan yang mewah dan elegan. Dia juga mampir ke toko musik membeli sebuah cd berisi lagu cinta romantis.
Bunga, coklat dan lagu romantis merupakan andalan untuk meluluhkan hati wanita.
Dean memarkir mobilnya di garasi. Berpas-pasan dengan kedua orang tuanya.
"Kau mau kemana?"
"Gak kemana-mana."
"Bunga dan coklat itu untuk apa?"
"Masak aku tidak boleh membawa bunga dan coklat untuk isteriku sendiri?"
"Tumben. Bawa bunga dan coklat!"
"Kau suka gak?"
"Sukalah! Bunganya bagus sekali."
"Syukurlah kalau kau suka."
"Bagaimana dengan coklatnya?"
"Aku belum cicipi."
"Cicipi dong! Aku pilih yang paling enak. Kau pasti menyukainya. Rasa susu dan coklatnya rich sekali. Manisnya pun pas."
Sinta membuka kotak coklat yang terlihat mewah dan indah. Mengambilnya satu dan mencicipinya."
"Bagaimana?"
"Sangat lezat sekali. Lumer di mulut."
"Enak kan?"
"Enak banget. Terima kasih ya!"
"Boleh dong, aku malam ini tidur memelukmu?"
"Kau memberiku coklat, ada udang dibalik batu?"
"Ya gak begitu juga sih!" Dean menjawab dengan hati dongkol.
"Ambil saja coklat dan bungamu kembali!"
"Kamu jangan ngambek gitu dong! Aku ikhlas kok memberimu bunga dan coklat. Hanya saja, kita kan suami isteri masak tidurnya jauh-jauhan?"
"Siapa yang bilang jauh-jauhan?"
"Oh, kita tidak akan tidur jauh-jauhan lagi? Maafkan , aku yang sangat bodoh dan mengira kita akan selalu tidur berjauhan!" Dean menampar pipinya sendiri.
"Kita kan memang tidak tidur berjauhan. Kita sekamar."
"Ah ya! Benar juga."
"Kita juga tidur berdekatan."
"Benarkah?"
"Aku disini."Sinta menunjuk sisi tempat tidur sebelah kiri dan kau disini." Sinta menunjuk lantai kamar tepat di sebelah sisi tempat tidurnya. Masih kurang dekat?"
Dean menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Dekat sekali. Siapa yang bilang kurang dekat? Tidak ada. Ya kan?"
__ADS_1
Dean berusaha menahan amarahnya. Hatinya sangat dongkol. Berusaha memasang senyum terbaiknya di saatnya hatinya ingin meledak marah.
Dia hanya bisa menelan ludah melihat tubuh sintal Sinta berbalut daster berbahan satin yang tampak jatuh dan mengikuti lekuk tubuhnya yang sangat indah.
"Kau sudah mau tidur?"
"Aku ingin membersihkan tubuhku dulu. Kau mau ikut?" Dean berkata dengan menyunggingkan senyum mautnya.
Sinta melototkan matanya,"Kalau kau berani macam-macam…."
Menyilangkan kedua tangannya dan keduanya kakinya direnggangkan. Yang kiri di depan sedangkan kaki kanannya di belakang.
"Begitu saja marah!"
"Aku tidak marah! Hanya memberikanmu pelajaran kalau tidak bisa bersikap sopan."
"Udah ah! Aku mau mandi dulu! Kalau mau ikut ayo! Gak usah pake marah, bisa kan? Atau kau mau kumandikan? Aku terima kok jasa grooming khusus buat kamu." Dean menjawab dengan wajah jahil.
"Memangnya aku kucing digrooming?"
"Mau gak?"
Dengan gesit, Sinta menendang perut Dean. Dean terhuyung.
"Jangan kurang ajar!"
"Cekung six packku kalau terus saja kau tendangi. Bisa jadi six pack bolong."
"Siapa suruh kurang ajar?"
"Kau makan apa sih? Galak begini? Mercon ya?" Wajah Dean terlihat jutek.
"Mercon, kembang api, petasan banting!"
"Pantesan!"
"Say it with flowers!" Dean berusaha untuk mengirimkan sinyal.
Berpura-pura menyukai dan mencintai Sinta untuk mendapatkan pemenuhan biologisnya sungguh sangat menyiksa.
Sinta sungguh besar kepala semenjak dijadikan isteri olehnya. Dulu tidak banyak cincong dan dia selalu bisa dipuaskan berkali-kali olehnya tetapi setelah dinikahi malah menjadi besar kepala seperti ini.
Dean mendengus kesal. Gairahnya sudah berkumpul di dalam dirinya dan siap meledak tetapi Sinta terang-terangan menolak bahkan melawannya.
Bahkan rayuan mautnya tak mampu meluluhkan hatinya. Tetap tak bergeming dan semakin waspada.
"Kau tau tentang marital rape?"
"Mana ada pemerkosaan dalam pernikahan?" Dean menjawab dongkol.
"Marital rape itu mengandung unsur kekerasan seksual."
"Kalau gak keras mana enak!"
"Kau?" Wajah Sinta merah padam dan Dean tergelak melihatnya.
"Jadi kau tidak usah khawatir mengenai unsur kekerasan tadi itu. Artinya normal dan tidak impoten. Kau harus bahagia dan bersyukur."
Sinta melempar bantal ke arah Dean.
"Dasar mesum!"
"Aku pijat ya?" Dean mencoba taktik lain.
"Apa akal bulusmu kali ini?"
"Kau tidak kasihan melihatku?"
"Buat apa aku kasihan melihatmu? Kau sangat mengerikan!"
"Kau benar-benar tidak memiliki perasaan dan empati."
"Tidak usah banyak bicara!" Sinta melempar bantal, selimut dan kasur lipat."
"Aku seperti pungguk merindukan bulan."
"Dilarang gombal!" Sinta cuek bermain gadgetnya, "Dilarang merayu!"
"Bagaimana meluluhkan hatimu?"
"Dengan bersikap baik."
"Bersikap baik bagaimana?"
"Kepala pundak lutut kaki, lutut kaki. Kepala pundak lutut kaki, lutut kaki! Cuci tangan kaki tangan yang bersih. Sikat gigi dan bobok!"
__ADS_1
"Gak lucu!" Jawab Dean jutek.
"Ketawa dong kalau lucu! Kalau perlu ketawa guling-guling." Jawab Sinta cuek.
"Kau bunga di pasir tandus…" Dean mencoba untuk berpuisi.
"Kaktus dong!" Sinta tergelak.
"Kok kaktus?"
"Bunga di pasir tandus apa?"
"Kaktus!"
"Nah bener kan?" Sinta kembali tertawa, "Pujangga gagal!"
"Enak aja gagal! Kamu kan emang seperti kaktus! Gersang, kering dan penuh duri!"
"Kenapa jadi kayak bandeng?" Sinta kembali tertawa.
"Bandeng?"
"Penuh duri!"
"Tau ah!" Dean menjawab jutek.
"Aku mungkin bukan pujangga yang pandai merangkai kata…."
Sinta menyanyi menyindir Dean.
"Suara cempreng dilarang nyanyi! Polusi kuping! Pecah gendang telinga."
"Bodo amat!"
"Dikasih tau ngeyel!"
"Hmm, aku jadi kasian…."
"Apa maksudmu jadi kasihan?"
Dean memandang Sinta dengan wajah penuh harap.
"Kasihan emang gak boleh?"
"Boleh banget. Malah wajib kasihan, kamu gak jadi raja tega dan punya empati."
"Aku kan orangnya emang gak tegaan."
"Baguslah! Jadi gimana?"
"Gimana apanya?"
"Kamu katanya kasihan sama aku? Jadinya gimana?"
"Gimana apa sih?"
"Ih gak nyambung nih anak. Pentium satu!"
"Oh ya! Aku ngerti!"
"Baguslah, oneenggg…Dari tadi napa!"
"Sini wajahmu dekatkan padaku!"
"Gitu dong! Belum apa-apa udah disosor!" Dean memajukan wajah dan bibirnya sambil menutup mata.
Sinta mengelus kepala dan pipi Dean.
"Lama amat!"
"Apanya yang lama?"
"Pegel kepalaku!"
"Apa sih?"
"Kita mau ciuman kan?"
"Kata siapa?"
"Kenapa aku mesti majuin mukaku?"
"Kamu katanya minta dikasihanin. Ya udah aku elus-elus kepala dan pipi kamu."
Wajah Dean merah padam. Dengan perasaan dongkol dia berteriak lantang, "Sinta!!!"
__ADS_1
Nada suaranya mendadak naik tiga oktaf sekaligus.