Mawar Berhati Baja

Mawar Berhati Baja
Blue Days


__ADS_3

“Aku sangat membencinya.” Curhat Callista pada Haliza.


Semenjak kepulangannya berlibur dan bertemu dengan ibu kandungnya. Callista memilih menginap di rumah Syarifah.


Dylan kehabisan akal membujuk putri sulungnya. Mengijinkannya menginap di rumah Syarifah. Untuk menenangkan emosi dan perasaannya yang meluap-luap.


“Dia ibu kandungmu, sayang. Yang melahirkan serta membesarkanmu. Menyusui dan merawatmu.”


“Tetapi dia berbohong. Mengatakan bahwa dia merawat nenek yang sakit. Menikah dengan orang lain. Memiliki seorang anak. Hidup mewah. Mengejar ambisinya menjadi pejabat dengan meninggalkan kami semua.”


“Sayang, semua pasti ada penjelasannya. Anak harus berbakti pada orang tua bagaimana pun keadaannya.” Sahut Haliza. Membelai rambut Callista. Membiarkan Callista menangis di dalam pelukannya.


“Papa melarangku mengatakan apa pun pada adik-adikku. Mereka semua tertipu dengan mama.”


“Adik-adikmu masih kecil. Papamu pasti memiliki alasannya sendiri. Tidak ingin mereka menjadi sepertimu. Jangan menebar kebencian.”


“Dia sangat munafik. Aku sangat membencinya.”


“Sayang, seorang ibu tidak mungkin membenci anaknya. Apa pun yang terjadi. Jika kau tidak bisa mengerti kondisi ibumu. Setidaknya, jangan membencinya. Dia sudah melahirkanmu. Merawatmu. Kalian semua mencintainya. Jika kau ingin meminta penjelasan. Kau harus menyiapkan dirimu. Sehingga kau bisa memahaminya. Tidak menambah kebencian dengan berlarut-larut.”


“Aku tidak bisa menerima nasihatmu. Aku sangat sakit hati dan kecewa.”


“Aku tahu. Memaafkan, mengerti dan menerima keadaan ibumu. Membuatmu lebih mudah berdamai dengan dirimu sendiri.”

__ADS_1


“Ibuku sudah menikah lagi. Tidak mungkin bisa kembali kepada ayahku dan kami semua. Ayah Syarifah juga sudah menikah kembali. Kau tidak mau dimadu oleh ayah Syarifah. Kau dan ayahku senasib. Mengapa kalian tidak menikah? Kita bisa menjadi keluarga. Aku sangat menyayangimu, Syarifah dan Syarif. Kalian semua sudah seperti keluarga bagiku.”


“Sayang, kita tidak bisa memaksakan cinta. Ayahmu sangat mencintai ibumu dan tidak ingin menggantikannya dengan siapa pun.”


“Aku akan memohon pada ayahku. Kami semua membutuhkan ibu. Kami membutuhkanmu. Aku sangat sedih semenjak ibuku meninggalkan kami semua. Kau pengganti ibuku. Apalagi setelah aku tahu keadaan ibuku saat ini. Aku sangat membencinya. Aku membutuhkanmu lebih dari sebelumnya.”


Haliza membelai rambut Syarifah. Memeluknya erat.


“Walaupun aku tidak menikah dengan ayahmu. Kau tetap bisa menganggapku sebagai ibumu. Jangan membenci ibumu. Sehingga kau tetap bisa merasakan kasih sayang ibumu. Kau belum dewasa. Belum bisa memahami permasalahan orang tua. Jangan mencampuri urusan kedua orang tuamu. Sehingga kau tetap bisa berhubungan baik dengan mereka. Memperoleh kasih sayang yang utuh dari keduanya. Walaupun orang tuamu bukan suami istri lagi. Tapi mereka tetaplah orang tuamu.”


“I get jealous!”


“But, why?”


“Sweety! Tidak ada kesempurnaan. Kau hanya melihatnya dengan persepsimu. Yang terlihat saja. Don’t be jealous. Pada akhirnya semua sama saja. Yang perlu kita lakukan adalah bersyukur dan berbahagia.”


Callista memeluk Haliza dengan lebih erat. Air mata menuruni kedua pipinya.


“Mengapa hidupku terasa begitu nelangsa? Ibuku pergi meninggalkan kami semua? Ayahku tidak mau menikahimu? Yang kasih sayangnya lebih tulus dari ibuku sendiri.”


“Sweety! Kau sedang kecewa pada ibumu. Kau belum bisa memahami permasalahan kedua orang tuamu. Mengapa mereka sampai berpisah. Mungkin kau bisa belajar dari Syarifah. Dia menerima keputusan ayahnya untuk menikah lagi dan mengakhiri pernikahannya denganku. Tapi bukan berarti keluarga kami ikut berakhir. Tetap Syarifah dan Syarif menjadi bagian dari hidupku dan ayah Syarifah. Walaupun sudah memiliki keluarga dan pasangan yang baru. Kau tidak akan kehilangan ayah dan ibumu terlepas mereka bersama atau berpisah. Tapi kau dan adik-adikmu selalu jadi bagian dari mereka berdua sampai kapan pun.” Haliza menatap wajah Callista dengan lembut, “Kubuatkan roti jala kesukaanmu ya? Kebetulan aku memiliki kari kambing di kulkas. Kau pasti menyukainya.”


Callista memandang Haliza dengan pandangan berterima kasih.

__ADS_1


“Kau mirip ibuku yang memperhatikan kesukaan kami semua. Sebelum dia meninggalkan kami. Banyak kenangan manis yang kami rasakan. Kadang aku merasa kau seperti kembarannya dalam bentuk lain. Bukan secara fisik tetapi banyak kesamaan antara kalian berdua. Aku ingin papa menikahimu karena kau bisa menggantikannya mendampingi kami semua. Aku merasa marah padanya karena membuat Keanu sakit dan nyaris mati. Aku sakit hati jika mengingat hal itu.”


“Sweety! Tidak ada ibu yang sengaja meninggalkan apalagi membiarkan anaknya. Mengabaikan anaknya. Ibumu memiliki alasan atau keadaan yang sulit baginya. Jika dia bisa memilih, aku yakin dia akan memilih sebaliknya. Dia berusaha melakukan sebaik yang dia bisa. Aku yakin tidak bermaksud seperti itu. Tapi ada sesuatu yang membuatnya menjadi seperti itu.”


“Kenyataannya Keanu memang hampir mati ketika dia pergi. Dia hanya mengirim hadiah ulang tahun buat kami selama dia pergi. Tidak pernah mengunjungi kami. Kau tau, dia sudah sangat berubah. Aku tidak bisa mengenalinya. Sangat kecewa padanya. Aku tidak percaya kalau aku pernah begitu mencintai dan menyayanginya.”


“Kau sedang sangat marah padanya. Itu bukan berarti kau tidak mencintainya. Kalian ibu dan anak. Seperti halnya aku dan Syarifah. Kalian akan tetap terhubung. Kalau kau belum bisa memaafkan. Tidak mengapa. Tapi jika sudah tiba saatnya bagimu memaafkan dan menerimanya kembali. Berdamailah. Seperti halnya Syarifah dengan ayahnya. Mungkin lebih baik lagi. Apalagi dulu hubungan kalian sangat indah dan hangat.”


Haliza menuju dapur. Membuat adonan roti jala kesukaan Callista. Memasukkan terigu, telur, mentega, air. Mengeluarkan kari kambing dari kulkas  dan memanaskannya.


Mengisi adonan ke cangkir untuk membuat roti jala. Melipatnya dan meletakkannya di piring.


“Kau tahu makanan adalah hal yang paling efektif meningkatkan mood. Membuat perasaan menjadi lebih nyaman. Aku akan membuat kopi durian untukmu. Bagaimana?”


Air mata Callista meleleh. Hatinya begitu terharu sekaligus sedih. Kepergian ibunya dan kehadiran Haliza. Dua hal yang membuat hatinya mengharu biru.


 


 


 


 

__ADS_1


... ...


__ADS_2