Mawar Berhati Baja

Mawar Berhati Baja
Escape


__ADS_3

Dean berjalan terburu-buru memasuki hotel. Mengejar pertemuan bisnisnya.


Tanpa sengaja bertabrakan dengan seorang wanita muda yang sangat cantik. Membuatnya terperanjat.


“Helena!” Ceplosnya begitu saja.


Wanita tersebut menatapnya bingung.


“Kau Helena?” Ulangnya.


“Bukan.”


Dean memegang tangan wanita tersebut. Mendekatkan wajahnya. Membuat wanita tersebut menjadi sangat risih.


“Kau memang Helena. Kupikir, kau sudah meninggal.”


“Aku bukan Helena!” Teriak gadis tersebut membuat Dean terperanjat.


“Astaga! Kau sangat mirip dengan Helena. Siapa kau?”


“Hapsari.”


“Hapsari?”


“Helena tanteku.”


“Astaga, pantas kalian begitu mirip satu sama lain.” Dean memandang ke arah wanita muda yang tampak sangat polos. Sangat berbeda dengan Helena. Walaupun wajah mereka begitu mirip satu sama lain. Seperti pinang dibelah dua.


“Hapsari!” Suara seorang lelaki memanggil gadis tersebut, “kau kemana? Kucari kemana-mana.” Ujar pria tersebut dengan nada gusar.


Lelaki tersebut menarik tangan wanita tersebut. Dean memperhatikan keduanya yang hendak berlalu dari hadapannya. Dirinya nyaris tertegun, saat melihat wanita yang bernama Hapsari tersebut memberikan isyarat empat jari.


Dean memutuskan mengikuti keduanya. Setelah menemukan nomor kamar mereka. Menanyakan identitas keduanya. Mereka mendaftar atas nama tuan dan nyonya Bram.


Memutuskan menceritakan apa yang ditemukannya pada Sinta.


“Aku menemukan seorang wanita yang sangat mirip dengan Helena.” Sahutnya di telepon.


“Kau masih mengingatnya?” Ada nada cemburu di dalam suara Sinta.


“Helena sudah meninggal. Aku berhubungan dengannya karena kau saat itu enggan melayaniku.”


“Apa maksudmu mengatakan tentang wanita yang mirip Helena? Itu kan artinya kau masih mengingatnya.”


“Aku tidak ingin berdebat denganmu mengenai hal ini. Tetapi kurasa, wanita yang mirip Helena tersebut sedang dalam bahaya.”


“Darimana kau tahu?”


“Dia memberikan isyarat empat jari padaku sebelum kami berpisah.”


“Kau harus memastikan terlebih dahulu.” Ujar Sinta.


“Bisakah kau meminta tolong pada hotel memberikan identitas serta alamat keduanya berdasarkan ktp yang mereka berikan?”


“Baiklah. Aku akan mengirim orang untuk mencari tahu mengenai keduanya. Memeriksa apakah gadis itu memang sedang dalam bahaya serta butuh bantuan atau tidak.” Ujar Sinta.

__ADS_1


“Terima kasih atas kepercayaan serta kerja samamu. Helena bukan siapa-siapa. Bukan apa-apa. Aku hanya kasihan melihat gadis itu. Apalagi jika benar dia membutuhkan bantuan.”


“Baiklah. Aku percaya padamu. Helena adalah mimpi buruk dalam pernikahan kita. Mungkin dia tip ex untuk kesalahan yang kulakukan padamu. Tetap saja, dia adalah noktah merah dalam pernikahan kita.”


“Aku tidak bisa mengubah apa yang sudah terjadi.”


“Yeah. Sebaiknya, kita tidak usah membicarakan Helena. Kita fokus saja pada gadis itu. Apakah dia memang membutuhkan bantuan atau tidak.”


“Yeah…”


Tidak sulit bagi Sinta untuk mengetahui segala sesuatu mengenai gadis itu.


“Dia adalah keponakan Helena.” Ujarnya pada suaminya saat mereka sarapan pagi, “Emier, kau sebaiknya bersiap berangkat sekolah.”


Sinta menunggu Emier berangkat sekolah baru meneruskan pembicaraannya.


“Siapa lelaki yang bersamanya?” Tanya Dean saat Emier sudah berangkat sekolah.


“Bram.”


“Bram?”


“Ayahnya adalah politisi yang terbunuh.”


“Politisi yang terbunuh?”


“Helena berusaha menjebak dan menjadi saksi atas kejahatan politisi dan bussinessman yang menghancurkan semua bukti kejahatan mereka. Saat Dylan berusaha membebaskanku dari penjara.”


“Astaga! Dia ada kaitannya dengan kasus tersebut?”


“Bagaimana dengan keluarga Hapsari?”


“Mereka sepertinya tidak tahu sama sekali kalau Hapsari akan keluar negeri. Hapsari berpamitan akan menghabiskan waktu bersama temannya selama dua minggu. Kebetulan saat ini liburan panjangnya. Hapsari sesekali mengabari mereka bahwa keadaannya baik.”


“Jadi, dia sedang berlibur dengan lelaki tersebut? Tetapi mengapa dia memberikan isyarat empat jari?”


“Belum tentu isyarat. Bisa jadi dia tidak mengetahui artinya.”


“Bisa kah kau mengatur pertemuanmu dengan Hapsari? Aku harus menanyakannya langsung. Aku harus memastikan bahwa dia baik-baik saja.”


“Kau melakukannya untuk Helena?”


“Astaga! Kau mencemburui orang yang sudah meninggal dunia?”


“Kalian memiliki banyak kenangan bukan?” Ujar Sinta dengan nada gusar.


“Semua sudah berlalu. Aku sendiri tidak yakin apakah aku dan Helena memiliki sesuatu. Atau hanya sebatas memanfatkannya.” Ujar Dean melangkah mendekati istrinya. Mengelus lembut perut istrinya yang semakin membuncit, “kupikir kau sedang dikuasai hormon. Tidak bisa berpikir jernih.”


“Setidaknya, aku perlu mengetahui mengapa kau sangat perhatian dengan gadis tersebut? Yang notabene keponakan Helena? Sangat kebetulan bukan?”


“Aku sudah mengatakan padamu. Dia melambaikan empat jarinya padaku. Aku merasa ada sesuatu yang tidak beres.”


“Baiklah, aku akan berusaha mengalihkan perhatiannya. Kau bisa menanyakan sendiri pada gadis tersebut mengenai kecurigaanmu tersebut.”


Sinta membuat tuduhan palsu terhadap Brian sehingga membuatnya harus berurusan dengan polisi.

__ADS_1


Selama rentang waktu tersebut. Dean berusaha mendatangi Hapsari. Dengan bantuan manager hotel. Menemukan Hapsari di dalam kamarnya. Ketakutan.


“Apa yang terjadi?”Tanya Dean.


Hapsari menggelengkan kepalanya. Menolak berbicara.


“Kau tidak usah takut padaku. Kau bisa mempercayaiku. Aku melihatmu melambaikan empat jari padaku. Apakah itu ada artinya?”


Hapsari kembali menggelenggakan kepalanya. Wajahnya pucat. Ketakutan terpancar pada rona wajahnya.


“Dengarkan aku! Kita tidak memiliki waktu yang banyak. Polisi sedang membuat Brian sibuk. Jika kau ingin mengatakan sesuatu Maka sekarang ini saatnya atau tidak sama sekali.”


“Aku…”


“Katakan saja! Ada apa? Apakah kau tidak baik-baik saja? Apakah kau mau ikut denganku? Jika kau tidak bisa mengatakan saat ini?”


Hapsari menganggukkan kepalanya. Dean langsung membawanya keluar kamar serta membawanya ke dalam mobilnya.


Sinta menelponnya, “bagaimana?”


“Dia belum ingin mengatakan apa pun tetapi sepertinya dia ketakutan.”


“Kau jangan berasumsi. Jika sampai salah. Kita akan berada dalam masalah. Brian akan menuntut kita. Kau akan membawa masalah pada pekerjaanku.”


“Tenanglah! Dia seperti sedang shock. Aku tidak tahu apa yang terjadi. Sebaiknya kita amankan dia “


“Bagaimana jika Brian mencarinya? Melaporkan kehilangannya?”


“Kumohon, bantulah dia! Tolong alihkan perhatian Brian untuk sementara waktu sampai kita bisa mengetahui detailnya.”


“Kau sangat gegabah. Tidak seharusnya kau membawanya pergi.”


“Dia shock. Tidak bisa berbicara apa pun. Ketakutan. Aku tidak mungkin meninggalkannya sendiri. Kita akan membuat skenario jika ternyata tidak terjadi apa pun. Semacam drama penculikan?”


“Sebaiknya, aku membuat Brian sibuk. Mungkin sebaiknya dia menginap di kantor polisi.”


“Yeah. Ide yang bagus.”


Dean membawa Hapsari ke rumahnya. Membuatnya merasa nyaman serta tenang sebelum membujuknya untuk berbicara. Mencari tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi.


Dean memasuki garasi rumahnya. Membujuk Hapsari turun dari mobil. Memintanya beristirahat di sebelah kamar Emier.


Dia tidak ingin meninggalkan Hapsari sendirian di paviliun. Menjaga serta mengawasinya.


Berusaha menenangkan serta menyamankan gadis itu.


“Istirahatlah. Kau tidak harus mengatakan apa pun. Aku akan meminta pengurus rumahku untuk mengantarkan makanan juga minuman. Tenanglah, kau aman disini. Tidak akan ada satu orang pun bisa menganggu atau menyakitimu.”


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2