
Sinta sangat menikmati kehamilannya. Perhatian Dylan semakin penuh.
Mereka berdua sudah sangat siap menjadi orang tua. Menantikan kehadiran buah hati di tengah mereka.
Dylan juga sangat sabar menghadapi perubahan emosi dan perasaan Sinta akibat perubahan hormon selama hamil.
"Badanku sangat tidak enak. Kepalaku pusing. Mual."
"Sabar ya sayang…Kamu kan lagi hamil muda. Morning sickness banyak dialami oleh mereka yang hamil muda."
"Kayak masuk angin setiap saat. Bisa kau bayangkan?"
"Aku tahu rasanya sangat tidak enak."
"Memang kau pernah merasakannya?"
"Tentu saja tidak pernah. Walaupun ada suami yang mengalami ngidam atau morning sickness."
"Seandainya kau yang mengalaminya dan aku tinggal hamil saja."
"Jangan seperti itu, dong, sayang! Aku gak bisa kerja kalau mengalami apa yang kau alami."
"Enak dong ya jadi kamu. Enak doang, gak pake eneg…."
"Tapi kan jadi ibu itu lebih utama daripada ayah. Sampai tiga kali keutamaan seorang ibu dibandingkan ayah."
"Tubuhku akan mengalami perubahan setelah melahirkan dan menyusui. Apakah kau masih mencintaiku?"
Dylan memeluk tubuh Sinta. Menyamankan dirinya dengan mengelus punggungnya dengan lembut dan mesra.
"Semua orang pasti mengalami perubahan dalam hidupnya. Bayi tidak mungkin selamanya menjadi bayi. Kita tidak selamanya muda. Pasti ada perubahan dalam hidup kita. Suami yang bertanggung jawab. Isteri yang mengurus semua anggota keluarga dengan baik. Semua itu bibit dan akan menyuburkan cinta itu sendiri."
"Maksudmu?"
"Kalau kau egois tidak mau mengorbankan tubuhmu untuk melahirkan dan menyusui anak kita. Bisa jadi rasa cinta itu akan berkurang. Berganti dengan kecewa."
"Kecewa?"
"Bagaimana kalau aku tidak mau menafkahimu?"
"Sudah pasti kesal lah."
"Cintamu bertambah atau berkurang?"
"Berkurang."
"Begitu juga kalau kau tidak mau melahirkan dan menyusui karena tidak ingin bentuk tubuhmu berubah."
"Tapi banyak suami berpaling setelah bentuk tubuh isterinya berubah. Atau menua?"
"Memang alasan suaminya berpaling karena hal itu? Walaupun memang sebagian orang memang memiliki sifat tidak setia. Lagi pula menjaga berat badan agar tidak terlalu gemuk bukan karena agar suami setia tapi karena kesehatan juga kan?"
"Aku mengkhawatirkan banyak hal. Apakah karena perubahan hormon atau memang aku insecured?"
"Bisa jadi karena hormon dan bisa juga karena kau memang insecured atau kau takut terjadi hal-hal yang kau sebutkan tadi."
"Aku ingin santai dan tidak terlalu banyak berpikir."
"Pikirkan bayi yang akan lahir dan bagaimana rumah tangga kita dengan kehadirannya?"
"Aku tidak akan terlalu kesepian kalau kau sedang tidak bersamaku." Sinta memeluk bantal sofanya yang terletak di sampingnya.
"Kau akan memiliki kesibukan baru mengurus anak. Rumah tangga kita juga akan lebih semarak dengan hadirnya anak."
"Menurutmu mengapa seorang suami bisa mengkhianati isterinya?"
"Kemungkinan memang sifat suaminya memang tidak setia. Itu yang paling sering terjadi. Walaupun isteri tidak memiliki kekurangan karena karakter suami tidak setia. Tetap saja mereka berkhianat."
"Apalagi?"
"Bosen. Sifat pembosan juga memicu seseorang untuk bersikap tidak setia."
__ADS_1
"Apalagi?"
"Memiliki masalah di dalam pernikahan. Sedangkan tidak semua pasangan ingin bercerai. Apakah karena alasan anak atau mungkin yang lainnya."
"Masalah apa?"
"Komunikasi, hubungan intim, keluarga, ketidakcocokan karakter, perbedaan pola asuh, orang ketiga, salah satu pihak terlalu dominan,dan lain sebagainya. Semua permasalahan di dalam pernikahan."
"Kau membela mereka yang berselingkuh?" Wajah Sinta menunjukkan kemarahannya,"Supaya nanti kalau kau selingkuh. Aku harus memaklumi. Karena ada masalah di pernikahan kita."
Kontan Dylan tertawa melihat perubahan ekspresi Sinta yang berubah kesal.
"Apa sih yang lucu?"
"Kamu! Tiba-tiba marah."
"Memang kamu gak marah kalau aku selingkuh dan beralasan di rumah tangga kita ada masalah."
"Marah sih gak. Paling aku ceburin aja ke got. Cuma gotnya dalam karena kebetulan ada di pinggir jurang."
Gantian Sinta yang terpingkal.
"Benyek dong aku kayak adonan pisgor."
"Kalau kegantung di dahan pohon. Benyek gak cuma karena gak ada yang tahu dan bisa nolong. Mungkin jadi kayak dendeng kering aja. Kegantung-gantung ampe kering."
"Sadis!" Mereka kembali tergelak.
Kehamilan Sinta semakin membesar tetapi semua bisa dilewati dengan baik. Sampai dengan saat mengidam. Bisa mereka lewati dengan baik tanpa drama.
"Aku mau sate."
"Sayang! Ini Swiss. Gak ada tukang jual sate di sini." Dylan menjawab dengan panik.
Kalau hanya mencari tukang sate di jam pocong mungkin tidak seberapa.
Tukang satenya masih kemungkinan ada. Tapi kalau di negara yang tidak ada penjual sate?
"Kenapa gak bikin sendiri?"
Alhasil, Dylan mengeluarkan persediaan daging yang ada.
"Ada daging giling. Aku bisa coba bikin sate lilit sepertinya gak susah. Atau kau mau daging sate yang ditusuk? Ada juga daging has dalam."
"Coba aja dua-duanya. Aku kan belum pernah coba sate buatanmu."
Dengan segala jerih payah. Akhirnya Dylan berhasil membuat sate sendiri.
Membuat saus kacang dari selai kacang ditambah kecap. Dengan menambahkan cabai untuk menambah cita rasa sedikit pedas.
"Bagaimana?" Dylan meletakkan sate-sate ke dalam piring.
Sinta menuang nasi dan mengambil sate-sate tersebut dan memakannya.
"Enak."
Mereka menikmati sate pada jam dua dini hari. Membuat sate tidak semudah dibayangkan.
"Masak sih?" Dylan mengambil sate yang dibuatnya sendiri dan mencicipinya.
"Gak sama sih seperti tukang sate yang biasa. Tapi enak."
"Aku senang kalau kau suka sate buatanku."
"Katanya, kalau ngidam gak diturutin, anaknya bisa ileran."
"Rata-rata bayi suka ileran sih. Tapi masalah bayinya ileran karena waktu ibunya ngidam diturutin atau gak. Tidak tahu juga. Yang pasti, melihat ibu hamil ngidam bikin orang gak tega."
Sinta mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Ada yang gak percaya ngidam dan anggap itu upaya buat mencari perhatian suami."
__ADS_1
"Perubahan hormon mungkin maksudnya. Tapi kalau bisa dipenuhi kenapa gak. Kupikir ngidam itu kan juga bounding antara suami dan isteri. Jadi gak usah dibesar-besarkan. Sama aja kayak anak rewel. Suami menuntut perhatian dan pelayanan isteri. Mungkin agak merepotkan tapi kalau masih bisa dilakukan. Kenapa gak kan?"
"So sweet banget sih…."
"Hidup itu udah banyak pernak perniknya. Gak usah dibuat ribet. Yang bukan masalah, jangan dijadikan masalah. Semua dibuat mudah dan simpel. Jadi hidup itu ringan seperti snack yang isinya angin doang…."
"Itu sih H2S dong...Angin doang…."
"Itu sih beda lagi. Masuk angin atau mungkin udah dol kali. Jadi dat…dut…dat…dut…"
Pecah tawa Sinta.
Perut Sinta yang semakin membuncit. Membuat Dylan khawatir untuk meninggalkannya.
"Dokter bilang kau akan melahirkan seminggu sampai dua minggu ke depan. Kupikir, sebaiknya aku menemanimu sampai kau melahirkan."
"Bagaimana pekerjaanmu?"
"Aku akan mengaturnya. Kau sendirian. Bagaimana kalau nanti tiba-tiba kau ingin melahirkan?"
"Aku akan memanggil 911?"
"Sebaiknya aku menemanimu. Kecuali kalau ada yang menemanimu mungkin aku bisa lebih tenang."
Pagi yang cerah. Matahari bersinar hangat. Udara sejuk.
Sinta sedang berada di kebunnya ketika perutnya tiba-tiba sangat sakit dan mulas.
"Sayang…"Teriak Sinta.
Dylan tergopoh-gopoh keluar mendengar panggilan Sinta.
"Kau kenapa?"
"Kupikir sudah waktunya."
"Apa maksudmu sudah waktunya?"Pikiran Dylan tiba-tiba blank.
"Kupikir, aku akan melahirkan."
"Apa yang harus kulakukan?" Tanya Dylan dengan wajah panik.
"Membantuku ke rumah sakit?"
"Ah ya! Itu maksudku. Mari kubantu kau ke mobil." Dylan membantu Sinta menuju mobil. Menutup pintu mobil dan duduk di belakang stir.
"Sayang, kau belum mengambil kunci mobilnya."
"Kau benar." Sahut Dylan dengan wajah gugup. Keringat mengucur di kening dan wajahnya.
"Sayang, tenang, jangan gugup. Aku yang akan melahirkan. Bukan kau!"
"Ya, sayang. Aku akan mengambil kunci mobil dan kita segera ke rumah sakit."
"Jangan lupa koper yang sudah disiapkan. Jika kita ke rumah sakit."
"Oh ya. Koper."
Setelah semuanya siap. Mereka berangkat ke rumah sakit.
"Kau tidak apa-apa kan?" Dylan menatap cemas melihat wajah Sinta menahan sakit.
"Aku tidak apa-apa. Hanya saja perutku sangat sakit dan mulas."
Dylan menyetir mobilnya secepat mungkin. Sesampainya di rumah sakit. Perawat mengambilkan Sinta kursi roda dan membawanya ke kamar bersalin.
Menunggu detik demi detik kelahiran bayinya membuat Dylan sangat gugup. Dia terus berdoa memohon kelancaran serta kemudahan bagi Sinta untuk melahirkan bayinya. Agar mereka berdua dalam keadaan baik dan sehat.
Wajah bahagia membias pada keduanya ketika bayi mereka lahir.
"Welcome to the world, Callista. Nice to meet, you, baby…" Sapa Dylan. Meminta izin untuk mengazankan putrinya yang baru lahir, "Aku ingin kau mendengar kalimat Allah pertama kali kau datang ke dunia."
__ADS_1
Dylan mengazankan putrinya dengan sepenuh hati. Air mata meleleh ketika hatinya tiba-tiba dipenuhi dengan keharuan.