Mawar Berhati Baja

Mawar Berhati Baja
Being Parent


__ADS_3

Kelahiran Calissta merupakan anugrah dan kebahagiaan bagi Dylan dan Sinta.


Menjadi orang tua adalah keindahan lain yang diberikan Allah kepada mereka berdua.


Memiliki pasangan anugrah. Memiliki keturunan adalah kesempurnaan nikmat.


Sepulangnya Sinta dari rumah sakit. Dylan sangat bahagia menyambut kedua wanita yang sangat dicintai dan dikasihinya.


"Welcome, my lovers…."


Dylan mengecup Sinta dan Calissta bergantian.


"Thank you, honey…."


Sinta membalas kecupan Dylan. Menjadi seorang ibu adalah perasaan yang tidak pernah bisa dibayangkan sebelumnya.


Setelah melahirkan dan memiliki anak. Dia bisa memahami perasaan dan kasih sayang ibunya kepadanya. Atau perasaan serta kasih sayang semua ibu di dunia.


Rasa cinta tersebut sangat melimpah melebihi rasa cinta kepada orang tua dan pasangan.


Sinta memandang wajah Calissta yang mungil dan kemerahan tanpa bosan.


Wajah tersebut perpaduan wajahnya dengan Dylan. Memandangnya seperti memandang perpaduan wajah mereka berdua. 


"Ini adalah paras bayi yang adil." Ceplos Sinta.


"Adil?"


"Lihatlah bagaimana dia membagi kedua wajah kita sama rata di wajahnya."


Kontan Dylan tertawa.


"Kupikir dia mencintai kita berdua sama besarnya."


"Hmm…ya…Kupikir, dia bayi yang sangat cerdas. Tidak ingin menyinggung atau menyakiti hati kita berdua."


Dylan tergelak mendengar jawaban Sinta.


"Aku tidak terima anakku dikatakan "menjilat"."


"Dia tidak "menjilat" tapi dia berbuat adil terhadap kita berdua."


Callista tumbuh dengan sehat dan cerdas. Tingkah lakunya semakin lucu dan menawan.


"Tidak sanggup rasanya aku berpisah dengan gadis kecilku."


Drama setiap Dylan ingin kembali bekerja di Indonesia selalu meramaikan rumah mereka.


"Papa, aku ikut."


"Aku juga ingin membawamu bersamaku, dear…."


"Tapi kau tidak pernah membawaku bersamamu."


"Seandainya, aku bisa."


Callista memulai dramanya,"Aku ingin ikut!" Nadanya naik satu oktaf.


"Aku tidak bisa membawamu."


"Kenapa? Kau bilang kau sayang padaku. Tidak ingin meninggalkanku tapi kau bohong!"Suaranya menyerupai tangis.


"Siapa yang menjaga ibumu?"


"Mama juga ikut bersama kita. Bisa kan? Kita pindah saja, ke Indonesia, ma!"


"Tidak semudah itu, sayang."


"Tapi kenapa?"


"Udara disini sangat bagus. Bersih. Di Indonesia tidak memiliki kualitas udara seperti di sini. Lingkungan dan air serta pepohonannya. Kau juga bisa naik kuda disini."


"Aku mau ke Indonesia. Aku tidak suka di sini." Tangis Calissta pecah.


"Kau anak yang sangat manis dan baik. Mengapa menangis?"


"Aku sedih!"


"Papamu harus bekerja. Kau harus menjaga ibumu di sini. Kau anak baik kan?"

__ADS_1


Tangis Callista semakin keras,"Aku ingin ikut!"


"Kau dengar apa kata mamamu. Di sini lebih sehat untuk tinggal."


Callista mengalungkan tangannya di leher ayahnya dan tidak mau melepaskannya.


"Aku bisa ketinggalan pesawat kalau kau tidak mau melepaskanku."


"Biar saja!"


"Kau ingin oleh-oleh apa dari Indonesia?"


"Aku tidak ingin apa-apa. Aku ingin ikut papa."


"Disini ada mama. Ada James. Di sana papa harus bekerja. Tidak bisa mengurus atau memperhatikanmu."


"Aku sudah bisa makan sendiri."


"Belepotan!"Ibunya menyeplos sambil tertawa.


"Aku juga sudah bisa mandi sendiri."


"Tapi harus diulang lagi." Ibunya kembali menyeplos dan Callista kembali merengut dan menangis.


"Kau jangan mengganggunya." Tegur Dylan pada isterinya.


"Berikan dia padaku. Kau harus mengejar pesawatmu."


Callista tidak ingin melepaskan pelukannya dari ayahnya. Tangisnya semakin keras.


"Jangan dipaksa!"Dylan menegur isterinya.


"Setiap kau akan meninggalkan kami. Dia pasti seperti ini."


"Bagaimana kalau kalian ikut sampai bandara?"


"Nanti akan semakin sulit membujuknya. Biarkan dia menangis. Nanti juga berhenti sendiri. Memang seperti itu, bagaimana lagi?"


"Apakah kau mau naik kuda dengan mama atau James?"


Callista menggeleng sambil terus mengeraskan suara tangisnya.


"I am not!"


Kontan Dylan tertawa, "Like mother, like daughter."


"Listen to me!"


"I won't."


"Your dady have to catch up his plane. You will cause him a trouble."


"I don't care."


"Two weeks again you will meet him again."


"It's too long!"


"Give her to me!"Sinta meraih Callista dari pelukan Dylan. Tangisnya semakin kencang dan memekakkan telinga.


"You are so bad! Mean!"Callista kembali berteriak dan menangis semakin keras.


"Sebaiknya kau tidak memaksanya."


"Aku tidak ingin memaksanya. Tapi dia belum bisa mengerti dan di ajak kerja sama. Aku akan menanganinya. Kau pergilah. Biarkan dia denganku."


"I have to go, darling! I am so sorry!"Dylan mengecup kening dan pipi putrinya yang sedang menangis keras.


Callista ingin memukul ibunya karena menariknya dari pelukan ayahnya.


"If you dare to hit me. You  know the consequences"


Callista menahan tangannya,"You are bad! Mean! Evil!"


"Watch out your sentence, miss or you will be sorry."


Tangis Callista semakin keras.


"You can be angry but you can not hit people or curse." Ibunya memeluk putrinya. Membelai dan mengusap punggungnya.

__ADS_1


Memberikan kode dengan tangannya meminta suaminya untuk pergi menjauhi mereka.


"I want to go with him!"


"Yeah! I know but you can't. And you know the reason." Ibunya terus membelai punggung putrinya berusaha menenangkannya.


Callista melepaskan seluruh emosi, perasaan dan tangisannya. Ibunya membiarkannya mengekspresikan emosi dan perasaannya.


James tergopoh masuk ke dalam rumah mereka.


"What happen with Callista, mam?"


"Her father want to go back to Indonesia and she want to go with him. You know it's impossible."


"I see. We can go ride if you want to, Cal!"


Tangis Callista semakin pilu.


"Maybe latter James. It seems she want to express her sadness and disspointed first."


"Ok, mam."


Callista mencurahkan semua perasaan sedih dan kecewanya. Ibunya mendengarkan dan menanggapi sesekali.


"He lied when he said want to bring me."


"He not lied. He wish he can bring you darling."


"Why can't we go with him, mom?"


"You know it's impossible. Fresh air is so important."


"How important?"


Ibunya membuat dua gelas air. Satu diberi tanah dan diaduk. Yang satu masih bersih.


"Ini udara kotor." Ibunya menunjuk gelas yang berisi tanah dan diaduk rata,"Ini udara bersih." menunjuk gelas yang satu lagi berisi air bersih dari kran tanpa campuran apa pun.


"Kau mau minum yang mana?"


"Tentu yang ini."


"Ini Indonesia. Dan ini Swiss. Kau mau tinggal dimana?" Sinta masih mengibaratkan dengan gelas yang sama.


"Ofcourse, Swiss."


"See?"


"Mom!"


"Yeah!"


"Can I go ride with James?"


"Ofcourse, dear…."


Callista berlari menuju James dan drama berakhir.


Tidak lama whatsapp dari suaminya masuk.


[Bagaimana dia?]


[Kau tenang saja]


[Bagaimana aku bisa tenang, dia menangis dan mengamuk.]


[Dia kan memang seperti itu kalau kau ingin kembali ke Indonesia."


[Bagaimana dia?]


[Dia ingin mengajak James berkuda.]


[Sukurlah. Your the best.]


[Hadiah dan transferannya, dong!]


[Dasar matre!]


[Wkwkwk]

__ADS_1


__ADS_2