
Tidak sulit bagi Sinta yang memang berotak encer untuk menyelesaikan kuliahnya.
Karirnya yang meroket di dunia keartisan membuat langkah kakinya menuju karir politiknya membentang lebar.
"Kau sudah siap menjalankan misi keluarga?" Ayah mertuanya menanyainya ketika mereka sarapan pagi bersama.
"Misi keluarga bagaimana, maksudnya, yah?"
"Kau akan dipersiapkan untuk menjadi kepala daerah. Tugasmu melindungi usaha keluarga kita agar bisa tetap bertahan. Melindungi dari para pesaing kita."
"Apa tidak terlalu berat,yah?"
"Tentu tidak. Hasil pendidikanmu luar biasa. Pencapaian karirmu? Popularitasmu meroket. Tidak sulit bagimu mendapatkan jabatan tersebut."
Sinta hanya mendengarkan perkataan mertuanya. Tidak berani membantah. Karena semua adalah titah atau dia akan dikembalikan ke madam Juwita. Rumah bordil.
Sinta merasa seperti boneka. Menjalankan skenario yang sudah disusun.
Seperti memasuki sungai yang penuh buaya. Karena dunia politik sangat kejam dan hampir tidak pernah menjadi dambaan semua orang.
Politik adalah kekuasaan. It's about man behind the gun.
Dia sangat merindukan ibunya. Hanya ibu yang tidak pernah berharap apapun dari anaknya.
"Kau kenapa? Seperti ogah-ogahan?"
"Aku agak sedikit gak enak badan." Sinta berbohong.
"Sebaiknya kau berobat."
"Istirahat nanti juga sembuh."
"Kalau sudah selesai makan. Kembali saja ke kamarmu. Kau harus mempersiapkan staminamu."
Sinta hanya menganggukkan kepalanya dan kembali ke kamarnya.
Hatinya resah karena semua yang dicapainya bukan keinginannya sama sekali.
Hanya menjadi alat untuk mempertahankan usaha keluarga suaminya.
Sinta memasuki kamarnya dan menuju ranjang. Tiduran membelakangi Dean yang sedang membaca di sofa bed.
Dean memesan sofa bed untuk dia tidur daripada menggelar kasur lipat di lantai. Tubuhnya pegal-pegal. Mendesign sofa bednya sendiri dengan ukuran 140cmx200cm.
Warnanya juga bisa senada dengan warna kamarnya perpaduan warna krem dan khaki.
"Kau kenapa jutek?"
"Orang tuamu memaksaku terjun ke politik. Dunia politik sangat mengerikan apalagi aku akan digunakan untuk melindungi usaha keluargamu."
"Memang kenapa usaha keluargaku?" Sahut Dean tersinggung,"Usahanya halal. Tidak ada yang haram."
"Aku tidak enak kalau harus mendahulukan usaha keluargamu dibandingkan yang lain. Aku bisa kena tuduhan kkn dan masuk penjara."
"Asal kau tau saja! Usaha keluargaku bukannya tidak dibutuhkan. Kau hanya bertugas melindungi kelangsungannya. Itu saja!"
"Hampir setiap audisi aku mendapat sindiran dan komentar pedas. Apalagi kalau nanti memang aku akan memegang jabatan itu."
__ADS_1
"Anjing mengonggong. Khafilah berlalu."
"Tetap saja meresahkan."
"Kau tidak usah berlebihan."
"Bagaimana kalau ada yang tidak suka dan menjadikan hal itu sebagai issue politik dan hukum?"
"Hukum?"
"KKN?"
"Kau tidak usah banyak berpikir. Lakukan saja yang haru kau lakukan. Orang menjatuhkan orang lain itu memang sudah biasa. Sifat manusia tidak menyukai orang yang mereka anggap sebagai saingan. Fokus berbuat sebaik yang kita mampu. Kau tidak mungkin bisa mendapatkan jabatan itu kalau popularitasmu tidak meroket. Semua memang sudah jalanmu. Terima saja!"
Sinta menangis sesenggukkan.
Dean menjadi tidak tega. Berjalan mendekati Sinta.
"Kau mau apa?" Bentak Sinta galak.
"Duh, kau makan rujak mercon lagi? Aku kasihan melihatmu. Bagaimanapun, kau isteriku. Aku tidak akan mengambil keuntungan darimu. Aku berjanji!" Dean berjalan mendekati Sinta.
"Awas! Kalau kau modus dan melaba!"
"Aku suamimu! Kalau modus dan melaba juga wajar aja. Itu hakku!"
"Kau sudah bosan hidup?"
"Begitu saja marah! Aku berjanji tidak akan mengambil keuntungan darimu. Biarkan aku menghiburmu. Ok?"
"Kau jangan terlalu banyak berpikir. Kau tidak sendirian. Ada aku, orang tuaku dan semua yang mendukungmu. Kita tidak melakukan hal buruk."
Tangis Sinta kembali pecah. Dia mengalungkan tangannya ke leher Dean. Baju Dean bagian dada basah dengan tangisan Sinta.
Jantungnya berdebar kencang. Buah dada Sinta yang padat dan kencang menyapu-nyapu dadanya. Bahu Sinta naik turun menangis.
Dean berusaha menepis gairahnya yang tiba-tiba muncul.
Refleks, Dean mendorong Sinta menjauh darinya. Sinta terpental.
"Kau kenapa sih?" Teriak Sinta.
Dean langsung berdiri. Kejantannya mengeras. Dia langsung ngibrit masuk kamar mandi. Menyiram kemaluannya dengan air dingin.
"Kau kenapa sih?" Sinta masih teriak tidak mengerti.
Dean keluar kamar mandi.
"Maafkan aku! Aku tidak ingin nanti kau jadi salah paham. Aku tidak bermaksud apapun. Hanya ingin menghiburmu tapi…."
"Kau mendorongku."
"Sudahlah! Tidak usah dibahas lagi. Kau keluarkan saja unek-unekmu. Aku tidak harus menghiburmu dengan memelukmu."
Sinta mengambil bantal dan membenamkan kepalanya. Menangis sepuasnya.
"Kau jangan terlalu banyak berpikir. Orang tuaku tidak bermaksud jelek dan buruk. Perusahaan kami menghidupi banyak orang sehingga harus bisa bertahan. Itu saja."
__ADS_1
"Tetapi kenapa mesti aku? Kau kan anaknya."
"Aku yang mengelola perusahaan. Kau pikir itu pekerjaan ringan? Kita bagi tugas."
"Tapi bagaimana kalau aku terkena tuduhan conflict of interest atau kkn?"
"Kau hanya mengamankan perusahaan dari gangguan. Itu saja. Tugasmu hanya mengatur dan memproteksi. Kalau kau tidak mengaturnya justru akan kacau. Perusahaan orang tuaku hancur dan mereka yang mengganggu juga belum tentu memberikan kontribusi seperti perusahaan orang tuaku. Apa kau mengerti?"
"Tapi aku takut!"
"Aku tahu. Kita akan membicarakan semuanya bersama. Aku akan mendampingimu."
"Kau tau, politik sangat menakutkan, mengerikan juga kejam."
"Aku tau! Terutama mereka yang merasa tersaingi. Kita tidak punya pilihan lain selain berusaha. Selama kita tidak melakukan yang salah atau kriminalitas, kupikir itu bagian dari ikhtiar."
Sinta bangkit dan berjalan menuju Dean.
"Kau mau apa?"
"Aku mau memelukmu. Aku merasa tidak tenang. Aku merasa nyaman memelukmu."
Dean terloncat dan berlari menjauhi Sinta.
"Jangan mendekat!"
"Kau kenapa sih? Aku cuma mau memelukmu saja! Aku bukan mengajakmu berhubungan intim."
"Kau ini bodoh sekali! Tidak bisa!"
"Apa yang tidak bisa?"
Dean lari menuju kamar mandi dan menguncinya.
"Pokoknya tidak bisa!"
Sinta menggedor pintu kamar mandi.
"Keluar! Aku bukan ingin memperkosamu! Kau jangan ge er!"
"Kau tolol sekali! Aku tidak bisa menjelaskannya padamu! Kau itu pelacur terhebat mengapa bisa sebodoh ini? Aku tidak tau apa yang terjadi padamu. Apapun perubahanmu walaupun itu merugikanku dan kerap membuatku tersiksa tapi aku sangat menghargaimu. Jangan kau membuatku mengkhianati niatku sendiri."
"Aku tidak bermaksud memperkosamu!" Sahut Sinta marah.
"Aku tahu! Tapi kalau kau menempel seperti itu padaku. Aku yang bisa memperkosamu!"
"Kau itu memang mesum! Jaga pikiranmu dong! Jangan piktor! Cuci pakai sunlight!"
"Ini bukan pikiranku. Tetapi syaraf dan hormonku. Mereka membuatku tidak bisa berpikir jernih!"
"Tapi aku sangat membutuhkanmu."
"Kau kan tidak mau bercinta denganku. Bagaimana kalau aku tidak bisa mengendalikan diri?"
"Kau pasti bisa. Asalkan bertekad! Terpenting pikiranmu harus bersih dan jangan kotor!"
"Kau pelacur bodoh!"
__ADS_1