
Dylan kembali ke rumahnya seorang diri. Suasana hening membuatnya lebih nyaman berpikir.
Membayangkan Haliza menghabiskan waktunya dengan Ahkam mantan suaminya. Nyaris membuatnya gila.
Bagaimana jika Ahkam menjebak atau memaksa Haliza mengikuti keinginannya?
Atau merayunya? Memanfaatkan kelembutan serta sifat tidak tega Haliza?
Apa yang harus kulakukan? Haliza pulang berlibur dengan mantan suaminya. Bulan depan memberikannya kejutan berupa test pack dengan dua garis biru.
Oh no! Aku bisa sinting jika membayangkan semua hal yang terlintas di kepalaku. Ahkam memberikannya obat tidur atau perangsang ke dalam minumannya. Selanjutnya…
Cukup! Aku tahu apa yang harus aku lakukan…
Dylan berjalan tergopoh memasuki bandara. Persiapan secepat kilat. Meminta bantuan Sinta agar mengusahakan tiket ke Lombok untuk penerbangan yang paling pagi.
“Kau ingin menyusul Haliza?” Tanya Sinta dengan nada terkejut.
“Yeah! Aku tidak ingin terjadi sesuatu. Aku tidak mempercayai Ahkam.”
“Mereka sudah dewasa. Kau akan mendatangi liburan mereka sekeluarga. Kau akan mengacaukan acara mereka.”
“Ahkam memiliki rencana tersembunyi. Aku tidak akan membiarkannya berlaku licik.”
“Kupikir, kau terlalu cemburu.” Ada nada perih di dalam suara Sinta.
“Aku tidak bisa berpikir jernih.”
“Tenanglah. Semua akan baik-baik saja. Percayakan semuanya kepada mereka berdua.”
“Aku percaya pada Haliza tetapi tidak kepada Ahkam.”
“Aku tidak pernah melihatmu seperti ini.” Ujar Sinta.
“Apa maksudmu?”
“Entahlah. Kau begitu mengkhawatirkan Haliza.”
“Apakah kau bisa menolongku?”
“Apa itu?”
“Tiket paling pagi ke Lombok.”
“Kau ingin menyusulnya?”
“Yeah.”
“Are you sure?”
“Yeah, I am sure.”
“Apakah tidak terlalu berlebihan?”
“Kupikir semuanya sudah terasa berlebihan. Aku tidak ingin mengira-ngira sampai aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri.”
“Kau tahu mereka berada dimana?”
“Yeah. Aku sudah menanyakan pada Syarif mereka menginap dimana.”
“Baiklah akan kupesankan tiket dan booking penginapan yang sama dengan mereka.”
“Sin...”
“Yeah…”
“Thanks…”
“Don’t mention it. Wish you the best.”
“Thanks. Aku titip anak-anak.”
__ADS_1
“Tidak usah khawatir. Anak-anak akan merasa senang dan nyaman menghabiskan waktu bersama kami. Dean sudah menganggap mereka sama seperti Emier. Seperti anak sendiri. Tenanglah. Kau fokus saja pada urusanmu sendiri.”
“Yeah, terima kasih sekali lagi.”
“My pleasure.”
Penerbangan berjalan lambat. Pikirannya yang dipenuhi segala hal yang berisi kekhawatiran seakan menyiksanya.
Tidak dapat menikmati perjalanannya. Walaupun awan putih, langit biru cerah terpampang dengan indah di luar jendela.
Penerbangan jam 07.20 am. Membuatnya bangun sepagi mungkin menyiapkan keberangkatannya.
Memilih sarapan di atas pesawat. Memesan roti dan kopi. Perutnya terasa lebih nyaman setelah diisi makanan.
Pesawat mendarat pukul 10. 30 pagi. Dari bandara menuju penginapan menggunakan taksi yang berada di Bandara.
Sinta memesankan kamar yang paling dekat dengan kamar Haliza. Selang tiga kamar.
Sesampainya di penginapan. Dylan langsung menuju resepsionis menunjukkan tanda bukti reservasi. Menunjukkan identitas yang diminta serta mengisi formulir.
Selesai check in. Dylan membawa kopernya menuju kamarnya. Membuka pintu kamarnya. Masuk ke dalamnya dan beristirahat.
Berbaring di tempat tidur sambil mengeluarkan gadgetnya dari kantong celananya.
[Kau ada dimana?]
[Pink beach. Baru saja sampai.]
Berarti mereka semua tidak berada di kamarnya.
[Baiklah, have fun. Nanti kita sambung lagi.]
[Baiklah.]
Dylan memutuskan beristirahat sejenak sebelum menyusul ke pink beach.
Mereka berempat sedang asyik bermain di tepi pantai. Ketika Dylan berjalan menyusuri pantai seorang diri.
Dylan tetap berjalan dengan acuh.
“Hei! Aku berbicara denganmu!”
Dylan membalikkan tubuhnya.
“Kau berbicara denganku?” Tanyanya menunjuk hidungnya sendiri.
“Yeah! Sedang apa kau disini?”
“Berlibur.” Jawab Dylan santai.
“Mana anak-anakmu?”
“Bersama ibu mereka. Aku sendirian dan memutuskan berlibur sendirian.”
“Kau menyusul kami ke sini?” Tanya Ahkam dengan lantang.
“Menyusul kalian? Ini tempat umum bukan? Siapa saja bisa berlibur ke sini.”
Ahkam terdiam. Memandangi Dylan kemudian membuka mulutnya, “kebetulan yang aneh!”
“Kita makan siang dulu.” Ujar Haliza pada Ahkam dan anak-anaknya, “kau mau bergabung dengan kami?” Haliza menawarkan Dylan makan siang bersama.
“Maaf, bukan bermaksud kasar. Tapi aku mengajak Haliza dan anak-anak berlibur. Agar kami tetap bisa merasakan liburan keluarga walaupun sudah bercerai. Terutama untuk anak-anak kami.” Jelas Ahkam.
“Kebetulan aku juga belum makan. Terima kasih atas tawarannya. Aku mau bergabung bersama kalian.” Sahut Dylan.
“Maaf, Haliza hanya berbasa basi. Kau tahu bagaimana wanita.” Ahkam menatap Dylan tajam.
“Haliza tidak pernah berbasa basi. Dia memang sangat pengertian.”
Ahkam bergerak maju ingin menarik krah baju Dylan tetapi ditahan oleh Haliza.
__ADS_1
“Sudahlah. Kita saling mengenal dengan baik. Tanpa sengaja bertemu. Kebetulan. Kita makan bersama. Kau tidak boleh kasar begitu.” Sahut Haliza pada Ahkam.
Wajah Ahkam tertekuk mendengar jawaban Haliza. Menggandeng kedua buah hatinya mendahului keduanya yang berjalan di belakangnya.
“Dari kapan kau di Lombok?” Tanya Haliza.
“Baru saja sampai.”
“Baru sampai dan kau langsung ke sini?”
“Yeah. Pantai ini terkenal indah dan unik.”
“Yeah, pasirnya berwarna pink seperti garam Himalaya.”
“Yeah.”
Ahkam berjalan menggandeng kedua anaknya menuju warung makan Tangsi. Mereka duduk di meja makan kayu yang dikeliling kursi plastik.
Ahkam diapit kedua anaknya sedangkan Dylan dan Haliza duduk di hadapannya.
“Kau saja yang pesan makanan.” Pinta Ahkam pada Haliza.
Haliza meneliti daftar menu. Memesan nasi putih di bakul. Ikan bakar dengan sambalnya. Lobster, udang dan cumi bakar. Air kelapa dalam batok untuk mereka semua. Masing-masing satu.
“Kau sendirian ke sini. Tidak bersama anak-anak?” Tanya Haliza memecah keheningan.
“Mereka sedang di rumah Sinta. Aku sendirian di rumah. Memutuskan jalan-jalan sendiri ke sini.”
“Yeah, Lombok memang pilihan yang sangat tepat untuk berlibur.”
“Apalagi liburan keluarga!” Tukas Ahkam ketus.
“Apa rencana kalian hari ini?” Tanya Dylan. Tidak menanggapi rasa kesal Ahkam.
“Snorkling.”
“Kebetulan aku juga suka snorkling.”
“Aku tidak mengajakmu bergabung. Kau bisa snorkling seorang diri.” Ujar Ahkam dengan nada tajam.
“Kau tidak boleh kasar begitu.” Sahut Haliza pada Ahkam, “ kau bisa bergabung bersama kami. Kalau kau mau.”
“Terima kasih.” Dylan mengembangkan senyumnya, “apa rencana kalian besok?”
“Kami bermaksud akan ke Gili Trawangan.”
“Kudengar tempatnya sangat indah.”
“Yeah, menggunakan boat ke sana.”
“Sepertinya aku ingin bergabung bersama kalian semua.” Ujar Dylan.
Ahkam menekuk wajahnya. Hatinya sangat dongkol melihat Dylan merusak liburannya bersama Haliza dan anak-anak mereka.
“Sejak awal, aku tidak pernah menawarkan kau bergabung bersama kami. Sebelum kami bercerai. Kami biasa mengajak anak-anak menikmati liburan keluarga sesekali. Kami tidak ingin anak-anak merasa bahwa perceraian kami membuat kami mengabaikan tradisi liburan yang sudah ada sebelumnya.”
“Baiklah kalau begitu…” Ujar Dylan.
Ahkam memandang wajah Dylan dengan perasaan lega. Sepertinya tidak sia-sia dirinya berterus terang.
“Terima kasih atas pengertianmu.” Sahut Ahkam dengan wajah datar.
“Jam berapa kita akan berangkat besok?” Tanya Dylan.
__ADS_1