
Senggigi adalah tempat yang terkenal di Lombok. Terutama pantainya. Banyak pantai indah di Lombok. Salah satunya adalah Senggigi yang terletak di sebelah Barat pesisir pulau Lombok.
Objek wisata pantainya ciamik. Apalagi, pasir putih dan sunsetnya berlatar belakang siluet Gunung Agung, Bali.
Pantainya tidak sebesar Kuta. Tetapi sejenak wisatawan akan berada di Kuta. Disana sini terlihat mereka yang sedang snorkling atau menikmati pantai seperti mereka berdua.
“Tempat ini sangat indah. Sayang kalau tidak menginap disini.” Ujar Dylan.
“Apakah Ahkam tidak keberatan jika aku menginap disini?” Tanya Haliza ragu.
“Kalian sudah bercerai. Kau tidak harus minta persetujuannya.”
“Yeah, aku tahu tetapi aku tidak ingin meyinggungnya.”
“Buat apa dia tersinggung? Kau bukan istrinya. Kalian sudah memiliki kehidupan masing-masing.”
“Ahkam suka ngambek.”
Dylan meraih tangan Haliza. Menatapnya dalam.
“Kau bukan istrinya. Kalian sudah memiliki kehidupan masing-masing. Harus saling menghargai kehidupan serta privasi masing-masing.”
“Ya, kau benar. Berhubungan baik bukan berarti saling melanggar batas.”
“Yeah. Jika kita menikah nanti. Aku tidak ingin kau tergopoh-gopoh mendatangi rumahnya. Mengurusinua seperti kau mengurusiku.”
Haliza tertawa.
“Aku senang melihatmu tertawa walaupun mesti membayarnya dengan rasa sakit hati.” Sambung Dylan.
Haliza semakin tergelak.
“Kupikir, hanya Ahkam saja yang bisa ngambek.”
“Kau tidak sensitif. Bagaimana tidak ngambek. Kau harus tegas mengambil batas. Atau kau tidak bisa melanjutkan kehidupanmu dengan sehat.”
“Tapi kau tidak keberatan kan seandainya, Syarifah dan Syarif tinggal bersama kita.”
“Aku sudah menganggap mereka seperti anak-anak kandungku. Tentu saja, aku tidak keberatan selama bukan Ahkam yang tinggal bersama kita. Apalagi berbagi kamar denganku!”
Kontan tawa Haliza pecah. Air matanya nyaris mengalir.
“Mengapa dia harus sekamar denganmu?” Tanya Haliza dengan susah payah di tengah tawanya.
“Entahlah, mungkin kau ingin bersama anak-anak. Kau memintaku menemani Ahkam.”
“Berhentilah berlaku konyol!”
“Mulai sekarang, kau harus membiasakan diri dengan perceraianmu. Kalau tidak, akan ada serangkaian kejadian konyol juga mungkin drama.”
“Tetapi aku tetap harus memberitahukannya kan kalau ingin menginap disini?”
“Yeah, tentu. Nanti dipikir kau hilang atau diculik atau kawin lari denganku.”
Haliza menelpon Ahkam.
“Aku ingin menginap di Senggigi. Disini sangat indah.”
“Kau bersama Dylan?” Ujar Ahkam dengan nada tidak suka.
__ADS_1
“Kita sudah bercerai. Tidak seharusnya, mencampuri urusan pribadi masing-masing.”
“Yeah, kau benar. Tetapi aku sendiri tidak membawa Hana supaya kita bisa menikmati suasana liburan keluarga seperti dulu. Jangan salah paham. Demi anak-anak. Sedangkan kau malah berjalan-jalan dengan Dylan.” Dengus Ahkam.
“Kita tidak sengaja bertemu Dylan disini. Kau membuatku kesal serta tidak nyaman menghabiskan liburan bersamamu. Agar moodku membaik. Sebaiknya aku menjauh serta menyegarkan diriku.”
“Whatever! Seperti yang kau katakan kita sudah bercerai. Kau bebas melakukan apa pun yang kau suka.”
“Terima kasih atas pengertianmu.”
“Anak-anak juga sepertinya sangat menyukai Gili Trawangan. Sepertinya kami juga akan menginap disini.”
“Baiklah kalau begitu.”
“Baiklah. Have fun…”
“Kau juga…”
Mereka saling menutup telepon. Haliza memandang wajah Dylan dengan pandangan bimbang.
“Apalagi?”
“Gak ada apa-apa…”
“Wajahmu tidak menampakkan seperti itu.”
“Aku merasa bersalah. Seharusnya saat ini menjadi liburan yang mengesankan bagi anak-anakku. Mereka pasti merindukan saat-saat kami berlibur bersama dulu.”
“Anak-anak kalian memiliki kalian berdua. Jangan berlebihan. Kau tidak perlu memaksakan diri kalau sedang tidak nyaman. Untuk kebaikan anak-anakmu juga.”
“Kau benar.” Haliza mengembangkan senyumnya ke arah Dylan dengan pandangan berterima kasih.
Setelah memesan kamar. Mereka kembali melanjutkan menikmati suasana Senggigi yang indah. Sambil berbelanja pakaian karena mereka tidak membawa pakaian satu helai pun. Semua ditinggal di hotel.
Mereka berjalan menapaki pinggiran pantai dengan kaki telanjang. Menikmati suasana pantai juga angin yang bertiup sepoi-sepoi.
“Aku berada di persimpangan.” Ujar Haliza.
“Yeah, aku tahu.”
“Aku dan Ahkam pernah berjanji untuk selalu bersama sampai tua. Hingga maut memisahkan.”
“Tidak ada janji seperti itu di akad nikah bukan?”
“Tidak ada. Tapi kami bermaksud menikah sekali seumur hidup.”
“Tetapi Hana berada di tengah kalian berdua. Pernikahan kalian karam. Aku, Calista, Sapphire dan Keanu menginginkan kau menjadi bagian keluarga kami. Sinta sudah berbahagia dengan Dean. Ahkam sudah menemukan Hana. Apakah kau yakin akan berbahagia bersama Ahkam dan Hana?”
“Bagaimana menurutmu?”
Dylan menghentikan langkah kakinya. Menggenggam tangan Hana dengan mesra. Mengelusnya.
“Kadang bertiga terlalu sempit di dalam pernikahan. Aku pernah berada di dalam posisimu. Saat aku belum melepaskan serta mengikhlaskan Sinta. Rasanya sangat sakit. Pedih. Perih. Menjadi bayangan di dalam hubungan mereka berdua. Kau membuatku menemukan makna dalam hidupku yang baru. Tidak ada Sinta juga Dean. Hanya kau dan aku. Tidak juga Ahkam maupun Hana.”
“Berikan aku waktu…”
“Take time as much as you want…”
“Thank you…”
__ADS_1
Mereka memesan dua gelas tuak manis dan sate bulayak.
“Bagaimana perasaanmu saat kau terpisah dari Sinta?” Tanya Haliza saat mereka menunggu makanan serta minuman yang mereka pesan disiapkan.
“Tentu saja sangat sedih. Aku merasa hidupku sudah berakhir.”
“Aku juga merasa seperti itu.” Ujar Sinta mengakui.
“Keluarga kami sangat berbahagia serta harmonis. Kau bisa bayangkan. Tidak ada masalah sama sekali. Tiba-tiba Dean merengutnya dariku dan anak-anak.”
“Kau menikahinya saat dia masih berstatus istri Dean.”
“Saat itu kami merasa tidak memiliki pilihan lain. Dengan kematian palsu Sinta. Semua kehidupannya berakhir termasuk pernikahannya dengan Dean. Semua terjadi di luar dugaan. Dean tidak mau melepaskannya walaupun kami sudah memiliki tiga buah hati.”
“Apakah dia ingin menghukum kalian?”
“Entahlah. Mungkin saja tetapi bisa juga karena dia mencintai Sinta. Mungkin keduanya. Entahlah. Hubungan kami sudah baik sekarang. Aku tidak ingin merusaknya dengan hal-hal yang sudah tidak relevan lagi.”
“Yeah, kau benar. Apalagi saat ini mereka tengah menantikan buah hati mereka yang kedua. Emier juga anak yang nyaris sempurna. Tidak hanya tampan. Anak itu tumbuh dengan sangat baik, pintar serta lembut.”
“Yeah, awalnya anak-anakku tidak ada yang menyukainya. Mereka mencemburuinya tetapi saat ini. Mereka semua mencintainya.Emier sangat lembut serta baik tidak pernah membalas apalagi mempermasalahkan apa yang diperbuat kakak-kakaknya padanya. Dia juga sangat mencintai ibunya. Aku nyaris menangis mendengar bagaimana Sinta memperlakukannya. Sebelum Sinta berkumpul dengan semua anak-anaknya.”
“Yeah, Emier anak yang sangat istimewa juga luar biasa. Sejak kapan kau menyukainya?”
“Sejak pertama kali mengenalnya. Aku seperti mengenal Sinta dalam bentuk yang lain.”
“Yeah.”
“Gantian kau yang bercerita.” Ujar Dylan menarik minuman yang diantarkan ke meja mereka.
“Ini sangat manis juga segar.” Ujarnya sambil meminum minumannya. Mengambil setusuk sate. Mengunyahnya. Menusuk dengan sepotong lontong khas Lombok.
“Kau makan dan minum sedangkan aku bercerita? Bagus…” Ujar Sinta diikutin gelak tawa Dylan.
“Bukankah itu sempurna? Makan minum sambil mendengar ceritamu?”
“Aku kelaparan, kehausan serta harus ditambah dengan bercerita?”
“Ya sudah makan dan minum dulu bagaimana?”
“Aku cuma bercanda. Aku bisa bercerita sambil makan dan minum.”
“Kau akan bercerita dengan mulut penuh makanan. Sambil meneguk minumanmu?”
“Tentu tidak. Baiklah. Aku akan menceritakan saat Ahkam berpaling dariku. Menikahi Hana. Dunia rasanya runtuh. Aku tidak percaya. Dia adalah ayah serta suami yang baik. Bahkan setelah kami sudah bercerai. Dia masih sangat memperhatikanku dan anak-anak. Tentu aku sangat sedih saat kehilangan Ahkam. Seperti yang kau katakan hidup seakan berhenti berputar. Aku sangat membenci Hana serta sakit hati.”
__ADS_1