
Sinta dan Callista sedang berkuda bersama. Menyusuri pepohonan dan bukit yang sejuk serta sangat indah.
Seekor kuda putih keemasan yang sangat gagah menemani mereka menghabiskan waktu di kaki pegunungan Alpen yang sangat memukau.
Kuda tersebut kesayangan mereka berdua. Selain warnanya yang sangat indah. Derapnya juga sangat gagah. Mereka memberinya nama Silver White.
Tubuhnya yang berwarna broken white keemasan berpadu dengan surainya yang berwarna keperakan.
Mereka melihatnya di pelelangan kuda. Keduanya langsung jatuh cinta melihatnya. Meminta Dylan untuk membelinya.
"Biasanya kalian berdua sangat suka bersiteru tetapi kali ini sangat kompak sekali." Dylan tertawa melihat polah isteri dan anaknya.
"Dia sangat bagus, pa. Aku sangat menyukainya." Sahut Callista setengah merajuk.
"Kau lihat surainya yang berwarna keperakan? Sangat indah bukan?" Timpal Sinta.
"Yeah, mom. Dia keliatan sangat cute." Kembali Callista menimpali ucapan ibunya.
"Kalian berdua perayu ulung. Sebelum memutuskan membeli sebaiknya kita tanyakan dulu harganya."
Dylan mendekati penjual sekaligus pemilik kuda. Berbincang sebentar kemudian kembali kepada anak dan isterinya.
"Jenis kuda Akhal Teke. Berasal dari Turkmenistan. Disebut juga sebagai kuda titisan dari surga. Jenis kuda pacuan. Harganya…."
"Yeah!" Sahut Callista dan Sinta nyaris bersamaan.
"Kita belum pernah membeli kuda jenis itu kan?" Sahut Sinta diikuti anggukan kepala Callista.
"Kita belum pernah membeli karena harganya mahal, sayang. 1,4 miliar."
"Tapi dia sangat cantik, sayang."
"Yeah, pa, aku sangat menyukainya."
"Tapi harganya mahal sekali. Lebih baik kita beli yang biasa saja. 712 jutaan."
Wajah Callista nyaris menangis. Sinta mengelus-ngelus punggung kuda tersebut juga kepalanya.
"Kalian jangan seperti itu."
"Memang kami kenapa? Kau tidak ingin membelinya, no prob!" Sahut Sinta. Sambil menciumi kuda tersebut.
"Mengapa kau tidak ingin membelinya. Apakah kau tidak suka melihat surai dan warna tubuhnya?" Sahut Callista dengan air mata meleleh di kedua belah pipinya.
"Kuda kita sudah cukup banyak. Tidak perlu menambah lagi. Apalagi harganya semahal itu."
"Tapi kudanya ini sangat cute. Aku belum pernah melihat yang seperti ini. Kebanyakan kuda kita berwarna coklat, hitam dan coklat muda. Tidak ada yang berwarna putih apalagi dengan surai berwarna keperakan." Callista menangis menciumi kuda tersebut. Memeluknya sangat erat.
"Sebaiknya kita pergi dari sini." Sahut Dylan melihat Sinta dan Callista seperti tidak ingin melepaskan kuda tersebut.
"Biarkan kami mengelus dia. Boleh kan? Apa kau bisa meminta ijin pada pemiliknya agar kami boleh mengendarainya?"
"Baiklah. Akan kutanyakan tetapi kalian berjanji untuk menahan diri tidak membelinya."
Keduanya menganggukkan kepalanya.
Pemilik kuda mengijinkan keduanya mengendarai kuda tersebut. Mereka berdua tampak sangat bahagia mengendarainya. Meminta Dylan mengambil foto bersama kuda tersebut.
"Buat kenang-kenangan."
__ADS_1
"Yeah, mom."
"Mengapa kau tidak membelikan anak dan isterimu kuda tersebut? Mereka tampak sangat menyukainya?"
"Kami sudah memiliki enam ekor kuda. Kupikir sudah cukup."
"Mereka berdua pecinta kuda?"
"Sangat! Mereka bisa berselisih tentang apa pun tetapi tidak dengan kuda."
"Mengapa kau tidak membelikan mereka. Apa yang menahanmu?"
"Harganya sangat mahal. Aku biasa membeli kuda dengan range harga mulai 356 juta sampai 720 juta. Morgan, Clydesdale, Selle Franais dan Dutch warmblood."
"Memang itu harga pasarannya. Jika kudiskon 1,2 miliar maukah kau membelikannya untuk mereka berdua?"
"Benarkah?"
"Yeah! Kupikir kuda itu sudah menemukan pemilik sejatinya."
"Terima kasih! Kau sangat baik sekali."
Pemilik kuda itu tertawa"It's my pleasure."
Sinta dan Callista senang bukan kepalang mengetahui bahwa Dylan membelikan kuda tersebut untuk mereka berdua.
Mereka sepakat menamakannya Silver White melihat warna tubuhnya yang berwarna broken white keemasan dengan surainya berwarna keperakan.
Sinta dan Callista sangat suka mengendarai Silver White. Mereka berjalan-jalan di sekitar pegunungan Alpen dengan mengendarai Silver White.
Mereka membawa bekal dari rumah. Ketika lapar, mereka berhenti untuk menikmati bekal yang mereka bawa dari rumah.
"Baiklah, kita berhenti dulu sejenak." Sinta menurunkan Callista dari kuda. Mengambil bekal yang dibawanya di dalam tas ranselnya.
Sebotol air jeruk. Sebotol air mineral. Satu kotak roti sanwich isi daging kalkun kesukaan Callista. Satu kotak berisi kue tart coklat kesukaan mereka berdua.
Sinta menghamparkan kain yang dibawanya dari rumah. Menghamparkan makanan dan minuman yang dibawanya.
Callista terlihat sangat haus juga lapar. Dia meneguk minumannya hingga tandas dan juga mengunyah makanannya dengan lahap.
Menghabiskan satu tangkup sandwich kalkunnya dengan satu potong tart coklat. Membuat mulutnya belepotan coklat. Membuat Sinta tertawa melihatnya.
"Mom! Jangan menertawaiku!"
"Kau sangat lucu, sayang!"
"But it's not funny for me. How rude are you!"
"I am sorry, honey!" Sinta dengan susah payah menahan tawanya tetapi gagal. Tetap terpingkal melihat pipi putrinya belepotan coklat.
"Mom!"Teriak Callista sangat kesal,"You are not sensitive!"
"I am sorry, honey." Sinta berusaha menghentikan tawanya. Berselang beberapa menit kemudian. Tawanya kembali meledak. Kali ini lebih keras lagi.
"Mom! I hate you! It's not funny!"
Ketika Dylan dan Sinta bersiap untuk tidur. Sinta mengutarakan rencananya pada suaminya.
"Kupikir sebaiknya kita memberikan Callista, adik. Supaya dia tidak terlalu menuntut perhatian."
__ADS_1
"Memang kau sudah siap hamil lagi?"
"Callista sudah disapih dan usianya juga sudah hampir tiga tahun. Kupikir kalau aku hamil lagi. Aku bisa menyusui adiknya dengan tenang. Karena dia sudah disapih."
"Kupikir itu ide yang sangat bagus."
Selang dua bulan kemudian. Sinta kembali hamil. Callista juga Dylan sangat senang dengan kehamilan tersebut.
"Aku akan punya adik." Sahut Callista riang.
"Kau ingin adik lelaki atau perempuan."
"Perempuan!"
"Mengapa?"
"Aku ingin mengajaknya bermain boneka. Masak-masakkan."
"Kalau kau ingin jadi kakak. Harus belajar sabar mulai sekarang. Jangan suka marah, ngambek dan merajuk."
"Yeah!" Sahut Dylan," Kau harus memberikan contoh pada adikmu."
"Aku sendiri kan masih kecil."
"Tapi anak kecil juga kan gak boleh marah dan ngambek terus."Sahut Sinta menggoda anaknya.
"Kapan adek lahir?"
"Baru juga adek ada di perut mama. Masak sudah ditanya lahir kapan?"
"Aku udah gak sabar mau lihat adek. Mau main sama adek."
"Sambil menunggu adek lahir. Belajar sabar. Kalau papa kerja ke Indonesia, tidak marah-marah dan minta ikut."
"Kalau sudah ada adek. Kamu masih mau ikut papa ke Indonesia? Buat apa punya adek kalau ditinggal-tinggal. Sebaiknya, kita batalkan saja, ma."
"Jangan!"
"Kalau nanti papa mau kerja ke Indonesia. Callista masih minta ikut?"
"Nggak!"
"Janji?"
"Janji!"
"Kalau kau tidak menepati janjimu. Kita keluarin lagi adrk dari perut mama, ya?"
Cara itu sangat efektif menghilangkan drama Callista yang selalu terjadi setiap papanya akan kembali bekerja ke Indonesia.
Dylan tidak lupa memuji Callista melihat perubahan sikapnya yang manis.
"Ma, sepertinya Callista memang sudah siap jadi kakak. Sudah jarang marah-marah. Sudah tidak minta ikut lagi kalau papa mau kerja ke Indonesia. Adeknya jangan dikeluarin dari perut mama ya?"
"Oh tentu, pa. Gak usah khawatir! Terima kasih ya, Callista udah berusaha jadi kakak yang baik."
Callista tersenyum bangga. Senyum tersungging di bibir mungilnya. Berkata perlahan.
"Aku kan mau jadi kakak!"
__ADS_1