Mawar Berhati Baja

Mawar Berhati Baja
Bounding


__ADS_3

Sinta mengajak Emier mampir ke apartement Dylan. Bermaksud memberikan hadiah pertunangan untuk keduanya.


“Kau mau kan mengantar bunda ke apartement kakak Callista?”


Emier mengangguk senang.


“Menurutmu, apa hadiah yang akan kita berikan untuk pertunangan papanya kakak  Callista?”


“Bagaimana kalau mukena, sajadah dan sarung?”


“Anak pintar!” Sinta mengembangkan senyumnya.


Emier memandang takjub pada senyum dan sikap bundanya yang berubah sangat manis dan hangat.


Emier memeluk bundanya. Sinta mengusap lembut kepala putra semata wayangnya.


Pertunangan Dylan melepaskan banyak beban di dalam dirinya. Rasa bersalah muncul kepada Emier karena bersikap terlalu keras. Semua karena ketidakberdayaannya sebagai seorang ibu. Memberikan kebahagiaan yang sama pada semua anak-anaknya.


Sinta mengecup pucuk kepala Emier.


“Kau ingin makan ice cream kesukaanmu?”


Emier mengangguk senang. Walaupun bundanya sering bersikap keras padanya. Tapi bundanya mengetahui apa pun tentangnya. Apa yang dia sukai dan tidak dia sukai.


Mereka berjalan memasuki mobil yang akan mengantarkan mereka.


“Kita mampir ke toko ice crem dulu ya pak.”


Supir melajukan kendaraannya menuju toko ice cream kesukaan Emier.


Keduanya menuruni mobil dan berjalan menuju toko ice cream tersebut.


Emier memesan ice cream coklat chips kesukaannya dengan lava cake. Mulutnya belepotan dan bundanya tertawa melihatnya.


Emier merasa takjub dengan semua perubahan sikap bundanya. Tidak selalu marah seperti sebelumnya.


“Bunda tidak marah melihat wajahku belepotan?”


Sinta menggelengkan kepalanya, “Mengapa harus marah? Wajahmu tampak lucu. Kau ingin memesan milk shake coklat kesukaanmu?”


Emier menganggukkan kepalanya. Sinta memesankan segelas milkshake coklat kesukaan putranya.


Sinta memesan kue coklat buat kedua putrinya. Korean choux buat Keanu. Ice cream Neapolitan buat mereka bertiga. Sedangkan untuk Emier, Sinta memesan lava cake dan ice cream chocolate chips kesukaannya.


“Banyak sekali memesan kue dan ice cream.” Ujar Emier dengan kumis milkshake di kedua sudut bibirnya.


“Kita akan lama berkunjung. Jika mereka semua makan kue dan ice cream memang kau tidak mau?”


“Mau dong! Apalagi aku sangat suka ice cream chocolate chips dengan lava cake.”


“Yeah!” Sahut Sinta penuh kasih sayang menghapus bekas kumis milkshake dan noda belepotan di pipi Emier.


Emier mencium dan memeluk ibunya. Dirinya merasa bahagia. Ibunya berubah menjadi seseorang yang tidak dikenalnya. Tetapi dia sangat menyukai sosok lain dari ibunya tersebut. Baik, lembut dan hangat.


Berbeda dengan keseharian ibunya yang dikenalnya sejak kecil. Galak, dingin dan keras.


Sinta membayar pesanan makanannya. Membawa kotak makanan dan ice cream yang dipesannya.


Emier mengikuti langkah kaki ibunya menuju mobil. Bergelayutan di sisi ibunya.


Semua makanan dan ice cream di taruh di sisi mobil. Sedangkan sisi lainnya ditempati Sinta dan Emier yang menempel erat padanya. Sinta memeluk dan membelai rambut putra semata wayangnya.


Mereka menuju langganan boutique ibunya. Turun di pelataran parkir di depan boutique yang menyerupai rumah.


Membeli sajadah, mukena dan sarung. Dikemas dengan elegan.


“Apakah menurutmu warnanya bagus?” Tanya Sinta pada Emier.

__ADS_1


Emier menganggukkan kepalanya.


Setelah membeli hadiah yang dikemas dengan sangat elegan. Keduanya kembali menuju mobil dan berangkat menuju apartement Dylan.


Emier membantu ibunya membawakan barang-barang. Mereka memencet bel. Callista membuka pintu. Wajahnya berkerut melihat kedatangan ibu dan adik sambungnya.


“Untuk apa kalian kemari?” Tanyanya dengan wajah jutek.


“Aku membawa hadiah untuk ayah dan ibu sambungmu.”


“Papa sedang tidak ada.”


“Aku juga membawakan cake dan ice cream.”


Sinta meletakkan kue yang dibelinya di meja makan. Memasukkan ice cream ke freezer.


“Kau masih marah padaku?” Tanya Sinta dengan wajah sedih.


“Aku belum bisa memaafkanmu.”


“Kita akan menjadi keluarga baru. Setidaknya berdamai dengan keadaan.” Ujar Sinta.


“Mudah bagimu mengatakan. Kau tahu semua berubah menjadi kelabu saat kau pergi meninggalkan kami semua. Berubah menjadi mimpi buruk.” Suara Callista tercekat.


Emier hanya mendengarkan. Dia tidak ingin membuat marah keduanya. Dia juga tidak mengerti apa yang mereka bicarakan.


Emier mengambil piring kue beserta sendok kecil. Memindahkan cake coklat. Menggeser kursi kayu yang ada di peninsula dapur. Menggesernya ke depan kulkas. Membuka freezer dan mengambil kotak ice cream.


Mengembalikan bangku ke tempat semula. Dapur tersebut selain di lengkapi meja makan yang bersebrangan. Juga dilengkapi dengan peninsula.


Emier membawa piring yang berisi kue dan ice cream ke ruang keluarga dimana Callista dan Sinta berbicara.


“Ini untukmu.” Emier mengangsurkan piring yang dipegangnya kepada Callista.


“Kau berusaha mengambil hatiku?” Ujar Callista ketus. Matanya memandang Emier dengan rasa benci.


“Dia hanya berusaha baik kepadamu. Kau kakaknya. Emier tidak memiliki saudara. Biasa kesepian. Aku dan ayahnya sibuk bekerja dengan urusan masing-masing.”


“Entahlah! Aku merasa dia berusaha mencari muka. Aku tidak suka!”


“Dia tidak pernah mencari muka. Aku tidak pernah mengajarkan semua anak-anakku seperti itu. Tanpa terkecuali. Apa yang kalian ekspresikan berasal dari hati."


“Kau membelanya?”


“Aku bukan membelanya. Aku hanya berusaha mengatakan apa adanya.”


“Aku senang memiliki saudara. Kuharap kita semua bisa menjadi saudara.”Ujar Emier memberanikan diri untuk mengeluarkan suaranya.


“Keanu membencimu. Karena kau, mama meninggalkan kami semua.”


“Sayang, tidak ada hubungannya dengan Emier. Aku tidak bisa mengatakannya sekarang. Kau belum bisa mengerti. Berdamailah dengan keadaan. Kumohon!” Sinta berusaha membelai punggung putrinya. Ditepis dengan kasar oleh Callista.


“Jangan menyentuhku!”


Sinta menahan tangannya, “Baiklah. Mana Sapphire dan Keanu?”


“Bersama Syarif dan Ibu. Sapphire les balet sedangkan Syarif dan Keanu ekstrakurikuler sepak bola.”


“Kalian memanggilnya ibu?”


“Yeah.”


“Kalian mendapatkan ibu yang lebih baik dariku. Tetapi bagaimana pun. Aku adalah ibu kandung kalian. Aku ingin kita semua bisa berhubungan baik. Saling menyayangi sebagai keluarga.”


“Yeah! Ibu sangat menyayangi kami semua. Mengobati luka kami semua. Luka yang kau torehkan terlalu dalam. Butuh waktu. Aku tidak bisa menjanjikan apa pun.”


“Kita pernah memiliki kenangan sangat indah sebagai keluarga.” Cairan bening menetes dari kedua sudut mata Sinta. Hatinya terluka sebagai seorang ibu. Melihat kebencian Callista kepadanya.

__ADS_1


Emier memeluk bundanya. Matanya memanas melihat kesedihan yang mewarnai raut wajah bundanya.


Sinta membalas pelukan Emier, “Aku menyayangi kalian semua. Aku tidak mungkin membenci apalagi melupakan kalian semua.”


“Jangan menjual kesedihanmu. Ketulusan tidak bisa dipaksakan. Kami menerima ibu sebagaimana adanya. Tanpa drama. Suami ibu menikah lagi dengan wanita yang jauh lebih muda. Hanya selisih beberapa tahun denganku dan Syarifah. Apakah ibu bertingkah sepertimu?”


Sinta mengusap air matanya, “Maafkan aku. Tetapi sangat menyayat hatiku. Anak-anak yang aku sayangi dan menyayangiku berubah menjadi membenciku.”


“Seandainya kau ada di posisi kami. Kau akan membenci atau menyayangi kami?”


“Berulang kali. Aku meminta maaf. Aku tidak bisa memperbaiki yang sudah terjadi tetapi di masa depan. Kita bisa memperbaiki hubungan kita sebagai keluarga. Berdamai dengan keadaan.”


Sinta memberanikan diri memeluk bahu Callista. Air matanya jatuh menetesi punggung putri sulungnya.


Callista memejamkan matanya. Kebenciannya bercampur dengan rasa sayang terhadap ibunya. Bagaimana pun mereka memang pernah melalui masa indah sebagai keluarga.


“Aku takut kau menyakiti kami lagi.” Ujarnya dengan suara tercekat.


“Aku tidak akan kemana-mana. Akan selalu bersama kalian semua. Walaupun tidak seperti dulu. Aku dan ayahmu sudah memiliki keluarga yang baru. Sehingga tidak mungkin kita bisa seperti dulu. Tetapi hubungan baik sebagai keluarga tetap bisa terjalin.”


Callista meletakkan piring kue yang dipegangnya. Membalikkan badannya memeluk erat ibunya.


“Ma! Aku sangat merindukanmu!” Air matanya tumpah. Sinta mengelus bahu dan punggung putrinya. Kedua ibu dan anak tersebut saling bertangisan.


“Everyday and second, I miss all of you, sweety...” Sahut Sinta dengan suara lirih.


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


... ...


... ...


__ADS_2