Mawar Berhati Baja

Mawar Berhati Baja
Charmed


__ADS_3

Kelahiran si kembar membawa kebahagiaan yang berlimpah bagi sekelilingnya.


Emier menatap dengan wajah berbinar kedua adik kembarnya yang berlainan jenis.


“Wow! Kau menjadi seorang kakak dari dua orang adik kembar sekaligus.” Ujar Hapsari saat menemani Emier melihat kedua adik kembarnya di rumah sakit.


Emier menganggukkan kepalanya. Melihat dengan takjub kedua adiknya yang tengah tertidur lelap di dekat pembaringan ibunya.


“Mereka baru saja selesai menyusui.” Sahut Sinta, “sebentar lagi, suster akan membawa mereka berdua ke kamar bayi. Jika kalian belum puas melihatnya. Bisa melihat di kamar bayi.”


Emier menganggukkan kepalanya. Sambil terus menciumi adik bayi kembarnya bergantian.


“Yang memakai bedong pink sepertinya lebih kecil.” Ujar Emier.


“Yeah, itu adik perempuanmu. Beratnya hanya 2,5 kg sedangkan yang satunya, lelaki beratnya 3 kg.” Terang Sinta, “kupikir sebaiknya aku membersihkan tubuhku. Sudah lewat enam jam. Aku bisa turun dari tempat tidur. Tubuhku terasa lengket. Tolong jaga Emier dan kedua bayiku, Hapsari.”


Hapsari menganggukkan kepalanya. Dean sendiri perlu keluar mencari makanan.


Melihat kedatangan Hapsari dan Emier. Membuatnya bergegas keluar kamar perawatan untuk mencari angin segar sembari mencari makanan untuk mereka semua.


Kamar Sinta mulai dipenuhi oleh anak-anaknya dari pernikahannya dengan Dylan.


Mereka datang bersama Dylan dan Haliza. Sedangkan Syarifah dan Syarif datang bersama ayah mereka juga Hana.


Kamar VVIP Sinta sangat luas sehingga cukup untuk menampung mereka semua.


Sehabis membersihkan diri. Sinta berjalan menuju tempat tidurnya. Callista, Sapphire dan Keanu memeluk serta menciumnya.


“Congrats mom! Mereka sangat lucu dan very cute.” Ujar Callista memeluk serta mencium ibunya dengan mesra.


“Terima kasih, sayang...” Ujar Sinta sambil membelai bahu Callista.


“Aku tidak percaya memiliki adik perempuan.” Ujar Sapphire dengan wajah berbinar,”thanks mom!”


Sinta membalas pelukan Sapphire dengan hangat, “aku senang kau menyukainya.”


“Tentu saja! Sangat! Aku rela menukar Callista dengan mereka.” Ucap Sapphire disambut gelak tawa ayah serta saudara-saudaranya.


“Awas kalau kau merengek minta tolong mengajari prmu.”


“See mom! Dia suka mengancamku! Lebih baik kutukar engkau dengan ...Siapa nama mereka?” Tanya Sapphire.


“Emilia dan Emil, Bashra Hakim.” Jawab Sinta.


“Mereka memiliki nama tengah dan akhir yang sama dengan Emier.”

__ADS_1


“Yeah.” Kata Sinta.


Keanu memeluk serta mencium ibunya dengan hangat,”aku senang kau memberikanku tiga orang adik sekaligus. Aku senang menjadi kakak. Memiliki Emier dan si kembar. Thanks, mom!’ Ujarnya.


Sinta mencium kening putranya. Memeluk bahunya dengan erat. Matanya mengaca. Dirinya kerap merasa bersalah setiap kali melihat Keanu. Karena ketidakhadiran dirinya, membuat putranya nyaris tewas.


Dengan suara bergetar berkata dengan lembut, “aku senang kau menyukainya. Kau kakak yang sangat baik. Emier sangat menyukaimu.”


Keanu dan Emier mengajak ngobrol serta menciumi si kembar bergantian. Perawat memasuki ruangan bermaksud untuk mengambil kedua bayi untuk dibawa ke kamar bayi.


“Boleh kah mereka berada disini? Seluruh keluargaku ingin menghabiskan waktu bersama mereka berdua.” Pinta Sinta.


Perawat melihat ke arah Sinta dan berkata, “tidak lebih dari satu jam.”


“Itu sudah cukup. Terima kasih.” Sahut Sinta dengan pandangan terima kasih.


“Baiklah. Satu jam lagi kujemput mereka untuk kubawa ke kamar bayi.”


“Terima kasih...”


“Kita akan menjaga serta mengajak mereka berdua bermain.” Ujar Keanu pada Emier. Diikuti anggukan kepala Emier.


“Kita bisa menggendongnya satu orang satu. Bergantian.” Ujar Emier lagi diikuti anggukan setuju Keanu.


“Aku ingin bermain dengan baby pink. “ Ujar Sapphire.


“Semua bayi memang seperti itu matanya selalu tertutup. Nanti kalau sudah lebih besar baru bisa terbuka dan melihat.” Ujar Sapphire bergabung bersama Emier dan Keanu.


Callista memilih mengobrol bersama Syarifah dan Hapsari sedangkan Syarif memilih menempel pada ayahnya.


Hana sendiri bergabung dengan Sinta dan Haliza.


Dean memasuki ruangan dengan membawa dua kardus besar berisi makanan dan minuman.


“Aku membeli makanan dan minuman untuk kalian semua. Kalian pasti belum makan kan?” Ujar Dean dengan sumringah.


“Rencananya sehabis dari sini kami mampir ke tempat makan.” Ujar Ahkam.


“Aku juga sudah memasak makanan yang tinggal dihangatkan di mikrowave. Sesampainya di rumah setelah menjenguk si kembar.” Sahut Haliza.


“Lebih baik kita makan bersama.” Sahut Dean sembari membagikan kotak makanan beserta minuman.


“Aku juga membelikan untukmu satu.” Ujar Dean menatap istrinya dengan mesra.


“Buat apa kau membelikanku makanan? Nanti siapa yang akan memakan makanan dari rumah sakit.”

__ADS_1


“Kau kan menyusui. Nanti juga lapar lagi.” Ujar Dean tergelak, “aku akan menemanimu makan tengah malam . Yang menunggui kan juga dapat jatah makan.”


“Baiklah. Terima kasih. Tapi memang perutku sudah mulai lapar lagi.” Sahut Sinta menerima box makanan yang disodorkan padanya.


“Kalian semua harus hadir ya pada acara aqiqah si kembar.” Ujar Dean.


“Yeah, tentu tidak usah khawatir. Lihat saja kamar ini menjadi sangat penuh dengan kehadiran kita semua.” Sahut Dylan.


“Kami senang kalian semua mau hadir. Tenang saja kamar ini sangat luas. Masih bisa menampung dua puluh orang lagi.” Ujar Dean tergelak.


“Kamar apa Barack sih? Luas bener...”Seloroh Ahkam.


“Kita kan keluarga besar. Aku sudah mengantisipasi semuanya.” Ujar Dean.


“Yeah, aku bisa melihat kau sudah mempersiapkan semuanya dengan sangat baik dan sempurna.” Ucap Dylan.


“Kapan kau hamil?” Tanya Sinta pada Hana.


“Ahkam masih ingin honey moon.” Sahut Hana.


“Aku tidak ingin bayi kami terlantar. Hana masih suka main dengan teman-temannya. Berlibur dan bepergian bersama teman-temannya.” Jelas Ahkam.


“Itu karena kita tidak punya momongan.” Hana membela diri.


“Kau pikir mudah mengurus bayi? Tanya pada Sinta dan Haliza.” Tukas Ahkam.


“Bagaimana kau mengurus bayi sekaligus pekerjaanmu?” Tanya Hana pada Sinta.


“Dibantu baby sitter.”


“Aku tidak yakin kau bisa mengurus bayi.” Ujar Ahkam.


“Artinya kita tidak akan punya bayi?”


“Tidak untuk sekarang ini. Aku tidak ingin bayiku selalu bersama baby sitter sedangkan ibunya hang out bersama teman-temannya.”


“Aku bisa membawa bayiku dan baby sitter nya kan?”


“Entahlah! Buatmu bayi sebagai prestige. Mengikat hubungan kita. Kau tidak benar-benar ingin menjadi seorang ibu.” Tukas Ahkam.


“Kau tidak mempercayaiku?” Tanya Hana.


“Apakah masih kurang dengan anak-anak yang ada? Kau bisa mengajak mereka menghabiskan waktu bersamamu kan?” Jawab Ahkam.


“Sudahlah! Tidak usah bertengkar.” Haliza menengahi,”kau belum ditakdirkan hamil. Jika kalian ditakdirkan memiliki anak. Pasti semuanya akan terjadi pada kalian. Tetapi jika tidak. Mungkin itu yang terbaik bagi kalian berdua. Mengurus bayi memang tidak mudah.” Ujar Haliza.

__ADS_1


“Nasi ayam bakar, sayur asem, perkedel, sambal goreng ati udang, orek tempe dan bola daging baladonya. Enak sekali.” Puji Callista saat menghabiskan suapan terakhirnya.


“Aku juga membeli sekotak kue basah. Ada risoles, pastel, sus, ****, talam, serabi dan putri Mayang. Jika kau masih ingin ngemil.” Ujar Dean pada putri sambungnya tersebut,”minuman kemasan, kaleng, jus buah dan mineral ada di kulkas. Kalau minumannya kurang.”


__ADS_2