Mawar Berhati Baja

Mawar Berhati Baja
Sharing


__ADS_3

Dylan berpamitan pulang setelah mengobrol lama dengan Dean saat mengantar anak-anaknya ke rumah Sinta.


Dean juga mengajaknya makan bersama anak-anak dan Sinta sebelum pulang bahkan mengajaknya menginap.


“Kau bisa tidur bersama Keanu.”


“Tidak sebaiknya aku pulang.”


“Di rumah kau sendirian.” Ujar Sinta.


“Aku membutuhkan waktu sendiri. Mumpung anak-anak di sini aku bisa menghabiskan waktu sendiri di rumah.”


“Mengapa wajahmu terlihat sedih dan lesu?” Tanya Sinta.


“Tidak apa-apa.” Sahut Dylan sedih.


“Katakan saja pada Sinta. Mengapa kau harus merahasiakannya?” Ujar Dean.


“Untuk apa diceritakan? Bukan sesuatu yang penting.”


“Mereka sesama wanita. Siapa tau, Sinta bisa memberikan saran.”


“Aku tidak berminat untuk bercerita.”


“Bolehkan kuceritakan pada Sinta?”


“Terserah padamu.”


“Kita mengobrol sambil makan. Bergabung dengan anak-anak.”


“Kalau mereka menguping bagaimana?”


“Mereka asyik mengobrol sambil makan di meja makan. Kita akan makan dan mengobrol di peninsula bagaimana?”


Mereka mengambil makanan dari meja makan. Saat Dean dan Dylan ingin duduk di peninsula. Sinta menyela, “mengapa kita tidak makan di kolam renang saja?”


“Benar juga. Lebih enak mengobrol di kolam renang. Biarkan anak-anak di sini.”


“Yeah, kau juga bisa lebih leluasa bercerita tanpa khawatir anak-anak menguping pembicaraan kita.”


“Yeah, kau benar.”


Mereka membawa makanan dan minuman mereka ke kolam renang.


“Ada apa sih sebenarnya?” Tanya Sinta, “wajahmu sedih dan lesu.”


“Biar Dean saja yang cerita. Aku sudah menceritakan semua padanya.”


“Mantan Haliza ingin memintanya kembali padanya.”


“Dia akan menceraikan istri mudanya dan kembali pada Haliza?”


“Bukan.”


“Lalu?”

__ADS_1


“Dia ingin mempoligami Haliza dengan istrinya yang sekarang.”


“Astaga! Apakah mereka berdua mau?”


“Haliza pernah mengatakan bahwa jika dia tidak keberatan dipoligami olehku. Harusnya dia juga tidak keberatan dipoligami oleh mantan suaminya.”


“Astaga! Pantas kau galau!”Ujar Sinta dengan wajah prihatin. Sinta merasa hatinya semakin jauh dari Dylan melihat bagaimana Dylan memikirkan Haliza.


 Menggenggam tangan Dean untuk mencari kekuatan juga menyembuhkan luka batinnya.


 Bagaimana pun dia sangat mencintai Dylan. Saat mereka berumah tangga meninggalkan sejuta kenangan. Melihat  lelaki yang sangat dicintainya mencintai wanita lain. Berpaling darinya. Membuatnya terluka. Harapan agar mereka bisa kembali bersama semakin memudar.


“Lalu sekarang apa rencanamu?” Tanya Sinta.


“Aku akan berusaha memperjuangkan cintaku tapi semua  akhirnya tergantung pada takdir juga.”


“Yeah, tapi tetap saja kau harus berusaha terlebih dahulu.” Sahut Sinta menyemangati.


“Yeah.” Ujar Dylan. Wajahnya diliputi mendung.


“Kau pria yang sangat baik dan perhatian. Dia akan membalas cintamu.” Sahut Sinta.


Dean mengerutkan dahinya. Menatap Sinta dengan raut wajah cemburu.


“Dia bersama mantan suaminya. Bagaimana jika mereka bernostalgia?” Sahut Dylan.


“Apa maksudmu bernostalgia?” Tanya Sinta.


“Mereka…” Dylan memejamkan matanya. Membuang wajahnya.


“Mereka sudah bercerai. Dan mereka tahu batas yang boleh dan tidak mereka lakukan.”


“Jangan menuduh sekeji itu.” Sinta mengingatkan Dylan.


“Apa maksudnya mengajak Haliza tanpa Hana, istrinya?”


“Menghabiskan waktu sebagai keluarga dengan anak-anak mereka seperti sebelum bercerai. Kemungkinan mereka merindukan momen saat mereka masih bersama sebagai keluarga.”


“Aku merasa mantan suaminya merencanakan sesuatu. Seandainya, dia menghalalkan segala cara. Menghamili Haliza. Apa yang kira-kira akan terjadi?” Sahut Dylan setengah putus asa.


“Bagaimana pikiranmu mau tenang? Kalau kau berpikir sejelek itu?” Ujar Sinta merasa kasihan melihat Dylan yang tampak putus asa.


“Aku bukan berpikir jelek. Mantannya bisa mengkhianatinya. Dan sekarang seperti sedang merencanakan sesuatu.”


“Aku tahu ketakutanmu sangat beralasan. Tapi demi kedamaianmu sendiri. Jangan berpikir berlebihan apalagi kalau tanpa bukti. Seandainya benar yang kau katakan. Mantan suaminya menghamilinya. Pilihanmu tetap saja membiarkannya bersama mantan suaminya atau melamarnya? Anak yang lahir di luar pernikahan tidak membuat sang anak memiliki hubungan perdata dengan ayahnya hanya karena orang tuanya menikah. Kau paham kan konsekuensi dari anak yang lahir dari luar pernikahan?”


“Tetapi secara strategi, mantannya berusaha memenangkan keadaan dengan menghalalkan segala cara. Posisiku jelas akan lebih sulit.”


“Cinta bukanlah perlombaan. Jika dia menerima atau menolakmu. Semua dengan pertimbangan kondisi mana yang lebih sesuai dan nyaman secara perasaan. Pada akhirnya, hidup adalah pilihan. Berdamai dengan kenyataan.” Hibur Sinta.


“Menurutmu aku harus menyerah? Membiarkan keadaan mendikteku?” Sahut Dylan.


“Menurutku kau harus seimbang. Kau berusaha tetapi juga siap menerima apa pun keadaan serta kenyataannya.” Ujar Sinta.


“Mengapa dia berubah begitu saja? Aku tidak bisa mengerti. Kami nyaris menikah tetapi dia membatalkannya begitu saja.” Sahut Dylan.

__ADS_1


“Aku tidak mengenalnya dengan baik. Tetapi kemungkinan dia membatalkan karena memiliki keraguan atau ketakutan. Setiap orang ingin berbahagia serta tidak ingin merasa sakit.” Ujar Sinta.


“Apa maksudmu? Dia takut Aku menyakitinya?” Dylan menatap Sinta dengan wajah tidak mengerti.


“Ketakutan bisa logis dan tidak. Bisa benar dan salah. Apa pun itu. Dia berusaha melindungi dirinya dari rasa sakit.” Sambung Sinta.


Dylan termenung. Perutnya mendadak kenyang. Selera makannya menghilang.


“Jangan banyak pikiran. Makan dulu. Habiskan makananmu.” Sahut Dean.


“Pertemuanku dengan Haliza tidak terduga. Aku mengakui bahwa aku dalam keadaan bimbang. Tidak siap menjalin hubungan yang baru.”


Sinta memandang Dylan dengan iba. Pernikahan dan perpisahan mereka sungguh dramatis.


Mereka berdua tentu terluka. Dean enggan menyerah dengan pernikahannya yang terjeda. Alih-alih memilih bercerai justru membatalkan pernikahan Dylan dan Sinta.


Keputusan Dean yang tidak bisa diganggu gugat tentu menimbulkan dampak.


“Kau tidak bermaksud membuatnya terombang ambing dalam ketidakpastian. Keadaannya memang serba mendadak juga membingungkan.”


“Tetap saja apa yang dia rasakan dan simpulkan. Aku tidak sepenuh hati. Membayangi pernikahan kami dengan bayangan orang lain. Selain dirinya.”


“Yeah. Dia merasa kau menjadikannya pelarian. Terjepit di antara kau dengan mantannya yang ingin memperjuangkan hubungan mereka yang kandas.”


“Aku senang kau bisa mengerti dengan baik.”


“Aku menyimak ceritamu.”


“Kau pendengar yang baik.”


“Berhenti memuji istriku.” Ujar Dean.


“Dean! Kau jangan seperti anak kecil. Kau tidak lihat keadaannya?” Tegur Sinta pada suaminya.


Dean terdiam. Melanjutkan menghabiskan makanannya. Dirinya juga merasa iba dengan keadaan Dylan tetapi tidak ada yang bisa dilakukan untuk membantunya.


“Kupikir aku sebaiknya pulang.” Ujar Dylan berdiri bermaksud berpamitan.


“Habiskan dulu makananmu.” Pinta Sinta.


“Aku tidak lapar. Aku ingin pulang.”


Sinta dan Dean tidak bisa menahan Dylan yang tampak tidak nyaman dan ingin menjauhkan diri.


“Aku titip anak-anak.”


“Baiklah. Jaga dirimu baik-baik.” Ujar Dean.


“Tidak usah khawatir. Aku pergi dulu.”


Kedua pasangan suami istri tersebut menganggukkan kepala mereka. Sementara Dylan berjalan menuju mobilnya serta bergegas pulang.


Rindu mendera laksana abu yang menderu. Berterbangan memenuhi kalbu. Bertalu-talu menabur sembilu. Semua terasa membiru sendu. Luka tak berdarah tetapi menyisakan pilu sembilu.


 

__ADS_1


 


... ...


__ADS_2