
Berita pertunangan antara Dylan dan Haliza menyebar dengan cepat. Mereka akan memutuskan menikah secepatnya. Tetapi belum bisa menentukan tanggal pernikahan mereka.
Berita tersebut sampai kepada Dean dan Sinta. Callista menyampaikan kabar bahagia tersebut kepada ibunya.
Semenjak mereka bertemu tidak sengaja di Aceh. Hubungan mereka mulai terjalin kembali. Walaupun belum pulih seperti dulu.
Callista masih menyimpan dendam dan sakit hati kepada ibunya. Kehadiran Haliza di tengah mereka. Mengobati luka hati mereka sekeluarga.
Menelpon ibunya untuk mengabarkan berita bahagia tersebut.
“Papa akan segera menikah.”
“Benarkah?” Suara ibunya di seberang sana.
“Yeah! Mereka baru bertunangan dan belum menetapkan tanggal pernikahan.”
“Dengan siapa ayahmu akan menikah?” Dada Sinta terasa nyeri. Berita bahagia tersebut seharusnya menjadi berita bahagia juga untuknya. Tetapi dia harus mengakui bahwa di dalam lubuk hatinya yang paling dalam. Dia masih sangat mencintai Dylan.
“Ibunya Syarifah.”
“Syarifah?”
“Sahabatku yang waktu itu menemaniku berlibur. Yang ada di paviliun.”
“Bukankah ada dua orang sahabatmu yang ada di paviliun?”
“Yeah. Azizah dan Syarifah. Ibunya Syarifah sangat baik, memperhatikan dan menyayangi kami semua. Dia menangis saat papa melamarnya.”
“Benarkah? Aku ikut berbahagia untuk kalian semua. Apakah ayahmu mencintainya?”
“Tentu saja! Untuk apa papa melamar dan ingin menikahinya kalau tidak mencintainya.”
“Yeah! Kau benar. Kuharap dengan pernikahan papamu. Hubungan kita akan membaik. Kau tidak marah lagi padaku. Mau menyayangiku seperti kau menyayangi ibu sambungmu.” Sahut Sinta dengan suara parau.
“Aku tidak bisa melupakan kesedihan kami saat kehilanganmu. Kemarahan dan kekecewaan saat mengetahui semua kebohonganmu.”
“Apa yang harus kulakukan. Agar kau mau menerimaku seperti dulu?”
“Aku tidak tahu. Aku berharap kau tidak meninggalkan kami semua. Dan tidak berbohong.”
“Aku tidak bisa menjelaskan apa pun pada saat ini. Jika kau dewasa nanti. Aku akan menjelaskan semuanya.” Suara Sinta tercekat. Air mata mengalir dari kedua belah pipinya.
Mendengar berita bahwa Dylan akan menikah. Satu sisi, dia merasa bahagia karena Dylan menemukan seseorang yang akan membagi hidupnya dengannya. Tetapi di sisi lain, dia juga merasa cemburu.
Wajah cinta begitu membingungkan bahagia sekaligus merasa cemburu. Tetapi tentu, dia merasa lebih baik Dylan menemukan pasangan hidup sehingga bisa menjalani hidupnya dengan lebih ringan dan bahagia.
Sinta memutuskan menelpon Dylan mengucapkan selamat.
“Halo.” Ujar Sinta.
“Halo, ini siapa?” Suara Dylan terdengar di seberang sana.
“Aku, Sinta.”
Sejenak suara menjadi hening.
“Hmm, bagaimana kabarmu?” Dylan memecahkan kesunyian yang tiba-tiba menyeruak.
“Baik. Bagaimana denganmu?”
“Baik. Ada apa, Sin?”
“Callista sudah memberitahukan kabar bahagia tersebut kepadaku. Selamat ya? Selamat menempuh hidup baru....”
“Anak itu! Untuk apa dia menelponmu?”
__ADS_1
“Tidak apa-apa. Aku juga berhak tahu kan? Kau akan mengundangku kan nanti?”
“Apakah kau akan merasa nyaman jika menghadiri pernikahanku?”
“Entahlah!” Suara Sinta mendadak parau. Tenggorokannya tercekat.
“Anak-anak membutuhkan seorang ibu.”
“Kau tidak perlu menjelaskan apa pun padaku. Aku senang kau memutuskan untuk menikah. Seharusnya, kau melakukannya sejak dulu.”
“Kupikir, aku bisa menjadi ayah sekaligus ibu bagi mereka semua. Tetapi ternyata tidak bisa.”
“Dia pasti seorang wanita yang sangat baik dan penyayang. Callista seperti sangat menyukai dan menyayanginya. Mungkin yang lainnya juga seperti itu.”
“Dia sangat perhatian dan menyayangi kami semua.”
“Aku senang kau dan anak-anak menemukan orang yang tepat untuk kalian semua.”
“Apakah kau baik-baik saja?”
“Tentu, aku baik-baik saja.”
“Aku senang kau baik-baik saja. Jangan terlalu banyak berpikir.”
“Yeah!”
“Kuharap pernikahanku akan membawa kebaikan untuk kita semua. Dean akan mengijinkan kau bersilaturahim lagi dengan anak-anak.”
“Yeah!”
“Aku akan mengundangmu jika kau ingin datang.”
“Yeah! Aku akan datang bersama Dean dan Emier.”
“Yeah! Emier memang seharusnya sudah mengenal kakak-kakaknya.”
“Kuharap kita semua bisa menjadi dua keluarga yang saling berbahagia dan menyayangi satu sama lain.”
“Yeah! Aku harus pergi sekarang. Ada rapat yang harus kuhadiri.”
“Baiklah. Jaga dirimu baik-baik.”
“Yeah! Kau juga. Bye!”
“Bye!”
Sinta menutup teleponnya. Menghapus air matanya yang mengalir turun. Bergegas menuju mobil yang akan membawanya ke kantornya. Menghadiri rapat yang akan diadakan satu jam lagi.
Pikirannya melayang. Pada saat mereka berada di Swiss. Hatinya kembali perih mengingat sikap Callista yang berbeda.
Aku tidak menyalahkannya. Dia terlalu muda untuk mengerti semuanya. Semoga dengan pernikahan Dylan. Bisa memperbaiki hubungan kami semua.
Sapphire dan Keanu sendiri tidak banyak berubah. Hanya saja memang hubungan mereka sudah tidak seperti dulu. Dia mulai terasa asing di tengah anak-anaknya. Walaupun keduanya masih menyayanginya. Tetapi seperti ada jarak terbentang di antara mereka.
Dia sendiri sebagai ibu. Tentu sangat mencintai dan menyayangi mereka semua termasuk Emier.
Mendidik Emier dengan sangat keras. Agar Emier tidak merasa besar kepala. Tidak merasa lebih tinggi dari semua saudara-saudaranya walaupun mereka berbeda ayah.
Membalaskan sakit hati dan dendamnya pada Dean. Yang telah merengut kebahagiaannya bersama Dylan dan anak-anak mereka.
Sepertinya rencanaku untuk mengoperasi plastik dan melarikan diri bersama Dylan gagal.
Dylan akan menikah dan membangun kehidupan barunya. Dirinya juga menyangsikan apakah dia bisa memercayakan Emier pada Dean sendirian?
Mungkin memang harus mengikhlaskan semuanya. Berfokus pada kehidupan barunya. Memang sudah tidak ada jalan lagi bagi mereka berdua untuk bersama.
__ADS_1
Semenjak mereka dipisahkan semesta. Sudah sebagai tanda bahwa mereka memang seharusnya menjauh satu sama lain. Atau kehidupan yang mereka jalani saat ini akan kacau balau.
...****************...
Haliza sendiri merasa tidak percaya dengan kebahagiaan yang menghampirinya begitu saja. Dia sempat berpikir Dylan keberatan dirinya berada di tengah mereka semua.
Memandangi cincin yang melingkar indah di jari manisnya. Air matanya menetes.
Mantan suaminya tidak pernah memperlakukannya semanis ini. Mereka menikah dalam keadaan yang sangat memprihatinkan.
Membeli cincin di pinggir jalan. Dengan harga yang paling murah yang bisa mereka dapatkan.
Dia tidak pernah menyesali pernikahannya terdahulu. Apalagi membandingkan dengan Dylan. Hanya saja, pengkhianatan tersebut menorehkan luka yang sangat dalam.
Perlakuan mantan suaminya sangat berbeda dengan istri mudanya saat ini. Mungkin karena kondisi ekonomi mereka juga seperti langit dan bumi. Semua kemewahan yang bisa diberikan pada istri mudanya. Diberikan begitu saja. Belum sikapnya dan perlakuannya yang semanis madu. Sedangkan hubungan mereka berdua semenjak mantan suaminya mengenali madunya secara intens dan intim. Membuat hubungan mereka berdua menegang, memanas dan sepahit empedu.
Hatinya tidak salah memilih Dylan. Kebaikan dan kelembutan hatinya. Membuatnya kembali memiliki harapan akan cinta dan kasih sayang sejati. Harapan baru.
Kebahagiaan yang dirasakannya. Juga dirasakan seluruh anggota keluarga. Anak-anak Dylan memanggilnya ibu seperti anak-anaknya. Tidak lagi memanggil tante.
Anak-anaknya sendiri memanggil Dylan, papa. Mereka sering menghabiskan waktu bersama. Terutama saat weekend.
Kabar pertunangannya juga sampai ke telinga mantan suami dan istri mudanya.
“Kami turut berbahagia dengan kabar pertunanganmu.” Hana membuka suaranya ketika mereka bertemu tanpa sengaja di sekolah. Ahkam yang berada di samping istrinya. Memilih diam.
“Terima kasih.” Ujar Haliza pendek. Dia tidak ingin menjalin percakapan panjang dengan keduanya, “Maaf, aku harus buru-buru. Tidak bisa mengobrol lama.”
“Tidak apa-apa! Aku ingin kau tahu, bebanku seperti terangkat. Kalian berdua memang sudah tidak berjodoh lagi. Bukan aku yang merebut suamimu. Dan sekarang kalian berdua sudah memiliki jodoh masing-masing.”
Wajah Haliza menjadi merah padam. Menahan marah. Ahkam menarik tangan istrinya. Mengajaknya berlalu karena melihat perubahan wajah Haliza.
Wanita tidak tahu diuntung. Kau tidak hanya tidak memiliki perasaan tetapi juga sangat kejam!
Haliza memilih segera berlalu dari hadapan Hana daripada merusak kebahagiaan yang baru dirasakannya.
Somehow, memang sebagian manusia diciptakan untuk merusak kebahagiaan manusia lain. Sebagai ujian dan juga cobaan.
Sifat kejam hanya dimiliki oleh mereka yang memang tidak memiliki hati dan perasaan. It’s only about them.
Aku tidak harus menghancurkan kebahagiaanku dengan meladeni perkataan dan pemikiran tolol semacam itu!
Kau, Hana! Tidak hanya kejam tetapi juga tolol. Wajah dan kemudaanmu berhasil menipu mantan suamiku yang memang sama kejamnya denganmu. Itu yang menyebabkan kalian berdua berjodoh. Wanita yang baik untuk lelaki yang baik. Wanita yang kejam untuk pria yang kejam. Equal. Get even....
__ADS_1
... ...