Mawar Berhati Baja

Mawar Berhati Baja
Persaingan


__ADS_3

Awalnya Dylan tidak memperhatikan perubahan yang ada. Lambat lain dia mulai menyadari bahwa Ahkam sering ke sekolah seorang diri. Menjemput adik istrinya. Mengakrabkan diri dengan Syarif.


Memang Syarif adalah putra Ahkam tetapi Dylan mencium ada gelagat yang tidak beres. Anak lelaki kadang lebih bisa berkompromi dan logis dibandingkan dengan anak perempuan yang lebih emosinal dan berperasaan.


Ahkam sedang duduk seorang diri. Penampilannya klimis. Bau wangi menguar dari tubuhnya. Rambutnya juga seperti habis dipangkas. Model rambut crew cut. Salah satu jenis undercut.


Dylan menatapnya tajam. Instinctnya mengatakan bahwa ada sesuatu yang sedang direncanakan.


“Mana Hana?” Tanyanya tanpa tedeng aling-aling.


“Kau sangat suka menanyakan istriku.” Sahutnya acuh.


“Mengapa kau yang menjemput adik istrimu?”


“Memangnya tidak boleh?” Sahut Dylan dengan raut wajah bertanya.


“Kau sengaja menumpahkan kopi panasmu padaku kan?” Dylan sekonyong-konyong menginterogasi  dengan emosi. Mengingat kejadian naas menurutnya disengaja oleh Ahkam.


“Kau jangan bertingkah seperti anak kecil.” Sahut Ahkam acuh.


“Mengaku saja! Hana tidak terlihat mendampingimu. Penampilanmu klimis. Kau menumpahkan kopi panasmu saat aku dan Haliza mengobrol. Kau juga seperti mengakrabkan diri pada Syarif.”


“Syarif anakku. Hana sibuk dengan kegiatan sosialisasinya. Arisan, salon, spa dan belanja. Hangout bersama teman-temannya.”


“Sepertinya kau mulai menyesal telah bercerai dengan Haliza.”


“Aku tidak pernah bermaksud menceraikannya. Haliza yang ngotot minta cerai karena tidak mau dipoligami.”


“Tetapi saja. Kau seperti menyesalinya.”


Ahkam diam dan malas menanggapi Dylan.


Haliza mendatangi mereka berdua. Bergabung duduk bersama mereka berdua.


“Potongan rambutmu bagus.” Pujinya diikutin pandangan marah Dylan.


“Aku merasa rambutku sudah kepanjangan dan gerah.”


“Yeah. Kau ganti parfum?” Tanya Haliza.


Dylan memandang Haliza dengan tatapan kesal. Haliza tidak merasa sama sekali bahwaa sikapnya mengganggunya.


“Nyoba aja. Enak gak baunya?”


“Enak banget.”


Ahkam tertawa kecil. Haliza menatapnya bingung.


“Ada yang lucu?”


“Gak ada. Cuma ada yang kebakaran jenggot aja melihatku tapi dan klimis.”


“Siapa? Hana? Mungkin dia khawatir kau tebar pesona.”


Ahkam semakin tergelak.


“Sebaiknya kita pindah tempat.” Ajak Dylan.


“Buat apa? Tempat ini sangat strategis.” Tolak Haliza.


“Tempat ini sangat panas dan tidak nyaman.”


“Masak sih? Di bawah pohon rindang. Dan ada payung besar menaungi.


“Ikuti saja aku Dan jangan banyak membantah.” Dylan menarik tangan Haliza mengajaknya berlalu dari situ.


“Kau kenapa sih?” Haliza melihat sikap Dylan yang uring-uringan, “Pergelangan tanganku merah.”


“Aku tidak nyaman duduk di sana. Di sini saja.”


“Apa? Disini panas.” Haliza membalikkan tubuhnya dan kembali ke tempat Ahkam yang sedang menunggu adik iparnya selesai sekolah.


“Tempat ini kosong kan?”


Ahkam menganggukkan kepalanya.


“Aku tidak melihat Hana.”


“Kalian berdua kompak sekali.” Ujar Ahkam singkat.


“Bukan begitu. Biasanya kan kalian selalu bersama-sama.”


“Dia sibuk.” Ujar Ahkam singkat.


Dylan duduk di sebelah Haliza. Di antara Haliza dan Ahkam.

__ADS_1


“Kau jadi berselancar dengan Syarif.”


“Tentu!”


“Aku ikuti!”


Haliza dan Ahkam melihat ke arah Dylan bersamaan.


“Kau bisa berselancar?”


“Itu akan seperti skateboard. Apa susahnya? Bedanya satu di darat Dan satu di air.”


“Tetapi saja kau harus membiasakan diri dulu.”


“Tenang saja. Aku sangat berbakat dalam segala hal yang berbau sport.”


Ahkam menatap wajah Dylan sangsi.


“Well. Berselancar tidak semudah yang kau pikirkan.”


“Kata siapa? Sehari-hari aku berselancar.”


“Oh ya? Dimana?”


“Di dunia maya!” Dylan tergelak seorang diri.


“Kalian tidak ikut tertawa?” Tanyanya pada keduanya.


“Buat apa? Garing!” Ujar Ahkam.


“Sebaiknya kau kursus dulu.” Saran Haliza.


“Tidak perlu. Dengan melihatnya saja. Aku sudah bisa melakukannya.”


“Kita atur waktu lain saja. Jangan saat aku dan Syarif menghabiskan waktu bersama. Aku sengaja ingin meluangkan waktu berdua dengannya. Melakukan hobi kami berdua bersama.”


“Baiklah. Terserah kau. Kabarin saja waktunya.”


Ahkam menganggukkan kepalanya.


“Bagaimana kalau kau ikut bersama kami.” Ajak Ahkam pada Haliza.


“Aku tidak bisa berselancar. Kau kan tahu itu. Hanya kau dan Syarif yang bisa melakukannya.”


“Lihat saja nanti.”


“Baiklah.”


“Tempat ini sangat sejuk dan teduh membuatku mengantuk.” Ujar Haliza.


“Shoulder to lean on.” Sahut Ahkam sambil memajukan pundaknya ke arah Haliza.


Haliza tertawa kecil.


“No, thanks. Itu cuma kiasan.”


“Kalau beneran juga gak apa-apa kok!” Sambung Ahkam sambil tertawa.


“Kau tidak tahu basa basi.” Wajah Dylan berubah masam.


“Apa maksudmu basa basi?”


“Haliza tidak memiliki maksud apa pun.”


“Kalian kenapa sih?” Haliza mulai merasa terganggu dan tidak nyaman.


“Gak ada apa-apa. Maafkan aku kalau bercandaku agak kelewatan.” Ujar Ahkam dengan sikap simpatik. Membuat Dylan semakin kesal.


“Sudahlah. Tidak usah dibesar-besarkan.” Ujar Haliza.


Tidak lama anak-anak sekolah berhamburan keluar kelas mereka. Syarifah, Syarif, Callista, Keanu dan Sapphire berjalan menuju orang tua mereka menunggu.


“Bu, kita akan mencari tanaman untuk percobaan ipa besok.” Ujar Syarifah.


“Baiklah kita berangkat sekarang.”


Dylan merogoh kantong celananya. Membuka tas selempangnya. Tidak menemukan kunci mobilnya.


“Bagaimana ini?”


“Apa maksudmu bagaimana?” Tanya Haliza.


“Aku tidak bisa menemukan kunci mobilku.”


“Ya sudah, Syarifah dan Keanu ikuti aku saja. Kau menyusul saja bagaimana?” Saran Ahkam.

__ADS_1


“Yeah, sepertinya itu yang terbaik.” Ujar Haliza.


Dylan terpaksa menerima Saran tersebut.


“Baiklah, aku akan mencari kunci mobilku. Nanti aku akan menyusul begitu kutemukan kunci mobilku. Bagaimana?”


Ahkam dan Haliza meninggalkan Dylan sendiri yang tengah sibuk mencari kunci mobilnya.


Haliza membawa Callista, Syarifah dan Sapphire sedangkan Ahkam membawa Keanu, Syarif dan adik iparnya.


Sementara Dylan sibuk mencari ke sana kemari.


Mobil mereka berjalan beriringan. Mencari tanaman untuk percobaan besok.


Setelah menemukan tanaman yang dicari. Mereka semua mampir makan ice cream, cake dan donat.


Callista, Syarifah dan Sapphire duduk bertiga.


Keanu, Syarif dan Hanif, adik ipar Ahkam. Adik Hana. Duduk bertiga.


Ahkam dan Haliza duduk berdua saling berhadapan.


“Mengapa kau emosional sekali menanggapi prahara rumah tangga kita?” Ahkam membuka suaranya.


“Aku malas menanggapi hal ini.” Ujar Haliza menyendok ice creamnya.


“Kalau kau tidak bereaksi berlebihan. Kita sekeluarga masih bersama. Aku merindukan kamar kita. Tidur Dan bermain bersama anak-anak kita. Hana tidak akan banyak menghabiskan waktu denganku.”


“Apa maksudmu?”


“Aku bersamamu dan anak-anak. Sedangkan Hana dengan kehidupannya sendiri.”


“Aku tidak mengerti maksudmu?”


“Apakah kau masih menolak untuk dipoligami?”


“Aku sedang tidak memikirkan apa pun. Aku merasa nyaman bersama anak-anak.”


“Aku ingin kau memikirkan kembali tawaran poligamiku. Aku membutuhkan kau dan Hana. Bukan satu dari kalian. Melainkan keduanya.”


“Aku benar-benar tidak ingin membicarakan hal ini.”


“Baiklah. Take your time. Let me know if you have decide.”


“I will.”


Ketika Dylan tengah sibuk mencari kunci mobilnya. Tidak kurang dari dua jam. Mencari ke setiap sudut sekolah. Seorang tukang kebun menghampirinya.


“Apakah bapak mencari ini?”


“Ah ya! Betul. Bapak menemukan ya dimana?”


“Di dekat sana!” Tukang kebun menunjuk ke arah halaman yang berada tidak jauh dari pelataran parkir.


Dylan segera menelpon Haliza.


“Kami sudah mau selesai Dan bermaksud untuk pulang.” Ujar Haliza.


“Aku baru menemukan kunci mobilku.”


“Kau langsung saja pulang ke rumah. Nanti kuantar anak-anakmu sebelum pulang ke rumahku. Bagaimana?”


“Baiklah.” Jawab Dylan pasrah.


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2