Mawar Berhati Baja

Mawar Berhati Baja
As A Mother


__ADS_3

Dengan berat hati, Sinta sudah bisa menerima bahwa hubungannya dengan Dylan berakhir dengan pembatalan pernikahan yang dilakukan Dean terhadap pernikahan mereka. Secara hukum agama juga negara tidak sah karena statusnya masih isteri Dean ketika menikahi Dylan. Belum surat keterangan kematian yang mereka buat. Semakin memberatkan keduanya.


Hanya saja sebagai ibu. Dia tidak dapat memutuskan hubungannya dengan anak-anaknya. Sebagai ibu, dia tidak dapat membiarkan anak-anaknya sedih. Tumbuh tanpa pedampingan dan kasih sayang darinya sebagai ibu.


Hal itu membuatnya merasa sangat bersalah juga bersedih. Sekaligus tidak bisa memaafkan Dean serta melampiaskan rasa sakit hati, dendam juga kesedihannya pada Emier.


"Aku melakukan kesalahan." Ujar Dean pada Sinta. Melihat sikap istrinya yang sangat dingin terhadap putra mereka, "Aku baru menyadarinya setelah Emier lahir. Tetapi aku tidak dapat berbuat apa pun. Emier membutuhkan kau sebagai ibunya. Jika semua bisa diulang. Aku akan merelakanmu bersama Dylan dan buah hati kalian. Akan kuceraikan kau daripada membatalkan pernikahan kalian berdua. Tetapi saat itu, hatiku begitu sakit dan dendam."


Sinta tidak menjawab sepatah kata pun.


"Aku tidak dapat mengkoreksi kesalahanku karena Emier. Dia membutuhkan kita berdua." Ujar Dean.


"Kau tahu saat seorang ibu kehilangan anaknya. Mereka akan berkabung dan mengabaikan anak yang lainnya." Tukas Sinta.


"Kuharap satu saat kau mau mengubah sikapmu."


"Aku tidak bisa berjanji. Sebagaimana kau juga tidak bisa berjanji bisa memaafkan aku dan Dylan yang telah menebar luka pada hati serta jiwamu."


"Demi Emier, aku akan melakukan apa pun." Ujar Dean tegas.


"Aku tidak ingin membicarakan ini."


"Baiklah."


Luka terbesar bagi seorang ibu adalah terpisah dari anak-anaknya. Apalagi melihat salah seorang anaknya sangat beruntung sedangkan anak yang lain menderita. Membuatnya merasa tidak berbuat adil dan merasa bersalah.


Hatinya yang sakit akibat perbuatan Dean padanya dan Dylan serta ketiga buah hatinya. Membuatnya membenci Emier yang sangat beruntung memiliki segalanya sedangkan saudara-saudaranya sebaliknya.


Sinta mengabaikan Emier dan kerap bersikap dingin juga ketus. Mengabaikan anaknya dan enggan untuk menyentuhnya.


Jika Emier menangis. Serta merta dia akan memanggil suami atau pengasuhnya. 


Kehamilan dan kelahiran Emier sangat berbeda dengan  anak-anaknya yang lain. Lahir dengan penuh cinta dan kasih sayang.


Sedang Emier lahir di tengah kepedihannya sebagai seorang ibu yang dipisahkan dari ketiga buah hatinya. Di tengah kebencian, kemarahan, sakit hati sekaligus kesedihan.


Dirinya merasa bersalah kepada ketiga buah hatinya jika melengkapi kebahagiaan Emier yang seakan tanpa cela dan kekurangan.


Tangis bayi Emier yang masih merah tidak membuatnya bergeming. Dirinya dilanda depresi pasca melahirkan. 

__ADS_1


Dean berlari tergopoh menuju box bayi Emier. Menggendongnya dengan penuh kelembutan. Wajahnya memancarkan kemarahan. Melihat Sinta hanya duduk di luar kamar bayi dengan pandangan kosong dan hampa.


"Kau benar-benar keterlaluan. Anakmu menangis kehausan dan kau tidak bergerak sama sekali menggendong dan menyusuinya."


Sinta melengos acuh.


"Susui dia! Kumohon!"


Sinta tidak menanggapi permintaan Dean. Air mata meleleh dari kedua pipinya. Tanpa sepatah kata keluar dari bibirnya.


Dean memanggil pengasuh bayinya. Memintanya membuat susu sementara dia berusaha menenangkan Emier yang sedang menangis kehausan.


"Emier tidak bersalah. Tidak seharusnya kau seperti ini padanya. Kau tidak bisa mengabaikan bayimu!" Seru Dean.


"Tidak bersalah? Dia yang membuatku makin terpisah dengan anak-anakku. Seandainya dia tidak ada. Mungkin kau akan membuangku. Aku bisa kembali pada anak-anakku! Hidupnya juga sangat sempurna! Tidak seperti saudara-saudaranya yang lain! Kau masih mengatakan dia tidak bersalah dan bertanggung jawab atas semuanya? Dia membuat kau semakin tidak mungkin melepaskanku!" Ujar Sinta marah.


"Dia milikku yang paling berharga! Aku akan melindunginya dan memberikan apa pun yang terbaik baginya! Kau sakit jiwa! Mana mungkin kau bisa memahaminya!"


"Kau sudah tahu aku sakit jiwa kenapa masih menahanku?"


"Karena Emier! Bagaimana pun aku ingin anakku memiliki keluarga yang utuh!"


Dean mengambil botol susu yang diberikan pengasuh anaknya. Emier menghabiskan susu formula yang diberikan ayahnya dengan lahap. Dirinya menjadi tenang setelah menghabiskan susu tersebut.


Dean memutuskan melatih Emier sejak kecil. Dia menyewa pelatih bayi yang paling baik juga profesional.


"Aku ingin melatih bayiku agar bisa mengendalikan emosi serta memaksimalkan kecerdasan juga potensinya." Sahutnya pada orang yang akan disewanya untuk melatih bayinya.


"Anda tidak usah khawatir. Anda bisa melihat hasil kerja saya sebagai portofolio."


"Saya sudah meneliti hasil kerja anda. Menanyakan pada mereka yang memakai jasa anda."


"Apa yang anda inginkan untuk bayi anda?"


"Terbiasa mengendalikan diri dengan bersikap baik. Kontrol angered management. Memaksimalkan potensi di dalam dirinya. Aku ingin dia dilatih seni, musik untuk melembutkan juga menghibur kesedihan jiwanya, menghafal al qur'an untuk bekal akhiratnya, berenang dan sepak bola untuk kebutuhan kinestetis dan juga mengembangkan kemampuan sosial dan team worknya."


"Baiklah. Saya akan mengirimkan detail kontrak beserta apa saja yang harus saya lakukan terhadap anak anda."


"Baiklah, terima kasih."

__ADS_1


Emier terbiasa dilatih dari bayi sehingga semua serba terkendali dan teratur. Tumbuh menjadi anak yang sangat manis, tidak rewel dan mengagumkan.


Siapa pun yang melihat dan mengenal Emier akan sangat terpukau dan terkesan.


Kesehariannya disibukkan dengan arahan-arahan dari trainernya. Belajar berenang sejak bayi. Bermain bola sejak bisa berjalan dan berlari. Melukis semenjak sudah bisa menggambar. Membaca dan menulis sejak mengenal huruf juga angka. Menghafal al qur'an semenjak bisa berbicara. Mendengarkan al qur'an sejak bayi.


Ibunya semakin tenggelam pada pekerjaannya. Tidak mempedulikan Emier sama sekali.


Emier sudah terbiasa dengan pengabaian sang ibu. Tidak sekali pun dia merasa sakit hati. Dibalik ketidakmengertiannya akan sikap ibunya kepadanya. Dia sangat mencintai dan menghormati ibunya.


Membuat banyak gambar juga tulisan tentang ibunya. Melepaskan kerinduannya pada sang ibu yang berada di dekatnya tetapi sangat jauh dari jangkauannya.


Ibunya kerap memarahi dan menegurnya untuk hal-hal kecil dan wajar dilakukan anak-anak.


Selalu ada saja yang membuat ibunya memarahi dan menegurnya.


"Makan jangan belepotan!"


"Jangan tidur malam-malam! Tidur sekarang juga. Tinggalkan apa yang kau kerjakan? Mana ayah dan pengasuhmu?"


"Jangan ganggu aku bekerja!"


"Aku tidak bisa menemanimu bermain. Minta tolong ayah atau pengasuhmu!"


"Aku tidak bisa menemanimu jalan-jalan."


"Aku tidak bisa menemanimu tidur. Mana ayahmu?"


"Jangan memasang wajah seperti itu! Jangan berusaha mengubah pikiranku dengan ekspresi wajah seperti itu!"


"Jangan menaruh apa pun sembarangan!"


"Mana gurumu? Mengapa kau belum mulai belajar?"


"Mengapa kau ke sini? Kau tidak lihat aku sedang sibuk?"


"Jangan menangis! Kau tidak tahu betapa beruntungnya dirimu! Kau tidak tahu bagaimana saudara-saudaramu yang harus menderita kehilanganku. Karir ayah mereka juga dihabisi oleh ayahmu!"


"Jangan kau pikir aku akan memanjakanmu hanya karena kau memiliki segalanya!"

__ADS_1


"Kau anak laki-laki. Harus kuat dan tidak boleh menangis, cengeng dan mengeluh!"


__ADS_2