Mawar Berhati Baja

Mawar Berhati Baja
Dingin


__ADS_3

Dean mengubah strateginya. Merayu dengan berpura-pura jatuh cinta kepada Sinta, gagal total.


Tiba-tiba kepalanya seperti diterangi lampu. Bagaimana kalau berusaha mengundang simpati Sinta dengan memanfaatkan rasa kasihannya?


Banyak wanita terjatuh ke dalam pelukan pria selain karena berhasil dirayu atau rasa kasihan.


Rencana selanjutnya, bagaimana menimbulkam rasa kasihan dimaksud?


Dean pusing memikirkan cara yang jitu untuk menaklukkan hati Sinta.


Apakah hatinya terbuat dari batu atau bahkan baja? Tidak bergeming sedikit pun. 


Dean juga tidak mengerti mengapa Sinta bisa berubah sangat drastis. Tidak seperti yang dikenalnya sebelumnya.


Dia seperti tidak mengenal Sinta sama sekali. Seseorang yang benar-benar sangat asing.


Wanita makhluk perasaan. Jika ingin menaklukkan wanita maka sentuhlah hatinya.


Tapi hati Sinta terbuat dari baja. Belajar dari kapal Titanic yang terbuat dari baja, hanya suhu yang sangat dingin yang bisa membelah baja.


Perasaan Dean harus lebih dingin lagi daripada Sinta karena dia tidak akan mampu menghancurkan sikap dingin Sinta. Kalau tidak bisa mengimbangi sikap dinginnya.


Gunung es yang berhasil menghancurkan Titanic yang melaju dan tidak sempat berbelok karena jaraknya sangat dekat. Hancur dan karam.


Dia bertekad menghancurkan sikap dingin Sinta dan membuatnya karam selamanya. Hanya satu pertanyaan besar di kepalanya. Bagaimana caranya?


Dean menjalankan rencana pertamanya. Dia pura-pura sakit karena perutnya melilit.


Sinta menunjukkan perhatiannya seperti harapan Dean.


"Kau kenapa?"


"Perutku melilit."


Sinta memegang dahi Dean.


"Tidak demam."


"Perutku yang melilit kenapa kepalaku yang diperiksa?"


Sinta mengulurkan tangannya mengelus lembut perut Dean.


Jantung Dean berdebar cepat.


Wajah Sinta sendiri terlihat biasa saja. Dia memeriksa perut Dean dengan seksama. Menempelkan kepalanya di perut Dean yang six pack.


Serta merta Dean terlonjak.


"Kau kenapa?"


"Geli!"


"Bagaimana aku bisa memeriksamu kalau kau tidak bisa diam?"


"Kau bukan dokter dan telingamu juga bukan stetoskop kenapa kau tempelkan ke perutku?"


"Aku mau tau apakah kau kembung atau tidak? Kalau ada banyak suara gas kemungkinan kau kembung. Aku juga harus memeriksa perutmu keras atau tidak serta mengetuk-ngetuk perutmu apakah sakit atau tidak?"


"Memangnya pintu? Diketuk-ketuk?"


"Aku memang bukan dokter tapi kalau berobat. Aku suka memperhatikan bagaimana dokter memeriksa kalau kita mengeluhkan perut kita sakit atau kembung."


"Kau sok tau! Rawat aja aku seperti orang sakit biasa. Gak usah banyak gaya begitu nanti malah salah rawat."


"Kau mau apa sih sebenarnya?" Sinta meneliti wajah Dean. Memperhatikannya dari atas sampai bawah.


"Kau membuatku risih."


"Kau membuatku harus meneliti semua ucapanmu. Berhenti mengatakan hal-hal bodoh dan gak berguna!"


"Tiduran!"


"Kau mau apa?"

__ADS_1


"Aku tidak semesum kau!"


"Berarti kau ada mesumnya tapi tidak sebanyak aku?"


Wajah Sinta melotot diiringi gelak tawa Dean.


Sinta mengurusi Dean dengan telaten. 


"Aku membuatkanmu sop ayam dengan jahe dan lada yang strong."


Sinta menyuapi Dean. Hati Dean tersentuh dengan perlakuan Sinta.


Kenapa jadi gue yang baper?


Sinta membalurkan minyak kayu putih ke perut Dean.


"Gimana?"


"Bau minyak kayu putih."


"Iyalah, masak minyak nyong-nyong?"


"Maksudmu gimana itu apa?"


"Perutmu enakan gak?"


"Belum ada perubahan."


"Gak bisa langsung sembuh. Coba kau istirahat dulu." Sinta bersiap keluar kamar.


"Kau mau kemana?"


"Aku harus bekerja. Ada kampanye yang harus aku menangkan."


"Ijin dulu lah. Suami dan pekerjaan mana lebih penting?"


"Aku kan sudah mengurusmu. Sepulang aku bekerja. Aku akan melihatmu lagi. Mengecek keadaanmu."


"Kau tidak akan mati hanya karena perutmu melilit. Kalau dililit ular piton mungkin saja."


"Sadis sekali."


"Aku hanya memberikan perumpamaan."


"Jangan tinggalkan aku! Kau kan ada sekretaris, asistent atau siapapun yang bisa menggantikanmu untuk pekerjaanmu tapi untuk mengurusiku kan cuma kamu, isteriku."


"Maksudmu apa?" Jawab Sinta sewot.


"Kau gampang sekali naik darah!"


"Kau sendiri juga gampang memancingku marah."


"Temani aku tidur."


"Apa maksudmu?"


"Aku tidak enak badan. Malas di kamar sendirian. Temani aku tidur."


"Kau manja sekali seperti anak kecil."


"Aku sedang sakit."


"Baiklah." 


"Sepertinya ada perubahan dengan minyak yang kau oles tadi."


"Benarkah?"


"Rasa melilitnya berkurang."


"Kubalur lagi ya?"


Dean menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


Sinta menuang minyak kayu putih ke tangannya dan mengusapnya ke perut Dean.


Dean tidak bisa berharap banyak pada Sinta. Rencananya perlahan mulai pupus dan menunjukkan kegagalannya.


Walaupun Sinta sangat perhatian dan iba padanya tetapi hal itu tidak mengubah apapun.


Dia tetap bersikap dingin. Memindahkan semua aktifitasnya secara online.


Mematikan layar lap topnya. Dia melangsungkan rapat, membalas whatsapp, email dan aktifitas pekerjaan lainnya sambil mengurusi Dean.


Bahkan dia menerima telpon dengan mengempit gadgetnya di pundaknya sambil menyuapi Dean makan.


"Ada sesuatu yang harus kusampaikan padamu."


"Apa itu?" Sahut Sinta tetap membaca email yang diterimanya.


"Apakah kau tau kalau wanita bisa terkena kanker ovarium kalau tidak menikah. Sedangkan lelaki bisa terkena kanker prostate kalau tidak bisa menyalurkan hasrat biologisnya?"


"Apa maksudmu?"


"Masak kau tidak mengerti? Aku sudah berkata sangat jelas."


"Kita hidup di jaman karsinogen. Kau hidup sehat dan tanpa pemicu pun masih tetap beresiko terkena kanker seperti misalnya radiasi. Bagaimana kau menghindari radiasi? Karsinogen."


"Aku yang tidak mengerti maksudmu."


"Masak kau tidak mengerti? Aku sudah menjelaskan sejelas itu padamu?"


"Mungkinkah, perut melilit sebagai tanda awal aku terkena tumor atau kanker prostat?"


"Kau jangan mengada-ngada!"


"Aku tidak mengada-ada bisa saja kan?"


"Tunggu sebentar!"


"Kau mau apa?"


"Aku ada sesuatu yang bisa mengatasi resiko kanker. Kau tunggu di sini."


"Thanks God! Akhirnya dia mengerti!" Dean mulai berbunga. Dia nyaris putus asa tetapi seperti yang dikatakan semua orang.


Kegagalan adalah ketika kau berhenti berusaha. Akhirnya….


Dean menunggu dengan sangat tidak sabar. Dia menunggu Sinta yang keluar kamar mempersiapkan diri.


Apakah dia ke salon dulu? Atau luluran dulu? Atau mungkin memasker wajahnya sedemikian rupa.


Atau dia meminum ramuan herbal. Astaga! Mengapa tidak terpikir olehnya sampai ke sana 


Atau dia membeli pelumas? Obat kuat untuk dirinya? Meminum jamu?


Sekitar setengah jam pintu diketuk. Dean membuka pintu.


Melihat Sinta masuk membawa seteko jus dan buah tomat seplastik.


"Untuk apa jus dan buah tomat."


"Ini sangat efektif untuk mengobati kanker dan bisa mencegah kanker. Kau hanya perlu mengkonsumsinya dalam jumlah besar maka masalahmu akan teratasi dengan sendirinya."


"Oh ya?" Wajah Dean berubah masam.


"Kalau kau tidak percaya aku akan mengirimi ulasan tentang ini."


"Aku percaya!" Dean setengah berteriak.


"Kau jangan teriak! Nanti ibumu kira kau diapa-apain dan aku yang akan dimarahi!"


"Aku percaya semua penjelasanmu. Aku hanya tidak percaya kenapa kau sama sekali tidak memiliki hati dan perasaan."


"Maksudmu?"


"Aaaggghhhh…."

__ADS_1


__ADS_2