
Sebuah rumah kayu mungil di kaki pegunungan terletak di pegunungan Alpen. Swiss.
Seorang wanita yang tampak bahagia memandangi kedua gadis kecilnya.
Perutnya terlihat membuncit. Wajahnya merona memancarkan kebahagiaan.
"Ma! Aku ingin adik lelaki!" Calissta berlari ke arah ibunya.
"Mengapa kau ingin adik lelaki?" Ibunya tertawa melihat polah putri sulungnya.
"Karena Saphire sangat menyebalkan. Sering mengangguku. Merebut semua yang aku sukai! Aku ingin adik lelaki seperti Jack. Sangat menurut dan mengasyikkan diajak bermain. Dan tidak pernah bersikap menyebalkan."
Ibunya tertawa,"Saphire mungkin ingin menarik perhatianmu! Kau harus lebih menyayangi dan memperhatikannya."
"Kau selalu membelanya!"
"Aku bukan membelanya tetapi dia adikmu. Kau harus banyak mengalah dan memperhatikannya. Karena kau yang lebih tua. Lebih besar. Jika nanti kau memiliki adik lagi dan lelaki. Kau juga harus bersabar kepadanya. Adik berbeda dengan teman."
"Maksudmu, kalau aku memiliki adik lelaki akan sama saja?"
"Semua adik ingin diperhatikan oleh kakaknya."
Calissta memeluk ibunya sangat erat.
"Aku merindukan papa!"
"Papa akan datang minggu ini. Kau bersabar ya?"
"Mengapa papa tidak tinggal bersama kita dan selalu harus meninggalkan kita? Tidak seperti ayahnya Jack?"
"Karena papamu bekerja jauh dari rumah untuk menghidupi kita semua."
"Tidak bisa kah papa bekerja disini?"
"Tidak bisa sayang. Tidak ada pekerjaan yang sesuai untuk papamu disini."
"Aku juga tidak boleh menelpon dan memvideo callnya. Apakah dia tidak merindukanku dan Saphire?"
"Tidak mungkin papa tidak merindukan kita semua. Dia merindukan kita setiap detiknya. Dia berjuang untuk kehidupan kita semua. Masa depanmu dan adik-adikmu."
"Ayo kita ke kebun. Maukah kau membantuku memetik sayuran?"
"Tentu!"
Calissta sangat senang berada di kebun. Saphire mengikuti kakaknya.
Mereka berdua membantu ibu mereka memetik sayuran. Mengambil rumput untuk memberi makan ternak mereka.
Matahari bersinar cerah. Awan putih bersih. Udara juga terasa sangat segar dan bersih. Cuaca dingin merupakan hal yang biasa terjadi. Mereka memasang pemanas di dalam rumah dan mobil juga kamar mandi.
Rumah mungil tersebut terlihat sangat hangat. Memiliki empat kamar tidur. Tiga kamar mandi. Satu kamar mandi dalam di kamar utama sedangkan sisanya di luar. Satu di atas dan satu di bawah.
Kamar tidur utama terletak di bawah dengan sebuah kamar dan kamar mandi luar. Semuanya memiliki jendela dan pemandangan yang indah.
Dua kamar lagi milik Calissta dan Saphire terletak di atas dengan kamar mandi luar.
Ruang tamu menyatu dengan ruang keluarga, ruang makan dan dapur.
Sebuah mobil bertengger di samping rumah. Bersebelahan dengan kebun sayur. Kandang ternak terletak cukup jauh dari rumah.
Mereka memiliki sapi, kambing dan juga kuda.
Calissta dan Saphire sangat suka membantu seorang pekerja yang bekerja mengurus ternak dan memeras susu.
Pekerja tersebut tinggal di dekat mereka. Sekitar satu kilometer dari mereka tinggal.
Seorang pemuda, Thomas, yang bekerja paruh waktu di sela-sela waktu sekolahnya. Mengurus ternak, membersihkan kandang dan memeras susu.
__ADS_1
Calissta dan Saphire juga sangat suka memeras susu. Thomas mengijinkan dan mengajari mereka memeras susu.
Calissta dan Saphire juga sangat suka berkuda. Thomas kerap menemani mereka berkuda.
Sebuah taksi berhenti di depan rumah kayu mereka. Seorang lelaki turun membawa dua buah boneka besar.
Supir taksi membantu menurunkan barang-barang serta koper besar.
"Papa…."
Pria tersebut tersenyum lebar. Memeluk kedua putrinya. Menciumnya bergantian.
"Ini untukmu, anak manis. Dan ini untukmu, anak baik."
"Terima kasih, papa."
Kedua putrinya menciumnya.
Dua buah boneka yang sama persis. Pria itu mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Sekotak coklat dan kue.
"Mana mama kalian?"
"Di dapur. Sedang memasak."
Pria itu masuk ke dalam setelah membawa semua barang yang dibawanya.
Memeluk mesra isterinya. Menciumnya.
"Masak apa sayang?"
"Kesukaanmu."
"Pantas perutku menjadi sangat lapar hanya dengan mencium dan melihatnya."
Isterinya tertawa. Suaminya sangat menyukai steak dengan smash potatoes yang sangat lembut.
"Terima kasih, sayang…."
Sang isteri mencium suaminya mesra. Matanya berbinar bahagia.
"Berapa lama kau disini?"
"Seminggu, sayang. Pekerjaanku menumpuk. Aku tidak bisa lama-lama di sini. Walaupun aku ingin selalu bersama kalian semua. Tapi aku tidak bisa. Aku bisa melihat kalian setiap dua minggu sampai sebulan sekali sudah membuatku sangat bahagia. Maafkan aku, sayang…."
"Tidak apa-apa. Kau sudah melakukan yang terbaik untuk kita semua."
"Bagaimana kandunganmu?"
Suaminya mengelus perutnya yang membuncit. Mencium perut isterinya lembut.
"Aku tidak sabar ingin bertemu denganmu." Sahutnya berbicara dengan bayi yang berada di dalam kandungan isterinya, "Kapan dia akan lahir?"
"Satu sampai dua minggu."
"Kau jadi melahirkan di rumah?"
"Ya. Aku akan memanggil ambulance kalau perlu rumah sakit."
"Baiklah. Aku tidak tahu apakah bisa menemanimu atau tidak. Kalau minggu ini, bisa saja aku menemanimu tapi minggu depan?"
"Tidak apa-apa. Aku bisa sendiri. Kau tidak usah khawatir. Aku sudah memilih layanan home care yang terbaik."
"Yeah. Mudah-mudahan dia lahir minggu ini dan aku bisa melihatnya menyambut dunia. Bagaimana kalau melahirkan caesar? Kita bisa mengatur waktunya?"
"Aku ingin melahirkan normal. Kau tidak masalah kan?"
"Tentu tidak. Apa saja yang membuatmu nyaman. Kau buat videonya untukku, ya?"
__ADS_1
"Tentu…."
"Papa temani kami berkuda."
"Baiklah. Kapan?"
"Sekarang."
"Bolehkah, aku makan dulu? Perutku sangat lapar?"
"Tentu!"
Lima hari kemudian. Perutnya sangat mulas dan kaku. Suaminya memanggil layanan home care yang sudah mereka booking.
Keringat dingin bercucuran. Perutnya semakin mulas dan semua persiapan melahirkan sudah dilakukan.
"Take a deep breath. Hold on. Exhale."
Suara tangis bayi memecah ruangan.
"It's a boy!"
Suaminya mencium puteranya dengan mesra, mengazankannya. Bayi tersebut diserahkan ke ibunya untuk diinisiasi. Kemudian disusui.
"Terima kasih, sayang…."
Suaminya mencium kening isterinya mesra.
"Sama-sama sayang."
Kedua putrinya berebutan ingin mencium dan memegang adiknya.
"Bergantian, sayang!"
Air mata isterinya mengalir.
"Kenapa menangis?"
"Aku bahagia."
"Kau tidak mengingat Dean kan?"
Suaminya menatapnya dengan perasaan cemburu.
"Aku merasa bersalah."
"Untuk apa?"
"Kita memalsukan kematianku."
"Aku melakukannya bukan tanpa alasan. Aku tidak ingin melihatmu hancur. Dia tidak bisa melindungimu dan kau akan kembali dikelilingi oleh orang-orang yang meracunimu dan membuatmu sakit mental."
"Aku tahu tapi tetap saja. Bagaimana dia?"
"Aku tidak tahu. Sesekali dia mendatangi pemakamanmu. Membawa bunga. Kau tidak usah membicarakan dia lagi. Aku tidak suka."
"Maafkan aku. Aku hanya merasa bersalah."
"Kau jangan terlalu banyak berpikir. Hidupmu disampingku dan anak-anak kita bukan selain itu."
"Aku tidak menyesali keputusan dan rencanamu. Hanya saja kita membohonginya."
"Kita tidak mungkin mengatakannya secara terus terang. Akan mengacaukan segalanya."
"Aku mengerti."
"Mrs. Sinta and Mr. Dylan, everything is already done. Conglatulation for the baby boy born…."
__ADS_1