Mawar Berhati Baja

Mawar Berhati Baja
Hang Out


__ADS_3

Mereka makan minum bersama sambil menunggu Maghrib. Memenuhi ruang makan dan dapur.


“Mengapa sikapmu berubah seratus delapan puluh derajat padaku?” Tanya Dylan kepada Haliza.


“Aku baru menyadari bahwa aku sangat terburu-buru dalam memutuskan sesuatu. Pernikahan Ahkam dan Hana membuatku kacau. Aku merasa disingkirkan oleh mereka berdua. Mungkin secara romansa benar. Tapi Ahkam selalu melakukan tanggung jawabnya dengan baik terhadap aku dan anak-anak.”


Dylan terdiam mendengar perkataan Haliza.


“Tidak hanya kau yang memiliki kenangan manis dengan Sinta. Aku juga memiliki kenangan dengan Ahkam. Walaupun dia tidak pernah mencintaiku. Aku bukan cinta sejati di dalam hidupnya. Tapi dia tidak pernah menelantarkan aku dan anak-anak. Bahkan karena sikapnya itu membuat Hana salah paham dan cemburu.”


“Terserah padamu. Mungkin kau benar kita berdua terlalu terburu-buru. Tapi apa pun itu. Aku tidak ingin hubungan kita berubah menjadi renggang. Kita tetap berteman bagaimana? Aku berjanji tidak akan melangkah lebih jauh tanpa persetujuan mu. Aku juga tidak akan memulai hubungan yang lebih dekat padamu. Sebelum aku bisa pindah ke lain hati.”


“Yeah, hal itu tidak hanya berlaku untukmu. Tapi juga untukku. Aku tidak akan memulai hubungan yang baru selama aku belum bisa mengenyahkan Ahkam dari pikiranku. Bagaimana pun dia lelaki pertama dan satu-satunya yang aku kenal dekat. Satu-satunya cinta yang aku tahu. Aku berlari padamu karena aku ingin mengalihkan rasa sakit ku padamu. Aku sendiri tidak tahu apakah aku mencintaimu atau tidak.”


“Deal...” Ujar Dylan menyetujui.


“Deal....”


“Bu, ayo kita pergi.” Ajak Syarifah.


“Aku sejak siang tadi menunggu kalian semua. Ayo kita berangkat sekarang.”


“Ayahnya Callista boleh ya ikut?”


“Yeah, tentu.”


“Kau tidak marah lagi dengan ayah Callista?”


“Tentu tidak. Hanya kesalahpahaman.”


“Baiklah. Ayo, om, kita berangkat. Anak-anak perempuan bersama ibu. Sedangkan anak-anak laki bersama om aja ya?” Ujar Syarifah.


Dylan menganggukkan kepalanya.


Sesampainya di mall mereka berpencar. Anak-anak perempuan berbelanja bersama Haliza sedangkan anak-anak lelaki lebih memilih ke toko mainan, game dan buku.


“Cal, sebentar lagi pesta ulang tahun Dania. Aku ingin mengenakan baju kembar denganmu. Bagaimana?” Tanya Syarifah.


“Bagaimana dengan Azizah?”


“Baiklah kita kembar bertiga dengan Azizah. Maksudku kita kan akan menjadi saudara.”


“Kau tidak lihat bagaimana ibumu menjauhi ayahku?” Sahut Callista dengan wajah muram.


“Ayahmu tidak bisa melupakan ibumu. Wajar ibuku seperti itu.”


“Aku tidak mengerti mengapa ayahku tidak bisa melupakan ibuku? Dia sudah menikah lagi. Meninggalkan kami semua. Aku membencinya karena meninggalkan anak-anak dan suaminya begitu saja. Aku semakin membencinya karena dia membuat ayahku tidak bisa melupakannya. Mengapa dia begitu egois?”


“Tapi ibumu sepertinya sangat baik.”


“Don’t judge a book from its cover.”


“Entahlah. Sepertinya dia sangat menyayangi kalian semua. Kupikir, dia juga masih sangat mencintai ayahmu.”


“Apa? Kau jangan gila!”


“Benar. Aku suka melihat ibumu kerap mencuri pandang ke arah ayahmu.”


“Benarkah? Tidak mungkin. Dia sudah menikah lagi dan kau tahu bagaimana dia memanjakan Emier. Kami bertiga membenci Emier karena dia dan ayahnya sudah merebut ibuku dari sisi ayahku juga kami semua.”


“Kalian bicara apa sih?” Tanya Haliza kepo.


“Ini tante. Syarifah bilang, ibuku masih menyukai ayahku.” Adu Callista.


“Bagaimana kalau aku juga masih menyukai ayahmu?”

__ADS_1


“Bu! Aku serius. Kau malah becanda!”


Haliza tertawa, “Aku juga serius. Aku tahu dia sudah mengecewakanku karena menikah lagi dengan encik mu. Tapi bagaimana pun dia ayah dan suami yang baik. Dia menawariku poligami tapi aku tidak mau sedangkan dengan ayah Callista, aku tidak keberatan.”


“Karena kau sakit hati ayah menduakan mu dengan encik Hana.”


“Ayah Callista sendiri “menduakan ku” dengan ibunya. Apa bedanya?” Haliza menertawakan dirinya, “Tetapi mungkin yang terbaik seperti ini. Menjadi saudara dengan ayahmu. Aku merasa lebih bebas. Tidak dipoligami saja, Hana sudah seperti itu padaku. Bagaimana jika dipoligami ayahmu? Mungkin aku juga akan berlaku sama dengan Hana. Jika dipoligami ayahmu. Aku akan sangat mencemburuinya dan berebut perhatian ayahmu. Betapa melelahkan."


“Aku senang ibu dan ayah sudah berbaikan. Aku menganggap encik Hana seperti kakakku sendiri. Tidak apa-apa kan bu?”


“Tentu tidak apa-apa. Umur kalian kan tidak terpaut terlalu jauh. Encik mu hanya lima tahun lebih tua darimu. Ayahmu menyayanginya seperti anaknya sekaligus mencintainya seperti layaknya wanita dewasa. Jika dia tahu betapa beruntungnya memiliki cinta ayahmu yang sebesar itu padanya. Tidak akan sudi mencemburui ku.” Sahut Haliza tertawa, “Aku merasa sangat tersanjung. Wanita semuda dan secantik itu insecure dengan wanita sebayaku. Lima tahun lagi aku akan berusia empat puluh satu tahun. Aku dan ayahmu selisih lima tahun. Aku dan encik mu selisih dua puluh tahun."


Haliza memasuki toko langganannya. Mulai memilih-milih pakaian.


“Kalian tidak mau membeli pakaian?”


“Jangan di toko ini.” Ujar Syarifah.


“Tapi kenapa?”


“Yang satu lagi. Aku ingin membeli baju pesta kembaran dengan Callista dan Azizah.”


“Baiklah. Tapi temani dulu aku berbelanja disini. Kalau ada yang kau dan Callista suka ambil saja.”


“Baiklah.”


Mereka bertiga mulai memilih-milih pakaian yang mereka sukai.


Haliza memilih beberapa pakaian yang dicobanya di fitting room. Kebanyakan dia membeli pakaian rumah dan untuk digunakan sehari-hari.


“Bagaimana menurut kalian yang ini?” Tanyanya pada Callista dan Syarifah.


“Motifnya terlalu ramai.” Ujar Syarifah diamini oleh Callista.


“Yeah, tapi bahannya adem banget.” Haliza kembali menuju fitting room.


“Bu! Kau seperti gasing.” Kontan mereka semua tertawa.


“Tapi bagus bajunya. Aku suka. Warna dan modelnya.” Ujar Callista yang diamini Syarifah dan Sapphire.


“Bahannya juga adem. Bagaimana kalau kita kembaran berempat?” Usul Haliza.


Masing-masing dari mereka mencoba pakaian tersebut di fitting room bergantian. Kemudian mereka saling berfoto dan bergaya.


Pemilik toko yang sudah mengenal mereka semua karena merupakan pelanggan tokonya. Tertawa geli.


“Ok, beli banyak bonus selfie.”


“Aku sangat suka berbelanja disini. Selain bagus-bagus barangnya. Harganya juga lebih murah dan pemilik tokonya sangat ramah. “ Puji Haliza.


“Anda orang ke sejuta seratus sembilan puluh sembilan yang mengatakan itu.” Sahut pemilik toko.


Pecah tawa mereka semua.


“Aku gak dapat diskon untuk pujian yang kuberikan?”


“Kau sendiri bilang disini harga lebih murah. Kalau ku diskon lagi. Besok tutup tokoku.”


Mereka kembali tergelak.


Selesai mereka berbelanja di toko langganan Haliza. Mereka menuju toko yang ingin dituju Syarifah. Masih di mall yang sama.


Sebuah toko khusus menjual gaun-gaun dan pakaian-pakaian pesta. Kebanyakan berwarna hitam dan gelap seperti coklat tua, navy, maroon dan hijau tua gelap. Berwarna metalik, gold, silver dan putih. Warna terang seperti merah dan orange.


Giliran Haliza dan Sapphire yang duduk manis melihat Callista dan Syarifah sibuk memilih pakaian pesta yang cocok buat mereka bertiga dengan Azizah.

__ADS_1


“Kau tidak ikut memilih anak manis?” Tanya Haliza.


Sapphire menggelengkan kepalanya, “Aku kan tidak sekelas dengan mereka. Tidak diundang ke pesta tersebut.”


“Untuk ke acara lain. Pilihlah satu untukmu sehingga kalian bertiga bisa kembaran.”Ujar Haliza, “Syarifah, belikan Sapphire satu. Sehingga kalian berempat bisa kembaran.”


“Tapi kan dia tidak diundang ke pesta tersebut. Beda kelas dan angkatan.”


“Untuk ke acara lain. Setidaknya dia dan Callista bisa memakainya kembaran di lain waktu.”


“Baiklah.” Ujar Syarifah.


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2