Mawar Berhati Baja

Mawar Berhati Baja
Surprised


__ADS_3

Mereka tiba di sirkuit Mandalika. Syarifah dan Haliza memilih menghabiskan waktu di pantai sementara Syarif dan Ahkam menonton sirkuit.


“Balap itu asik loh…” Ujar Ahkam diamini Syarif.


“Mungkin buat yang suka asik. Tapi yang tidak suka. Sangat membosankan.” Ujar Haliza yang diamini Syarifah.


“Kalian berdua saja yang nonton balap. Kita mau jalan-jalan di pantai. Bermain permainan air. Mencoba makanan di pinggir pantai.”


“Ya sudah terserah saja.”


“Besok kita kemana?”


“Gili Trawangan.”


“Baiklah.”


Haliza dan Syarifah berjalan menuju pantai sedangkan Syarif dan ayahnya berjalan menuju sirkuit. Membeli tiket masuk.


“Apa yang akan kita lakukan, bu?”


“Bagaimana kalau kita snorkling?”


“Menyewa alatnya?”


“Kita beli saja dulu, gimana? Sambil membeli pakaian, handuk, pakaian dalam, shampoo dan sabun. Kalau baju kita basah. Kita mesti ganti pakaian.”


“Yeah, right.”


“Baiklah aku akan pesan gocar.”


Mereka memesan gocar menuju tempat perbelanjaan. Agenda berubah menjadi berbelanja di tempat perbelanjaan.


“Kain tenunnya bagus-bagus.” Puji Haliza yang langsung lapar mata melihat barang-barang khas Lombok yang dipajang di toko-toko.


“Bu, kita kan mau snorkling.”


“Iya, tapi temani dulu ibu belanja.”


“Bu!”


“Sebentar saja…”


Haliza menarik tangan Syarifah. Mereka berkeliling melihat barang-barang khas Lombok yang ditawarkan di sepanjang pusat perbelanjaan.


“Apakah bisa minta dikirim ke alamat rumah?” Tanya Haliza pada pemilik toko, “saya sedang berlibur . Koper sudah penuh dan akan menambah beban bagasi. Apa bisa saya kirim lewat ekspedisi ke rumah?”


“Bisa bu.”


“Baiklah.Kalau begitu, saya lihat-lihat serta pilih-pilih dulu, ya…”


“Motif Subahnale banyak dicari orang, bu.” Ujar penjual kain.


“Baiklah, aku lihat-lihat dulu, ya…”


Haliza berkeliling bersama Syarifah.


“Bu, katanya mau beli alat snorkling dan pakaian ganti.”


“Iya nanti kita beli. Aku pilih-pilih dulu kain. Bagus-bagus.” Ujar ibunya sambil terus melihat serta meneliti kain-kain tersebut.


“Jangan lama-lama.”


“Iya.”


Haliza mulai berkeliling. Meneliti satu per satu bahan serta motif kain yang dijual.


Wajah Syarifah mulai merengut. Apalagi saat ibunya berkata, “sepertinya aku sekalian berbelanja buat tokoku.”


“Bu!”


“Ini bagus-bagus, sayang.” Tidak kurang Haliza membeli tiga lusin kain. Yang sudah dipilihnya dengan sangat teliti.


“Ayo, bu, kita beli alat snorkling dan pakaian ganti.”


“Sebentar, mutiara dan gerabahnya cantik-cantik sekali. Ini juga bisa kupajang di tokoku.”


“Bu!”


“Sebentar, sayang…”


“Tau gini, lebih baik aku menonton sirkuit sama ayah dan Syarif.”


“Kain songket,  anyaman ketak dan madu Sumbawa.”


“Tadi kau sudah membeli kain banyak sekali.”


“Itu kain tenun. Untuk dijual di tokoku.”

__ADS_1


“Sekarang kain apa?”


“Kain songket.”


Wajah Syarifah mulai kecut. Dia paling malas menemani ibunya berbelanja apalagi buat tokonya.


“Lebih baik kau cari makanan atau jajanan sementara aku berbelanja. Atau apa yang ingin kau beli?”


“Aku mau ke toko sepatu dan pakaian.”


“Ya sudah, nanti kita saling berkabar saja. Bagaimana?”


“Baiklah.”


“Aku juga ingin membeli kacamata hitam.” Ujar Syarifah.


“Baiklah.”


Syarifah berjalan menjauh meninggalkan ibunya yang sedang asyik berbelanja buat tokonya.


Menuju toko pakaian dan sepatu yang menarik perhatiannya. Sebuah sepatu kets berwarna Burgundy mencuri perhatiannya.


Mematut-matut kakinya yang mengenakan sepatu tersebut. Harganya lumayan mahal.


Sebagian besar tabungannya memang digunakan untuk membeli pakaian, sepatu serta kacamata hitam.


Kedua orang tuanya memberikannya jatah untuk berbelanja pakaian, sepatu serta kebutuhan lainnya.


Kesukaannya akan sepatu, pakaian dan kaca mata hitam membuatnya harus merogoh koceknya lebih dalam. Mencairkan tabungannya.


Rasa kesalnya hilang seketika. Berbelanja sepatu, pakaian dan kaca mata adalah kegiatan yang paling menyenangkan daripada menemani ibunya berbelanja atau menonton sirkuit.


Matanya terpaku melihat sepatu violet muda. Semakin terbelalak melihat sepatu hijau sage.


Kalau begini caranya, tabunganku bisa terkuras habis. Mana yang harus kupilih?


Kalau sudah begini. Tidak ada bedanya dia dengan ibunya saat berbelanja. Bolak balik harus berpikir dengan sangat keras sepatu mana yang akan dipilihnya.


Kalau tidak harus berpikir untuk membayarnya. Mungkin dia akan memborong sebagian besar isi toko yang menjual sepatu dengan warna serta model yang ciamik.


Tapi karena dia harus berpikir untuk membayarnya. Jika tidak ingin tabungannya menguap habis. Dia tidak bisa gegabah.


“Tiga-tiganya bagus, mbak!” Ujar staff toko.


“Hmm, iya…” Sahutnya meringis.


“Diskon 90 persen dong, mas. Sekalian gratis.” Ujarnya asal.


“Boleh aja mbak…”


“Bener nih mas?”


“Bener, asal mbak mau jadi pacar saya…”


“Asem!” Umpat Syarifah, “saya serius masnya becanda.”


“Siapa yang becanda? Kalau mbak mau jadi pacar saya. Saya kasih gratis.” Sahutnya tergelak.


“Gak lucu mas! Saya serius nih.”


“Saya sejuta rius.”


Syarifah tidak menanggapi dan memilih kembali fokus kepada ketiga buah sepatu yang akan dipilihnya.


Dengan berat hati, Syarifah memutuskan untuk memilih warna Burgundy walaupun hatinya tetap menginginkan dua buah pasang sepatu lainnya.


Gadgetnya berbunyi.


“Kamu dimana?”


“Toko sepatu.”


“Ibu sudah selesai belanja. Kita beli peralatan snorkling dan baju ganti.”


“Baik bu.”


Syarifah membayar sepatu yang dibelinya. Bergegas berlalu dari toko sepatu.


“Mbak!” Panggil penjaga toko.


“Ada apa?”


“Ini sepatu mbak.” Menyerahkan dua buah sepatu yang ditinggalkannya.


“Saya gak jadi beli mbak.” Ujarnya sambil membalikkan tubuh.


“Mbak!”

__ADS_1


“Ada apa mbak?”


“Ini sepatu buat mbak.”


“Maksudnya?”


“Sepatu-sepatu ini udah dibayar dan buat mbak.”


“Tapi mbak…”


Gadgetnya kembali berbunyi.


“Kamu dimana?”


“Iya, ini lagi otw.”


Syarifah mengambil plastik sepatu yang disodorkan padanya dengan wajah bingung dan segera berlalu.


Haliza menunggu Syarifah yang sedang bergegas menujunya.


“Lama sekali.” Gerutunya.


“Aku bingung memilih sepatu yang akan kubeli.”


“Bingung tapi belinya banyak sekali.”


“Aku cuma beli satu. Sisanya ada yang beliin buat aku.”


“Kamu minta beliin siapa? Kamu gak boleh begitu!” Sahut ibunya marah.


“Aku bukan minta beliin tapi ada yang beliin buat aku.”


“Siapa?”


“Aku juga tidak tahu.”


“Kok bisa tidak tahu?”


“Aku tidak kenal. Waktu aku mau bayar. Pelayan toko bilang ada yang membelikan sepatu-sepatu tersebut buat aku.”


“Aneh sekali.” Ujar ibunya.


Mereka beranjak pergi menuju toko peralatan yang menjual alat-alat snorkling. Kemudian mereka membeli pakaian ganti. Perlengkapan mandi.


Saat mereka bermaksud kembali ke pantai. Gadget Haliza berbunyi. Ahkam mengabarkan bahwa dirinya dan Syarif sudah selesai menonton balap di sirkuit.


“Sepertinya kita tidak jadi snorkling.” Ujar Haliza.


“Kenapa bu?”


“Ayah serta adikmu sudah selesai nonton balap.”


Mereka kembali ke sirkuit Mandalika kemudian bersiap kembali ke hotel.


Sesampainya di hotel mereka beristirahat.


Ahkam memesan room service ke kamarnya dan Syarif. Juga ke kamar Haliza dan Syarifah.


“Kita makan di kamar saja. Seharian keluar malas keluar kamar. Lebih baik beristirahat supaya besok segar beraktifitas.”


Selesai makan mereka beristirahat. Mengobrol sambil menonton televisi dan tidur.


Keesokan paginya, mereka bersiap untuk breakfast buffet setelah membersihkan diri. Bersiap menuju Gili Trawangan.


Mereka memasuki lift. Saat pintu akan menutup terdengar suara seseorang berteriak.


“Tunggu!”


Haliza memencet tombol gambar pintu lift terbuka.


“Terima kasih.”


“Kau?” Ujar Haliza.


“Sedang apa kau di sini?” Tanya Ahkam kesal.


“Apa maksudmu?”


 


 


 


... ...


... ...

__ADS_1


__ADS_2