Mawar Berhati Baja

Mawar Berhati Baja
Birthday Cake


__ADS_3

Beberapa hari lagi menjelang ulang tahun Callista. Sinta sudah sangat mengharu biru. Menghitung berapa lama dia sudah tidak bersama anak-anaknya pada setiap ulang tahun mereka.


Dean kerap protes jika Sinta mulai sibuk mempersiapkan ulang tahun bagi anak-anaknya dengan Dylan. 


Karena Sinta tidak mempedulikan ulang tahun Emier bahkan kerap menolaknya.


Dean tidak dapat menahan amarahnya melihat perbuatan Sinta kepada putranya.


"Kau memang ibu yang sangat kejam dan culas!"


"Kau sudah tahu aku seperti itu. Kenapa tidak menceraikanku?" Sahut Sinta dengan wajah menantang.


"Kau memang benar-benar keterlaluan. Kalau tidak karena Emier, sudah kuceraikan kau!" Teriak Dean.


"Tidak usah menjadikan Emier sebagai alasan. Aku tetap ibunya walaupun kita bercerai!"


"Kau ibu musang! Bagiku kau tidak lebih dari seekor serigala tapi bagi Emier, kau adalah segalanya. Walaupun kau ibu berbisa dan tidak memiliki hati!"


"Bunda!" Sahut Emier.


"Apa! Anak nakal! Kau selalu membuatku dan ayahmu bertengkar! Kutitipkan kau ke panti asuhan baru tahu rasa!"


"Sinta!!! Jangan keterlaluan! Jaga sikap dan kata-katamu!"


"Bunda! Aku minta maaf! Aku tidak jadi minta ulang tahun."


"Buat apa ulang tahun? Kau mau memamerkan kekayaan ayahmu?!" Bentak Sinta pada Emier.


"Emier, masuk kamarmu!" Perintah ayahnya.


Emier menggelengkan kepalanya.


"Masuk kamarmu, sayang." Bujuk ayahnya.


"Tidak mau!"


"Mengapa kau tidak mau patuh pada Baba?" Ujar Dean.


"Aku tidak mau Baba memukul bunda!"


Usia Emier belum genap lima tahun tetapi dia sudah bisa memahami semuanya dengan baik. Babanya akan memukul bundanya begitu dia meninggalkan bundanya.


"Baba akan mengadakan ulang tahun yang sangat meriah untukmu. Kau tidak usah meminta pada bundamu yang sangat tidak tahu diri ini!" Sahut Dean keras,"Kau lihat sendiri anakmu! Begitu setia dan menyayangimu. Walaupun kau suka berbuat kejam padanya. Dia tetap menyayangimu. Bagaimana mungkin aku menggantimu dengan yang lain? Jangan besar kepala. Alasan kau masih bersamaku hanya karena Emier!" Tukas Dean.


"Baba! Jangan memarahi bunda!"


"Bundamu nakal! Harus dimarahi!"


Emier memeluk bundanya yang langsung ditepis bundanya.


"Menjauh dariku! Kau cari ibu lain! Kau tidak dengar apa kata ayahmu? Aku bukan ibu yang baik untukmu!" 

__ADS_1


"Bunda! Aku tidak mau ibu lain!" Mata Emier mengaca.


Hati Sinta nyaris tidak tega melihatnya. Bagaimana pun, Emier adalah anak yang dilahirkannya. Sama seperti anak-anaknya dari Dylan.


"Menjauh dariku!" Bentak Sinta.


Emier tetap mendekati ibunya. Sinta tidak pernah memeluknya atau menciumnya. Emier yang kerap melakukannya untuk ibunya.


"Kau benar-benar nakal! Tidak pernah mau mematuhi ayah dan ibumu!"


Emier memeluk ibunya yang sedang memarahinya. 


"Jangan kau kira aku akan mengijinkanmu mengadakan ulang tahun atau memberikan apa pun untuk ulang tahunmu! Kau anak manja! Sombong! Suka memamerkan kekayaan orang tuamu! Aku tidak akan membiarkan kau menjadi snob!"


"Iya bunda! Aku tidak akan mengadakan ulang tahun. Aku hanya ingin memeluk dan mencium bunda!"


"Aku tidak ingin memeluk dan mencium anak yang sangat nakal! Selalu melawan orang tua! Kau tidak dengar apa kata ayahmu? Masuklah ke kamarmu!"


Emier menggelengkan kepalanya sekuat tenaga, "Aku tidak mau Baba memukul Bunda!"


"Kau suka ikut campur urusan orang tua! Mengapa kau tidak mau mencari ibu lain yang bisa memperhatikanmu dan ayahmu?"


"Aku tidak mau ibu lain!" Sahutnya berkeras.


"Dasar keras kepala!" Sinta menjewer kuping Emier disertai teriakan Dean.


"Sinta!!! Kau jangan keterlaluan!"


Dean tidak dapat menahan air matanya, "Kau benar-benar tidak punya hati. Apa kurangnya anakmu? Dia sangat cerdas, tidak pernah rewel, mencintaimu tanpa syarat dan di usianya belum genap lima tahun. Bisa melakukan banyak hal. Dia hanya meminta sedikit perhatian darimu."


"Baba! Aku tidak ingin perhatian bunda atau apa pun. Aku hanya ingin Baba tidak marah dan memukul bunda!"


Air mata Dean semakin deras, "Kau anak bodoh! Tidak tahu apa yang kau pinta! Kau mencintai bundamu dengan buta."


"Dia sebodohmu!" Ejek Sinta kasar.


"Jangan kurang ajar!"


"Apa namanya tidak bodoh membalas dendam tanpa mempertimbangkan konsekuensinya?"


"Aku dikuasai emosi dan amarah. Kau dan Dylan sangat keterlaluan!"


"Tetap saja kau bodoh! Aku dan Dylan sudah memiliki anak. Kami adalah keluarga! Kau menghancurkan keluargaku!"


"Jangan selalu kau ungkit kesalahanku! Semua sudah terlanjur. Berbelas kasihan lah!" Ujar Dean.


"Kau sendiri? Tidak pernah menaruh belas kasihan sama sekali? Aku dan Dylan sudah memohon tapi apa kau memiliki belas kasihan?" Airmata menuruni kedua belah pipi Sinta. Emier masih memeluk ibunya. Sinta tidak membalas pelukan anaknya sama sekali.


"Aku ingin membuat kue ulang tahun untuk kakakmu! Hentikan perbuatan bodohmu!" Ujar Sinta pada Emier.


"Bunda! Aku ingin bertemu kakak-kakakku."

__ADS_1


"Bilang saja pada babamu!"


"Mengapa aku tidak boleh menemui kakak-kakakku? "tanya Emier pada ayahnya.


"Kau ingin bundamu dibawa lari?"


"Bunda tidak akan lari! Rumah bunda disini bersama kita."


"Mungkin kau tidak mengerti perkataanku. Apa kau mau bundamu tidak kembali?"


Emier menggelengkan kepalanya.


"Berhenti meminta bertemu dengan kakak-kakakmu."


Emier menganggukkan kepalanya, "Aku ingin bunda menyayangiku seperti kakak-kakakku yang lain."


"Anak nakal! Kau penuh rasa iri dan dengki! Kakak-kakakmu tidak bisa bersamaku. Sedangkan kau selalu bersamaku sejak lahir. Masih belum puas juga!" Sinta kembali menjewer Emier.


"Jangan kasar terhadap Emier! Dia selalu menyayangi dan mencintaimu! Kau memang selalu bersamanya tetapi yang selalu kau pikirkan dan perhatikan hanyalah anak-anakmu dengan Dylan." Tukas Dean kesal.


"Kau ingin aku senang sendiri? Melupakan anak-anakku? Mengistimewakan anak yang sudah merebut kebahagiaan anak-anakku? Mereka juga merasa kehilanganku! Aku tidak ingin mereka berpikir aku menikmati apalagi berbahagia hidup terpisah dengan mereka." Air mata Sinta kembali turun dengan deras.


"Kau sangat suka playing victim! Aku hanya mengembalikan sesuatu pada tempatnya. Aku bosan berulang kali mengatakan hal ini padamu. Otakmu sangat bebal!" Ujar Dean kasar, "Dylan merebutmu dariku. Statusmu masih istriku saat kau menikahinya. Pernikahan kalian tidak sah! Aku bisa saja memasukkan kau dan Dylan ke penjara karena memalsukan kematianmu. Dylan juga bisa dijatuhi hukuman yang lebih berat jika semua pembunuhan yang dilakukannya terbukti. Kau tahu apa ancaman hukuman bagi pembunuhan yang dilakukan berulang kali? Seumur hidup atau hukuman mati? Aku masih memiliki hati untuk mempertimbangkan semuanya dengan bijaksana. Agar Dylan bisa mengurus anak-anak kalian. Tapi kalian terutama kau, sangat tidak tahu diri!"


"Aku tidak ingin membahas ini!" Sinta menjauhkan Emier darinya.


"Kau mau kemana?"Ujar Dean.


"Ke dapur. Aku ingin membuat kue ulang tahun buat Callista."


"Hari ulang tahun Callista berdekatan dengan Emier bahkan Emier lebih dulu ulang tahun dibandingkan Callista selisih beberapa hari. Mengapa kau tidak membuatkan kue untuknya juga?"


"Jangan mimpi!" Sahut Sinta keras kepala, "Kau punya uang. Punya segalanya. Membeli kue ulang tahun tidak akan sulit untukmu!"


"Emier adalah putramu juga!"


"Dia tidak lahir atas dasar cinta tapi kebencian! Jangan memaksaku untuk menerima atau mencintainya! Dia anak hasil marital rape!"


"Apa! Kau benar-benar keterlaluan! Emier, kumohon, masuklah ke kamarmu." Pinta Dean yang sudah habis kesabarannya dan gemas ingin memukul istrinya. Memberikan pelajaran.


Emier menggelengkan kepalanya.


Sinta berjalan menuju dapur. Dia sudah membeli bahan-bahan kue untuk membuat kue ulang tahun untuk Callista. Walaupun ulang tahun Emier hanya berselang beberapa hari. Emier lahir beberapa hari sebelum Callista berulang tahun. Tidak ada keinginan Sinta membuatkan kue untuk anaknya tersebut.


"Kau mau membantuku membuat kue ulang tahun buat kakakmu?"


Emier menganggukkan kepalanya. Dengan cekatan dia membantu ibunya. Hal mana sudah biasa dia lakukan jika ingin menghabiskan waktu lebih lama dengan ibunya.


Ibunya hanya menggunakannya untuk kepentingannya. Tidak memperhatikan sama sekali kebutuhan kasih sayang atau materi. Semua dia dapatkan dari ayahnya. Bahkan warisan yang akan didapatkan dari ibunya juga dengan kewajiban dia harus memperhatikan kakak-kakak sambungnya. 


Dia memang pewaris satu-satunya dari kedua orang tuanya. Tetapi dia juga diberikan kewajiban untuk mengurus ketiga kakaknya jika ingin mewarisi harta kekayaan ibunya.

__ADS_1


__ADS_2