
Semakin dekat Sinta melahirkan. Dean semakin memperhatikan Sinta.
"Kau jangan terlalu lelah. Aku tidak ingin terjadi apa pun padamu dan anak kita."
"Kau gak usah cerewet bisa gak?" Ujar Sinta kesal.
"Aku bukan cerewet tapi aku tidak mau ada resiko apa pun."
"Aku bukan hamil buat pertama kalinya. Jadi kau tidak usah cerewet."
"Aku merasa kau membedakan kehamilanmu kali ini. Aku sendiri tidak tahu bagaimana kau menjaga kandunganmu ketika kau bersama Dylan. Tapi kupikir karena kau kerap berada di bawah tekanan mental. Aku tidak bisa mempercayaimu. Harus mengawasimu. Baiklah, apa kau sudah makan dan minum vitaminmu?"
"Nanti."
"Susu?"
"Kau tidak lihat aku sedang apa?" Wajah Sinta jutek.
"Buah?"
Sinta melempar kotak tissue ke arah Dean, "Keluar!"
"Tidak, sebelum kau mengurus kandunganmu dulu. Baru kau kembali bekerja."
"Tidak mau!"
"Kapan terakhir kau makan?"
"Mau tau aja!"
Habis kesabaran Dean.
"Kenapa kau selalu cari gara-gara?"
"Kenapa kau selalu mengganggu?"
"Aku bukan mengganggu! Kalau kau tidak ingin meja kerjamu aku hancurkan. Sebaiknya atur prioritasmu sekarang juga!"
Wajah Sinta bersungut,"Kau sangat menyebalkan!"
"Kau ibu yang tidak punya hati. Membalaskan dendammu pada janin yang tidak bersalah."
"Kata siapa dia tidak bersalah?"
"Apa salahnya?"
"Menuruni gen dan darahmu."
"Tidak usah banyak ngomong! Urus kandunganmu."
Sinta enggan membantah membayangkan meja kerjanya hancur berantakan karena amarah Dean.
Dengan wajah kesal dia bangkit dari tempat duduknya. Dia sangat membenci Dean dan bayi yang ada di dalam kandungannya.
Pikirannya kerap melayang pada Dylan dan anak-anak mereka. Betapa kehidupan keluarga mereka sempurna setiap detiknya.
Beberapa hari lagi Callista akan berulang tahun. Ulang tahun pertama tanpa kehadirannya di sisinya.
Ingatannya melayang ketika mereka semua masih berkumpul bersama di Swiss.
Dia akan sibuk membuat kue ulang tahun sendiri atau Dylan akan membelinya.
Mereka saling mempersiapkan kado untuk yang berulang tahun. Sebagai kenang-kenangan. Semua momen disimpan di dalam foto dan video.
Seperti baru kemaren rasanya. Mempersiapkan ulang tahun Callista satu tahun yang lalu.
__ADS_1
"Kau ingin membuat kue atau aku membeli kue untuk Callista?" Tanya Dylan.
"Aku ingin membuat sendiri."
Dia tidak menyangka bahwa keinginan membuat kue sendiri adalah yang terakhir kalinya.
Dia tidak mungkin bisa membuat kue sendiri lagi untuk putrinya. Tidak ingin memberikan harapan pada Dylan dan ketiga buah hati mereka. Akan sangat sakit jika mereka masih mengingat dirinya tanpa bisa berkumpul kembali seperti dulu.
Akan lebih baik jika mereka melupakan dirinya dan melanjutkan hidup mereka yang baru.
"Kau akan membuat cake coklat untuknya?" Tanya Dylan.
"Yeah! Callista sangat menyukai coklat."
"Sapphire juga."
"Yeah, mereka berdua sangat menyukai coklat sedangkan Keanu lebih suka susu dan keju daripada coklat. Aku akan membuat cream cheese untuk Keanu."
"Yeah!"
Dia juga akan memberikan sebuah buket bunga dari toko floristnya. Berasal dari kebunnya sendiri.
Selesai makan, meminum susu dan vitaminnya. Sinta memutuskan untuk berjalan-jalan mencari hadiah untuk Callista.
"Kau tidak kembali bekerja?" Tanya Dean.
"Aku sedang suntuk. Mau jalan-jalan."
"Tenangkan dirimu. Aku senang kalau kau meresfresh dirimu."
Sinta berlalu dari hadapan Dean. Mengabaikan perkataan Dean.
"Tunggu!" Panggil Dean.
"Apalagi sih?" Sahut Sinta jutek.
"Kau cerewet sekali!" Sinta tetap berlalu mengabaikan Dean.
"Biar kubawakan ke mobil ya?"
Sinta tidak mempedulikan Dean sama sekali.
Dean menaruh tas berisi perlengkapan yang dibutuhkan.
"Jauh-jauh!" Bentak Sinta kesal.
"Iya!"
Sinta memasuki mobilnya. Dia membuka tas yang dimasukkan Dean ke dalam mobil dan mengeluarkan wedge pillownya. Kehamilannya yang sudah menua membuat punggungnya sangat pegal. Menggunakan wedge pillow membuatnya terasa lebih nyaman.
"Pak, ke toko hape ya." Sinta mengeluarkan pereda pegal-pegal.
Callist sudah SMP kemungkinan dia membutuhkan gadget yang canggih untuk mendukung aktifitas kesehariannya.
Memilih warna favorite putrinya. Dia memilih dua buah handphone dengan masing-masing nama digrafir atas nama kedua putrinya. Dia tidak ingin Sapphire merasa sedih melihat kakaknya memiliki hape yang baru. Tentu jenis yang berbeda karena Callista sudah SMP sedangkan Sapphire masih SD.
Untuk Callista dia memilih warna pink Acrylic sedangkan Sapphire, pink pastel sedangkan untuk Keanu sendiri white blue.
Tiga buah hape yang digrafir atas nama mereka masing-masing. Dengan warna kesukaan mereka masing-masing. Dikemas dengan tiga buah kertas kado yang disesuaikan dengan warna masing-masing handphone.
Sinta memencet nomor detektif swastanya. Mereka bertemu di tempat biasa.
"Tolong sampaikan hadiah-hadiah ini untuk ketiga buah hatiku. Sulungku akan berulang tahun sebentar lagi."
"Baiklah. Seperti biasa tanpa pengirim?"
__ADS_1
"Yeah. Kirim saja ke suamiku seperti biasa."
"Baiklah."
Pernikahan mereka memang sudah dibatalkan Dean tetapi tetap saja. Dia masih merasa bahwa Dylan adalah suaminya.
Seringkali dia merasa memiliki dua suami tentu ini dari perspektivenya. Karena tidak ingin pernikahannya dengan Dylan dibatalkan tetapi juga tidak mampu menolak keinginan Dean untuk tetap meneruskan pernikahan mereka. Tentu karena Dean menyandera keselamatan dan kebahagiaan ketiga buah hatinya. Dia akan melakukan apa pun untuk ketiga buah hatinya dan juga Dylan.
Kenyataannya tentu saja suaminya saat ini adalah Dean. Pernikahannya dengan Dylan sudah dibatalkan Dean.
Dean sudah tidak percaya kepadanya dan Dylan. Masih teriang ucapan Dean ketika mereka bertengkar.
"Mengapa kau begitu kejam terhadapku, Dylan dan ketiga buah hatiku?"
"Aku pernah sangat mempercayai kalian berdua. Aku mempercayai Dylan lebih dari apa pun di dunia ini. Melebihi diriku sendiri. Tetapi apa yang dia lakukan? Melarikan isteriku!" Teriak Dean marah.
"Telingaku tuli mendengar teriakanmu."
"Jangan memaksaku untuk mempercayai kalian berdua. Aku menangisi kuburan palsumu setiap hari. Kau menikahi pengacara yang sangat kupercaya. Yang kuanggap sebagai saudaraku sendiri. Aku tidak ingin membahas ini lagi. Terima keputusanku tanpa harus mempertanyakan lagi. Karena aku memiliki alasan kuat dibaliknya. Jangan memintaku memberikan kalian kesempatan kedua! Kau selamanya milikku. Tidak ada kesempatan kedua!"
Air mata Sinta menetes. Mengapa kehidupan cinta dan pernikahannya begitu rumit?
Tiba-tiba perut Sinta kram. Wajahnya pucat dan peluh mengucur dari keningnya.
"Ibu tidak apa-apa?" Tanya detektif swastanya.
"Perutku sakit. Mulas sekali. Sepertinya aku akan melahirkan."
Detektif swasta memanggil supirnya. Sinta dipapah memasuki mobil. Tanda lahirnya pecah.
"Pak, cepat ke rumah sakit."
"Baik, bu."
Supirnya melarikan mobil secepat mungkin. Sesampainya dirumah sakit. Sinta dinaikkan ke atas tempat tidur dorong.
Dean berlari secepat kilat ke rumah sakit begitu menerima telpon dari supirnya. Dirinya sangat gugup. Ya Allah, lindungi anak isteriku. Berikan kemudahan isteriku dalam melahirkan serta berikan keduanya kesehatan. Aamiin ya robbal 'alaamiin.
Sesampainya di kamar bersalin. Terdengar suara tangis bayi. Matanya mengaca. Bayinya sudah lahir. Mereka berdua selamat dan sehat. Wajah Sinta terlihat pucat dan lelah.
"Kau tidak apa-apa, sayang?" Tanya Dean sambil membelai rambut Sinta.
"Jangan memanggilku, sayang!"
"Kau masih ada tenaga untuk marah?"
"Kau jangan bikin gara-gara!"
"Baiklah. Terima kasih, kau sudah melahirkan anak kita."
"Apakah aku memiliki pilihan?" Sinta membuang wajahnya. Air matanya mengalir.
Bayinya dibawa kepadanya untuk diinisiasi dan disusui tetapi dengan tegas Sinta menolaknya.
"Kau jangan bersikap kejam! Berikan colostrum dan ASImu padanya. Dekaplah bayimu. Dia membutuhkanmu."
"Aku tidak bisa menyusuinya dan terlalu lelah untuk menggendongnya. Berikan susu formula untuknya. Banyak bayi yang bisa bertahan tanpa ASI ibunya dan mereka baik-baik saja. Apalagi pekerjaanku banyak. Aku harus kembali bekerja setelah empat puluh hari. Keluarlah, bawa bayimu bersamamu!"
"Kau benar-benar tidak punya hati!"
Sinta membalikkan tubuhnya. Air matanya mengalir dan *********** mengeras karena dipenuhi susu yang tidak diberikan pada bayinya.
"Setidaknya peras ASImu jika kau tidak ingin menyusuinya."
"Akan kupikirkan. Jangan mendesakku. Tolong keluar, aku mau istirahat."
__ADS_1
Dean membawa bayinya menjauh. Suster membersihkan dan memberikannya susu formula. Dean mengazankan bayinya dengan lelehan air mata di kedua pipinya.