Mawar Berhati Baja

Mawar Berhati Baja
Cancellation


__ADS_3

Rasa cinta seringkali menimbulkan perasaan culas tanpa disadari. Semua anak-anak Dylan dan Haliza berduka dengan keputusan Haliza membatalkan pertunangan keduanya. Sinta justru bernafas lega.


Aku tahu seharusnya aku tidak seperti ini. Tetapi aku juga tidak bisa memungkiri kalau aku masih belum bisa merelakan Dylan bersama orang lain. Apakah cinta seegois ini? Sudah tidak ada jalan bagi aku dan Dylan. Tapi aku masih berharap kami bisa bersama lagi. Memiliki Dylan seutuhnya untuk diriku sendiri. Hati Dylan milikku. Aku belum bisa merelakannya untuk orang lain.


Tapi tentu dia tidak dapat mengungkapkan isi hatinya yang sesungguhnya.


“Aku ikut bersimpati atas pembatalan pertunanganmu dan Haliza.” Sinta menelpon Dylan menyampaikan rasa simpatinya.


“Terima kasih. Dia masih trauma. Sepertinya kami memerlukan waktu yang lebih lama.”


“Kau jadi pindah ke rumah atau tetap di apartement?”


“Tetap pindah ke rumah. Jika kita semua berkumpul. Tetap saja dibutuhkan space yang lebih besar.”


“Aku ingin merubah design kamar anak-anak. Callista  dan Sapphire mengganti pilihan warna wallpapernya. Juga pilihan karpet dan furniture kamar.”


“Baiklah. Kau kirimkan saja perubahan designnya ke emailku.”


“Apakah kau bersedih dengan pembatalan pertunangan itu?”


“Tentu saja. Tapi mungkin memang kami berdua belum siap. Semuanya terlalu cepat.”


“Yeah. Kuharap kalian akan menemukan waktu yang tepat untuk kalian berdua. Slowly but sure.” Sinta berusaha menghibur Dylan.


“Yeah. Kupikir, aku juga butuh waktu mempersiapkan diriku. Akan sangat tidak adil untuk Haliza jika aku belum bisa total kepadanya.”


Sinta terdiam. Perpisahan yang dipaksa keadaan sangat berbeda dengan perpisahan yang memang sudah disepakati mereka berdua karena sudah tidak memiliki rasa dan kecocokan. Tapi kenyataannya yang menimpa mereka berdua tidaklah seperti itu.


Saling mencintai dalam diam. Keheningan hati dan pikiran mereka berdua. Sesekali terasa menyiksa. Apalagi jika rindu menyapa dan mendera.


Apakah Haliza merasakan hal itu? Terluka karena hal itu? Tapi dengan berjalannya waktu semua bisa berubah. Cinta tidak hanya tumbuh karena rasa tapi juga karena terbiasa. Justru cinta yang tumbuh karena terbiasa akan lebih abadi dan kuat. Pepatah Jawa berkata, witing tresno jalaran sukokulino....


Cinta bermuara dari puncak jiwa. Berada di dasar jiwa dan hati. Tersembunyi. Menuruni lereng merambah dan bermuara ke dalam samudera. Pancaran rasa yang memancar laksana mata air yang jernih juga suci. Yang membuat cinta jadi nista jika terkotori. Tetapi jika seperti mata air yang memancar dan menuruni serta melewati aliran yang bersih tentu tetap suci dan bersih sebagaimana asalnya.


Menjaga hati tanpa penjagaan Ilahi tentulah sangat sulit untuk dijalani. Rawan terkotori dan ternodai. Tetapi jika selalu dilingkari batasan Ilahi maka akan selalu terjaga suci dan bersih abadi selamanya.


Cinta adalah pesona rasa. Membuncah karena keindahan jiwa. Kesempurnaan raga tidak selalu menjadi yang utama. Tetapi keindahan jiwa yang memercik cinta dan menjaganya tetap menyala. Adalah yang menjadi pemantiknya agar tetap membara.

__ADS_1


Selama berumah tangga dengan Dylan. Tidak sekalipun mereka mengalami kendala apalagi prahara. Semua terjaga pada tempatnya. Tak ada luka. Tak ada lara. Yang ada hanya cinta dan romansa. Mungkin seperti terdengar seperti cerita dongeng atau khayalan. Tapi jika semua memang dibangun dengan salung menjaga. Cahaya akan melingkari hubungan mereka berdua abadi selamanya.


Mungkin jika saatnya tiba. Sinta harus melepaskan semuanya. Merelakan Dylan bersama Haliza. Memiliki rasa mereka sendiri. Karena saling terbiasa satu sama lain. Perlahan tapi pasti Dylan akan menghapus dirinya dari hati dan pikirannya. Sebagaimana ombak menyapu pinggiran pantai. Semua akan terhapus sempurna. Nama di hati Dylan juga akan berubah. Hatinya bukan miliknya lagi. Tetapi mereka bisa tetap bersama selamanya walaupun sudah tidak sebagaimana dulu. Sebagai teman dan saudara. Mendampingi anak-anak mereka dengan pasangan mereka masing-masing.


Saatnya akan tiba dimana mereka akan saling melepaskan dan mengikhlaskan. Sehingga bisa kembali berbahagia dengan kehidupan cinta masing-masing yang sudah berbeda. Dia pun akan mencintai Dean secara utuh.


Mereka berdua menantikan saat tersebut tiba. Untuk membebaskan mereka berdua dari belenggu rasa yang sudah kadaluarsa. Ibarat produk yang sudah kadaluarsa jika dipaksakan terus disimpan maka akan sangat berbahaya dan menjadi tidak berguna. Justru bisa menyebabkan masalah. Juga petaka.


Sinta dan Dean mulai membicarakan rencana untuk menambah momongan mereka. Melihat Emier seperti tidak mau berpisah dengan saudara-saudaranya. Kerap merasa sendirian di rumah. Membuat kedua orang tuanya menjadi iba.


“Sepertinya Emier memerlukan saudara untuk menemaninya. Aku tidak tega melihatnya setiap mengunjungi saudara-saudaranya. Wajahnya selalu diliputi mendung saat ingin pulang. Seperti tidak rela berpisah dan selalu ingin bersama. Bagaimana menurut pendapatmu?” Tanya Dean saat mereka sedang menikmati sarapan pagi. Memulai aktifitas pagi mereka. Sebelum mereka menuju tempat kerja masing-masing.


“Yeah, kupikir, Emier membutuhkan saudara.”


“Jadi kau mau memberikan adik lagi untuknya?”


Sinta menganggukkan kepalanya.


Dean mengembangkan senyumnya, “Terima kasih ya....”


“Emier sendirian kesepian seorang diri. Kupikir memang sudah saatnya dia memiliki saudara lagi. Kau tidak perlu berterima kasih." Ujar Sinta.


“Aku belum hamil. Kita kan baru akan merencanakannya.”


“Aku ingin kamar mereka bersebelahan. Seperti disini.”


“Baiklah, akan kusiapkan kamarnya. Tetapi kita belum tau anak kita lelaki atau perempuan.”


“Aku mau anak perempuan. Kita akan memprogramnya.”


“Kau tidak bertanya pada Emier dulu?”


“Kau juga memerlukan teman.”


“Ada Callista dan Sapphire.”


“Bagaimana kalau kembar sepasang?”

__ADS_1


“Maksudmu?”


“Program kembar tetapi satu lelaki dan satu perempuan?”


“Hmm, boleh juga. Aku melahirkan sekali lagi dan setelah itu tutup pabriknya.”


Dean tertawa mendengar candaan ringan Sinta.


“Rumah kita masih cukup luas untuk beberapa anak lagi.”


“Ada Callista, Sapphire, Keanu, Syarif dan Syarifah. Kau juga tahu bagaimana pekerjaanku.”


“Baiklah. Kembar sepasang. Satu teman untuk Emier dan satu untukmu. Aku juga ingin memiliki anak perempuan. Kau tidak keberatan kan?”


Sinta menggelengkan kepalanya,” Sapphire pasti akan senang mendapatkan seorang adik perempuan. Begitu juga Keanu dan Emier.”


“Yeah.”


Sinta memutuskan menelpon Dylan membicarakan masalah kamar tambahan di sebelah kamar Emier. Merancang design kamarnya.


Emier sendiri sangat senang mendengar rencana kedua orang tuanya memberikannya adik.


Setiap hari memeriksa perut ibunya. Menempelkan telinganya. Membuat Sinta tertawa.


“Bunda belum hamil sayang.  Masih diusahakan. Kalau sudah ada adeknya. Nanti bunda beritahu. Bagaimana?”


“Tetapi aku mendengar sesuatu dari perut bunda. Bisa jadi suara adek.”


“Itu isi perut bunda. Suara usus bekerja menggiling makanan. Dan mungkin juga ada suara-suara cacing kelaparan di dalamnya.” Sinta kembali tertawa melihat polah putranya.


Memeluk dan mencium putranya. Dirinya kerap didera perasaan bersalah. Mengingat sikapnya sebelumnya. Tetapi saat ini dia sudah memiliki semua anak-anaknya bersamanya. Tidak perlu lagi takut mereka akan mendapatkan perlakuan yang berbeda.


Dia akan memastikan semuanya akan mendapatkan kasih sayang, perhatian, cinta dan perlakuan yang sama baik dan adilnya.


Walaupun untuk Callista, Sapphire dan Keanu dia harus membaginya dengan Haliza tetapi tidak mengapa. Justru hal itu meringankannya. Semakin anak-anaknya bahagia dan nyaman. Semakin bahagia juga hidupnya. Semakin nyaman dan tenang hati dan pikirannya.


 

__ADS_1


 


__ADS_2