
Menjadi wanita yang basic. Membuatnya tidak pernah mengalami banyak hal istimewa atau berkesan.
Kecuali saat Dylan melamarnya. Tapi sepertinya itu karena kebaikan hatinya. Bukan berasal dari hatinya. Mengasihaninya.
Dia bertekad tidak ingin menjadi keset selamat datang bagi siapa pun. Hidupnya sempurna bersama kedua buah hatinya. Tidak ingin menambah masalah juga luka dalam hidupnya.
Seringkali yang membuat seseorang terluka adalah ekspektasi dan obsesinya. Setiap orang mendambakan cinta sejati. Mendambakan cinta yang tulus. Tapi bukan sebatas imajinasi.
Pernikahan dan perceraiannya dengan Ahkam mengajarkan banyak hal. Ketika seorang lelaki jatuh cinta. Dia akan menerima kekasihnya. Melihat kekasihnya dengan kesempurnaan. Seperti halnya Ahkam dengan Hana. Dylan dengan Sinta. Mereka akan tetap bersama. Bagaimana pun keadaannya. Akan seperti botol dengan tutupnya.
Mungkin Ahkam jatuh cinta karena kemudaan dan kecantikan Hana. Kesempurnaannya. Tapi mereka akan tetap bersama saat semuanya sudah mulai memudar. Seperti matahari menemani dari awal hari sampai dengan senja hari menghilang berganti malam.
Dylan juga mencintai Sinta. Karena keseluruhan Sinta. Mereka tidak pernah berpisah. Walaupun raga mereka tidak bersama. Sinta hidup di dalam pikiran dan jiwa Dylan. Mungkin kematian bukan memisahkan justru menyatukan mereka. Seperti kisah cinta Sam Pek Eng Tay yang sangat legendaris. Mereka tidak bisa bersatu dalam kehidupan. Tapi kematian menyatukan keduanya dengan sempurna.
Bukan sikap palsu atau berpura-pura. Mungkin berpura-pura bukan kata yang tepat. Fatamorgana. Seperti melihat oase di padang pasir. Begitu lah mereka saat belum menemukan cinta sejati atau yang real dalam hidup mereka. Semuanya ilusi.
Sejak awal memang tidak ada cinta dari Ahkam maupun Dylan untuknya. Ahkam mungkin karena keterbatasan kondisinya. Sedangkan Dylan pelarian dan rasa frustasinya karena cintanya pada Sinta harus kandas. Karena kondisi juga.
Jika Hana dan Sinta ibarat lobster. Bisa dimakan tanpa nasi. Dirinya ibarat nasi putih. Akan terasa hambar jika hanya memakan nasi putih saja.
Ahkam menawarkannya poligami. Dylan menawarkan kesetiaan. Tidak ada satu pun yang menawarkan kesejatian cinta. Kesetiaan tanpa paksaan kondisi.
Seperti halnya Ahkam dan Hana. Bisa hidup tanpa dirinya. Tapi mana mungkin Ahkam bisa hidup dengan dirinya tanpa Hana?
Dylan sendiri, menawarkan semuanya kecuali hatinya. Jika Sinta kembali dalam hidupnya. Maka persis seperti Ahkam. Poligami? Masihkah Dylan menawarkan setia? Tidak ada satu pun di dunia yang mampu menolak kesejatian cinta. Ibarat tidak lekang oleh waktu. Tidak lapuk oleh hujan. Cinta sudah pasti setia. Tapi setia belum tentu cinta. Seperti permainan kata. Tapi semua makna rasa memang seperti teka teki dan misteri.
Ketika seorang lelaki berbaik hati. Maka tidak ada kebenaran dalam semua tindakannya. Walaupun semua terlihat real.
Seorang pecinta kopi menyediakan segelas jamu. Mengandung banyak khasiat dan manfaat. Kemudian berkata, “Jamu ini terasa harum dan nikmat.”
Tubuhnya yang masuk angin dan memiliki maag menyebabkannya harus berhati-hati mengkonsumsi kopi. Terpaksa meminum jamu. Tetapi ketika tubuhnya sudah kembali bugar. Mana yang dipilih?
Mungkin dia terdengar apatis dan pesimis. Tapi luka mengajarkannya untuk berhati-hati dalam menjaga dirinya.
Tanpa sadar tetesan bening mengalir dari kedua belah pipinya. Tidak ada yang perlu dikasihani dari cinta.
Cinta merupakan rasa yang tidak bisa dipaksa. Seperti bulan menghiasi malam. Matahari menghiasi siang. Jika dipaksa maka akan terjadi gerhana bulan dan matahari.
Pikirannya mendadak buyar. Syarifah membuka pintu kamarnya.
__ADS_1
“Are you okay, mom?”
“Yeah. What's up?”
“Why are you cancel the marriage?”
“I am not ready yet.”
“When you will be ready?”
“The truth is, I won’t be ready.”
“Mom!”
“Just face the truth.”
“The truth is, we can have a happy family. Maybe happier than before.”
“ Its a hope not the truth. Its just our imagination.”
“Bu! Aku tahu kau terluka dengan perbuatan ayah.”
“Aku hancur.”
“Aku bukan cinta sejati ayahmu. Kau bisa lihat bagaimana dia memperlakukan encik mu.”
“Bu, setiap orang pasti memiliki cinta sejati mereka masing-masing.”
“Kau masih sangat muda. Tahu apa kau tentang cinta?”
“Jika kau tidak memberikan kesempatan pada ayah Callista. Bagaimana kita bisa tahu. Kita bisa berbahagia lagi atau tidak.”
“Bagaimana jika aku terluka lagi? Kau ingin menghancurkan ku tanpa sisa. Seperti debu?”
“Aku mungkin tidak tahu apa itu cinta. Tapi aku tahu jika kau tidak mencoba. Maka kau tidak akan pernah tahu. Bahkan dua buah jeruk yang terlihat sama. Dari jenis yang sama. Bisa jadi berbeda. Dan bisa jadi sama. Tapi kau tidak pernah tahu sebelum kau mencobanya. Bahkan jika sama. Kau bisa belajar dari pengalaman sebelumnya. Jika kau makan begitu saja. Akan terasa masam. Mungkin dengan menambahkan gula atau menjadikannya jus. Akan terasa berbeda.”
Haliza menatap putrinya dengan wajah gundah, “Yang kau bicarakan adalah perasaanku. Apakah kau tidak cukup bahagia hanya hidup bersamaku?”
Syarifah mengalungkan tangannya pada leher ibunya. Memeluknya erat.
__ADS_1
“Tentu aku bahagia. Tapi aku juga ingin melihat ibu bahagia seperti ayah.”
Haliza memeluk putrinya dengan sangat erat. Membelai rambutnya dengan lembut.
“Yeah, aku tahu. Kau menginginkan yang terbaik bagiku. Aku tidak siap jika harus mengalaminya lagi. Aku bisa gila. Apakah kau mengerti?”
Syarifah menganggukkan kepalanya, “Take your time, mom....”
“Yeah, I will....”
Kadang seseorang bisa berubah menjadi bijak karena pengalaman di dalam hidupnya. Sekolah kehidupan. Mengajarkan seseorang untuk tidak naive dalam memandang hidup.
Proteksi agar sakit hati tidak terulang lagi. Hidup tidak lagi sama. Saat seseorang memandang dengan pikiran penuh pertimbangan dan perhitungan. Dibandingkan dengan seseorang yang memandang hidup dengan segala kehijauannya.
Jika mau memaksakan warna pelangi hitam. Maka kau akan melihat mendung atau malam.
Mana mungkin semua berakhir cinta. Jika yang kau tabur luka? Hidup adalah misteri. Tidak ada yang tahu apakah seseorang ditakdirkan berbahagia atau sebaliknya.
Tetapi yang pasti manusia adalah makhluk pembelajar. Terutama dari sesuatu yang konsisten.
Menjadi pilihan di saat seseorang tidak memiliki pilihan. Seperti halnya menemani seseorang untuk menemukan pilihannya. Semacam fasilitator.
Dengan kata lain menjaga jodoh orang lain. Pada akhirnya mungkin semua akan berbicara takdir. Garis finish bagi setiap manusia ketika berusaha. Tetap tidak bisa memaksakan kehendaknya. Ada kehendak semesta. Kehendak pencipta.
Banyak kalimat bijak berkata. Terimalah semua hal yang menimpa dalam hidupmu dengan lapang dada.
Tapi jika setiap manusia bisa memilih. Antara luka dan bahagia. Siapa yang ingin memilih luka? Semua ingin bahagia.
Siapa yang menginginkan badai? Semua ingin angin sepoi-sepoi. Siapa yang ingin dibasuh luka? Semua ingin disapa bahagia.
Pada akhirnya, akan ada saat seseorang ditakdirkan bahagia atau terluka. Tapi apa pun itu, Haliza tidak ingin hancur kembali. Dirinya bukan pasir di tepi pantai. Aku ingin membangun istana yang kokoh. Bukan istana pasir.
__ADS_1
... ...