Mawar Berhati Baja

Mawar Berhati Baja
Accidentally Roomate


__ADS_3

Dean mengganti pakaiannya di kamar mandi luar dan menaruh pakaian bekasnya di keranjang baju kotor.


Menaruh bantal dan gulingnya di sofa. Menutupi tubuhnya dengan selimut.


Berusaha memejamkan matanya walaupun agak sulit. Membalik tubuhnya ke kanan kemudian ke kiri.


Menghitung sampai seratus. Melihat you tube. Goegle. Melihat film-film porno. Sampai matanya terasa lelah dan tertidur pulas.


Keesokan paginya, dia bangun sebelum orang tuanya bangun. Mengetuk kamar Sinta. Mengembalikan semua bantal, guling dan selimut. Bersiap mandi dan berangkat kerja.


Dia tidak menyangka sama sekali kalau Sinta berubah dingin setelah menjadi isteri. Apakah penyebabnya?


Tiba-tiba pikirannya menjadi terang.


Tentu saja bodoh, dia berubah! Semenjak menjadi isteri kau tidak pernah berpikir membayarnya untuk melayanimu karena kau pikir itu kewajibannya. Hakmu."


Selesai mandi dan berpakaian. Dean bercukur dan memakai Mandom after shave untuk mengobati lecet. Memperhalus permukaan pori-pori kulitnya sehabis bercukur. The last but not least, dia membubuhkan Mandom cologne menambah kesegaran tubuhnya.


Dean keluar kloset kamar mandi sehabis bercukur dan after shave.


"Aku punya penawaran khusus untukmu. Best deal! Kalau kau melewatkannya. Kau rugi sendiri!"


Sinta melipat mukenanya. Dia baru saja menyelesaikan sholat subuhnya.


"Best deal apa sih?"


"Penawaran khusus!"


"Kau sales? Aku tidak punya uang membeli apapun. Malas keluar ambil cash. Aku belum download aplikasi mobile banking dan malas datang ke kantor bank untuk mengaktifkannya."


"Aku bukan menginginkan uangmu. Lagian uangmu kan dari aku? Aku justru mau memberikan uang tambahan buatmu?"


"Untuk apa? Kau memberikan uang padaku lebih dari cukup dan belum kugunakan karena semua kebutuhanku sudah terpenuhi dan untuk apa lagi aku menambah uang sedangkan yang ada saja belum kupakai?"


"Dengarkan dulu aku dan jangan memotong pembicaraanku."


"Baiklah!"


"Aku tau sejak kita menikah banyak yang berubah."


"Benarkah?"


"Jangan potong dulu pembicaraanku!"


"Baiklah! Aku hanya penasaran apa yang berubah setelah kita menikah."


"Interaksi kita."


"Memang sebelumnya seperti apa?"

__ADS_1


"Kau amnesia atau apa sih? Aku tidak bisa mengerti."


"Aku tidak mengerti kita memang sebelum menikah seperti apa dan sesudah seperti apa? Aku hanya merasa kau sangat menakutkan! Aku harus selalu waspada di dekatmu."


"Sudahlah! Aku tidak mengerti perkataanmu. Lebih baik kau dengarkan aku dan jangan berbicara lagi apalagi memotong pembicaraanku. Please, ini sangat penting. Masalah hidup dan matiku. Ada di tanganmu."


"Baiklah! Apa maksudmu?"


"Aku setelah menikah banyak perubahan terjadi. Aku tidak membayarmu kalau kau melayanimu."


Wajah Sinta berubah merah padam. Menahan amarah.


"Dengar dulu!"


"Baiklah!" 


Sinta mengepalkan kedua tangannya. Sangat gatal ingin memukul Dean. Merasa sangat terhina dengan perkataannya. Memangnya dia pelacur meminta bayaran ketika melayaninya. Dean suaminya tetapi dia masih merasa sangat risih dan asing. Dia tidak tahu bagaimana mengatasi keadaan itu.


"Kupikir tidak seharusnya berubah. Apalagi kau tidak memiliki pekerjaan. Aku sungguh tidak empati. Belum kalau nanti kau jadi sosialita atau menjalani serangkaian aktifitas kemungkinan kau membutuhkan uang tambahan. Kemungkinan kau tidak enak meminta terus dariku."


"Aku belum paham maksudmu."


"Best deal dan hanya satu kali penawaran. Kalau kau menolak maka selamanya aku tidak akan menawari lagi."


"Best deal apa sih? Kau sudah seperti supermarket. Apa yang ingin kau tawarkan."


"Untuk short time, 4 juta rupiah sedangkan long time 10 juta rupiah. Kalau aku membookingmu untuk berlibur 50 juta seminggu. Bagaimana? Ini karena kau isteriku."


"Kau sudah bosan hidup?"


"Kenapa kau marah? Best deal!"


"Best deal, nenekmu! Keluar dari kamarku sebelum kubuat kau babak belur."


Sinta bersiap memasang kuda-kuda.


"Apakah ada syaraf kejepit? Maukah kau berobat ke dokter syaraf siapa tau ada syarafmu yang terjepit dan menyebabkan kau seperti ini?"


"Otakmu yang terjepit! Berpikir selalu kotor dan mesum! Cuci pake sunlight! Keluar dari kamarku!!!"


"Sejak kapan ini jadi kamarmu?"


"Sejak sekarang!"


Sinta bersiap melakukan gerakan  menyerang.


"Baiklah! Baiklah! Aku keluar dan pergi, kau puas?"


Dean bergegas keluar kamar. Enggan meladeni amarah Sinta dan merasakan pukulannya yang telak serta membuat tubuhnya sakit.

__ADS_1


Malam itu, Dean kembali tidur di luar kamar. Sofa ruang keluarga seperti biasanya.


Hanya saja karena hari itu dia lembur, bangun pagi agak telat dan seisi rumah heboh.


"Mengapa kau tidur di luar?" Ibunya berteriak kencang.


"Ibu, masih pagi jangan teriak-teriak?"


"Kau memang suami tak berguna!" Ayahnya mengomelinya.


"Meninggalkan isterimu seorang diri di kamar! Kalau kau tidak menyukainya, mengapa menikahinya? Kukenalkan dengan anak kerabatku, kau tolak!"


"Sinta!!!"


Suara ibu mertuanya membahana ke seisi ruangan.


Sinta tergopoh-gopoh turun.


"Ada apa bu?"


"Mengapa suamimu tidur di luar? Kau isteri macam apa?"


Sinta membungkam seribu bahasa.


"Aku tidak terima anakku diperlakukan seperti ini!"


Dean terbangun dari tidurnya dan baru menyadari apa yang terjadi. Matanya masih sangat mengantuk karena dia baru pulang jam dua pagi dan langsung tidur di sofa.


"Bu! Jangan berisik. Aku baru pulang jam dua pagi. Menyelesaikan pekerjaan di kantor."


"Kau kan bisa mengetuk pintu kamar isterimu."


"Aku tidak ingin membangunkannya. Jam dua dini hari kemungkinan Sinta sedang tertidur nyenyak."


"Aku tidak mau melihat suamimu tertidur di sofa lagi. Kalau kau tidak mematuhiku, akan kulempar kau ke jalan. Kau mengerti?"


"Mengerti,bu." Sinta menundukkan wajahnya dalam-dalam.


"Kali ini kumaafkan tapi tidak ada lain kali."


Sinta menganggukkan kepalanya.


"Dan kau, Dean, pulang jam berapapun bangunkan isterimu. Sudah resiko menjadi pasangan. Kalian kan tidur sekamar. Kau dengar aku?"


"Iya bu!"


"Pindah ke kamarmu!"


Dean beranjak bangun dan menuju kamarnya.

__ADS_1


Melihat kemarahan ibu mertuanya. Sejak saat itu, terpaksa Sinta mengijinkan Dean sekamar dengannya.


__ADS_2