
Kehamilan Sinta membuat Dylan merasa sangat bahagia. Dirinya begitu gugup.
Aku akan menjadi seorang ayah.
Kehamilan Sinta juga membuatnya sangat overprotektif.
"Jangan terlalu lelah. Jangan berkuda. Jangan…."
"Mengapa kau berubah menjadi sangat menyebalkan?" Wajah Sinta cemberut mendengarkan serangkaian larangan yang ditujukan padanya.
"Kau jangan egois. Kau sedang mengandung bayi kita. Aku tidak ingin terjadi sesuatu padanya."
"Kau sangat berlebihan. Dia akan sehat-sehat saja. Kau tidak perlu khawatir." Sinta bersiap menuju kandang kuda. Serta merta Dylan menahannya.
"Tolong! Jangan!"
"Aku akan berhati-hati!"Sahut Sinta keras kepala.
"Aku akan menjual semuanya. Aku akan membelinya lagi kalau waktunya kupandang tepat."
Sinta mengerucutkan wajahnya.
"Kau berubah menjadi sangat otoriter? Apakah kau menyembunyikan karakter aslimu?"
"Aku bukan bermaksud bersikap otoriter tetapi kau bisa membahayakan kehamilanmu jika kau tidak berhati-hati."
Hormonnya yang tidak stabil membuatnya semakin sensitif.
"Kau ingin merusak kebahagiaanku."
"Kau tahu itu tidak benar. Aku hanya melakukan hal yang terbaik bagimu dan bayi kita. Kau tidak bisa berpikir jernih karena kau sedang dalam keadaan labil. Tidak mungkin menurutimu yang sedang dalam keadaan labil."
Sinta menangis dan Dylan memeluknya. Mengusap bahunya lembut. Berusaha menenangkannya. Membiarkan Sinta menangis sepuasnya di dalam pelukannya.
"Aku akan mati kebosanan."
"Kau kan bisa berkebun atau berjalan-jalan."
"Tapi aku sangat suka berkuda." Sinta memulai dramanya.
"Kalau kau tidak hamil. Aku tidak akan melarangmu. Atau jika kau bisa menahan diri dari menungganginya. Aku tidak akan menjualnya."
"Aku tidak akan menungganginya. Aku berjanji."
"Aku takut kau tidak menepati janjimu."
"Memang kenapa kalau aku sesekali berkuda?"
"Jangan dulu, dong…Sayang…."
"Memang berbahaya seperti apa sih?"
"Hamil muda itu kalau tidak hati-hati bisa keguguran. Rentan terhadap guncangan."
"Berarti kau juga tidak bisa dapat jatah selama aku hamil?"
"Itu beda dong! Aku akan sangat berhati-hati…."
"Curang! Memangnya aku tidak hati-hati?"
"Bagaimana cara berhati-hatinya?"
"Aku akan berkuda pelan-pelan tentu."
"Baiklah! Asalkan kau berjanji kalau tiba-tiba kudanya kaget dan kehilangan kendali. Kau bilang pada kudanya, jangan kaget dan berlari kencang? Bisa pelan-pelan gak sih?"
__ADS_1
"Kupikir aku sudah mengerti bedanya berkuda dengan kuda dan kau."
Kontan Dylan melepaskan tawanya.
"Aku disamain sama kuda? Tapi gak apa-apa yang penting kau sudah mengerti."
"Aku berjanji tidak akan berkuda selama hamil. Tidak usah dijual kudanya."
"Kau benar-benar berjanji?"
Sinta menganggukkan kepalanya.
"Bagaimana kalau kutitipkan ke salah satu peternakan? Setelah kau melahirkan. Kau bisa berkuda lagi. Semua kuda tersebut dikembalikan setelah kau melahirkan."
"Baiklah."
Dylan menemukan James yang bekerja di salah satu peternakan. Sekaligus menawarinya pekerjaan untuk mengurusi kuda-kudanya. Apalagi tempat tinggal James tidak terlalu jauh dari kediaman mereka. Berkisar satu kilometer.
James bekerja sambil sekolah. Bekerja di peternakan secara part time. Dylan mempercayakan kuda-kudanya kepadanya.
Dylan dan Sinta secara berkala menjenguk kuda-kuda mereka.
Sinta sangat senang setiap kali menemui kuda-kudanya. Mengelus dan menciumi kuda-kudanya.
"Kau jangan membuatku cemburu seperti itu. Kau tidak semesra itu padaku."
Sinta tertawa mendengar gurauan suaminya.
"Kau juga tidak semesra itu kalau sedang menciumi bunga-bunga di taman."
"Itu berbeda." Sahut Dylan. Kilat jenaka memendar dalam kedua bola matanya.
"Bagaimana bisa berbeda? Hmm…yang satu kuda dan lainnya bunga? Sangat berbeda!" Ledek Sinta sambil meleletkan lidahnya.
Kontan Sinta memukul lengan suaminya. Wajahnya merona memerah menahan rasa cemburu yang memenuhi rongga dadanya.
"Kau sungguh keterlaluan! Kau tidak perlu mengungkapkan semua pikiranmu kepadaku." Wajahnya menahan tangis membuat Dylan tidak mampu menahan senyumnya.
"Memangnya aku tidak boleh membayangkan seseorang di dalam pikiranku sendiri?"
"Aku tidak bisa memasuki apalagi mengendalikan pikiranmu tetapi setidaknya, jagalah perasaanku. Kau tidak perlu memberitahukan semua isi pikiranmu padaku. Terutama yang bisa menyakiti hatiku."
"Kau benar-benar tidak mau tahu siapa yang aku bayangkan? Dia selalu memenuhi pikiranku setiap saat."
"Aku tidak mau tahu. Walaupun kita sudah menikah. Kupikir sebaiknya, kita menjaga privasi kita masing-masing saling menghormati dan tidak saling menyakiti."
"Maksudmu aku tidak boleh membaca apa yang Jasmine tulis kepada Dean dalam chat box mereka?" Giliran wajah Dylan menahan rasa cemburunya yang menyeruak begitu saja.
"Darimana kau tahu?" Wajah Sinta berubah pucat.
"Kau tidak logout dan selalu menggunakan kata sandi yang sama?"
"Kau tidak seharusnya mengintervensi lap topku?"
"Lap topku habis baterainya dan ada urusan yang tidak bisa kutunda. Tetapi mungkin aku tidak akan pernah tahu pembicaraan kalian."
"Itu hanya pembicaraan biasa."
"Tapi dia mantan suamimu. Tidak dapat melupakanmu dan selalu mengenangmu."
"Semua terlalu mendadak. Dia pernah melakukan kesalahan ketika kami menikah. Menyadarinya setelah semuanya terlambat. Aku hanya membantunya healing dan bisa melupakan masa lalunya. Menyongsong masa depannya."
"Apakah kau berkata sejujurnya? Kupikir, kau senang melihatnya seperti itu."
"Mengapa kau berkata seperti itu?"
__ADS_1
"Mengapa kau masih memantaunya?"
"Aku ingin membantunya melanjutkan hidupnya."
"Itu bukan tugasmu."
"Penyesalan itu membuatnya tidak bisa beranjak dari masa lalunya. Aku sudah berbahagia denganmu. Tentu aku ingin melihatnya berbahagia dengan yang lain. Apalagi aku memalsukan kematianku. Hal itu sangat membebaniku."
"Kulihat, dia sangat menyukai Jasmine."
"Kami hanya bersahabat. Kau jangan ngawur dan cemburu buta."
"Cemburu buta?" Dylan tertawa getir, "Kau kasihan dan ingin membantunya. Atau tidak bisa melupakannya sama sekali?"
"Kau yang menduakanku dalam pikiranmu. Kau berpikir semua orang sepertimu!" Sinta menjawab dengan nada marah.
"Sok tau!"
"Aku tidak sok tau! Kau sendiri yang bilang!"
"Memang kau tahu siapa wanita yang selalu ada dalam pikiranku?"
"Aku tidak mau tahu dan tidak akan pernah mau tahu. Sampai kapan pun. Selama dia tidak mengganggu pernikahan kita, sudah cukup bagiku!"
"Bagaimana kau bisa tahu kalau kau tidak mau tahu?"
"Aku tidak mau sepertimu. Sok kuat. Mencari tahu tapi tidak bisa menahan cemburu butamu?"
"Dean mencurahkan segala perasaan dan pikirannya padamu dan aku tidak boleh cemburu?"
"Dean tidak memiliki siapa pun."
"Mengapa harus kau?"
"Aku tidak ingin bertengkar!"
"Kau yang memulainya!"
"Aku memulainya tetapi kau memicunya!" Sahut Sinta tidak mau kalah.
"Aku ingin memberitahukanmu. Siapa wanita yang ada di dalam pikiranku!"
"Aku tidak mau dengar!" Sinta menutup kedua telinganya.
"Kau harus dengar!"
"Tidak mau!"
Dylan berusaha membuka kedua telapak tangan yang menutup kedua telinga Sinta.
"Mengapa kau suka memaksaku?" Air mata Sinta menetes menuruni kedua belah pipinya.
"Karena aku tidak mau kau sok tau!"
"Aku tidak mau sok kuat sepertimu!"
"Dia satu-satunya dalam hidupku!"
Air mata Sinta semakin deras mengalir,"Mengapa kau menikahiku jika kau sangat mencintai dan memujanya?"
"Ketika aku mencium bunga-bunga dalam kebunmu. Aku membayangkan pemiliknya!"
"Apa maksudmu?"
Dylan menghapus air mata Sinta,"Menurutmu, bagaimana?"
__ADS_1