
Dylan dan ketiga buah hatinya bermaksud melamar Syarifah. Mereka merencanakan sematang mungkin.
Membocorkan rencana mereka pada Syarifah dan Syarif tetapi memintanya merahasiakannya pada ibu mereka. Sebagai surprise.
Keanu memeluk ayahnya erat,”Aku tidak percaya, kita akan memiliki ibu.”
“Yeah! Ibunya Syarifah. I like her very much.” Sahut Sapphire.
“We all do like her!” Sahut Callista.
“Yeah! She is kind, warm and loveable.” Ujar Keanu menyetujui.
“Kalau aku menikah dengan ibunya Syarifah. Kita tidak bisa tidur sekamar lagi. Mungkin sesekali. Apakah hal itu masalah bagimu?” Tanya ayahnya pada Keanu.
Keanu menggelengkan kepalanya, “Aku akan sekamar dengan Syarif kan?”
Dylan menganggukkan kepalanya.
“Yeah, kau akan sekamar dengan Syarif. Callista, Syarifah dan Sapphire juga akan sekamar. Aku dan ibunya Syarifah.”
“Yeah! Nevermind.” Sahut Keanu.
“Aku akan mencari rumah untuk kita semua. Membuat kamar yang besar untuk kalian dan aku. Kita akan memiliki tiga buah kamar yang besar dengan kamar mandi dalam. Ruang keluarga dan makan yang luas. Bagaimana?”
“Yey!” Sahut mereka semua bersamaan.
“Aku akan membuat sebuah kamar khusus untuk mengenang ibu kalian. Semua foto dan videonya akan kuletakkan di kamar tersebut. Kita dapat bernostalgia kapan saja. Tetapi di ruangan lain, aku tidak meletakkan foto ibu kalian. Hanya keluarga kita yang baru. Bagaimana?”
“Yeah!” Sahut mereka nyaris serentak menyetujui.
“Baiklah. Ada yang punya ide tentang lamaran yang akan kita lakukan?” Tanya Dylan.
“Kita akan membuat surprise.” Sahut Callista.
“Yeah! Kita akan membuat surprise. Aku sudah membeli cincinnya.” Sahut Dylan sembari mengeluarkan kotak beludru berwarna hitam. Membuka kotaknya.
“Wow! Sangat indah!” Sahut Callista spontan.
“Aku senang kau menyukainya.” Sahut Dylan.
“Sangat. Ini tampak indah. Ya kan Sapphire?”
“Yeah! Kurasa, tante Haliza akan menangis terharu.”
Callista memeluk ayahnya, “I love you, Pa!”
Ayahnya balas memeluk dan mencium kening putri sulungnya,”I love you too, honey!”
__ADS_1
“Bagaimana kalau kita membeli cake. Kita masukkan cincin ke dalamnya?” Usul Sapphire.
“Bagaimana kalau nyonya Haliza tersedak? Aku batal menikah dan kita semua akan berupaya secepat kilat membawanya ke UGD. Kalau dia tidak tertolong, kalian batal punya ibu dan aku juga batal memiliki istri.”
Kontan mereka semua tergelak.
“Tapi pa, aku pernah melihat ide tersebut di youtube. Dan tidak terjadi apa-apa.”
“Mungkin tidak tersedak atau tertelan. Cuma gagging. Atau hal tersebut tidak menimpa karena mereka noticed. Tapi seandainya tidak. Dapatkan kau bayangkan?” Sahut Dylan.
“Bagaimana kalau kita ambil hikmahnya? Mungkin akan lebih romantis. Tante Haliza terbaring di ruangan UGD dengan wajah pucat sehabis menelan cincin. Atau tidak sampai tertelan hanya sebatas chocking atau gagging yang mungkin membuatnya trauma. Kau berlutut menyodorkan cincin yang sudah kau persiapkan sebelumnya?” Sambung Callista.
Mereka kembali tertawa.
“No! Cari ide lain yang lebih aman. Aku tidak ingin calon istriku terluka atau sekarat.”
Tawa mereka kembali pecah.
“Bagaimana kalau kita masukkan cincin ke dalam piring makannya? Ketika dia menyuap...” Usul Keanu.
“Hentikan ide memasukkan cincin ke dalam makanan. Membuatku nervous. Kau mengharapkan dia melihat cincinnya dan berkata, How sweet...bla ...bla...Tapi bagaimana jika dia menelannya begitu saja?” Tolak Dylan menolak ide anak-anaknya.
“Baiklah, aku, Sapphire dan Keanu akan membuat spanduk proposalnya.” Ujar Callista.
“Baiklah. Aku setuju. Aku percayakan spanduk proposal kepada kalian bertiga.”
“Kami juga akan meminta bantuan Syarifah dan Syarif. Mengerjakannya di apartement kita.” Sambung Callista.
“Mengenai cincin. Akan kupikirkan. Kita bagi tugas saja. Kalian konsentrasi pada urusan spanduk. Serahkan urusan cincin padaku. Bagaimana?”
Hari berlalu seperti biasa. Seperti biasa sesekali nyonya Haliza mampir. Mengantarkan makanan buatannya. Melihat keadaan mereka semua. Mengantar jemput mereka.
Tidak satu pun membocorkan rencana Dylan untuk melamarnya. Semua berjalan seperti biasa. Apa adanya. Tidak ada sesuatu yang istimewa. Sampai dengan tiba hari yang telah mereka nantikan.
Hari ini berjalan seperti biasa. Hanya saja hari ini Haliza tidak habis pikir. Anak-anak tidak ada yang mau dijemput dirinya.
Dylan meminta tolong kepadanya untuk berbelanja sedangkan dia yang akan menjemput anak-anak. Mereka akan bertemu di apartement Dylan.
Hari ini aku merasa sensitif atau memang aku merasa mereka seperti menjauhkan diri dariku?
Haliza memegang list belanjaan dari Dylan. Mengambil susu kardus. Keju. Sosis. Mendorong trolinya menuju rak-rak makanan.
Apa rencana Dylan? Apa dia merasa terintimidasi melihat kedekatanku dengan anak-anaknya? Aku tidak bermaksud merebut perhatian anak-anaknya. Apa dia merasa sendiri seperti ini? Aku kurang sensitif terhadap perasaannya. Mengambil alih semuanya. Karena aku kasihan terhadap anak-anak tersebut. Seperti anak ayam kehilangan induknya.
“Bu, maaf, itu troli saya.” Seorang wanita sebayanya menegurnya.
“Maaf.”Sahutnya yang baru sadar salah mengambil troli orang lain. Pikirannya melayang kemana-mana.
__ADS_1
Semenjak perceraian itu. Aku membutuhkan banyak hal untuk memulihkan luka dan sakit hatiku.
Memperhatikan anak-anak Dylan yang juga sahabat anak-anaknya. Mengobati luka hatinya. Membuatnya merasa berharga dan dibutuhkan. Mengalihkan perasaan sakitnya. Apalagi melihat kebahagiaan mantan suaminya dengan istri mudanya.
Aku merasa dia menipuku selama pernikahan kami. Memanipulasiku. Memanfaatkan saat dia tidak memiliki apa pun. Kupikir dia mencintaiku. Ternyata dia hanya memanfaatkan kebodohanku.
Hatinya sakit melihat betapa mantan suaminya memperlakukan istri mudanya sangat berbeda ketika mereka menikah. Sepanjang pernikahan mereka.
Aku baginya hanyalah merupakan alat untuk melahirkan anak-anaknya. Membantunya sehingga kami bisa hidup berada.
Melihat mantan suaminya memperlakukan istri mudanya sedemikian rupa. Binar cinta yang siapa pun bisa melihatnya. Bersikap sangat royal. Selalu bersikap manis. Manis bukan kata yang tepat. Memuja.
Yeah, itu kenyataannya. Melihat sisi lain mantan suaminya. Setelah mereka bercerai dan menikahi istri mudanya. Wajah dan tingkah lakunya seperti remaja yang sedang jatuh cinta.
Haliza berjalan bergegas menuju mobilnya. Menaruh semua barang-barang belanjaannya. Meluncur menuju apartement Dylan.
Kedua tangannya penuh dengan kantong belanja berisi belanjaan. Apartement tampak sepi. Memencet pinnya. Berjalan masuk ke dalam secara perlahan. Menutup pintunya dengan mendorong badannya.
Meletakkan kantong-kantong belanja yang dibawanya ke atas meja. Suasana sepi. Dirinya memandang ke sekeliling ruangan. Yang dipenuhi foto-foto Sinta.
Sepertinya semua lelaki yang jatuh cinta akan memuja wanitanya. Dirinya saja yang terlalu bodoh dan buta.
Atau memang ada wanita yang terlahir untuk dimanfaatkan dan dimanupulasi. Ada yang terlahir untuk dicintai?
Dia tidak ingin banyak berpikir. Hidup kadang terlalu sulit untuk dicerna. Tetapi sederhana untuk dijalani. Sebelum mantan suaminya berselingkuh. Dia merasa cukup dengan apa yang ada. Karena memang pada dasarnya wanita sederhana.
Tetapi setelah mantan suaminya berselingkuh. Matanya seperti terbuka. Hidup tidak sesederhana itu. Trauma menerpa. Kepercayaan timbul kembali melihat betapa Dylan tetap memuja istrinya yang sudah pergi meninggalkannya. Menguatkan kepercayaannya lagi akan setia.
Karena pada akhirnya ketika perasaan tidak bisa dipercaya. Serta senantiasa berubah. Setia membuat segala sesuatu tetap sama.
Perasaan variabel sedangkan setia adalah konstanta.
__ADS_1