
Dean merasa putus asa dan sangat marah. Dia memutuskan untuk mencari hiburan sekaligus meredam amarahnya kepada Sinta.
Dean merasa bingung melihat semua upayanya kandas dengan sukses.
Dia mendatangi salah satu tempat hiburan malam. Perempuan berpakaian seksi dan wangi seliweran, lalu lalang.
"Aku mencium aroma kebebasanku tiba!" Dean mengendus-endus hidungnya kesana kemari.
Seorang wanita tertawa kecil.
Dean menoleh ke arahnya.
Wow! Bidadari darimana nyasar kesini?
"Ehm! Apa yang kau tertawakan?"
"Kau mengendus apa? Kebebasan apa?"
"Isteriku! Si tua, gendut dan galak." Dean membual.
"Kerjanya marah-marah. Minta uang. Posesif. Aku tak diberi jatah." Hanya yang terakhir, perkataannya yang benar.
"Kau setampan ini. Mau dengan wanita gendut, jelek dan galak? Wow!"
"Begitu lah! Aku tidak memandang fisik wanita. Kupikir dia wanita baik. Tapi ternyata…."
"Seandainya, aku memiliki suami setampan kau. Mungkin aku yang merengek-rengek minta jatah." Sahutnya genit.
"Benarkah?"
"Hmm, begitulah!" Matanya mengerling nakal.
"Dulu isteriku tidak seperti itu, tapi sepertinya jari tangannya kejepit pintu dan tanpa sengaja syarafnya rusak!"
Wanita itu tergelak mendengar perkataan Dean.
"Memang kau tidak tau kalau di ujung kaki dan tangan kita itu ada syaraf-syarafnya?"
"Iya, tapi…."
"Kejepit! Jadi begitu!"
"Kau suami yang menderita!"
"Sangat menderita! Aku ralat."
"Hmm, yaa, sangat menderita." Gadis itu membasahi serta menjilati bibir bawahnya.
Dean meneguk ludahnya. Bibir wanita itu terlihat semakin seksi dan menggairahkan.
Wanita itu mendekatkan diri padanya. Menempelkan tubuhnya yang sangat sintal. Buah dadanya yang bulat kenyal menyentuh dadanya dengan lembut. Kejantanannya mengeras. Dia merasa dirinya nyaris meledak.
Oh Tuhan! Sudah berapa abad aku tidak menyentuh wanita. Aku merasa seperti rahib yang melanggar pantangan untuk menyentuh wanita….
Dean menyentuh dagu wanita tersebut. Mengangkat, mendekatkan dan ********** dengan sangat rakus sampai nafas keduanya terengah-engah.
Perempuan itu menarik tangannya. Dean merasa tangannya dibimbing.
Amankah aku bercinta dengannya?
__ADS_1
Akal sehatnya sebagian mengingatkannya.
Aku tidak mengenalnya. Tahu darimana kalau dia bersih? Tidak mengidap Aids. Sifilis?
Jika aku berhubungan dengannya, seandainya kondomku bocor atau aku enggan memakai pengaman. Dia hamil, apakah dia akan menuntutpertanggungjawaban?
Akal sehatnya memohonnya untuk bertahan dan mengabaikan godaan yang terbentang lebar di depannya.
Tetapi nafsu birahinya yang sudah mencapai puncak ubun-ubunnya hanya memiliki tiga kosa kata. Aku butuh pelampiasan.
Wanita itu membawanya ke dalam satu ruangan. Ruangan VIP. Bukan rahasia lagi kalau ruangan seperti itu kerap digunakan untuk bercinta.
Wanita itu menutup pintunya. Matanya menatap nanar melihat Dean yang juga sama bernafsunya dengan dirinya.
"Kau mau apa?" Suara Dean nyaris tak terdengar. Dia kembali menelan ludahnya.
Tubuh wanita di hadapannya sangat menggairahkan. Harum tubunya juga sangat wangi. Parfum yang menguar yang bisa membangkitkan hasratnya hanya dengan mencium baunya.
Belahan dadanya sangat rendah. Sehingga menyembul kedua buah dadanya yang sangat putih, montok dan kenyal.
Sepertinya, bukan implan. Silikon. Walaupun, dia sendiri tidak pernah bisa benar-benar membedakan asli dan palsu. Kecuali kalau terlihat peyot dan turun.
Apalagi wanita di hadapannya juga masih sangat muda. Seluruh tubuhnya masih sangat liat dan kencang juga mulus.
Bagaimana dengan karir Sinta? Kalau sampai ada yang tau, aku suami Sinta, calon kepala daerah di provinsi mereka tinggal. Hancur karir isterinya dan keluarga mereka tidak memiliki pelindung sama sekali.
Dean menjauhkan tubuhnya dan bermaksud keluar ruangan.
"Kau mau kemana?"
"Mencari udara segar."
Dean kembali menelan ludahnya.
"Aku sudah memiliki isteri. Bagaimana kalau kau nanti minta kunikahi? Aku tidak bisa!"
"Memang kau siapa? Kalau kau pangeran Charles atau Raja Arab. Mungkin saja aku seperti itu. Aku tidak mungkin minta pertanggungjawaban pada setiap orang yang bercinta denganku."
"Aku pengusaha."
"Cuma pengusaha. Pengusaha banyak simpanan dan sering bermain wanita tentu sudah tidak aneh bukan?"
"Iya sih. Aku berjanji akan membayarmu dengan sangat pantas."
"Gampang itu! Bagaimana? Kita teruskan atau tidak?"
"Hmm, baiklah! Sejujurnya, aku suami yang sangat menderita."
Wanita itu tertawa, "Aku bisa melihat seberapa menderitanya engkau!"
Mereka saling menuangkan minuman yang mereka pesan sampai mabuk. Tingkah laku mereka semakin tidak terkontrol.
Wanita tersebut menarik baju Dean dan berusaha membuka pakaiannya.
"Sebaiknya, jangan di sini." Tolak Dean.
"Dimana?"
"Hotel."
__ADS_1
"Baiklah!"
Mereka keluar dari tempat hiburan tersebut dan menuju hotel terdekat. Menggunakan taksi karena keduanya mabuk berat.
Sesampainya di kamar. Dean tumbang ke tempat tidur sedangkan wanita tersebut memghempaskam tubuhnya di sampingnya. Sisanya, keduanya tidak bisa mengingat apa yang terjadi.
Dean mendapatkan surat gugatan pelecehan seksual yang ditujukan langsung ke rumahnya.
Tertulis penggugat bernama Maria Bernadette. Kemungkinan wanita yang saat itu bersamanya. Mendapatkan identitas dan alamat rumahnya dari identitas yang tercatat di hotel.
"Kau merusak kerja kerasku!" Teriak Sinta marah.
"Aku bisa apa? Kau tidak mau melayaniku dan aku bukan malaikat! Aku juga memiliki kebutuhan! Aku tidak terima kau salahkan!"
"Kau baca ini! Melakukan pelecehan seksual?"
"Dia berkata tidak akan meminta pertanggungjawaban kecuali aku pangeran Charles atau Raja Arab."
"Dan kau percaya?"
"Apa pilihanku?"
"Apa pilihanmu?"
"Aku salah karena mendatangi tempat hiburan itu. Tapi aku juga tidak mau kau salahkan sepenuhnya."
"Percuma berdebat denganmu." Sinta terdiam dan berpikir keras.
Dia menelpon pengacaranya. Mereka berbincang di telepon.
"Siapa yang kau telepon?"
"Pengacaraku."
"Apa katanya?"
"Dia minta kau berkata jujur sehingga mudah baginya untuk melakukan pembelaan terhadapmu. Karena kalau kau memberikan keterangan palsu dan fakta persidangan tidak menunjukkan hal yang sama maka hal itu akan memberatkanmu."
"Aku sudah katakan. Aku tidak melecehkannya. Satu-satunya kesalahanku. Mendatangi tempat hiburan itu."
"Ada saksi?"
"Tidak ada. Banyak yang melihat kami tapi aku tidak tahu apakah mereka mengenali aku dan dia. Kejadian di kamar hotel hanya aku dan dia yang mengetahuinya. Itupun karena kami mabuk berat, kami tidak tahu apapun."
"Kami? Kau maksudnya? Dia menuntutmu berarti dia lebih memahami keadaan yang sebenarnya. Bisa saja kau melecehkannya ketika sedang mabuk berat?"
"Kau memintaku mengatakan dengan jujur."
"Ya. Katakan dengan jujur."
"Tidak ada pelecehan seksual."
"Kuminta, kau ceritakan semuanya pada pengacaraku. Sejujurnya dan jangan ada yang terlewat atau ditutupi."
"Aku akan menceritakan semuanya dengan jujur dan tanpa terlewat. Tapi di bagian aku mabuk berat dan tidak mampu mengingat apapun. Aku tidak bisa mengatakan apapun."
"Kau tidak diminta untuk mengarang cerita. Kalau kau tidak ingat maka katakan tidak ingat. Katakan semua dengan sejujurnya, jangan ada yang ditutupi. Jangan ada yang terlewat."
"Baiklah!"
__ADS_1