Mawar Berhati Baja

Mawar Berhati Baja
Suddenly Date


__ADS_3

Dylan mengikuti Haliza ke rumahnya. Memarkir mobilnya di belakang mobil Haliza dan Syarifah.


Haliza keluar dari mobilnya dengan wajah kesal.


“Mengapa kau mengikuti aku?”


“Aku ingin mengajakmu malam mingguan. I insist.”


“Aku malas keluar. Ingin bersantai di rumah.”


“Kau ingin kita melakukan sesuatu yang kita inginkan di kamarmu?”


Haliza menatap wajah Dylan dengan melotot. Membuat Dylan tidak mampu menahan tawanya.


“Begitu saja marah.”


“Kau melecehkan aku.”


“Aku akan bertanggung jawab atas perbuatanku.”


“Tidak lucu!”


“Ayo kita keluar. Kalau kau tidak ingin terjadi hal-hal tidak diinginkan. Aku takut tidak bisa menahan diri kalau kita cuma berdua di rumah.”


“Kau bisa pulang ke rumahmu.”


“Malas, sepi.”


“Menginap saja di rumah Sinta sekalian nostalgia. Dean sudah menawari menginap di rumahnya kan? Sepertinya dia sudah siap berbagi istri.” Haliza tertawa.


“Hush, bercanda mu tidak lucu. Aku bisa dicincang Dean kalau dia mendengar joke mu yang gak lucu malah bikin sakit hati dan jiwa.”


“Masak sih?”


“Kau cemburu ya dengan Sinta?” Tanya Dylan dengan wajah jahil.


“Nope!”


“Kau tidak cinta padaku?”


Haliza menggelengkan kepalanya.


“Aku hanya cinta diriku sendiri dan anak-anakku.”


“Kau narsistik?”


“What ever. Jangan ganggu aku. Mau istirahat.”


“Ayolah, temani aku jalan-jalan. Ini malam minggu.”


“Kau mau mengajakku kemana?”


“Bagaimana kalau kita minum Lee Chee Kang, es campur, es kacang atau air kelapa bakar?”


“Tawaranmu sungguh menggoda.”


“Memang itu yang sedang kulakukan. Apakah kau tergoda?”


Haliza tertawa.


“Baiklah. Kita kemana?”


“Village Park Restaurant.”


“Baiklah. Naik mobilku saja. Nanti ku antar kau pulang.”


“Baiklah.” Haliza menaiki mobil Dylan.


Dylan menyetel musik di dalam mobilnya. River flows in you mengalun lembut.


“Ini kali pertama kita berdua tanpa anak-anak.”


“Yeah.”


“Aku mulai menyadari perasaanku.”


“Apa maksudmu?”

__ADS_1


“Kupikir aku merasakan sesuatu yang tidak kurasakan pada Sinta.”


“Apa itu?”


“Aku cemburu padamu. Pada Ahkam.”


“Memang kau tidak cemburu pada Dean?”


“Aku marah padanya karena menganggu keluarga kecilku. Mengambil Sinta dari kami. Tapi itu bukan cemburu. Bukan seperti aku mencemburui Ahkam.”


“Benarkah?”


“Yeah. Mungkin aku terlambat menyadari. Karena kau yang mendekatiku duluan.”


“Seperti yang kukatakan. Aku sangat sakit hati dengan pengkhianatan Ahkam. Aku tidak percaya dia bisa jatuh cinta lagi.”


“Namanya juga lelaki.”


“Kau juga seperti itu?”


“Bukan begitu maksudku. Aku mungkin sosok yang berbeda sebelum bertemu Sinta. Apalagi saat ini.”


“Apa maksudmu?”


“Aku seorang pengacara sukses. Memiliki banyak wanita dalam hidupku. Tidak satu pun menjadi kekasihku. Aku hanya bersenang-senang dengan mereka. Sampai aku bertemu Sinta.”


“Kau jatuh cinta padanya?”


“Tidak langsung jatuh cinta. Dia dan Dean adalah klienku. Berusaha membebaskan Sinta dari tuntutan hukum serius. Menolongnya dari orang-orang yang ingin membunuhnya.”


“Jika kau tidak jatuh cinta padanya. Mengapa kau menikahinya?”


“Satu-satunya cara pada saat itu. Yang bisa kupikirkan adalah memalsukan kematian Sinta. Membawanya lari ke Swiss.”


“Kau menikahinya saat dia masih menjadi istri Dean? Sinta ber poliandri?”


“Tidak seperti itu. Kami berdua melarikan diri ke Swiss. Aku memalsukan kematiannya.”


“Kau memalsukan kematian Sinta? Untuk apa?”


“Baiklah. Aku mulai mengerti. Tapi mengapa kau harus menikahinya? Apakah kau mengambil kesempatan dalam kesempitan.”


“Saat itu kami berpikir tidak akan kembali lagi ke Indonesia. Menghilang selamanya. Aku menikahinya. Untuk memulai hidup baru kami berdua.”


“Astaga! Kau memutuskan untuk melarikan Sinta dari suaminya karena kasus hukum yang menimpanya?”


“Aku bukan bermaksud melarikan dia dari Dean.”


“Yeah. Kau ingin menolongnya. Tapi tetap saja yang terlihat seperti itu.”


“Yeah, Dean menemukan kami tanpa sengaja di Disneyland saat kami sedang berlibur membawa anak-anak.”


“Dean mengambilnya kembali?”


“Dia tidak sengaja menemukan kami semua.”


“Yeah. Tetap saja dia mengambil kembali Sinta. Aku tidak bisa membayangkan keadaan anak-anak saat ibunya terenggut dari sisi mereka.”


“Keanu hampir mati. Dia sangat membenci Dean dan Emier karena hal itu salah satunya.”


“Yeah. Aku bisa memahami perasaan anak-anak. Callista membenci ibunya karena merasa ditinggalkan.”


“Yeah. Aku belum mengatakan cerita yang sebenarnya. Aku takut dia membenciku.”


“Mengetahui bahwa kau yang membuatnya kehilangan ibunya. Karena kau merebutnya dari Dean.”


“Aku tidak bermaksud merebutnya. Aku berusaha menyelamatkannya.”


“Tetap saja kau merebutnya dari Dean saat statusnya masih istri Dean.”


“Aku sudah menjelaskan keadaannya saat itu.”


“Tetap saja, jika mereka tahu yang sebenarnya. Mereka akan tahu bahwa Dean tidak melakukan kesalahan apa pun. Justru kau dan anak-anakmu yang merenggutnya dari Dean dan Emier.”


“Yeah, karena itu aku belum bisa menceritakan semua pada mereka.”


“Yeah.”

__ADS_1


“Kita sudah sampai.” Ujar Dylan.


“Yeah.”


Mereka turun menuju Village Park Restaurant. Tampak pasangan muda mudi di sana sini. Juga keluarga.


Mereka memilih tempat yang masih kosong. Duduk saling berhadapan.


“Aku masih tidak percaya kau merubah pikiranmu. Aku berharap kita bisa berbahagia seperti Sinta dan Dean. Ahkam dan Hana.”


“Entahlah. Semua terlalu cepat bagiku. Apalagi melihatmu masih mencintai Sinta dan tidak dapat melupakannya.”


“Kami memiliki masa-masa yang sangat indah seperti kau dan Ahkam. Sinta seorang ibu dan istri yang sangat perhatian dan penyayang. Bagaimana aku bisa melupakannya. Seperti Ahkam yang selalu memperhatikanmu dan anak-anakmu.”


“Sejujurnya, aku takut hubungan kita dipaksakan. Kau memaksakan perasaanmu. Aku membandingkan mu dengan Ahkam.”


“Aku bisa membantu meringankan tugasmu. Jika kau takut direpotkan dengan kehadiran kami bertiga.”


“Bukan itu alasannya. Aku tidak keberatan dengan kalian berempat hadir dalam hidup kami. Kegagalan aku dan Ahkam membuatku trauma. Bagaimana jika kau seperti Ahkam? Aku bisa semakin hancur jika mengalaminya lagi.”


“Aku jatuh cinta lagi pada wanita belia, cantik dan seksi seperti Hana?”


“Kalian kan lelaki, bisa saja kan?”


“Bisa memang. Tapi untuk apa? Aku akan kehilanganmu dan anak-anak. Seperti halnya aku kehilangan Sinta. Jika aku harus kehilanganmu lagi. Mungkin perasaanku juga menjadi seperti smash potatoes.”


Mereka memesan makanan dan minuman. Nasi lemak, ayam goreng, rendang, sambal, kacang dan sepiring kangkung. Es coklat sebagai minumannya.


“Masing-masing kita memiliki masa lalu dan trauma membayangi.”


“Yeah. Jalani saja semua apa adanya.”


“Memang kau tidak ingin memiliki pasangan hidup? Menemani sepanjang waktu sampai akhir hidup?”


“Aku dan Ahkam tidak saling menemani sepanjang waktu. Begitu juga kau dan Sinta.”


Wajah Dylan mendadak sendu.


“Yeah. Tapi melihat Sinta dan Dean berbahagia menantikan buah hati mereka. Kupikir itu bisa memotivasi dan menginspirasi kita berdua. Bagaimana?”


“Maksudmu kita akan memiliki anggota baru?”


Mata Dylan berbinar seraya menganggukkan kepalanya,” Yeah. What do you think?”


“Are you sure about all of the feelings that you have for me?”


Dylan menggenggam tangan Haliza dengan erat, “1000 persen.”


Haliza terdiam. Menghela nafasnya dan menjawab, “I need more time. To make sure everything.”


“Ok, I understand. We will do whatever it is.”


“Yeah, thanks for understanding.”


“Don’t mention it.”


 


 


 


 


 


 


 


 


 


... ...


... ...

__ADS_1


__ADS_2