Mawar Berhati Baja

Mawar Berhati Baja
Let Go


__ADS_3

Melihat Dylan semakin memperhatikan Haliza. Membuat Sinta mengubur harapan serta angannya terhadap Dylan.


Saat bertemu kembali. Terbersit harapannya mereka bisa kembali bersama dengan ketiga buah hati mereka.


Seiring berjalannya waktu, harapan tersebut semakin memudar. Terutama saat menyadari bahwa hati Dylan bukan lagi miliknya.


Tidak hanya Sinta yang mengetahui hal ini tetapi juga Dean. Tentu saja dia mendukung sepenuhnya. Rasa suka Dylan kepada Haliza. Seiring dengan kedekatan mereka. Hubungan mereka berubah menjadi sahabat.


Dylan bertandang kediaman Sinta bersama ketiga buah hatinya. Sesampainya di rumah Sinta . Ketiganya turun dari mobil dengan antusias ingin menemui ibu mereka.


Sinta yang sedang menyiapkan meja makan dibantu oleh kedua pengurus rumahnya. Tersenyum mendengar celotehan anak-anaknya yang berjalan memasuki rumahnya.


“Ma!” Panggil ketiganya nyaris bersamaan sambil memeluk dan mencium ibu mereka.


Mereka mengelus perut ibu mereka yang semakin membuncit. Apalagi Sinta hamil kembar sehingga kandungannya terlihat lebih besar dari kehamilan yang biasa.


“Emier mana?”


“Di kamarnya. Dia menunggu kalian sejak pagi tetapi kalian tidak datang juga.”


“Kami mampir ke rumah mantan suaminya tante Haliza. Mereka bermaksud berlibur ke Lombok Indonesia  sampai dengan besok. Papa mengantarkan pesanan makanan untuk mereka sekeluarga. Ayahnya Syarifah memesan makanan dari kedai papa.”


“Pantas kalian terlambat.”


“Papa sepertinya tidak suka tante Haliza berlibur dengan mantan suami dan anak-anak mereka tanpa ibu sambung Syarifah.”


“Hana maksudmu? Mengapa dia tidak ikut?”


“Ayahnya Syarifah, ibu sambungnya sedang berlibur ke Bangkok bersama teman-temannya selama seminggu penuh.”


“Darimana kau tahu, ayahmu tidak menyukainya?”


“Raut wajahnya. Papa juga tampak lebih diam seperti memikirkan sesuatu.”


“Yeah, mungkin saja. Papamu hampir menikah dengan ibunya Syarifah bukan?”


“Yeah.”


“Makanlah, kalian pasti lapar. Keanu, kau saja yang memanggil Emier di kamarnya. Aku sudah memasak makanan kesukaan kalian semua.” Ujar Sinta kepada ketiga buah hatinya.


Ayam panggang kesukaan Callista. Mie goreng sosis bakso kesukaan Sapphire. Nugget kesukaan Keanu. Emier sendiri sangat menyukai makaroni schootel.


“Dimana ayahmu? Ajak makan sekalian.” Ujar Sinta.


“Sedang berbicara dengan om Dean.”


“Ya sudah, kalian dulu saja makan. Bagaimana? Nanti mereka akan makan sendiri kalau sudah lapar.”


Keanu memanggil Emier yang sedang asyik bermain play station di kamarnya. Sedangkan Callista dan Sapphire membuka piring mereka. Mengisinya dengan nasi dan lauk yang mereka pilih.


Dean dan  Dylan mengobrol di teras rumah. Melihat Dean duduk sambil membaca membuat Dylan membatalkan niatnya masuk ke dalam rumah.


“Baca apa?”


“Buku parenting. Tentang mengasuh anak kembar.”

__ADS_1


“Wow!”


“Aku ingin semuanya sempurna. Banyak hal terjadi saat mengasuh Emier. Aku tidak mengijinkan Sinta bertemu kalian semua. Karena tidak ingin pengalaman pahit itu terulang kembali.”


“Yeah, masa-masa yang berat buat kami semua. Kupikir masa-masa berat buat kita semua.”


“Sinta selalu merindukan anak-anaknya. Dia memperlakukan Emier sangat keras. Membenciku karena memisahkannya darimu dan anak-anak kalian. Apa pilihanku? Kalian berdua couples goal. Dibandingkan hubunganku dan Sinta yang penuh salah paham juga dingin.”


“Sudahlah. Semua sudah berlalu. Tidak usah mengungkit yang sudah berlalu. Semua bisa berakhir dengan baik. Kita harus bersyukur.”


“Asalnya aku sangat mempercayaimu dan Sinta. Kau sudah kuanggap sebagai saudaraku. Aku mempercayai semuanya padamu.”


“Aku sudah mengatakan semuanya padamu.”


“Ya aku tahu. Apakah kau benar-benar menyukai Haliza?”


“Tentu walaupun awalnya Aku tidak menyadarinya. Tetapi aku menyukai semua yang ada padanya.”


“Apa yang lagi yang kau tunggu? Lamar dan nikahi dia.”


“Aku memulainya dengan cara yang salah.”


“Apa maksudmu cara yang salah?”


“Suaminya menikah lagi. Aku masih mencintai mantanku.”


“Oh yeah. Aku mengerti.”


“Yeah, kau juga melalui masa berat bukan? Menerima Sinta kembali saat dia masih sangat menyukaiku bahkan mungkin masih menyukaiku?”


“Ok, sorry. Tapi aku memintanya memahami keadaanku. Menerimaku saat aku masih mencintai dan mengharapkan mantanku.”


“Yeah. Bukanlah dia awalnya menerima lamaranmu? Kalian hampir menikah? Aku mencurigai kau dan Sinta. Kupikir kalian akan mengakaliku lagi.”


“Astaga!”


“Sekali lancung ke ujian seumur hidup orang tidak percaya.”


“Aku tidak tahu bagaimana harus menjelaskannya padamu.”


“Baiklah. Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa pertunangan kalian kandas?”


“Seperti yang kukatakan. Mungkin aku tidak mempertimbangkan kondisinya. Memintanya menikahiku saat aku belum bisa move on dari mantanku. Kupikir, dia sedang ada di masa sulit dan membingungkan. Suaminya menikah lagi. Aku bersikap brengsek melamarnya saat aku masih belum bisa melupakan Sinta.”


“Mungkin karena kau menganggapnya baik dan pengertian.”


“Yeah. Kadang kita menganggap orang yang sepertinya mau menerima keadaan apa pun. Selalu bersikap baik, perhatian dan pengertian. Akan menerima apa pun perlakuan kita.”


“Aku yakin kau tidak bermaksud seenaknya kepadanya.” Sahut Dean membuka toples cemilan havermout chocolate cookies yang disediakan Sinta dan menyeruput cappucinonya, “Bun, bikinin minum buat Dylan.”  Pinta Dean pada Sinta.


Sinta meminta pengurus rumah untuk membuatkan minum dan mengantarnya.


“Bik Minah, tolong buatkan kopi dengan heavy cream buat pak Dylan. Manisnya sedang ya, bik.”


“Baik, bu.”

__ADS_1


Dylan ikut mencomot cemilan yang ada di toples. Memilih kacang almond yang dibalur karamel butter.


“Tetapi saja, aku tidak sensitif. Harusnya aku memastikan perasaanku terlebih dahulu.”


“Semua sudah terjadi. Bagaimana hubungan kalian?”


“Mantannya bermain licik. Dia tidak ingin melepaskannya.”


“Apa maksudmu tidak ingin melepaskannya? Bukankah dia sudah berkhianat dan menikah lagi?”


Dylan membuka toples berisi kacang mete. Mengambil dengan mengunyahnya. Kacangnya terasa salty but not too salty.


“Kacangnya enak.”


“Langganan Sinta. Aku juga sangat menyukainya. Coba kastengelnya. Cheesy dan gurih. Dibuat dari keju edam, parmesan dan cheddar. Full butter dengan banyak kuning telur.”


Dylan mengambil kastengel dan mengakui bahwa kastengelnya terasa lembut, crunchy dan cheesy.


“Dia memang sudah menikah lagi tapi dia tidak pernah bermaksud menceraikan Haliza. He wants them both.”


“What? So, what do you do?”


“Aku jalanin aja semua apa adanya. Aku tetap memperjuangkan cintaku tapi semua tergantung Haliza juga.”


“Tumben, Haliza dan anak-anaknya tidak ikut?”


“Hana, istri mantannya Hana pergi ke Bangkok bersama teman-temannya. Ahkam, mantan Haliza, mengajak Haliza dan anak-anak mereka berlibur ke Lombok.”


“Apakah dia bermaksud menikungmu?”


“Sort of…Mungkin dia berpikir. Haliza dan anak-anak mereka adalah keluarga sedangkan Hana adalah kepuasan batinnya.”


“Dia ingin mendapatkan semuanya?”


“Yeah.”


“Bagaimana dengan Haliza sendiri?”


“Kau tahu bagaimana wanita? Bimbang.”


“Tidak dengan Sinta. Aku tahu pasti dia sangat menyukai dan mengharapkanmu. Aku tidak bisa mengalahkanmu kecuali kau melepaskannya.”


“Sepertinya yang kurasakan pada Sinta berbeda dengan kurasakan pada Haliza.”


“Berbeda bagaimana?”


“Aku mencemburui mantan Haliza. Aku tidak mencemburuimu justru merasa bersalah.”


“Apa yang ingin kau katakan?”


“Aku mencintai Haliza bukan hanya sekedar menyukainya.”


 


 

__ADS_1


__ADS_2