
Hapsari sedang asyik menonton televisi saat Sinta memasuki ruang keluarga. Baru saja pulang setelah seharian bekerja di kantornya serta meninjau beberapa masalah yang harus diteliti serta periksa lebih lanjut.
Dean sendiri sedang berada di kamar Emier sejak menjemputnya sekolah. Bermain dan mengobrol bersama Emier.
“Bagaimana keadaanmu?” Tanya Sinta. Duduk di sofa dekat Hapsari sedang duduk menyimak acara televisi.”
“Baik.”
“Bagaimana sebenarnya hubunganmu dengan Bram?”
“Baik.”
“Mengapa kau mengirim tanda empat jari.”
“Aku pikir dia akan melarikanku keluar negeri.”
“Kau pikir?”
“Entahlah. Dia menyiapkan paspor atas nama kami berdua. Mendaftar di hotel dengan identitas tuan dan nyonya Bram. Apa maksudnya?”
“Mengapa kau bertanya padaku? Mengapa kau tidak bertanya padanya?”
“Dia tidak mengatakan apa pun sehingga aku menebaknya.”
“Bagaimana hubungan kalian berdua?”
“Apa maksudmu?”
“Apakah kalian berpacaran?”
“Tentu tidak.”
“Menikah?”
“Tidak.”
“Apakah aku perlu menelpon orang tuamu? Supaya tidak khawatir serta panik menelpon polisi?”
“Aku sudah mengatakan pada orang tuaku bahwa aku sedang berada di rumah temanku.”
“Apakah orang tuamu tidak akan mencarimu?”
“Selama aku mengabari mereka tentu saja tidak.”
“Aku sudah membebaskan Bram. Aku menebak dia akan sangat gusar tidak menemukanmu. Tapi sebelum semuanya jelas. Aku tidak akan membiarkanmu kemana pun. Demi keselamatanmu sendiri.”
“Yeah. Aku merasa tenang dan nyaman disini.”
“Nikmati waktumu. Jika sudah siap menceritakan semua padaku atau suamiku. Jangan ragu untuk mengatakannya.”
“Baiklah.” Hapsari menganggukkan kepalanya.
“Aku mau ke kamar. Membersihkan tubuhku dan beristirahat. Menjelang persalinan. Bayiku sangat aktif.” Ujar Sinta sambil mengusap perutnya yang membuncit.
“Kau akan melahirkan?”
Sinta menganggukkan kepalanya.
“Bagaimana rasanya?”
“Maksudmu?”
“Hamil dan melahirkan?”
“Menjadi ibu adalah sesuatu yang luar biasa. Cinta yang tidak terkira. Ikatan yang tidak akan pernah putus. Antara dirimu dengan bayimu.”
“Seluar biasa itu?”
“Seluar biasa itu.”
“Sakitkah?”
“Melahirkan?”
__ADS_1
“Hamil dan melahirkan.”
“Hamil tidak sakit. Hanya saja ada semacam gangguan hormonal. Membuatmu tidak nyaman. Tetapi seperti yang kukatakan. Hal itu tidak mengurangi ikatan dengan si bayi. Melahirkan tentu saja sakit. Apalagi jika melahirkan spontan. Tetapi semua itu tidak bisa dibandingkan dengan rasa sayang yang kau punya karena memiliki bayimu di dalam dirimu.”
“Wow!”
Sinta tersenyum melihat reaksi Hapsari. Gadis itu terlihat sangat lugu juga polos.
“Kau akan tahu. Jika sudah tiba waktunya kau merasakan menjadi seorang ibu. Pengalaman yang sangat luar biasa.”
“Yeah.” Tanpa sadar Hapsari mengelus perutnya. Membuat Sinta tertawa.
“Mengapa kau mengelus perutmu? Apakah kau sedang hamil?”
“Tentu saja tidak. Latah sepertinya.”
Sinta kembali tertawa.
“Aku mandi dulu ya? Enjoy your time. Make yourself comfortable as in your home.”
“Yeah.” Hapsari kembali memusatkan perhatiannya ke televisi.
Hapsari menyukai Sinta, Dean dan Emier. Mereka adalah keluarga yang sempurna. Setidaknya, Hapsari melihatnya demikian.
Mengingatnya pada tantenya, Helena. Membuatnya merindukan almarhumah tantenya tersebut.
Kedua orang tuanya menyayanginya. Dia tahu itu dengan pasti. Tapi kehidupan mereka yang keras tidak membuat mereka bisa meluangkan waktu seperti halnya Tante Helena, Sinta dan Dean.
Masalah yang menyapanya tidak berani dia bagi dengan kedua orang tuanya. Karena enggan membuat mereka khawatir.
Berada di kediaman Sinta dan Dean membuatnya merasa aman. Setidaknya, Bram tidak akan dapat mendekati atau menemuinya lagi. Setidaknya, selama dia berada di kediaman Sinta dan Dean. Semua akan baik-baik saja.
Hapsari juga sangat menyukai Emier. Seorang anak yang sangat ramah juga hangat.
“Kau akan memiliki adik?” Tanya Hapsari.
“Yeah. Dua. Lelaki dan perempuan “
“Bagaimana perasaanmu?”
“Kau akan menjadi kakak yang baik.”
“Benarkah?”
“Yeah.”
“Kadang aku berpikir bagaimana kalau ayah dan ibuku lebih menyayangi mereka? Apakah aku jahat? Berpikir seperti itu?”
“Tentu saja tidak. Wajar kau berpikir seperti itu. Tapi kau sudah besar. Jangan mengikuti pikiran seperti itu. Kau harus mengerti bahwa kedua orang tuamu bukan lebih sayang pada mereka tapi karena mereka masih kecil sehingga membutuhkan perhatian yang lebih banyak.”
“Yeah, kau benar.”
“Kau menyukai sekolahmu?”
“Yeah. Hanya beberapa anak tidak menyukaiku. Mereka membullyku.”
“Benarkah? Mengapa seperti itu?”
“Mungkin karena kedua orang tuaku. Ibuku kepala daerah sedangkan ayahku pengusaha.”
“Yeah, apakah kau bisa melaluinya?”
“Yeah.”
“You are a strong kid.”
“Gak juga. Aku hanya berusaha menyamankan diriku sendiri. Tidak ingin menambah keruwetan apa pun. Berusaha untuk tidak menanggapinya secara berlebihan.”
“Kau sangat dewasa.”
“Benarkah?”
“Yeah. Bisa mengendalikan diri, pikiran serta emosimu. Di usia semuda ini?”
__ADS_1
“Tetapi kadang melelahkan.”
“Yeah. Itu normal. Apa yang kau lakukan saat kau merasa lelah?”
“Tidak ada. Aku hanya berusaha menjauhi dan tidak membiarkan diriku terganggu. Melakukan hal-hal yang kusuka.”
“Aku tidak mengerti.”
“Menjauhi hal yang membuatku terganggu. Melakukan hal-hal yang kusuka.” Emier mengulangi kalimatnya.
“Temanmu membulimu sedangkan kau sedang dalam keadaan lelah secara emosi dan mental. Apa yang kau lakukan?”
“Aku menjauhi mereka. Aku bermain basket atau menggambar. Atau melakukan apa pun yang bisa membuatku teralih. Serta merasa nyaman.”
“Yeah. Memang harus seperti itu.”
“Kadang jika aku merasa sedang tidak baik-baik saja. Aku menghabiskan waktu sendiri. Melakukan hal yang kusuka. Itu sangat efektif.”
“Yeah. Kadang kita memang membutuhkan me time. Membuat kita lebih nyaman dan tenang.”
“Kau sendiri. Apakah kau memiliki masalah?”
“Entahlah.”
“Apa maksudmu entahlah?”
“Aku tidak tahu apakah Bram orang baik atau jahat.”
“Astaga! Apa maksudmu? Kau tidak bisa membedakan orang baik dan jahat?”
“Yeah. Seandainya, memakai topeng seperti maling atau pakaian narapidana mungkin aku langsung tahu.”
Mereka berdua tergelak.
“Bisa-bisanya kita menertawai sesuatu yang serius seperti ini.” Ujar Hapsari yang diamini Emier.
“Manusia memiliki banyak sisi.” Ujar Emier.
“Astaga! Usiamu masih sangat belia dan kau berfilosofi tentang manusia?”
“Aku bermaksud ingin membantumu.” Ujar Emier.
“Yeah, aku tahu. Thanks.”
“Apa kau tahu? Sebagian orang lebih mempercayai hewan peliharaan mereka dari pada manusia?”
“Sekompleks serta semenyedihkan itu?” Ujar Hapsari.
“Yeah. Bahkan dalam lautan dapat diketahui tapi hati manusia siapa yang tahu.”
“Yeah, kau benar. Aku belum siap untuk bercerita. Karena semua tampak sangat membingungkan.”
“Aku seharusnya tidak menanyakan.”
“Kau sangat perhatian mau menanyakan keadaanku. Hanya saja, aku belum siap untuk menceritakan.”
“Yeah. Tidak masalah. Apakah kau mau bermain basket?”
Hapsari mengangguk senang. Keduanya keluar rumah menuju lapangan basket di halaman.
Emier berusaha merebut bola dari Hapsari. Dengan lincah, Hapsari berusaha berkelit.
Emier mencoba menggapai bola dengan tangannya tetapi tidak berhasil. Tubuh Hapsari lebih tinggi darinya. Tangannya tidak bisa mencapai. Hapsari berhasil memasukkan bola.
Mereka bergantian. Giliran Emier memasukkan bola.
“Lihat ada cicak!” Emier berusaha mengecoh Hapsari membuat gadis itu berhenti. Tergelak.
Emier menerobos dan memasukkan bola.
“Kau mau main basket atau melawak? Cicak ada di dinding bukan di langit atau udara!”
“Namanya juga usaha. Spontan. Tinggi badan kita tidak berimbang sehingga sulit jika aku tidak berusaha mengecohmu.”
__ADS_1
Hapsari menghabiskan sisa tawanya.